Kami adalah sepasang pengantin yang baru saja menikah. Kami memutuskan untuk mencari tempat kontrakan yang dekat dengan tempat suami aku bekerja. Di desa ini sulit sekali mencari rumah untuk di kontrakan. Hanya ada satu rumah yang bisa kami tinggali. Itu karena si pemilik rumah sudah meninggal dan anak perempuan satu satunya sudah menikah dan tinggal di rumah suaminya . Penampakan rumah bata merah itu cukup mengerikan, karena sudah sangat lama tidak ditinggali pemiliknya jadi gelap dan pengap. Lingkungan rumahnya pun sudah ditumbuhi banyak rumput liar setinggi dengkul orang dewasa.
Kami memasuki rumah berlantai semen kasar itu. Rumah yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Suamiku memasukan barang barang kami ke dalam kamar. Aku mulai menjelajahi seluruh ruangan yang ada. Meski sudah lama sekali tidak ditinggali atau disewa orang lain lagi rumah ini cukup bersih. Tidak ada debu dan rumah rumah laba laba dimana mana. Di dapur rumah itu aku melihat ada sebuah sapu lidi yang sudah usang. Namun masih bisa di pakai untuk menyapu. Karena di dalam rumah sudah bersih jadi aku memutuskan menyapu halaman depan dan belakang yang banyak daun daun kering. Ketika aku sedang menyapu di dekat sumur. Aku seperti di perhatikan seseorang dari pintu dapur. Aku menoleh tidak ada siapa siapa. Pintunya masih terbuka lebar. Ketika aku berbalik lagi untuk melanjutkan menyapu halaman belakang. Tiba tiba BRAKKK pintu itu tertutup.
"Mas, jangan di tutup dong! Aku kan masih di belakang!" Aku pikir yang menutup pintu suamiku. Karena dirumah ini kami hanya berdua. Ku letakan sembarangan sapu lidi usang ini di tanah. Lalu berjalan memasuki rumah. Tidak ada siapa siapa. Hanya aku di dapur ini. Aku kembali memanggil suamiku.
"Mas, mas kamu dimana sih?" Suamiku melongok dari dalam kamar.
"Apa sih Dek? Mamas dari tadi di kamar beresin baju baju kita ini loh. Kamu tuh dari mana saja? Bukannya bantuin mamas malah udah kluyuran!"
"Aku tadi nyapu belakang loh mas! Kirain sampean yang nutup pintu barusan." Suamiku menggeleng dan masuk kembali ke dalam kamar.
"Terus siapa yang nutup pintu ini?" Tanyaku sendiri bingung. Ku perhatikan pintu dapur ini yang memang sudah lapuk dan sangat ringan. Mungkin tadi terkena angin sehingga pintu ini bisa tertutup sendiri. Aku tidak ambil pusing dengan hal itu kemudian aku pun masuk ke kamar untuk membantu suamiku beres beres kamar.
Lelah sekali setelah seharian bersih bersih dan menata barang barang kami. Aku segera memasak untuk makan malam kami berdua. Namun aku baru menyadari sapu lidi yang aku tinggal dihalaman belakang sudah pindah di pojok dapur dimana pertama kali aku menemukan sapu lidi itu.
"Siapa yang mindahin sapu ini disini? Apa Mas Dimas ya? Ya sudah ah besok saja aku buang, lagian udah jelek mending aku beli yang baru." Gumamku, tapi aku tidak terlalu perduli dulu karena perut ini sudah sangat lapar. Jadi aku segera menyiapkan makan malam dan kami pun makan malam berdua.
Malam ini ketika kami sudah tertidur, aku terbangun dari tidur karena terganggu suara berisik dari arah dapur.
SRAK SREK SRAK SREK
Seperti suara orang yang sedang menyapu. Aku berjalan masuk ke dalam dapur. Kulihat seorang nenek tua berambut putih panjang dan bungkuk menyapu di dapur. Aku kaget sekali. Siapa dia malam malam ada di rumahku?
"Si-siapa ka-Kamu?" Tanyaku dengan suara yang tergagap gagap. Nenek itu menoleh dengan rok hitam copang camping tanpa mengenakan baju sehingga buah dadanya yang sangat besar dan panjang sampai perut terbang kearahku sambil membentak.
"JANGAN GANGGU AKU!!!"
Waaaaaa aku berteriak lalu terbangun. Aku mendengar suara adzan subuh dari mushola yang tak jauh dari rumah. Ternyata sudah pagi. Suamiku yang sedang tidur disampingku juga terbangun karena mendengar aku berteriak.
