#PEMBUNUHAN HAYATO
Yoko mematikan lampu minimarket.
Klik!
Suasana toko langsung gelap. Setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci, dia keluar dan menarik rolling door hingga tertutup rapat.
Klek!
Dia mengunci gemboknya, lalu menghela napas panjang. Tubuhnya terasa sangat lelah. Bahunya sedikit membungkuk, kepalanya tertunduk.
Di belakangnya, Miyuki berdiri sambil membawa bungkusan nasi ayam.
“Yoko, pacar lo nggak jemput kan?”
“Ga,Katanya ada urusan.”
“Lu mau ke mana sekarang?”
“Gue mau ke tempat Kak Hayato.”
“Oh, ya udah. Ayo, sekalian bareng.”
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan minimarket.
Malam itu jalanan cukup sepi. Cahaya lampu jalan menerangi trotoar dengan warna kekuningan. Sesekali kendaraan melintas, memecah kesunyian sebelum suaranya menghilang di kejauhan.
Beberapa saat mereka berjalan tanpa bicara.
Miyuki akhirnya membuka percakapan.
“Eh, Yoko.”
“Iya?”
“Kira-kira pacar lo marah nggak kalau lihat kita berdua?”
Yoko menggeleng kecil.
“Nggak tahu gue.”
Miyuki tersenyum tipis.
“Terus, apa lo masih kepikiran buat cari pacar lagi?”
Pertanyaan itu sama seperti yang dia ajukan siang tadi.
Yoko mengangkat bahu.
“Gue nggak tahu. Dia baik banget sama gue. Waktu gue belum kerja, dia selalu ngasih gue makan. Bahkan dia pernah nangis waktu gue pura-pura pingsan.”
“Bukannya dulu lo pernah bilang kalau lo nggak sederajat sama dia?”
“Iya. Tapi dia bilang mau menerima gue apa adanya.”
“Menurut lo, dia nggak bakal berubah?”
Yoko terdiam sebentar.
“Gue nggak ngerti. Yang gue tahu, dia orang paling baik sama gue.”
“Berarti hubungan kalian aman, dong?”
“Iya. Aman.”
Miyuki kembali terdiam. Beberapa langkah kemudian, dia memanggil Yoko dengan suara lebih pelan.
“Yoko.”
“Iya?”
“Menurut lo, gue gimana?”
Yoko menoleh.
“Kenapa lo nanya begitu?”
“Pengen tahu aja. Apa penilaian lo tentang gue?”
Yoko memperhatikan wajah Miyuki.
“Lo seru.”
Miyuki mengangkat alis.
“Cuma itu?”
Yoko berpikir cukup lama.
“Wah, kalau itu sih gue mesti mikirin dulu.”
Miyuki tertawa kecil.
“Ya udah. Lo pikirin dulu aja.”
“Gue nggak janji, ya.”
Mereka saling pandang dan tersenyum sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Namun, keduanya tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengikuti mereka dari kejauhan.
Sosok itu mengenakan mantel hoodie hitam panjang. Wajahnya tertutup bayangan. Tangan kanannya menggenggam cutter, sementara tangan kirinya memegang sebuah buku.
Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kemarahan.
Tatapannya terus mengikuti Yoko dan Miyuki.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kontrakan Hayato.
Miyuki langsung menghampiri pintu kontrakan Hayato.
Tok... tok... tok!
“Kakak?”
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk lagi.
Tok... tok!
“Kak Hayato?”
Tetap tidak terdengar suara dari dalam.
Miyuki menempelkan telinganya ke pintu.
“Kak Hayato... lo didalam?”
Yoko berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Sepertinya nggak ada orang, Miyuki.”
“Iya. Nggak ada respons.”
Yoko mendekat dan menunjuk ponsel di tangan Miyuki.
“Lo tadi udah telepon sebelum ke sini?”
“Udah, tapi HP-nya nggak aktif.”
“Coba telepon lagi. Barangkali sekarang udah aktif.”
Miyuki mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Hayato.
Tut... tut...
Beberapa detik kemudian, dia menurunkan ponselnya.
“Masih nggak aktif, Yoko.”
“Oh... mungkin dia lagi ada urusan.”
“Bisa jadi.”
Yoko mengangguk.
“Kalau gitu, yuk ke kontrakan gue aja.”
Miyuki langsung menggeleng.
“Oh, maaf. Lain kali aja.”
“Kenapa?”
“Gue nggak enak sama pacar lo.”
Yoko terdiam sejenak.
“Oh... masuk akal.”
Miyuki tersenyum.
“Kalau gitu gue pulang aja, ya.”
“Oh, ya udah. Hati-hati, Miyuki.”
“Iya. Terima kasih, Yoko.”
