"Gila ya! Kakakku gila mau nikah malah kabur!" Gumamku di kamar.
Tiba-tiba ibuku dan bapak ngomong enteng banget kayak ambil krupuk.
"Refan mau kamu, yang gantiin."
Buat tutup malu katanya.
ASTAGA.
Itu ceritaku minggu lalu. Dan sekarang...
HARI H. AKU YANG JADI PENGANTINNYA.
Refan
Refan Wijaya. 28 tahun. Anak pemilik kebun apel terbesar di Batu. Gantengnya keterlaluan, dinginnya juga keterlaluan.
Harusnya dia nikah sama Kak Naya, kakakku. Mereka pacaran 4 tahun. Semua persiapan udah 99%. Gedung di Ijen Suites udah di-booking, catering 500 porsi udah lunas, undangan udah nyebar se-Malang Raya.
H-1 jam ijab kabul, Kak Naya ngirim voice note 2 detik di grup keluarga:
"Maaf, aku gak bisa. Aku ikut Arman ke Bali. Jangan cari aku."
Arman itu mantannya SMA.
Mamaku pingsan. Papaku ngeremas undangan sampai sobek. Keluarga Refan udah di jalan dari Batu.
Lalu entah setan apa yang merasuki mereka, mereka lihat aku.
Aku, Dira. 23 tahun. Baru lulus kuliah, masih magang, masih suka ngomong "gila ya!" di kamar.
"Dir, tolong. Cuma 3 bulan. Anggap aja bantu keluarga," bisik Ibu sambil nangis sesenggukan di depan keluarga Refan.
Papanya Refan, yang mukanya udah merah malu, cuma bilang: "Sementara. Sampai keadaan reda. Kami yang akan tanggung malu kalau batal hari ini."
Dan Refan? Dari tadi dia cuma diem di pojokan pelaminan. Jas hitamnya rapi. Matanya natap aku, bukan marah, tapi... kosong.
Terus dia bilang pelan, cuma aku yang denger:
"Kamu yakin?"
Aku pengen teriak GAK. Tapi Ibu meremas tanganku sekuat tenaga.
Akhirnya dengan perjanjian bodoh di atas materai 10 ribu yang kami tulis di kertas HVS di belakang dapur catering:
Perjanjian:
Pernikahan ini cuma 3 bulan.
Tidak ada sentuhan fisik kecuali terpaksa di depan orang tua.
Setelah 3 bulan, cerai baik-baik dengan alasan tidak cocok.
Rahasia. Tidak ada yang boleh tau selain keluarga inti.
Aku tanda tangan. Refan tanda tangan.
30 Menit Setelah Jadi Istri Orang
Sekarang aku duduk di pelaminan. Senyumku kaku. Semua tamu salaman bilang "Samawa ya, Dira dan Refan". Padahal seminggu lalu mereka nyapa aku "adeknya Naya ya?"
Refan duduk di sebelahku. Jarak 1 jengkal, tapi rasanya 1 kilometer.
Seorang tante-tante nyamperin, "Dira cantik banget, cocok sama Refan."
Aku senyum. Refan tiba-tiba narik kursi ku biar lebih deket ke dia, tangannya ngerangkul punggung kursiku. Profesional banget actingnya.
Begitu tantenya pergi, tangannya langsung turun lagi.
"Bagus aktingnya," bisiknya dingin.
"Bagus juga akting pura-pura ikhlasnya, Mas Refan," balasku ketus.
Dia kaget aku berani jawab. Pertama kalinya seharian ini dia beneran lihat mukaku.
"Jangan panggil Mas," katanya.
"Terus panggil apa? Suamiku yang sementara?"
Dia diam. Lalu... dia ketawa kecil. Kering.
"Ya udah. Panggil suami aja. Kan cuma 3 bulan."
Gila. Ini baru jam pertama dan aku udah pengen kabur nyusul kakakku ke Bali.
--Lanjutannya persis kayak yang kamu mau. Hari ke-4 jadi istri bayangan.
SATU KAMAR, DUA KUTUB.
Rumah Refan di Batu itu dinginnya bukan main. Rumah kayu, gede, jendela kaca semua ngadep kebun apel. Estetik sih kalau buat foto prewedding, tapi kalau buat hidup sama orang yang kamu benci? Neraka.
Aturannya jelas. Kasur king size itu kami belah jadi dua negara.
Tengahnya ada guling gede, guling sosis, guling gajah, semua guling di rumah itu aku tumpuk di tengah.
"Perbatasan negara. Jangan lewat," kataku malam pertama sambil buang muka.
Refan yang baru keluar kamar mandi, rambut masih basah, cuma pakai kaos oblong item, ngeliat tumpukan guling itu terus... ngledek.
"Wow. Benteng Takeshi."
"Serah."
Aku langsung naik kasur, ambil sisi paling pinggir, selimutan sampai ubun-ubun, membelakangi dia. Buang muka level 1000.
Dia naik dari sisi satunya. Kasurnya berderit dikit.
Hening 5 menit. Aku kira dia udah tidur.
Tiba-tiba dia ngomong, suaranya pelan di belakang punggungku.
"Dira."
Aku diem. Buang muka.
"Dira, istriku yang paling ramah sedunia."
Diem.
"Hai tembok, kamu Dira ya?"
AKU BALIK BADAN.
"Apaan sih!"
Dia malah ketawa. Ketawa beneran, bukan ketawa kering kemarin di pelaminan. Gigi putihnya keliatan. Sialan, kenapa harus ganteng pas ngledek.
"Akhirnya nengok juga. Kukira kamu patung," katanya, tangannya nganggur di belakang kepala. Santai banget.
"Kamu pikir aku betah sekamar sama kamu?"
"Enggak. Aku juga gak betah sekamar sama benteng guling."
Aku narik selimut kenceng. "Besok aku mau minta kamar tamu."
"Gak boleh," jawabnya cepet. "Bulek yang bersih-bersih rumah tiap pagi jam 6. Kalau dia liat kita pisah kamar, Ibu kamu ditelepon, tamat riwayat perjanjian 3 bulan kita. Mau?"
Argh. Bener lagi.
MODE PAPASAN = ORANG ASING
Pagi. Aku turun ke dapur mau bikin teh. Refan udah di sana, lagi bikin kopi hitam.
Aku? Buang muka. Papasan kayak gak kenal. Ambil gelas lewat belakangnya, pura-pura sibuk lihat kebun apel.
Dia? Malah iseng.
Langkahnya sengaja digedein pas lewat belakangku. "Pagi, istriku."
Aku diem.
"Pagi, benteng gulingku."
Aku tetep diem, tuang air panas sampai tumpah.
"Oh, lagi puasa bicara ya? Katanya kalau istri puasa bicara, rezeki suami lancar."
Aku gak kuat. "Refan!"
"Nah, kan bisa ngomong."
Aku buang muka lagi, bawa teh ku ke teras paling ujung.
Siangnya lebih parah. Aku lagi lipet baju di kamar, dia masuk. Aku langsung buang muka ke jendela. Ngeliatin apel.
Dia lewat, berhenti pas di depan aku.
"Dira."
Diem.
"Kalau buang muka terus nanti lehernya keseleo lho."
Diem.
Dia nunduk dikit, biar mukanya sejajar sama mukaku yang lagi buang muka ke jendela. Jaraknya cuma sejengkal.
"Ayo, liat aku sekali aja. Gratis kok."
Aku kaget, mundur selangkah, kejedot lemari.
"AW!"
Dia langsung panik, tangannya refleks mau megang kepala ku. "Eh, sori sori, kejedot ya?"
Itu pertama kalinya dia nyentuh aku tanpa acting. Tangannya anget.
Aku nepis tangannya kasar. "Jangan sentuh!"
Dia diem. Tangannya turun. Mukanya yang tadi ngledek langsung balik dingin lagi.
"Oke. Sorry."
Dia keluar kamar. Banting pintu pelan, tapi aku tau dia kesal.
Malamnya, pas tidur, benteng gulingnya tetap ada. Tapi guling paling atas yang kemarin sengaja aku taruh biar tinggi, udah dia singkirin.
Sisa satu guling kecil di tengah.
Dan punggungnya yang membelakangi aku malam ini... keliatan capek banget.
-Malam ke-7.
JAM 11 MALAM. RUANG TAMU RUMAH BATU.
Aku mogok tidur sekamar. Titik.
Abis kejadian kejedot lemari tadi siang, aku males liat muka dia. Jadi aku pindah. Ngungsi ke sofa ruang tamu yang hadap perapian.
Rambut aku iket dua. Kuncir dua kanan kiri. Kaos oversize gambar kelinci, celana pendek kotak-kotak. Emang gini aku. Ya Allah, aku tuh masih bocah, kerjaan masih nangisin harga skintone abis, disuruh gantiin nikah kakak.
Di sofa aku meluk guling, selonjor, kaki naik ke sandaran sofa. Sumpah bocah banget.
Dan dari tadi...
Refan mondar-mandir depan aku kayak setrikaan.
Dari dapur ke ruang tamu. Ruang tamu ke teras. Teras ke ruang tamu lagi. Tangannya di saku celana tidur. Muka mikir. Sesekali lirik aku di sofa.
SRET. SRET. Langkah kakinya di lantai kayu tuh berisik.
Akhirnya aku meledak.
"BISA DIEM NGGAK SIH, PUSING SAYA!" Aku teriak sambil buang muka, kuncir dua ku ikut goyang.
Dia berhenti. Di depan sofa ku persis.
Terus...
Dia malah NGAKAK. Ngakak beneran sampai perutnya pegangin.
"HAHAHAHA."
"Apaan! Orang pusing malah ketawa!"
"Ya Allah, Dira," dia masih ketawa, jongkok biar sejajar sama sofa ku. "Kamu sadar gak sih tampang kamu sekarang?"
"Apaan!"
"Rambut diiket dua, kaos kelinci, ngambek di sofa sambil teriak 'pusing saya' kayak ibu-ibu komplek. Galak banget istri saya ini."
Aku langsung narik selimut sofa buat nutupin muka. "Bodo amat!"
"Eh jangan ditutup," dia narik ujung selimutnya pelan. "Tadi siang buang muka, sore buang muka, malem buang muka. Sekarang mau jadi pocong sofa?"
"TERSERAH AKU!"
"Ya gak bisa terserah. Kamu istriku," katanya, masih dengan nada ngledek itu.
Aku buka selimut, ngelotot. "ISTRI SEMENTARA! 3 BULAN! INGET!"
"Oh iya, istri sementara yang galak," dia angguk-angguk pura-pura serius. "Tapi galaknya... lucu."
Muka ku langsung panas. "Siapa yang lucu?!"
"Kamu."
Hening.
Api di perapian itu meletik. Di luar angin Batu ngeses. Cuma ada aku yang rambutnya berantakan diiket dua, sama dia yang jongkok depan sofa pakai kaos tidur, masih senyum ngeledek tapi matanya... lembut.
"Udah, jangan di sofa. Dingin," katanya akhirnya, suaranya pelan, gak ngledek lagi. "Balik ke kamar. Aku yang di sofa."
Aku diem. Gengsi.
"Gak mau. Enakan di sini."
