Malam itu Arka, Yoga, Dimas, Restu dan para wanita antara lain Maya, Anggun, dan Novi sudah berkumpul di gudang sekolah mereka.
"Dim lo ngapain ngajak kita ke gudang sekolah malem-malem?" Tanya Arka sambil menggosok tangannya yang mulai merinding.
"I iya Dim, aku takut..." Rengek Anggun yang memegang erat tangan Maya.
"Udah diem dulu, Yog buruan cari cerminnya." Perintah Dimas kepada Yoga. Yoga mencari ke seluruh sisi gudang dan akhirnya menemukan sebuah cermin besar yang lusuh.
"Ini dia, bentar gue pasang dulu di tembok." Yoga memasangkan cermin itu ke tembok.
"Cermin ini namanya cermin setan katanya kalo kita meneteskan darah gadis perawan ke cermin ini kita bakal masuk ke dalam cermin dan katanya setelah kita keluar dari cermin semua keinginan kita bakal terkabul." Kata Dimas menjelaskan.
"Hah beneran? Kalo gitu gue pengen kaya dan punya pacar artis hahaha." Ucap Restu kegirangan.
"Lo yakin Dim, tapi kalo kita gak bisa keluar gimana?" Tanya Maya mulai curiga.
"Tenang aja kita kan bertujuh." Saut Yoga.
"Udah ayo kita coba, Nov lo yang netesin darahnya ya." Ucap Dimas.
Novi pun membuat sayatan kecil di jarinya dan meneteskannya di cermin itu. Tiba-tiba terasa ada kekuatan yang cukup besar menarik mereka ke dalam cermin. Bukkk mereka terjatuh dan tiba-tiba mereka berada di sebuah labirin kaca yang cukup besar, mereka bertujuh terpisah. Tiba-tiba terdengar suara aneh yang berbunyi "Permainan telah dimulai 3 orang di antara kalian hanya ilusi, bunuh dia dan selesaikan permainan." Suara aneh itu mulai menghilang.
*Apa maksud suara aneh tadi, membunuh? Di antara kita adalah ilusi? Berarti ada tiga orang yang tidak masuk ke labirin ini. Harusnya aku tidak ikut kekonyolan mereka.* Batin Maya menangis ketakutan.
"Maya! , Arka! , Dimas! , Yoga!, Novi!, Restu! Kalian dimana?" Seru Anggun yang berlari mengitari labirin. "Anggun! Gue di sini cepet ke sini gue takut." Saut seorang perempuan yang sepertinya suara Novi.
Tiba-tiba suara aneh kembali muncul, "Jika ilusi terbunuh maka tubuhnya akan langsung hilang, jika sampai pagi ilusi belum terbunuh maka ilusi itu yang akan membunuh kalian hihihihihii." Mereka semua ketakutan mendengar perkataan itu. Restu berlari mengitari labirin dan tiba-tiba menabrak Maya yang tengah menangis ketakutan.
"May ini beneran lo kan?" Ucap Restu sedikit tidak percaya.
"Ini gue, gue ttakut... Kita harus keluar dari sini secepatnya." Maya memeluk Restu sambil menangis tersedu-sedu. Di sisi lain Dimas sudah bertemu dengan Novi dan Arka.
Aarrrrggghhhh... Mereka terkejut mendengar suara jeritan itu dan berlari ke arah suara.
Yoga membunuh Anggun dengan pisau kecil di tangannya, Yoga terkejut tubuh Anggun tidak hilang. "Tidakkk! Jadi Anggun bukan ilusi? Aku pembunuhh... Tapi tadi sikap Anggun sangat mencurigakan." Restu dan Maya shock melihat Yoga memegang Anggun yang sudah terbaring tanpa nyawa.
"Kamu pembunuh, kamu pembunuhhh!!" Ucap Maya ketakutan sambil menutup mulutnya dan menangis. Tiba-tiba Dimas terpisah dari Novi dan Arka, Dimas kembali tersesat. Novi dan Arka tersadar dan memutuskan untuk mencari Dimas. Maya dan Restu meninggalkan Yoga karena kesalahan Yoga. Tiba-tiba Yoga bertemu dengan Dimas.
"Kenapa bajumu banyak sekali darah, apa lo berhasil membunuh ilusi?" Kata Dimas penasaran.
"Tidak, aku baru saja membunuh Anggun yang asli." Dimas terkejut mendengar pernyataan Yoga.
"Coba lo ngomong sekali lagi, lo bunuh Anggun? Pacar gue? Dasar anjg pembunuh." Dimas menarik baju Yoga dan memukulinya.