“Sama-sama.”
Miyuki berjalan beberapa langkah, tetapi kemudian berhenti dan menoleh.
“Yoko, gue pulang dulu, ya!”
Yoko mengangguk.
“Maaf, ya. Gue nggak anterin.”
“Nggak apa-apa.”
Miyuki kembali .melambaikan tangan sebelum tubuhnya menghilang di tikungan jalan.
Yoko masih berdiri beberapa saat, memandang ke arah kepergiannya.
Setelah menghela napas panjang, dia berbalik dan menaiki tangga menuju kontrakannya.
“Capek banget hari ini.”
Sesampainya di kamar, Yoko duduk di lantai dan menyandarkan punggung ke dinding. Matanya terasa berat.
Dia hanya berniat beristirahat sebentar.
Namun, rasa lelah membuat kesadarannya perlahan menghilang.
Bruk!
Yoko langsung membuka mata.
Suara itu terdengar dari kamar Hikaru.
“Eh, buset! Suara apaan tuh?”
Dia segera berdiri. Rasa kantuknya lenyap seketika.
Yoko mendekati lubang kecil di dinding yang selama ini digunakannya untuk mengintip kamar Hikaru.
Dia menempelkan wajahnya.
Matanya langsung membesar.
“Ya ampun... itu kan Hayato!”
Di dalam kamar, Hayato terbaring telungkup di atas ranjang. Kedua tangannya terikat ke belakang, matanya tertutup kain putih, sementara mulutnya disumpal kaus kaki. Kedua kakinya juga terikat.
Yoko mundur selangkah. Wajahnya seketika pucat.
“Aduh... Hikaru, lo mau ngapain sih?”
Dia kembali mengintip, berusaha mencari keberadaan Hikaru.
“Hikaru! Lo di mana?”
Yoko mulai mondar-mandir.
“Aduh, gue harus mencegahnya.”
Dia berhenti dan kembali menatap lubang di dinding.
“Hikaru nggak boleh bunuh Hayato.”
Untuk pertama kalinya, keinginan Yoko menyaksikan Hikaru membunuh seseorang tidak muncul. Justru rasa takut yang memenuhi pikirannya.
Dia teringat Miyuki.
“Miyuki...”
Wajah gadis itu terlintas di benaknya.
“Kalau Hayato mati, Miyuki bakal kehilangan kakaknya.”
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari dalam kamar Hikaru.
Tap... tap... tap...
Yoko segera kembali mengintip.
Sosok Hikaru terlihat berjalan mendekati Hayato.
“Ya ampun... dia udah mau bunuh Hayato!”
Yoko mengepalkan tangan. Napasnya mulai memburu.
“Nggak boleh!”
Dia berlari menuju pintu.
“Gue harus menghentikannya!”
Cekrek!
Pintu kamar Hikaru terbuka.
“Hikaru, jangan!”
Hikaru menoleh. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan.
“Kenapa, Yoko?”
Yoko berdiri dengan napas tersengal.
“Kenapa lo mau bunuh Hayato?”
Hikaru melirik tubuh Hayato.
“Dia harus mati.”
“Lo nggak boleh bunuh Hayato!”
Nada suara Yoko meninggi. Kedua tangannya gemetar.
Hikaru menoleh tajam.
“Bukan lo yang menentukan siapa yang harus gue bunuh?”
“Tapi dia Hayato!”
“Terus kenapa?”
Hikaru menjawab dengan nada ketus. Tatapannya dingin, seolah tidak peduli dengan kepanikan Yoko.
“Dia tetap harus mati.”
“Hikaru, tolong! Jangan lakukan ini!”
Namun, Hikaru tidak menghiraukannya. Dia kembali melangkah mendekati Hayato.
Yoko berusaha meraih tangannya.
“Hikaru!”
Terlambat.
Sret!
Cutter bergerak cepat ke arah leher Hayato.
Yoko membeku.
Beberapa titik merah mengenai lantai dan pakaian mereka. Tubuh Hayato terkulai tanpa bergerak.
“Ha... Hayato...”
Yoko menatap tubuh itu dengan wajah pucat. Napasnya tertahan, sementara kedua tangannya masih gemetar.
Hikaru tidak tersenyum.
Tidak ada kelembutan di wajahnya. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam dan penuh amarah.
Perlahan, dia menoleh ke arah Yoko.
Cutter masih berada di tangannya.
“Hikaru...?”
Hikaru mengangkat cutter dan mengarahkannya ke leher Yoko.
Yoko mundur satu langkah.
Namun, dia tidak berteriak ataupun berusaha melarikan diri. Matanya justru menatap wajah perempuan di hadapannya dengan campuran ketakutan dan kesedihan.