"Yakin? Sofa itu sempit. Nanti kamu jatuh. Terus kejedot lagi. Nangis lagi, ngomel lagi 'jangan sentuh'."
"Refan!"
"Ya udah, kalau mau di sini, pakai ini." Dia berdiri, ngambil selimut tebal yang dari tadi dia bawa mondar-mandir ternyata. Dari tadi dia mondar-mandir bukan pusing, tapi bingung mau ngasih selimut apa enggak.
Dia lempar selimut itu pelan ke atas ku. Nutupin kaki ku yang dingin.
"Jangan buang muka terus kalau kedinginan. Gak keren," bisiknya sambil jalan balik ke kamar, ninggalin aku bengong di sofa.
Selimutnya anget. Wangi kopi hitamnya dia.
Dan sialnya... kenapa jantungku deg-degan gara-gara selimut doang?
---
JAM 1.42 PAGI. DAPUR.
Aku kebangun. Haus. Tenggorokan kering gara-gara tadi ketiduran di sofa sambil ngambek pakai selimut angetnya Refan.
Rambut masih iket dua, udah miring satu. Mata setengah merem, aku ngesot ke dapur. Gak nyalain lampu. Ngapain, rumahnya Refan terang bulan dari jendela gede itu aja udah cukup.
Aku buka kulkas, ambil botol air dingin, langsung tenggak dari botolnya. Gluk gluk gluk.
Pas aku tutup kulkas...
ADA ORANG DI BELAKANG KULKAS.
"AAAA—"
"WOI!"
BYURRRR!!!
Air yang masih di mulutku kesembur semua. Deras. Kenceng. Tepat ke depan.
Dan di depan itu... REFAN.
Refan berdiri di ambang pintu dapur, cuma pakai kaos tidur item sama celana tidur, rambut berantakan abis tidur, bawa gelas kosong. Mau ambil minum juga kayaknya.
Sekarang mukanya basah. Kaosnya basah. Netes-netes air minumku dari dagunya.
Hening 3 detik.
Otakku langsung mode: MATI AKU. DIA BAKAL MARAH. DIA ORANGNYA DINGIN. INI KESEMPATAN DIA NGUSIR AKU DARI RUMAH.
Aku udah siap-siap ngomel defensif.
"SAYA— SAYA GAK SENGAJA! SIAPA SURUH DIEM-DIEM DI BELAKANG KULKAS KAYA HANTU APEL!"
Dia diem. Ngusap mukanya pakai tangan. Airnya masih netes.
Terus dia liat muka ku yang panik, rambut iket dua miring, mulut masih monyong bekas nyembur...
Dia... ketawa.
Bukan ngakak ngeledek kayak tadi. Tapi ketawa beneran. Lepas.
"Hahahaha... HAHAHA DIRA!"
Pertama kalinya.
Aku yang harusnya marah, yang dari seminggu ini kerjaannya buang muka, ngambek, teriak "pusing saya"...
Malah ikutan.
"Pfft—" Aku tahan.
Dia masih ketawa sambil nunduk, bahunya naik turun. "Kamu... kamu nyembur..."
Dan gak tau kenapa, bendungan 7 hari ku jebol.
"HAHAHAHAHA MUKA KAMU— MUKA KAMU KAGET BANGET—"
Aku ketawa sampai perut sakit, sampai harus pegangan meja dapur. Air mataku keluar. Bukan karena sedih. Karena lucu. Lucu banget.
Refan ketawa juga, makin basah, makin berantakan. "Udah kayak waterpark!"
"Maaf— maaf ya Allah maaf tapi— HAHAHA"
Untuk pertama kalinya sejak akad bodoh itu, kami gak buang muka. Kami ketawa bareng di dapur jam 2 pagi, berdua, cuma diterangin cahaya kulkas.
Ketawanya berhenti pelan-pelan. Nafas kami ngos-ngosan.
Dia masih di depan ku. Dekat. Kaosnya basah nempel, matanya masih sisa ketawa.
Aku masih cengengesan.
Terus dia bilang pelan, sambil ngambil tisu buat ngelap mukanya.
"Akhirnya."
"Akhirnya apa?"
"Akhirnya kamu ketawa. Bukan buang muka."
Aku diem. Kuncir dua ku miring total sekarang.
Dia jalan selangkah maju, mau ngambil botol air yang aku pegang.
"Minumnya pelan-pelan, Nona Sembur. Nanti aku tenggelam beneran."
Aku refleks mundur, tapi kali ini bukan karena benci. Karena jantungku...
JAM 2.15 PAGI. RUANG TAMU - SOFA YANG TADI.
Abis kejadian Waterpark Kulkas, kami gak jadi balik ke kamar. Gak bisa tidur. Mukaku masih panas abis ketawa, kaos Refan masih agak basah di bagian dada.
Kami duduk di sofa yang sama. Tapi kali ini gak ada benteng guling. Jarak sejengkal. Dua-duanya meluk selimut masing-masing.
Heningnya enak. Bukan hening musuhan.
Sampai otak bocahku inget sesuatu yang PENTING.
Aku langsung duduk tegak.
"Jadi gimana kakak ipar?," kataku, nadaku balik formal, balik jadi Dira yang buang muka lagi. "Udah telfon kakak saya belum?"
Refan yang lagi nyender, kaget.
"Kak Naya. Udah ada kabar? Udah pulang dari Bali belum?"
Refan ngerutkin dahi. "Belum. Nomornya gak aktif dari kemarin."
"Ya udah, tolong cariin terus ya. Saya gak bisa lama-lama di sini," ujarku cepet, mataku ngeliat jam dinding. Panik beneran. "Ntar pacar saya tau minta putus!"
Refan diem.
Diem banget.
Matanya yang tadi masih sisa ketawa, langsung berubah. Dingin lagi. Yang kayak di pelaminan.
"Pacar?" ulangnya. Pelan.
"Iya. Pacar saya. Namanya Bima. Satu kampus. Dia lagi KKN di Jogja, makanya belum tau aku... nikah gini. Kalau dia tau aku nikah sama kakak ipar, dia bisa putusin saya, Refan!"
Aku ngomongnya sambil mainin ujung selimut. Gak liat muka Refan.
Tiba-tiba sofa berderit. Refan duduk tegak juga. Ngadep aku full. Gak ada senyum ngeledeknya sama sekali.
"Dira. Liat saya."
Aku buang muka. Reflek.
"Dira."
Nada suaranya beda. Bukan ngledek. Serius.
Mau gak mau aku nengok. Dan jantungku ketinggalan. Mukanya serius banget.
"Sejak kapan kamu punya pacar?" tanyanya.
"Sejak... sejak 6 bulan lalu? Kenapa emang? Ada di perjanjian kan kita boleh punya kehidupan masing-masing?"
"Gak ada di perjanjian."
"Lho ada! Pasal... pasal..."
"Gak ada, Dira," potongnya. "Di kertas HVS itu cuma ada 4 pasal. Gak ada pasal pacar boleh dipertahanin."
Aku bingung. "Ya terus..."
Dia narik napas panjang. Ngusap muka yang tadi abis aku sembur.
"Jadi selama seminggu ini kamu buang muka, ngambek di sofa, ngiket rambut dua, sembur saya... itu karena kamu nungguin cowok lain?"
"Ya enggak gitu! Aku buang muka karena aku sebel disuruh gantiin kakakku! Pacar aku itu urusan beda!"
"Urusannya sama," katanya. Suaranya makin pelan, makin nusuk. "Kamu bilang perjanjian ini cuma 3 bulan. Kamu mau balik ke pacarmu abis itu. Terus saya gimana?"
Aku bengong. "Kamu gimana apanya? Kamu kan bisa balik ke kakakku!"
Refan ketawa sinis. Ketawa yang bikin aku merinding, bukan ketawa lucu tadi.
"Kakakmu kabur sama mantannya di hari pernikahan saya, Dira. Kamu pikir saya masih mau balik ke dia?"
Dush.
Aku lupa. Selama ini aku mikir Refan tuh korban kayak aku. Ternyata lukanya lebih dalem. Kak Naya bukan cuma ninggalin aku, tapi ninggalin dia di pelaminan.
"Terus kamu mikir saya cuma tempat penitipan malu sementara?" lanjutnya. Matanya natap aku lekat. "Tiga bulan selesai, kamu balik ke Bima, saya jadi duda cerai di umur 28 di depan satu Batu?"
Aku gak bisa jawab. Kuncir dua ku rasanya berat banget.
Dia ngeliat aku yang diem, terus dia ngalah. Nadanya turun.
"Denger ya," katanya, kali ini gak dingin. Serius. Dewasa banget. "Mulai malam ini kita ngobrol serius. Bukan sebagai kakak ipar sialan dan adik ipar pengganti."
"Terus sebagai apa?"
"Sebagai... dua orang yang kejebak di rumah yang sama, di pernikahan yang sama. Kalau kamu punya Bima, saya harus tau. Biar saya gak..."
Dia berhenti. Gak lanjutin.
"Biar kamu gak apa?"
"Biar saya gak kelewatan batas," jawabnya. "Tadi kamu ketawa. Pertama kalinya. Saya gak mau ngerusak itu cuma karena saya gak tau kamu udah ada yang punya."
Hening lagi. Tapi kali ini heningnya sesak.
Selimut anget tadi tiba-tiba gak anget lagi.
Refan berdiri. Ngambil gelas kosongnya yang dari tadi mau diisi.
"Udah malem. Tidur. Besok saya anterin kamu ke kampus. Sekalian... saya pengen ketemu Bima."
Aku kaget. "NGAPAIN?!"
Dia balik badan, senyum tipis, tapi senyumnya beda. Bukan ngledek. Nantang.
"Mau bilang, pacarnya lagi saya pinjam 3 bulan. Jadi jangan minta putus dulu."
Terus dia jalan ke dapur, ninggalin aku di sofa dengan rambut iket dua yang berantakan dan otak yang meledak.
GILA. REFAN MAU KETEMU BIMA?!
PAGI JAM 6.30. TERAS RUMAH BATU.
Refan udah rapi. Kemeja flanel, celana jeans, kunci mobil di tangan. Muka seriusnya udah balik. Gak ada sisa Refan yang ketawa di dapur jam 2 pagi tadi.
Dia mau beneran berangkat.
Aku lari dari kamar, masih pakai baju tidur kelinci, rambut iket dua ku lepas satu, berantakan total. Gak sempat cuci muka.
"Refan! REFAN TUNGGU!"
Dia berhenti di pintu. Gak nengok.
"Kasih saya waktu ngomong sama Bima, jangan bikin dia jantungan!" Aku ngos-ngosan, narik lengan kemejanya. "Sumpah saya jelasin pelan-pelan ke dia! Jangan sekarang!"
Refan akhirnya nengok. Tatapannya turun ke tanganku yang narik lengannya, terus naik lagi ke mukaku yang panik.
"Kenapa? Takut putus?" tanyanya. Nadanya datar.
"Iya! Jelas takut! Kamu tiba-tiba dateng bilang 'hei pacarmu lagi saya pinjam jadi istri saya 3 bulan', siapa yang gak jantungan!"
"Kasih tau kebenarannya kan lebih baik daripada dia tau dari orang lain," jawabnya. Keras. "Nanti kalau dia liat foto pernikahan kita di Instagram tante-tante kamu gimana?"