"Lo bilang Anggun pacar lo?" Tanya Yoga yang terjatuh saat dipukul Dimas.
"Iya gue baru jadian sama Anggun dan gue belum sempat bilang sama kalian." Dimas menginjak Yoga dan mengambil pisau milik Yoga lalu menancapkannya di wajah Yoga dengan kejam, Yoga meninggal seketika. Tubuh Yoga tidak hilang menandakan kalau Yoga adalah asli. Dimas pergi meninggalkan Yoga. Kalau Yoga dan Anggun adalah asli berarti aku harus membunuh antara Maya, Restu, Novi, dan Arka. Batin Dimas.
Maya semakin curiga dengan gerak-gerik Restu yang mulai mencurigakan, Restu seperti mencari-cari cara untuk menyelakai Maya. Maya memutuskan untuk berlari meninggalkan Restu. Benar saja Restu mengejar Maya dan mengambil serpihan kaca yang dipecahkannya. Maya semakin ketakutan, maya berlari dengan kencang namun tiba-tiba maya tersandung oleh sesuatu yang cukup besar, maya terjatuh dan terkejut melihat mayat Yoga dengan wajah yang tertusuk pisau. Maya mencabut pisau itu Restu yang mengejar Maya akhirnya sampai.
"Lo ngebunuh Yoga?" Tanya Restu dengan wajah membunuh.
"Tidakkk!!" Maya bangkit dan berjalan mundur sambil mengacungkan pisau ke Restu. Arghhh Restu dibunuh oleh Dimas dari belakang, tubuh Restu seketika menghilang menandakan kalau Restu adalah ilusi. Maya menatap Dimas dengan wajah ketakutan.
"Aku aku tidak membunuh Yoga." Jelas Maya gemetaran.
"Gue yang membunuhnya, karna dia udah bunuh Anggun pacar gue." Ucap Dimas sambil menghapus air matanya.
"Dim lo percaya kalo gue bukan ilusi?" Tanya Maya. "Iya, gak mungkin ilusi mau membunuh ilusi dan lo harus percaya gue." Ucap Dimas.
"Kalo gitu, ayo kerjasama agar permainan ini cepat selesai dan kita gak akan terbunuh. Anggun, Yoga meninggal mereka asli, dan ilusi sudah berkurang satu yaitu Restu. Kalau lo asli berarti Arka dan Novi adalah ilusi jadi kita harus membunuh mereka." Jelas Maya.
"Benar Arka dan Novi adalah ilusi, ayo kita cari mereka." Dimas dan Maya bergegas mencari Novi dan Arka.
Beberapa saat kemudian Dimas dan Maya menemukan jasad Novi yang sudah tidak bernyawa. Maya terkejut dan melihat ke arah Dimas, Dimas mengangkat pisau untuk membunuh Maya. Maya sontak menghindar namun pisau itu mengenai lengannya. Maya berlari dan sembunyi, Dimas datang mengejar, saat Dimas menuju ke arah Maya, Maya langsung menusuk perut Dimas dengan pisau tubuh Dimas akhirnya menghilang. Maya menarik nafas lega.
"Mati kamu!!!!" Maya terkejut Arka berhasil menusuk punggung Maya. Maya tersungkur dan melihat ke arah Arka. Maya membalikkan badan dan terkulai lemas Arka mendekat ke wajah Maya dan tersenyum puas. Maya mendapat kesempatan untuk membunuh Arka, ia mengambil pisau di dekatnya dan menusuk perut Arka hingga Arka jatuh ke tubuh Maya dan menghilang.
Tiba-tiba labirin pun menghilang dan suara aneh kembali datang. "Selamat kamu berhasil menyelesaikan permainan ini 6 orang temanmu telah menjadi budak labirin di dalam cermin ini hihihihi." Maya tak sadarkan diri. Keesokan harinya Maya tersadar dan melihat ke sekeliling.
"Ternyata aku sudah keluar dari cermin pembohong itu... Dasar setannn!!!" Maya kembali tak sadarkan diri.
"Cermin setan tidaklah mengabulkan semua permintaan orang yang berhasil keluar. Cerminku hanyalah alat pencari budak untuk alam labirin milikku. Aku membohongi kalian hihihihiii"
.
.
.
Hai teman-teman bagaimana ceritanya? Seru bukan? Jangan lupa untuk like dan komen ya untuk mendukung cerpen ini agar menjadi yang terbaik.
Terima kasih untuk para pembaca👻