“Hikaru... sadar.”
Hikaru semakin mendekat.
“Jangan ikut campur!”
Suaranya terdengar kasar.
Yoko menelan ludah. Kemudian, perlahan dia melangkah maju.
Dia merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Hikaru.
Hikaru langsung terdiam.
Yoko memejamkan mata.
“Udahlah, Hikaru... semuanya sudah selesai.”
Tangannya semakin erat memeluk perempuan itu.
“Udah... tenanglah.”
Untuk beberapa saat, tubuh Hikaru masih kaku. Tangannya yang menggenggam cutter perlahan turun.
Ketegangan di bahunya mulai mengendur.
Sorot matanya yang sebelumnya tajam perlahan berubah. Rahangnya tidak lagi mengeras. Wajahnya yang dingin mulai melembut.
Cutter terlepas dari genggamannya dan jatuh ke lantai.
Ting!
Yoko tetap memeluknya.
Beberapa detik kemudian, Hikaru mengangkat wajah.
“Yoko...?”
Suaranya terdengar lembut.
Yoko membuka mata dan menatapnya.
“Yoko lo di sini?”
Yoko mengangguk pelan.
“Iya.”
Hikaru memandang sekeliling, lalu matanya tertuju pada tubuh Hayato di atas ranjang.
Wajahnya berubah bingung.
“Apa yang terjadi?”
Yoko melepaskan pelukannya perlahan.
“Kenapa lo bunuh Hayato?”
Hikaru menatap Yoko. Alisnya berkerut, seolah tidak memahami pertanyaan itu.
“Yoko... ini bukan gue.”
Yoko terdiam.
“Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Lo yang membunuhnya.”
Hikaru menoleh ke arah Hayato. Wajahnya tampak semakin pucat.
“Gue... gue nggak tahu.”
Yoko menatapnya dengan napas yang masih belum teratur.
“Tapi tadi lo mengarahkan cutter ke leher gue.”
Hikaru kembali menatap Yoko.
“Gue melakukan itu?”
Yoko mengangguk.
Hikaru menundukkan wajah. Tangannya bergerak pelan menyentuh dada, seolah berusaha memahami sesuatu yang tidak bisa diingatnya.
Yoko kemudian memandang tubuh Hayato.
“Tapi... kenapa harus dia, Hikaru?”
Hikaru tidak langsung menjawab.
“Dia orang jahat, Yoko.”
Yoko menoleh cepat.
“Jadi, menurut lo dia memang pantas mati?”
Hikaru terdiam sejenak.
“Gue cuma tahu dia harus mati.”
Yoko menggeleng pelan.
“Hikaru... sampai kapan lo mau terus membunuh orang?”
“Sampai pekerjaan gue berakhir.”
Jawaban itu membuat Yoko kembali terdiam.
“Hikaru, apa lo nggak tahu kalau gue khawatir?”
Hikaru menatapnya.
“Bukannya lo jatuh cinta sama gue karena gue suka membunuh?”
“Iya.”
“Terus, kenapa sekarang lo ribut?”
Yoko mengangkat wajah. Matanya terlihat gelisah.
“Karena sekarang lo pacar gue.”
Hikaru tidak menjawab.
Yoko menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
“Dulu gue mungkin nggak peduli siapa yang lo bunuh. Tapi sekarang gue berubah.”
“Kenapa?”
“Karena gue takut kehilangan lo.”
Hikaru menatap Yoko cukup lama.
Kali ini tidak ada tatapan tajam ataupun nada kasar. Dia justru mendekat dan menyentuh lengan Yoko.
“Yoko... jangan marah.”
“Gue nggak marah. Gue cuma takut.”
“Takut apa?”
Yoko melirik tubuh Hayato.
“Gue takut suatu saat korban lo melawan. Gue takut mereka menyerang balik, dan akhirnya lo yang jadi korban.”
Hikaru tersenyum lembut.
“Nggak usah khawatir. Semuanya terkendali.”
Yoko menggeleng. Wajahnya masih menyimpan kecemasan.
“Gue cuma takut kehilangan elu.”
Hikaru melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Yoko.
Yoko memejamkan mata dan membalas pelukannya.
Namun, jauh di dalam pikirannya, satu kalimat terus terngiang saat Hikaru berkata,
Ini bukan gue.
Yoko kembali teringat ekspresi Hikaru beberapa saat sebelumnya. Tatapan dingin, suara kasar, dan cutter yang diarahkan ke lehernya.
Dia tahu perempuan itu terlihat seperti Hikaru.
Namun, untuk pertama kalinya, Yoko mulai bertanya-tanya...
Apakah orang yang membunuh Hayato tadi benar-benar Hikaru?