Aku diem. Itu yang paling aku takutin dari kemarin. Foto pelaminan kemarin udah nyebar di story WA keluarga besar.
"Refan, please... sehari aja. Kasih saya sehari. Saya telfon Bima dulu malam ini. Saya yang ngomong."
"Enggak."
"Refan!"
"Dira," dia lepas pelan tanganku dari lengannya. Tapi gak kasar. "Kamu dari kemarin buang muka terus kalau sama saya. Sekarang giliran Bima, kamu bela-belain sampai rambut berantakan gini nahan saya di teras. Jadi saya ini apa?"
Aku gak bisa jawab. Mulutku kekunci.
"Supir sementara? Kakak ipar sementara? Suami sementara?" Dia senyum tipis, tapi pahit. "Kalau emang sementara, ya harus jelas dari awal ke semua orang. Termasuk ke Bima. Biar gak ada yang kejebak lebih lama."
Dia buka pintu mobilnya.
"REFAN JANGAN!"
Aku teriak kenceng. Bulek yang lagi nyapu di kebun apel sampai nengok.
Refan masuk mobil. Kaca jendela dia turunin.
"Saya ke kampus kamu jam 9. Kalau kamu mau ikut ngomong bareng, ikut. Kalau enggak, saya ngomong sendiri."
BRUMM.
Mobilnya jalan turun dari rumah kebun itu, ninggalin jejak embun pagi.
Aku berdiri di teras. Kedinginan. Cuma pakai baju kelinci.
Di kepala ku cuma satu kalimat muter terus, persis kayak yang kamu bilang:
pasti putus. pasti putus. pasti putus.
HP ku getar di saku baju tidur.
Nama di layar: Bima ❤️ lagi KKN
Dia nelfon. Pas banget.
Kalau aku angkat, aku harus bilang apa? "Hai sayang, aku nikah kemarin gantiin kakakku, tapi cuma 3 bulan, jangan putusin aku ya?"
Kalau gak aku angkat, 3 jam lagi Refan bakal nyampe kampus dan ngomong duluan.
JAM 9.05. PARKIRAN KAMPUS. DI DALAM MOBIL REFAN.
Aku angkat telfon Bima di depan Refan. Sengaja. Biar Refan denger kalau aku serius gak mau putus.
Refan di jok supir, mesin mobil mati, tangannya di setir, pura-pura liat kebun apel di wallpaper HP, tapi kupingnya jelas dengerin.
"Halo, sayang?" suaraku gemeter.
"Dira! Akhirnya diangkat! Kamu kemana aja? Aku denger dari temenmu... katanya kamu nikah? Sumpah itu prank kan? Foto kamu di pelaminan disebar di grup angkatan lho!"
Jantungku jatoh.
"Bi, dengerin aku dulu ya... itu... itu gak kayak yang kamu pikir. Kakakku kabur, aku disuruh gantiin—"
"Gantiin nikah? Dira, kamu gila? Itu nikah beneran! Ada penghulu!"
"Iya nikah beneran tapi cuma 3 bulan! Sumpah Bi, ada perjanjian! Aku terpaksa! Abis 3 bulan cerai!"
Hening di seberang. Lama.
Refan ngelirik aku dari ekor mata.
Terus suara Bima... beda. Dingin.
"Dira... kamu sadar gak sih apa yang kamu omongin? Kamu nikah sama orang lain. Sah. Mau 3 bulan mau 3 hari tetep aja kamu istri orang sekarang."
"Bi jangan gitu—"
"Maaf ya, Dir. Aku KKN aja pusing, masa aku harus pusing mikirin pacarku yang sekarang statusnya istri orang lain di Batu. Aku gak bisa terusin. Maaf banget."
Tut. Tut. Tut.
Mati.
Patah hati itu bunyinya kayak gitu ternyata. Tut tut tut.
HP ku masih nempel di kuping. Tangan ku gemeter.
Pelan-pelan aku turunin HP. Liat layar yang udah mati. Nama Bima ❤️ masih ada.
Terus meledak.
"PUAS?!" Aku teriak, langsung dorong-dorong bahu Refan sekuat tenaga. "PUAS KAMU HA?! KAN UDAH AKU BILANG JANGAN! KAN UDAH AKU BILANG KASIH WAKTU!"
Refan diem. Pasrah. Biarin aku dorong.
"Gara-gara kamu! Gara-gara kamu disuruh nikah gantiin! Gara-gara kamu ngotot mau ketemu! Sekarang putus beneran! PUAS?!"
SESAMPAINYA DI RUMAH BATU. JAM 11 SIANG.
BRAK!
Tasku aku banting ke lantai. Tas tote bag kanvas isi buku kampus mental ke dinding.
Aku gak peduli. Sepatu ku lepas asal, langsung jatohin diri ke sofa ruang tamu yang tadi malem jadi saksi aku nyembur air ke muka Refan.
DUK.
Aku rebah, muka hadap sandaran sofa. Buang muka level dewa. Buang muka sambil sesenggukan. Rambut masih berantakan, mata bengkak abis nangis di mobil.
Refan masuk pelan di belakangku. Rambutnya masih sarang burung bekas aku jambak, belum sempet dia sisir lagi. Dia liat tasku yang kebanting, liat aku yang jatoh di sofa.
Dia mau ngomong. Mau ngasih air putih kayaknya.
Belum sempet buka mulut...
KRIING. KRIING.
Bunyi bel rumah kebun.
Refan dan aku saling liat. Muka kami sama-sama panik.
Jam segini siapa? Bulek biasanya gak pencet bel.
Refan bukain pintu.
Dan di depan pintu...
IBUNYA REFAN.
Bu Ratna. Pakai kebaya rapi, bawa rantang besar, bawa tas kue. Senyumnya lebar, senyum calon mertua idaman.
"Refan, Dira... Ibu datang! Ibu bawain rawon sama—"
Senyumnya berhenti.
Matanya ngeliat pemandangan di ruang tamu:
Tas banting di lantai.
Menantunya (aku) jatoh di sofa kayak mayat hidup, buang muka, mata bengkak, rambut iket dua miring.
Anaknya sendiri (Refan) rambutnya acak-acakan kayak abis tawuran sama ayam, kaosnya kusut bekas dijambak.
"ASTAGA NAGA!" teriakku dalam hati.
Bu Ratna masuk pelan. Rantangnya ditaruh di meja.
"Ast... astagfirullah... kalian habis... berantem ya?" Suaranya pelan, kaget.
Aku langsung duduk tegak. Panik. Ngelap air mata pakai lengan baju kelinci.
"Enggak Bu! Enggak berantem! Enggak!"
Refan juga panik. Langsung ngelus rambut sarang burungnya biar rapi, tapi malah makin berantakan.
"Enggak kok Bu, ini... ini..." Refan ngelirik aku. Minta tolong.
Aku harus acting. Perjanjian 3 bulan. Harus akur di depan orang tua.
Aku maksa senyum. Senyum paling palsu se-Malang Raya.
"Ini Bu... Dira abis... abis main... main jambak-jambakan mesra sama Mas Refan!"
Refan keselek. "HO'OH— HO'OH BU!"
Bu Ratna melotot. "Jambak-jambakan mesra?"
"Iya Bu," lanjutku ngarang, suaraku masih serak abis nangis. "Soalnya Mas Refan... rambutnya bagus, jadi Dira gemes! Iya kan Mas?"
Aku nengok ke Refan, mata ku ngasih kode: AYO ACTING BEGO!
Refan langsung paham. Dia duduk di sebelahku di sofa, jarak yang biasanya sejengkal, sekarang ditempelin. Tangannya langsung ngerangkul pundak ku.
Tangannya anget. Aku kaget, mau buang muka, tapi Bu Ratna ngeliatin.
"Betul Bu," kata Refan, actingnya lebih jago dari aku. Senyum manis. "Dira ini gemesannya gitu. Suka jambak kalau kangen. Tadi di mobil juga dijambak. Sampai kayak gini." Dia nundukkin kepalanya yang sarang burung itu ke depan Ibunya.
Bu Ratna yang tadinya kaget, malah... ketawa.
"Ya Allah kalian ini! Kirain berantem beneran! Ya Allah, masih kayak anak kecil pacaran ya? Mesra banget sampai jambak-jambakan!"
Aku sama Refan saling liat. Napas lega.
Tapi rangkulan Refan belum lepas. Malah makin kenceng, biar meyakinkan.
Bisiknya pelan di kupingku, cuma aku yang denger:
"Pinter actingnya, istri sarang burung."
Aku mau nyikut dia di depan Ibunya, tapi gak jadi. Karena Bu Ratna udah buka rantang rawonnya dan bilang:
"Yaudah, Ibu tinggal dulu ya? Kalian lanjutin aja mesra-mesraannya. Ibu ke belakang mau liat kebun. Jangan berisik lho!"
Lanjutin mesra-mesraan? Di sofa? Abis putus sama Bima? Abis jambak-jambakan?
Aku nengok ke Refan. Refan nengok ke aku. Rambutnya masih sarang burung.
Mampus.
Pintu belakang nutup. Kletek.
Bu Ratna udah beneran ke kebun apel belakang. Suara rantangnya dibawa Bulek ke dapur udah hilang.
Detik itu juga...
Aku langsung MINGGIR. Geser sofa sampai hampir jatoh.
Rangkulan anget Refan yang tadi buat acting langsung aku tepis.
"Eeeh kakak ipar, jangan muji acting saya ya, actingnya kelewat jelek tau!" kataku ketus, buang muka lagi ke ujung sofa yang paling jauh. Jarak 2 meter sekarang.
Padahal jantungku masih deg-degan gara-gara dirangkul.
Refan bengong. Tangannya masih ngegantung di udara bekas ngerangkul. Rambut sarang burungnya masih berantakan.
"Jelek gimana?" tanyanya pelan.
"Ya jelek! Masa jambak-jambakan mesra! Siapa yang percaya coba! Keliatan banget bohongnya! Ibu kamu pasti tau kita abis berantem!"
"Enggak. Ibu percaya," jawabnya. Masih bengong liat aku yang menjauh.
"Pokoknya jangan ke-GR-an! Tadi itu terpaksa! Karena perjanjian!"
Aku ngomel terus, ngalihin rasa malu. Ngalihin rasa yang tadi sempat nyaman pas dirangkul.
Refan gak jawab omelanku. Dia malah berdiri. Jalan ke tengah ruang tamu.
Ke arah... tas ku yang tadi aku banting.
Tasku yang kanvas itu kebuka, isinya berantakan di lantai. Buku catatan kampus, pulpen, lip balm, tisu bekas nangis, semua keluar.
Dia jongkok. Pelan-pelan.
Satu-satu dia pungutin.
Buku Metodologi Penelitian — dia tepuk-tepuk debunya.
Pulpen warna-warni — dia masukin lagi.
Tisu kusut — dia buang ke tong sampah.
Aku diem di sofa, ngeliatin. Buang mukanya jadi gak enak.
"Eh, ngapain dirapihin? Biarin aja! Kan tas saya!" kataku, tapi suaranya udah gak galak. Kecil.
Dia masih jongkok, ngerapiin tas ku sampai rapi lagi. Terus dia taruh di atas meja, bukan di lantai.
"Kalau dibanting terus, rusak," katanya pelan, tanpa nengok ke aku. "Buku kamu mahal kan?"
Aku gigit bibir.
Orang abis dijambak rambutnya sampai jadi sarang burung, abis didorong-dorong, abis dimarahin gara-gara bikin putus sama pacar...
Masih sempet ngerapiin buku.
"Refan..."
Dia berdiri, rambutnya masih berantakan. Dia ngaca sekilas di kaca jendela, baru sadar rambutnya masih hancur. Dia coba rapiin pakai tangan, tapi gak bisa. Kusut bekas jambakan ku terlalu parah.
Aku yang dari tadi buang muka, gak sengaja ngeliat pantulannya di kaca. Berantakan banget. Kasihan.
Tanganku gatel pengen benerin.
"Udah, sini," kataku akhirnya, masih judes tapi pelan. "Rambutnya berantakan banget tau. Malu-maluin."
Dia balik badan. Bengong lagi.
Aku tepuk-tepuk sofa sebelahku. Jarak sejengkal.
"Duduk. Biar saya benerin. Jangan GR, abis ini buang muka lagi kok."
Refan jalan pelan, duduk. Deket.
Aku ngulurin tangan, masih agak gemeter, benerin rambut sarang burungnya pelan-pelan. Nyisir pakai jari.
Dia diem. Merem dikit. Kayak kucing digaruk.
"Kakak ipar..." bisikku sambil benerin rambutnya.
"Hmm?"
"Maaf ya tadi aku jambak kenceng..."
Dia buka mata, liat aku yang lagi serius benerin rambutnya dari jarak deket banget.
"Gak apa," jawabnya. "Enak kok dijambak kamu. Jadi gak ngantuk."
"Refan!"
Dia ketawa lagi. Akhirnya ketawa lepas lagi setelah seharian tegang.
MALAM JAM 10. RUMAH BATU.
Aku udah siap mau tidur. Beneran siap.
Abis drama jambak, drama Bu Ratna, drama putus sama Bima, aku capek banget. Aku mandi lama, keramas, sekarang rambutku masih basah, aku keringin pakai handuk kecil depan pintu kamar. Iket dua ku udah aku lepas, rambut panjangku basah kuyup.
Aku pakai baju tidur paling kalem yang aku punya, bukan kelinci lagi. Udah niat mau tidur cantik, buang muka cantik di kasur, lupain hari sial ini.
Aku buka pintu kamar...
Dan bengong.
Kamar yang biasanya rapi, sekarang kayak abis kebakaran.
Refan... lagi boyongan.
Semua bantal dari kasur king size itu dia pindahin. Bantal tidur, bantal guling, bantal sofa kecil, semua dia peluk, dia tumpuk, dia gotong.
Mau dibawa kemana? Ke SOFA RUANG TAMU.
Dia mondar-mandir lagi kayak setrikaan, tapi sekarang versi kuli panggul. Keringetan.
"Refan? Ngapain sih?" tanyaku, handuk di rambutku berhenti aku gosok.
Dia berhenti, peluk 3 bantal sekaligus, rambutnya yang tadi udah aku rapiin, sekarang berantakan lagi karena bantal.
"Oh, kamu udah selesai mandi?" katanya santai. "Saya mau pindah."
"Pindah kemana?"
"Nemenin kamu tidur di sofa."
Aku bengong level 1000. Handuk di kepala ku miring.
"HAH?"
"Kan tadi siang kamu bilang sofa enak buat nangis? Ya udah saya pindah ke sofa juga. Biar adil. Kasurnya buat kamu aja malam ini," jawabnya enteng, sambil lanjut naro bantal-bantal itu di sofa ruang tamu yang sempit.
Sofa itu cuma muat buat aku yang kecil. Kalau Refan yang tinggi 180cm tidur di situ? Kakinya pasti nongol.
"Kamu gila ya? Ngapain nemenin di sofa? Sofanya sempit tau!"
"Gak apa," dia nata bantal. "Biar kamu gak buang muka sendirian di sofa lagi. Kalau mau buang muka, ada temennya."
Aku masih berdiri di depan pintu kamar, rambut basah netes-netes ke baju.
Dia udah selesai nata bantalnya. Boyongannya selesai. Dia duduk di sofa yang udah penuh bantal itu, terus tepuk-tepuk space kecil di sebelahnya.
"Sini. Rambutmu masih basah. Nanti masuk angin. Keringin di sini aja."
Aku masih bengong.
"Kakak ipar... kamu ngapain sih baik gini? Tadi pagi aja kamu bikin aku putus!"
Dia diem sebentar. Liat aku yang masih berdiri pakai handuk, muka capek.
"Karena tadi pagi rambut saya dijambak sampai jadi sarang burung, jadi sekarang saya balas dendam," katanya, tapi senyumnya gak ada dendam sama sekali. "Sini, saya keringin. Biar cepet. Tangan kamu pasti pegel."
Aku mau nolak. Mau bilang "Gak usah! Saya bisa sendiri! Buang muka aja!"
Tapi kaki ku malah jalan pelan ke sofa.
Aku duduk di ujung sofa, jarak sejengkal dari tumpukan bantal boyongannya.
Handuk ku masih di tangan.
Refan pelan-pelan ambil ujung handuk ku.
"Jangan buang muka dulu ya, lagi dikeringin," bisiknya.
Dan malam itu, di sofa sempit yang penuh bantal hasil boyongan, cowok yang seminggu lalu masih kuanggap kakak ipar sialan, lagi ngeringin rambutku yang basah pelan-pelan pakai handuk.
Gak ngeledek. Gak ngakak. Cuma... nemenin.
JAM 11.30 MALAM. SOFA BOYONGAN.
Aku udah baringan di sofa. Selimutan tebal yang tadi pagi. Posisi masih buang muka, tapi buang mukanya ke arah punggung sofa, bukan ke Refan. Refan duduk di lantai, nyender ke sofa, deket kaki ku. Biar sofanya muat buat aku selonjor.
Lampu ruang tamu udah dimatiin, sisa lampu dapur doang yang temaram. Api perapian udah mati, sisa angetnya doang.
Aku gak bisa tidur. Kepala isinya Bima yang tut tut tut, Bu Ratna yang rawon, sama rambut Refan yang tadi aku jambak.
Akhirnya aku buka suara. Pelan.
"Jadi gimana kakak ipar?"
Refan noleh. "Hmm?"
"Pacaran sama kakak saya ngapain aja? 4 tahun loh? Dulu pas sama kakak saya kan saya masih SMA?" tanyaku. Mataku masih liat langit-langit kayu. "Masa SMA ku kan liat kalian pacaran terus. Kak Naya pulang cerita Refan beliin ini itu, Refan ngajak ke sini ke sana."
Refan diem.
Diem lama banget. Sampai aku kira dia ketiduran duduk.
Aku noleh dikit. Dia masih melek. Natap perapian yang udah mati.
"Ngapain ya..." katanya akhirnya, suaranya pelan banget, gak kayak Refan yang biasanya ngeledek. "Banyak."
"Banyak gimana?"
"Kakak kamu... dia cantik. Pinter ngomong. Semua orang suka dia," Refan ngomong, tapi matanya kosong. "4 tahun itu... saya ngerasa harus terus bikin dia betah. Anter jemput Malang-Surabaya. Belikan dia butiknya di Malang itu. Bikinin rumah ini... katanya dia mau rumah kebun apel kalau nikah nanti."
Aku diem. Rumah kebun ini ternyata buat Kak Naya.
"Terus?" bisikku.
"Terus saya lupa nanya, dia betah gak sama saya. Bukan sama butiknya, sama rumahnya, sama anter jemputnya," lanjutnya. Dia ketawa kecil, pahit. "Ternyata enggak. Buktinya di hari nikah dia bisa kabur sama mantannya yang cuma bawa motor beat."
Aku langsung duduk. Selimutku melorot.
"Refan..."
"Pas kamu masih SMA, kamu sering ngintip kita pacaran di ruang tamu rumah kamu kan?" tanyanya tiba-tiba, nengok ke aku.
Aku kaget. "Kok tau?!"
"Keliatan. Dari jendela. Kamu pakai seragam SMA, rambut dikuncir satu, bawa buku tulis, ngintip 5 detik terus lari."
Muka ku panas. Malu banget.
"Saya inget, waktu itu saya mikir, adiknya Naya lucu juga ya, kalau naksir orang pasti gak bakal ribet kayak kakaknya."
Jantungku... deg.
"Terus sekarang lucu itu malah jadi istri saya. Yang hobi jambak rambut orang sampai jadi sarang burung."
Aku buang muka lagi, tapi kali ini bukan kesel. Grogi.
"Terus... kamu masih sayang kakakku?" tanyaku akhirnya. Pertanyaan yang dari minggu lalu pengen aku tanyain.
Refan diem lagi. Lama.
Terus dia geser, dari duduk di lantai, jadi duduk di tepi sofa, deket sama aku yang lagi baringan. Jaraknya deket banget.
Dia liat aku. Rambutku yang udah setengah kering, muka bantal.
"Kalau saya bilang masih sayang, kamu mau ngapain?" tanyanya balik. Serius.
Aku bingung. "Ya... ya gak ngapa-ngapain. Kan saya cuma gantiin."
"Kalau saya bilang udah enggak... kamu percaya?"
Aku gak jawab. Aku cuma liat mata dia. Mata yang dari tadi cerita, capek banget.
Dia narik napas, terus pelan-pelan, dia ambil ujung selimutku, naikin sampai ke bahu ku biar gak kedinginan.
"4 tahun itu lama, Dira. Tapi seminggu sama kamu yang buang muka terus, rambut diiket dua, nyembur air, jambak rambut... rasanya lebih capek, tapi lebih... hidup."
Dia berhenti. Kayak keceplosan ngomong sesuatu.
Aku yang tadi udah mau tidur, matanya merem, tiba-tiba melek lagi.
"Waaaaah 4 tahun loh, aku ngga yakin ngga ngapa-ngapain," ledekku. Senyum jail ku muncul.
Senyum yang udah 7 hari hilang, yang biasanya cuma muncul kalau aku lagi ngerjain kakakku pas SMA dulu.
Refan yang lagi nyender di sofa, yang udah mau merem juga, langsung melek.
"Hah?"
"Ya masa 4 tahun pacaran gak ngapa-ngapain? Dulu pas aku SMA kan sering liat kakak pulang malem dianterin kamu. Jangan-jangan... eeeh?"
Aku goyang-goyangin alis. Jail banget.
Refan langsung duduk tegak. Muka kaget.
"Dira!"
"Apa? Kan aku nanya! 4 tahun loh kakak ipar! Aku kan masih bocah SMA waktu itu, polos, taunya kalian cuma nonton bioskop doang."
Refan yang tadi masih mellow cerita sedih, sekarang mukanya merah. Panik.
"Eh, pikiran kamu jangan kemana-mana ya! Kita pacaran normal!"
"Normalnya pacaran 4 tahun tuh ngapain? Hayo?"
Aku makin jail. Mumpung di atas angin. Abis dijambak rambutnya, sekarang giliran aku yang ngeledek.
Di mata ku kan emang dia masih kakak ipar. Kakak ipar yang sok cool yang bisa aku kerjain. Bukan... yang lain. Jadi aman aja ngeledek gini.
"Kita paling mentok cuma... cuma... pegangan tangan! Udah!"
"Bohong!" Aku ketawa kecil, masih baringan tapi sekarang miring ngadep dia. "Kakakku tuh cantik tau! Masa cuma pegangan tangan?"
"Dira!"
"Sumpah deh kakak ipar, aku gak yakin. Jangan-jangan kamu udah... udah..."
Aku gak lanjutin. Cuma senyum jail, mata melotot.
Refan makin panik. Tangan dia langsung nutupin muka ku pakai bantal kecil.
"Udah! Tidur! Bocah SMA gak boleh mikir aneh-aneh!"
"BOCAH? Aku udah jadi istri kamu tau! Istri sementara tapi istri!"
"Nah itu tau, istri, jadi gak boleh mikirin kakaknya sama suaminya ngapain dulu!"
Aku singkirin bantalnya. Ngakak. Ketawa beneran sampai selimut melorot.
"Yeuuu kakak ipar panik! Berarti beneran ya ngapa-ngapain!"
"ENGGAK!"
"Ngapain hayo ngaku!"
Refan nyerah. Dia rebah lagi ke sofa, napas ngos-ngosan gara-gara diledek bocah 23 tahun.
Dia liat langit-langit, terus bilang pelan, masih agak malu:
"4 tahun itu saya jaga kakak kamu kayak jaga toko emas, Dira. Gak berani macem-macem. Soalnya saya pikir... kalau dijaga baik-baik, dia gak bakal kabur."
Hening.
Senyum jail ku hilang pelan.
"Ternyata kabur juga ya," lanjutnya, ketawa kecil. "Jadi... buat apa ngapa-ngapain kalau akhirnya ditinggal di pelaminan."
Aku diem. Nyesel ngeledek.
"Sorry..." bisikku.
"Gak apa," katanya. Dia noleh ke aku. "Justru bagus kamu ngeledek gitu. Berarti kamu udah gak buang muka lagi. Udah liat saya bukan patung setrikaan."
Aku gak buang muka. Aku masih miring ngadep dia di sofa sempit itu.
"Terus... kalau sama aku, mau ngapa-ngapain gak?" keceplosan. Mulutku emang gak ada remnya kalau udah jail.
Refan bengong. Matanya melotot.
"D-DIRA!"
Aku langsung narik selimut nutupin muka sampai hidung. Malu sendiri.
"EEH SALAH! MAKSUDNYA... MAKSUDNYA... kan kita serumah 3 bulan! Ngapa-ngapainnya tuh kayak... kayak makan bareng... nonton... bukan yang aneh-aneh!"
Refan masih bengong, telinganya merah.
"Oh... makan bareng..." dia ngulang, lega. "Kirain..."
"Kirain apa?!"
"Enggak!"
"Oh... makan bareng..." Refan ngulang kata-kataku, nadanya lega banget tapi matanya masih melotot. "Kirain..."
"Kirain apa?!" Aku ngintip dari balik selimut yang nutupin muka ku sampai hidung. Tinggal mata doang yang keliatan.
"Enggak. Kirain kamu mau ngajak boyongan bantal lagi," jawabnya. Ngeles. Jelek banget ngelesnya.
Aku turunin selimut dikit. "Yeee kakak ipar ngeles! Mukanya merah tuh!"
"Siapa yang merah? Saya enggak!"
"Tu tu tu telinga kamu merah!"
Refan langsung nutupin telinga pakai dua tangan. Panik. Kayak bocah ketahuan nyontek.
Aku ngakak lagi. Lupa tadi abis nanya hal sensitif soal kakakku. Suasana mellow tadi hilang, balik lagi jadi warung jail di sofa.
"Udah ah, gak jadi malu-maluin," kataku, balik baringan miring ngadep dia. "Jadi kesimpulannya, 4 tahun sama kakakku cuma pegangan tangan. Catet."
"Catet di mana?"
"Di buku diary ku. Judulnya: Sejarah Hidup Kakak Ipar Yang Sangat Polos."
Dia mendengus. "Polos apanya, orang saya udah nikah dua kali."
"Dua kali sama orang beda pula. Yang pertama kabur, yang kedua tukang jambak."
"Yang kedua lebih serem," bisiknya, tapi senyum.
Hening lagi. Enak. Gak canggung kayak tadi.
Lampu dapur yang temaram bikin bayangan rambutku yang udah kering setengah di sofa.
Refan yang masih duduk di tepi sofa, tangannya iseng. Narik ujung handuk ku yang tadi buat ngeringin rambut, yang sekarang tergeletak di antara kami.
"Di," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Tadi kamu bilang... di mata kamu saya masih kakak ipar."
Aku diem. Iya, aku ngomong gitu di dalam hati tadi, kok dia bisa tau?
"Terus kapan... di mata kamu saya bukan kakak ipar lagi?"
Pertanyaannya pelan banget. Sampai hampir kalah sama suara jangkrik di kebun apel.
Aku gak bisa jawab. Senyum jail ku hilang lagi. Jantungku mulai yang deg-deg gak jelas lagi kayak pas abis nyembur air kemarin.
Aku buang muka. Reflek. Tapi buang mukanya cuma geser 2 cm. Masih ngadep dia.
"Gak tau," jawabku jujur, suaranya kecil. "Kan perjanjiannya 3 bulan. Sekarang masih hari ke-8."
"Hari ke-8 yang rambut saya udah jadi sarang burung dua kali."
Aku ketawa kecil. "Ya itu... masih kakak ipar yang sialan."
"Oh, masih sialan."
"Iya."
Dia angguk-angguk. Kayak ngerti. Terus dia rebah pelan, ikut baringan di sofa yang sempit itu. Bantal boyongannya dia jadiin guling di tengah sebagai pembatas. Pembatas yang tipis banget dan gak guna.
Kami berdua baringan di satu sofa. Miring hadap-hadapan. Dipisahin guling bau apel.
"Ya udah," bisiknya, matanya udah ngantuk. "Gak apa jadi kakak ipar yang sialan dulu. Asal jangan buang muka terus."
"Kalau aku masih buang muka terus gimana?"
"Ya saya boyongin lagi kasurnya ke sini besok. Sampai kamu bosen liat muka kakak ipar sialan ini."
Aku mau jawab "Ogah!" Tapi ngantukku menang.
Mataku merem. Terakhir yang aku liat sebelum tidur adalah Refan yang rambutnya masih agak berantakan bekas jambakanku, lagi berusaha merem juga, tapi tangannya nahan guling biar gak jatoh dan nimpa aku.
PAGI JAM 6.45. HARI KE-9.
Aku udah rapi. Bukan baju kelinci. Kemeja kampus, celana jeans, tas tote bag yang kemarin dibanting dan udah dirapiin Refan. Rambut iket satu, bukan dua. Udah gak sarang burung.
Semalam tidur di sofa boyongan berdua, tapi pagi ini aku bangun duluan. Refan masih meluk guling pembatas kayak gulingnya adalah aku. Ngorok kecil.
Aku gak mau bangunin. Aku langsung ambil kunci.
Kunciku sendiri. Kunci motor matic bekas warna putih tulang. Hasil kerja sampinganku jadi admin olshop hijab pas semester 5-6. Bukan motor butut, tapi jelas bukan mobil kebun apelnya Refan.
Aku panasin motor di depan rumah. Suara knalpotnya... berrrr... malu-maluin kalau dibandingin mobil Refan.
Refan kebangun gara-gara suara motorku. Keluar pakai kaos oblong, rambut masih sarang burung level 2, mata masih setengah merem.
"Dira? Mau kemana?"
"Kampus. Hari ini ada bimbingan skripsi," jawabku sambil pasang helm.
"Ya udah tunggu, saya anter. Motor kamu—"
"Enggak usah!" potongku cepet. Buang muka lagi. Balik ke mode Dira yang mandiri. "Aku bisa sendiri. Lagian ini motor hasil kerja sampinganku, jangan diremehin."
Refan bengong di teras. Ngeliat aku yang udah naik motor, siap pamitan. Dia yang biasanya nyetirin, sekarang gak dibutuhin.
Dia garuk kepala sarang burungnya.
"Yaudah... hati-hati."
Aku angguk. Mau gas.
Eh dia malah jalan cepet ke dalam rumah, balik lagi bawa sesuatu.
Dompet kulit. Dia keluarin satu kartu.
ATM.
Dia nyodorin ke aku. Depan motorku yang masih berrr.
"Ini," katanya.
Aku bengong. "Apa?"
"Uang nafkah."
"HAH?"
"Kan... kan kamu istri saya sekarang. Walaupun sementara. Harus ada nafkah. Di perjanjian pasal 2 kan ada hak nafkah istri."
"Refan, aku punya uang sendiri! Gak usah!"
"Ambil aja. Buat bensin. Buat jajan di kampus. Biar gak dibilang suaminya gak tanggung jawab sama Bu Ratna."
Tangannya masih nyodorin ATM itu. Mukanya serius. Bukan ngeledek.
Aku liat ATM itu, liat muka Refan yang masih ngantuk tapi maksa.
"Gak mau! Aku bukan matre! Aku bisa cari uang sendiri!" Aku buang muka, tapi tangan ku gemeter megang gas motor.
Refan diem. Terus... dia gak maksa naro di tangan ku.
Dia maksa naro di... saku tote bag ku yang kebuka.
Selip.
"Isinya gak banyak kok," bisiknya cepet. "Cuma cukup buat ganti motor kamu jadi yang gak bunyi berrr gitu. Biar gak malu-maluin pas parkir di kampus."
"REFAN WIJAYA!"
Aku teriak, tapi motor ku udah terlanjur aku gas.
"BALIKIN NIH ATM!"
"ENGAK! ANGGAP AJA UANG JAMBAK RAMBUT SEMALEM! JASA SALON SARANG BURUNG!"
Dia teriak balik dari teras sambil ngakak, rambutnya masih berantakan.
Aku ngacir turun dari kebun apel. Di spion, keliatan Refan masih berdiri di teras pakai kaos oblong, dadah-dadah kayak suami nganter istri beneran.
Di saku tas ku, ATM nya anget.
Sialan. Kenapa jadi kayak istri beneran yang dikasih nafkah pagi-pagi?
KANTIN KAMPUS JAM 12.30. MEJA PALING UJUNG.
Aku duduk. Depan ku Bima. Sebelah ku Tika, sahabatku dari maba yang udah aku curhatin semalem sampai dia bilang "GILA KAMU DIR, NIKAH GANTIIN? SINETRON APA INI?"
Motor ku aman di parkiran. ATM Refan masih di tas, belum aku pakai. Niatnya abis ini mau aku balikin, lempar ke mukanya.
" Bim, sumpah! Jadi tuh kakakku kabur pas hari H, gila nggak sih?" Aku mulai. Nafas ku ngos-ngosan karena habis ngejelasin dari awal. Dari kakak kabur, rumah kebun apel, perjanjian 3 bulan, sampai boyongan bantal.
Bima, pakai kaos KKN, mukanya capek. Dia ngaduk es tehnya pelan.
"Ya terus gimana? Saya nggak mau pacaran sama istri orang," katanya. Datar. Kata yang sama persis kayak di telfon semalam, tapi sekarang langsung di depan muka.
Aku menghela nafas. Iya juga sih. Kalau aku jadi Bima, aku juga gak mau.
Tika nyolek lenganku, bantuin. " Bim, dengerin dulu. Dira tuh terpaksa. Dia disuruh keluarganya. Kalau enggak, keluarga besar malu, catering udah dateng, tenda udah berdiri. Masa dibatalin?"
Bima liat Tika, terus liat aku lagi.
"Terus saya harus gimana, Tik? Nungguin? Pacar saya nikah sama orang lain, sah, tidur serumah. Saya disuruh nungguin di posko KKN sambil ngurusin pupuk kandang?"
"Enggak tidur serumah yang aneh-aneh kok!" Aku langsung bela diri, panik. "Kita tidur pisah! Kemarin aja saya di sofa, dia di lantai! Ada guling pembatas!"
Bima ketawa pahit. "Guling pembatas? Dira, kamu dengerin diri kamu sendiri gak? Kamu udah kayak istri beneran cerita soal guling."
Aku diem.
"Tapi Ka Naya nggak akan lama, Bim, makanya 3 bulan ini cukup buat bujuk Ka Naya pulang," lanjutku, suaraku mengecil. "Abis itu aku cerai. Selesai. Kita bisa balikan lagi kayak dulu. Aku janji."
Bima ngaduk es tehnya makin kenceng. Es batunya berisik.
"Dira... kamu janji bisa bujuk kakak kamu pulang? Kalau kakak kamu gak pulang gimana? Kamu mau lanjut jadi istri kakak ipar kamu selamanya?"
Pertanyaan itu...
Aku gak pernah kepikiran.
Kalau Kak Naya beneran gak pulang? Kalau dia betah sama mantannya?
Terus aku gimana? Jadi istri Refan beneran? Selamanya?
Tika liat aku bengong, langsung motong. " Bim, jangan gitu dong. Kasih Dira waktu. 3 bulan kan bentar. Hitung-hitung Dira lagi... lagi kerja. Kerja jadi istri pengganti."
Bima berdiri. Narik tas KKN nya.
"Maaf ya, Dir. Saya butuh waktu juga. Saya nggak bisa liat kamu tiap hari di story orang, pakai seragam nikahan sama orang lain, terus saya harus pura-pura jadi pacar kamu. Sakit."
Dia jalan.
" Bim!"
Aku mau ngejar, tapi Tika nahan tanganku.
"Biarin dulu, Dir. Kasih dia napas."
Aku jatohin badan ke meja kantin. Jidat ku jedug ke meja.
"Gimana, Tik? Beneran putus ya aku?"
Tika ngelus punggungku. "Enggak tau, Dir. Tapi menurutku... pertanyaan Bima tadi bener. Kalau kakakmu gak pulang gimana?"
Aku ngangkat kepala. Mata ku berkaca-kaca lagi. Tiga kali nangis dalam 24 jam.
Di tas ku, HP ku getar.
Bukan Bima.
Nama di layar: Kakak Ipar Sialan (Sarang Burung)
Chatnya: Motor kamu bunyi berrr nya kedengeran sampai kebun apel. Jadi saya susulin aja ya? Udah di parkiran kampus. Ada ATM saya yang nyasar di tas kamu tuh.
Aku mendongak. Liat ke arah parkiran kantin.
Dan di sana...
Refan. Pakai kemeja flanel rapi, rambutnya UDAH RAPI LAGI (pasti abis disisir Bulek), lagi nyender di mobilnya. Sambil ngangkat ATM cadangan di tangannya, senyum ngeledek ke arahku.
Di saat aku lagi patah hati gara-gara Bima barusan cabut.
Astaga naga, timingnya!
SEMIINGGU SETELAH KANTIN. TEPAT SEBULAN NIKAH.
HARI HARIAN SIAL.
RUMAH BATU JAM 4 SORE.
Aku baru pulang kampus, motor berrr ku parkir. Masuk rumah, mau langsung rebah di sofa boyongan yang sekarang jadi sofa permanen kita.
Tapi ruang tamu rame.
Bapak Ibuku ada. Bu Ratna mertua ada. Refan ada, duduk di pojok, muka datar. Gak sarang burung, rapi banget malah. Kayak lagi rapat RT.
Dan di tengah...
KAK NAYA.
Pulang. Dari Bali.
Pakai dress pantai, kacamata hitam di kepala, koper besar, kulit agak gosong. Cantik. Tetep cantik kayak yang diceritain Refan dulu.
"Ka Naya?" Suaraku pelan.
Semua nengok ke aku.
Kak Naya senyum. Senyum gak bersalah.
"Eh, Dira! Kamu udah pulang? Pas banget!"
Pas banget apanya?
Bukan Refan yang marah. Refan diem aja dari tadi katanya. Dari jam 2 siang pas Kak Naya pulang bawa koper, Refan cuma bilang "Oh, udah pulang."
Yang meledak malah aku.
Seminggu aku nahan jadi istri pengganti. Seminggu aku jambak rambut orang, tidur di sofa boyongan, diputusin Bima, dikasih ATM, dijemput di kampus.
Dan orang yang bikin semua ini pulang dengan senyum pantai?
DARAH KU NAIK.
"Kakak gila tau nggak! Bisa-bisanya kabur pas nikah, malah kabur sama mantan, emang kabur gitu dapet apa?!" teriakku. Tas ku banting lagi. BRAK. Untuk kedua kalinya di rumah ini.
Semua bengong. Bapak ku mau nyela "Dira jaga omongan!" tapi Ibu ku nahan.
Kak Naya kaget. "Dir, dengerin dulu—"
"Enggak! Dengerin aku dulu! Kamu tau enggak aku seminggu ini ngapain?! Aku disuruh gantiin kamu! Aku nikah sama pacar kamu! Aku tidur di rumah kebun apel kamu! Aku putus sama Bima gara-gara kamu!"
Aku maju selangkah. Mulut pedes ku yang biasanya buat ngeledek Refan, sekarang keluar semua.
"Waaah jangan-jangan kakak pulang karena mantan kakak udah nggak mau? Atau kakak hamil?"
SEPI.
Sepi total. Jangkrik kebun aja berhenti.
Bapak ku melotot. Ibuku nutup mulut. Bu Ratna yang biasanya kalem, bengong pegang tasbih.
Refan? Refan yang dari tadi diem di pojok, langsung batuk. "Uhuk!"
Kak Naya mukanya merah. Dari cantik pantai jadi merah tomat.
"Dira! Jaga mulut kamu ya! Nggak sopan banget!" bentak Kak Naya.
"Nggak sopan? Yang gak sopan tuh siapa? Yang kabur pas ijab kabul siapa? Aku yang disuruh beresin ta*inya siapa?!"
Aku udah nangis lagi. Tapi nangis marah. Beda sama nangis pas Bima putus.
"Enak ya jadi kakak! Kabur tinggal kabur! Yang di rumah disuruh nikah! Yang di kampus diputusin pacar! Terus sekarang pulang-pulang bawa koper kayak gak ada dosa!"
Refan berdiri. Akhirnya dia gerak. Dia jalan ke tengah, di antara aku dan Kak Naya.
Bukan belain Kak Naya.
Dia narik tanganku pelan. Mundur.
"Udah, Dira," bisiknya di kupingku, pelan cuma aku yang denger. "Napas."
Tangannya anget. Nahan aku yang gemeter.
Kak Naya liat itu. Liat Refan narik aku, bukan narik dia.
Matanya... berubah. Kaget.
"Refan?" panggil Kak Naya. "Kamu... kok belain Dira?"
Refan noleh ke mantan pacar 4 tahunnya itu. Ke cewek yang rumah kebun ini dia bangun buat dia. Ke cewek yang kabur di hari nikah.
Terus dia liat aku lagi. Yang rambutnya berantakan, muka merah marah-marah, yang sebulan ini jadi sarang burung berjalan di rumahnya.
Dia tarik napas.
"Naya, yang marah sama kamu bukan saya. Yang berhak marah sama kamu tuh Dira. Karena dia yang ngerasain sebulan ini. Saya cuma... jagain biar dia gak capek marah-marah sendirian."
Satu rumah bengong lagi.
Bapak Ibu ku saling liat. Bu Ratna senyum tipis, kayak... lega?
Aku yang ditarik Refan, masih sesenggukan, tapi di dalam hati...
Lah kok dibelain kakak ipar sialan?
" Sekarang ngapain pulang? Ngapain?!" Aku masih desak Kak Naya. Suaraku udah serak.
Kak Naya yang tadi mau nangis karena aku bentak, sekarang malah diem. Kopernya masih di tengah ruang tamu.
"Kalau mau balik sama Kak Refan silahkan! Aku mundur, lagipula aku cuma pengganti!" ujarku. Keras. Lebih keras dari pas aku jambak rambut Refan.
Semua orang di ruang tamu makin bengong. Bapak ku sampai berdiri.
Refan? Dia masih megangin tanganku yang gemeter, tapi sekarang tangannya ikut kenceng.
Aku lepas tangannya.
"Oh ya, satu lagi Ka! Data di buku nikah juga atas nama kakak bukan aku!"
Hening lagi.
Itu bener. Kemarin Bu Ratna ke KUA, aku liat sendiri. Buku nikah warna hijau itu nama pengantin wanitanya tetap: NAYA AULIA. Bukan Dira.
Cuma pas akad aja, penghulu salah... eh bukan salah, disuruh ganti nama. Jadi yang ngomong "Saya terima nikahnya..." itu namaku.
Semuanya emang bener, cuma akadnya aja diganti nama. Suratnya masih atas nama kakakku.
"Jadi enak kan? Tinggal pakai lagi aja bukunya! Gak usah bikin baru!" Aku ketawa pahit. Paling pahit seumur hidup.
Terus aku nengok ke Refan.
"Dan Kak Refan, Kak Naya udah pulang, tinggal gimana masalah kalian sendiri, aku capek!" ujarku.
Habis itu...
BRAK!
Aku banting pintu kamar. Kamar yang sebulan ini jadi kamar ku sama Refan tapi pisah kasur dan sofa boyongan.
Aku kunci. JEDER.
Di dalam kamar, aku jatoh ke kasur. Gak nangis. Capek doang. Capek jadi pengganti.
---
DI RUANG TAMU. HENING LAGI.
Tinggal Refan dan Naya. Bapak Ibu ku dan Bu Ratna udah keluar pelan-pelan ke teras, ngasih space. Ngerti ini urusan mereka.
Naya duduk di sofa boyongan itu. Sofa yang masih penuh bantal hasil boyongan Refan seminggu lalu. Dia bingung liat bantal sebanyak itu.
Naya buka suara duluan. Suara cantiknya yang dulu bikin Refan bangun rumah kebun ini.
"Refan... maafin aku ya. Aku... aku kalut pas hari H."
Refan masih berdiri di tempatku tadi berdiri. Tempat di mana aku marah-marah.
"Naya," jawab Refan, suaranya datar. Bukan marah. Datar banget. Yang bikin lebih sakit dari marah. "Kamu pulang mau apa?"
"Aku... aku udah putus sama mantanku. Di Bali dia... dia ternyata udah punya istri. Aku dibohongin. Jadi aku pulang."
Refan angguk. Pelan.
"Oh."
Cuma "Oh."
"Refan, buku nikah masih atas nama aku kan? Berarti kita masih bisa... kita masih bisa lanjut. Dira kan bilang dia mundur. Kita bisa nikah ulang, akad ulang. Kayak rencana awal."
Naya nyoba pegang tangan Refan.
Refan mundur selangkah. Gak kasar. Tapi jelas.
"Naya, sebulan ini yang ada di rumah ini bukan kamu. Yang jambak rambut saya sampai jadi sarang burung bukan kamu. Yang banting tas sampai dua kali bukan kamu. Yang marah-marah di depan kamu tadi bukan saya, tapi Dira."
Naya diem. Tangannya ngegantung di udara.
"Dira bilang dia cuma pengganti. Tapi sebulan ini... saya lupa dia pengganti," lanjut Refan. Suaranya pelan, tapi kedengeran sampai ke pintu kamarku yang aku kunci.
"Saya lupa caranya marah sama kamu, Naya. Karena yang saya takutin sekarang bukan kamu kabur lagi. Tapi... Dira yang capek terus beneran mundur."
Di dalam kamar, aku yang tadinya pura-pura kuat, denger semua itu dari balik pintu.
Tapi namanya juga Dira. Beda sama Naya kakaknya.
Kalau Naya itu tipe yang kalau ada masalah kabur ke Bali, Dira itu tipe yang kalau bapak ibu berantem di rumah, Dira yang jadi hakim. Ketok palu. "Bapak salah, Ibu bener, selesai!" Walaupun umur paling kecil.
Jadi pagi ini, jam 6 pagi, hakim Dira sidang.
Aku bangun, pintu kamar ku buka. Refan tidur di sofa boyongan lagi semalam, karena aku kunci kamar. Guling pembatas masih di tengah.
Aku taro ATM nya di atas bantalnya. Tepat di depan mukanya yang masih ngorok.
"Refan. Bangun."
Dia bangun. Kaget liat ATM.
"Ini saya balikin," kataku tegas. Mode hakim. "Uang nafkah gak kepake. Motor saya masih bunyi berrr tapi masih jalan. Makasih."
Refan duduk. Rambut sarang burung pagi. "Dira, ini—"
"Dan satu lagi," potongku. "Balik sama Kak Naya aja."
Hening.
Refan bengong. "Hah?"
"Kak Naya udah pulang. Buku nikah atas nama dia. Akad kemarin kan bisa diulang. Tinggal akad ulang. Kalian yang pacaran 4 tahun, yang bangun rumah kebun ini bareng. Saya? Saya cuma pengganti. Sidang selesai."
Aku ngomong kayak hakim beneran. Tegas. Gak ada nangis. Padahal dalam hati... deg-degannya kayak mau sidang skripsi.
Refan liat ATM di bantalnya, liat aku yang udah pakai helm mau berangkat kampus.
"Dira, kamu serius?"
"Serius. Keputusan hakim tidak dapat diganggu gugat. Ketok palu."
Aku ketok helm ku sendiri. TOK.
Terus aku cabut. Naik motor berrr ku. Ninggalin Refan bengong di sofa boyongan sama ATM nafkah yang dibalikin.
---
DI KAMPUS JAM 10. KANTIN LAGI.
Bima duduk. Tika enggak ada, lagi kelas.
Aku duduk depan Bima. Bawa bukti.
"Bim, dengerin. Buku nikah atas nama kakakku. Bukan aku. Liat nih foto," aku sodorin foto buku nikah yang kemarin aku foto diam-diam. Nama wanita: Naya Aulia.
Bima liat. Baca. Mengernyit.
"Jadi akad doang yang pakai nama kamu?"
"Iya. Jadi secara negara, aku bukan istri orang. Secara agama pun... ya bisa dibatalin karena salah orang. Makanya aku nyuruh Refan balik sama kakakku. Biar beres."
Bima diem lama. Terus dia nghela napas. Panjang.
"Jadi kamu beneran cuma pengganti..."
"Iya! Makanya kemarin aku marah-marah ke kakakku. Aku hakim di rumah, Bim."
Bima akhirnya senyum. Senyum pertama setelah seminggu putus.
"Ya udah. Kalau gitu aku paham. Sorry kemarin aku egois, Dir. Kirain kamu beneran... ya gitu."
"Ya gitu gimana?"
"Ya jadi istri beneran."
Aku ketawa kecil. "Enggak lah. Mana mau aku jadi istri kakak ipar sialan."
"Yaudah, balikan ya?"
Aku angguk. Lega. Akhirnya satu masalah selesai.
Tapi...
---
DI KANTOR REFAN JAM 11. KEBUN APEL OFFICE.
Refan bingung. Di depan laptop ada laporan apel, tapi di kepala ada dua nama: Naya dan Dira.
HP nya getar.
Chat dari Bu Ratna: Naya masih di rumah Ibu ya. Ibu suruh di rumah Ibu dulu biar gak rame. Dira gimana?
Chat dari Bapak ku: Dira udah berangkat? Tadi pagi katanya jadi hakim. Hati-hati lho Fan, hakimnya galak tapi nangisan.
Refan garuk kepala. Sarang burung lagi.
Seminggu lalu cuma ada Dira yang buang muka. Sekarang ada Naya yang pulang dan minta balikan, ada Dira yang jadi hakim nyuruh dia balikan sama Naya, dan ada ATM yang dibalikin di bantalnya.
Dia ngetik chat ke aku:
Hakim, sidangnya gak adil. Terdakwanya gak ditanya mau balik sama siapa. ATM nya saya simpen dulu ya, siapa tau hakimnya butuh bensin lagi nanti.
Di kampus, aku baca chat itu sambil duduk depan Bima yang baru aja balikan.
Dan untuk pertama kalinya, balikan sama Bima rasanya...
Gak selega yang aku kira.
SORE JAM 5. RUMAH BATU. HARI KE-31.
Aku pulang kampus. Motor berrr ku mati di tanjakan kebun terakhir, jadi aku tuntun. Capek.
Di teras, Refan ada. Gak masak rawon. Cuma duduk di kursi kayu, ngeliatin kebun apel yang mulai gelap. ATM yang tadi pagi aku balikin, ada di meja depannya. Gak dia ambil.
Aku tau ini terakhir kalinya aku bisa ngomong tanpa ada Kak Naya. Tanpa Bu Ratna. Tanpa Bapak Ibu. Tanpa Bima. Cuma kami berdua di rumah yang kebangun buat orang lain.
Aku lepas helm. Duduk di kursi sebelahnya. Gak di sofa boyongan. Di teras.
"Kak," panggilku. Akhirnya aku panggil Kak, bukan Kakak Ipar Sialan. "Maaf aku nggak bisa, lagian di buku juga namanya Naya! Mana bisa aku!"
Refan noleh. Dengerin.
"Aku nggak mau juga sama Kakak, aku liatnya Kak Refan pacarnya Kakakku nggak lebih!" lanjutku. Suara hakim. Tegas. Tapi mata ku yang ngomong tegas, tangannya gemeter megang helm.
Itu kalimat paling jujur yang bisa aku keluarin.
Refan diem lama. Angin kebun apel sore lewat di antara kami.
"Oh," katanya akhirnya. Cuma "Oh" lagi kayak kemarin ke Naya. Tapi "Oh" nya beda. Lebih pelan.
"Jadi di mata kamu... saya tetep pacarnya kakak kamu," ulang dia.
"Iya!" Aku angguk cepet. "Dari SMA aku liatnya gitu! Kakak beli butik, Kakak anter jemput, Kakak bangun rumah ini! Mana bisa aku... mana bisa aku liat lebih!"
Aku ngomongnya berantakan. Hakimnya mulai nangisan.
Refan angguk-angguk. Ngerti.
Dia ambil ATM di meja, terus... dia masukin lagi ke saku tote bag ku. Pelan. Gak maksa kayak kemarin.
"Ya udah," katanya. "Kalau gitu sidangnya saya terima."
"Hah?"
"Keputusan hakim: Dira bukan pengganti. Dira tetap adiknya Naya. Refan tetap pacarnya Naya. Buku nikah atas nama Naya. Selesai."
Dia berdiri. Mau masuk rumah.
Aku panik. "Terus... terus Kakak mau balik sama Kak Naya?"
Dia berhenti di pintu.
Dia nengok. Senyum. Senyum yang pertama kali aku liat waktu dia jadi setrikaan, bukan senyum pahit, bukan senyum ngeledek.
"Enggak," jawabnya.
"Terus?"
"Saya mau beresin rumah kebun ini dulu. Biar kalau hakimnya main kesini lagi, motor berrr nya gak mogok di tanjakan."
Dia masuk rumah. Ninggalin aku di teras sama tote bag yang ada ATM nya lagi.
Dan sejak saat itu juga Andira pamit gak mau tinggal di rumah kebun apel itu lagi.
Malam itu juga, abis sidang teras, aku masuk kamar, beresin baju. Bukan baju kelinci, baju kemeja kampus, buku skripsi, charger, helm. Semua masuk tas ransel besar.
Refan liat dari pintu. Gak ngalangin.
"Mau kemana, Hakim?" tanyanya.
"Ngkost," jawabku. Pendek. Gak buang muka lagi, tapi gak liat mata dia juga. "Deket kampus. Biar gak mogok lagi motor berrr nya di tanjakan."
"Terus rumah ini?"
"Balikin ke yang punya. Kan buku nikah atas nama Kak Naya. Rumah ini juga buat Kak Naya."
Aku lewat depan dia, bawa ransel. Di teras, Bapak Ibu ku udah nunggu dijemput. Mereka ngerti. Hakimnya capek.
Refan ngikut sampai ke motor.
"Dira..."
"Udah, Kak," potongku. Pelan, tapi tegas terakhir. "Aku gak mau liat Refan yang pernah jadi suami sementara, gak mau inget kakakku. Aku mau jadi Dira lagi. Yang SMA ngintip dari jendela, bukan yang nikah gantiin."
Refan diem. Terus dia cuma angguk. Dan untuk pertama kalinya, dia gak nyodorin ATM. Dia cuma nyodorin helm ku yang tadi jatoh.
"Hati-hati di jalan, Hakim galak."
Aku naik motor. Berrr. Kali ini gak malu-maluin. Karena ini berrr ku sendiri.
Aku pergi. Gak nengok.
---
2 MINGGU KEMUDIAN.
Kostan petak dekat kampus. Kipas angin bunyi krek krek. Lebih berisik dari kebun apel.
Tika main, bawa gorengan.
"Dir, serius lu gak mau tau kabar rumah kebun?"
"Enggak."
"Refan balikan sama kakak lu lho."
Aku diem. Ngaduk pop mie.
"Iya, pelan-pelan," lanjut Tika, kepo. "Tapi kata Bu Ratna, Refan ada syarat."
"Syarat apa?"
"Harus bantuin lu kalau nanti nikah sama Bima. Katanya... biar adil. Dulu Naya kabur pas nikah, sekarang kalau Dira nikah, Naya yang harus bantuin beresin tenda."
Aku ketawa kecil. Pahit.
"Enak aja. Siapa juga yang mau nikah sama Bima cepet-cepet."
Tika ngeliat aku. "Terus ATM nya gimana? Masih di lu?"
Aku buka laci kost. ATM itu masih ada. Di atas buku skripsi. Gak kepake. Gak aku balikin lagi.
"Gak tau, Tik. Dendanya hakim gak jelas kan belum lunas."
---
DI RUMAH KEBUN APEL.
Refan lagi nyapu teras. Naya di dalam, nata ulang butik kecilnya yang dulu.
Naya keluar bawa teh.
"Fan, Dira gimana? Udah seminggu gak ada kabar."
Refan liat ke arah jalan turun kebun. Jalan yang dulu dilewatin motor berrr putih tulang.
"Ngkost," jawabnya. "Jadi hakim beneran sekarang. Gak mau jadi pengganti lagi."
Naya duduk di kursi tempat aku sidang terakhir.
"Maafin aku ya, Fan. Gara-gara aku, Dira jadi gitu."
Refan senyum. Senyum yang udah gak pahit.
"Gak apa. Malah bagus. Sekarang aku tau bedanya."
"Bedanya apa?"
"Bedanya pacaran 4 tahun yang cuma pegangan tangan, sama nikah sebulan yang isinya jambak-jambakan, boyongan bantal, sama motor bunyi berrr."
Naya bengong. "Maksudnya?"
"Enggak," Refan geleng, seruput teh. "Maksudnya, kalau nanti Dira nikah sama Bima, kita harus dateng paling depan. Bawa tenda paling gede. Biar gak ada yang perlu jadi pengganti lagi."
Di kostan, motor berrr ku tiba-tiba bunyi alarm sendiri. Padahal gak ada yang nyentuh.
Aku kaget, lari keluar.
Dan di parkiran kost, ada satu kardus apel. Apel batu. Masih seger. Ada tulisan spidol:
Buat Hakim. Biar sidang skripsinya gak lapar. Dari terdakwa yang masih simpen ATM nya.
Gak ada nama. Tapi aku tau tulisan siapa. Tulisan orang yang dulu aku jambak sampai jadi sarang burung.
Aku bawa kardus itu masuk kost. Gak aku buang.
Karena ternyata, gak liat Refan itu... lebih susah daripada jadi pengganti sebulan.
SEBULAN SETELAH KOST.
RUMAH KEBUN APEL - JAM 8 MALAM.
Naya lagi lipet baju di ruang tamu. Rapi. Udah berusaha jadi istri yang bener. Masak rawon (gosong dikit), nyapu kebun, senyum ke Bu Ratna.
Refan baru pulang dari gudang apel. Duduk di sofa boyongan yang masih ada. Sofa yang bantalnya udah gak sebanyak dulu, karena yang punya bantal udah ngkost.
"Fan, besok kita ke KUA ya? Urus buku nikah itu biar akad ulangnya sah," kata Naya pelan.
Refan diem. Lama. Ngeliatin sofa boyongan itu.
"Nay," panggilnya akhirnya.
"Hmm?"
"Aku mutusin... enggak sama Naya."
Naya berhenti lipet baju. Tangannya kaku.
"Apa maksudnya?"
"Aku udah coba sebulan ini. Kamu pulang, aku terima. Aku coba lupain kamu kabur hari H, coba lupain Bali, coba lupain mantannya. Tapi..."
Refan narik napas.
"Tiap aku liat sofa ini, yang aku inget bukan kamu. Yang aku inget Dira yang buang muka. Yang aku inget ATM yang dibalikin dua kali. Yang aku inget motor berrr yang mogok di tanjakan."
Naya matanya langsung merah.
"Jadi selama ini kamu... kamu masih mikirin Dira?"
"Bukan mikirin pengganti, Nay. Aku mikirin... selama 4 tahun sama kamu aku jaga kamu kayak toko emas, gak berani pegangan tangan lebih. Tapi sebulan sama Dira, aku dijambak, diteriakin hakim, disuruh balikin ATM, tapi... aku ngerasa hidup. Bukan jaga toko."
Naya nangis. Beneran nangis. Bukan nangis cantik pantai Bali lagi.
"Fan, aku nyesel... aku nyesel kabur. Aku kira mantanku lebih... ternyata dia nipu aku. Aku gak punya siapa-siapa lagi selain kamu."
Refan berdiri. Ngambil koper Naya yang dulu dia bawa dari Bali, yang udah sebulan di pojok gak dibongkar total.
"Aku anter ke rumah Ibu ya. Biar Ibu temenin. Rumah ini... biar kosong dulu."
"Fan jangan—"
"Maaf, Nay. 4 tahun itu lama. Tapi sebulan itu... ngajarin aku kalau nikah bukan soal buku nikah atas nama siapa. Tapi soal siapa yang mau jambak rambut kita pas kita lagi sarang burung dan masih mau disuapin rawon gosong."
---
DI LAIN TEMPAT. KOST DIRA - JAM YANG SAMA.
Aku lagi nemenin Bima belajar. Meja kost penuh buku.
Bukan buku skripsi ku. Buku penerbangan. Tebel-tebel. Bahasa Inggris semua.
Bima lagi daftar jadi pilot. Beneran. Setelah KKN, dia mutusin daftar sekolah pilot di Curug. Tesnya susah mati.
"Dir, ini apa artinya? Aerodynamic stall?" tanya Bima, garuk kepala.
"Bacanya aja aku pusing, Bim," jawabku sambil bikinin kopi sachet. "Kamu yang mau jadi pilot, kok aku yang disuruh jadi co-pilot belajar."
Bima ketawa. "Kan kamu hakim ku. Hakim harus pinter."
Aku duduk sebelah dia. Liat dia yang serius banget ngafalin checklist pesawat.
Beda sama sebulan lalu. Bima yang di kantin marah gara-gara aku jadi istri orang, sekarang Bima yang lagi berproses, keringetan belajar, dan aku yang nemenin.
HP ku getar di meja.
Nama: Kakak Ipar Sialan (Sarang Burung) - yang belum aku ganti namanya sampai sekarang.
Chat: Hakim, kardus apelnya abis belum? Terdakwa mau banding. Katanya putusan terakhir gak adil. Boleh sidang lagi gak di teras? Motor berrr nya udah saya benerin biar gak mogok.
Aku liat chat itu. Terus liat Bima yang lagi fokus baca buku.
Aku matiin HP. Balikin ke meja, layar di bawah.
"Bim, lanjutin lagi. Stall itu kalau sayapnya kehilangan angkat. Kayak... kayak aku pas ditinggal kabur kakakku kemarin. Kehilangan angkat, terus jatoh."
Bima bengong. "Analoginya hakim memang beda ya."
Aku ketawa. Untuk pertama kalinya sebulan ini, ketawaku gak ada bayang-bayang sofa boyongan.
Di luar kost, motor berrr ku udah gak bunyi berrr lagi. Karena minggu lalu ada yang diam-diam benerin pas aku di kampus. Ada stiker kecil baru di spion: Sudah Tidak Mogok di Tanjakan - Dari Terdakwa.
Aku gak lepas stikernya.
Karena ternyata, move on itu bukan soal nggak mau liat orangnya lagi.
Tapi soal... motornya udah gak mogok lagi, tapi kamu masih inget siapa yang benerin.
TIGA TAHUN KEMUDIAN.
RUMAH KECIL DEKAT BANDARA ABDUL RACHMAN SALEH - MALANG.
Sore. Aku lagi live di TikTok Shop, jualan hijab. Admin online. Dari rumah.
"Yang warna sage ini sisa 2 ya kak, yang mau langsung CO—"
Pintu rumah kebuka. Bima masuk. Pakai seragam pilot. Baru landing dari Jakarta. Tas ranselnya masih di punggung.
Dia gak ngomong, cuma senyum dari belakang kamera. Ngasih isyarat "lanjut, lanjut, co-pilot lagi live."
Aku lanjut live sampai selesai. 2 jam.
Setelah live mati, Bima baru peluk dari belakang.
"Capek hakim?"
"Capek. Tapi laku 30 hijab. Lumayan buat bensin pesawat kamu," ledekku.
Kami udah nikah 6 bulan. Nikahnya sederhana. Di KUA. Gak ada tenda gede, gak ada catering 500 orang, gak ada drama kabur. Cuma ada Tika jadi saksi yang nangis lebih kenceng dari aku, dan Bapak yang jadi wali sambil bilang "Hakimnya akhirnya sidang beneran."
Di meja ruang tamu kami, ada undangan.
Undangan dari kebun apel.
Bukan undangan nikah Naya dan Refan. Karena Naya setelah ditolak Refan, beneran pergi lagi. Kali ini bukan ke Bali, tapi ke Surabaya, kerja di butik temannya. Gak pernah balik lagi. Nyeselnya jadi bekal hidupnya sendiri.
Undangan itu dari Refan. Pembukaan gudang apel baru.
Di pojok undangan ada tulisan tangan:
Untuk Hakim dan Pilot. Datang ya, biar tau apelnya udah gak kecut lagi kayak dulu.
Bima baca undangan itu.
"Kamu mau dateng, Dir?" tanya Bima.
Aku diem. Terus aku ambil HP. Buka chat yang namanya masih sama dari 3 tahun lalu, gak pernah aku ganti, gak pernah aku hapus.
Kakak Ipar Sialan (Sarang Burung)
Aku ketik. Pelan.
Maaf ya Kak, saya ngga bisa nikah sama pacar Kakak saya, bukan apa-apa saya ngga bisa liat Kak Refan orang lain.
Bima liat chat itu dari belakang. Gak cemburu. Dia tau cerita sofa boyongan itu dari awal sampai akhir. Dia yang dulu nemenin aku belajar stall, sekarang jadi pilot yang ngerti kenapa hakimnya pernah jatuh.
Aku kirim.
Gak sampai semenit, dibales.
Ngerti, Hakim. Dari dulu ngerti. Makanya saya gak pernah benerin stiker di motor kamu yang dulu. Biar kamu inget, pernah ada terdakwa sarang burung yang kalah sidang sama hakim galak. Selamat ya, buat kamu sama Bima. Titip apelnya buat co-pilot.
Aku senyum. Mata berkaca-kaca, tapi gak jadi nangis. Karena sekarang nangisnya beda.
Bima peluk aku lebih kenceng.
"Udah, gak usah dateng kalau gak mau," bisik Bima. "Kita kirim doa aja dari sini."
"Enggak," jawabku. Aku hapus air mata. "Dateng. Kita dateng. Bawa hijab sage sisa 2 tadi buat Bu Ratna."
"Buat apa?"
"Biar tau, hakim yang dulu motornya berrr, sekarang udah jadi admin online di rumah. Dan udah bisa liat kakak ipar sialan... jadi orang lain. Jadi temen."
Aku liat keluar jendela rumah kecil kami. Pesawat Bima yang tadi dia terbangin masih keliatan parkir jauh di bandara.
Dulu aku takut motor ku mogok di tanjakan kebun apel.
Sekarang aku nungguin pesawat suamiku landing dengan aman.
Ternyata, move on itu beneran bisa. Asal hakimnya udah ketok palu paling terakhir:
Tidak bisa, karena gak bisa liatnya sebagai orang lain.
Dan terdakwanya ngerti.
— SELESAI —