"Kenapa loh Dek? Ada apa?" Tanya suamiku khawatir melihat wajahku yang pucat dan berkeringat.
"Gak papa kok Mas. Cuma mimpi buruk. Ayo kita bangun terus sholat!" Ajakku. Kami pun bangun lalu mengambil air wudhu dan kemudian sholat berjamaah berdua di rumah.
Sehabis sarapan dan mengantarkan suami ke depan rumah untuk bekerja. Aku kembali beres beres rumah. Aku sudah melupakan mimpi semalam karena memang aku ini tipe wanita yang tidak penakut. Aku kembali melanjutkan membakar sampah daun daun kering yang aku kumpulkan kemarin sore. Lalu aku teringat sapu usang yang ada di dapur jadi aku segera mengambil sapu itu lalu membuangnya ke atas api yang masih berkobar melahap habis daun daun kering itu.
Merasa sudah beres semua, aku pun bersantai diruang tengah sambil tidur tiduran diatas tikar. Memainkan gadget yang aku punya untuk mengusir rasa bosan yang menghinggapiku. Lama lama aku tertidur karena sangking ngantuknya.
Aku tengah asik memasak di dapur. Tiba tiba lampu dapur padam. Aku segera meraba tembok untuk mencari saklar lampu. Ketika ketemu segera kuhidupkan lampu itu kembali. Lalu aku berbalik untuk kembali memasak namun tiba tiba nenek tua bungkuk itu kembali muncul dihadapku dan PLAKK. Satu tamparan keras mengenai pipi kiriku. Hingga aku tersungkur ke lantai.
"Dasar pengganggu! Kenapa kamu membakar sapuku? Mau mati kamu!" Nenek itu membentak bentakku yang sudah takut hingga tak berani membuka mata.
"Maaf Nek, maaf saya tidak tahu kalau itu sapu Nenek! Saya benar benar tidak tahu, sungguh!" Belaku sambil masih meringkuk takut di atas lantai.
"Halah, banyak omong kamu! Pergi dari tempatku, cepat pergi!"
Aku berjingkat dari tidurku. Menghela napas berat karena masih saja takut. Hingga aku tak menyadari darah segar keluar dari sudut bibirku. Aku mendengar pintu depan terbuka. Seseorang berjalan masuk ke dalam rumah.
"Siapa itu siapa? Aku mohon jangan ganggu aku, tolong!!" Teriakku sambil berjalan mundur hingga menabrak dinding.
"Ada apa loh Dek kok teriak teriak?" Ternyata Mas Dimas yang datang. Dia baru saja pulang dari bekerja. Sontak ku berlari lalu memeluknya.
"Mas, ayo pergi dari sini! Ayo! Aku takut Mas disini. Rumah ini ada hantunya!" Pekikku seraya memeluk suamiku sambil terus menangis.
"Tenang dulu Dek, tenang! Mas lihat pipimu dulu, kenapa bisa merah begini? Siapa yang nampar kamu?" Aku tidak mau menjelaskan panjang lebar. Segera ku tarik lengan suamiku untuk pergi dari sana. Kemudian suamiku mengajakku ke rumah anak si pemilik rumah itu. Untuk minta penjelaskan kondisi yang sudah menimpaku. Wanita paru baya itu hanya meminta maaf lalu menyuruh kami untuk tinggal di rumahnya sebentar. Kemudian beliau pergi tanpa memberitahu kami kemana.
Si anak pemilik rumah itu ternyata pergi ke rumah yang aku sewa. Memasuki rumah menuju dapur. Membuka krudung hitam yang ia pakai tadi. Memandang nenek tua bungkuk yang sedang menyapu dengan sapu lidi usangnya.
"Bu, tolong jangan ganggu orang yang menyewa rumah ini lagi! Marsih mohon!" Nenek tua itu justru menghilang dan berpindah ke ruang tengah untuk menyapu lagi. Marsih pun mengikuti ibunya sampai ke ruang tengah juga.
"Ibu dengar Marsih bicara tidak sih?" Nenek itu berhenti dari aktifitasnya lalu memandang sang anak.
"Sudah ibu bilang, ibu tidak suka diganggu! Suruh mereka pergi dari rumah ibu, kalau mereka tidak ingin celaka!" Nenek itupun menghilang entah kemana.
"Ibu Ibu, Marsih belum selesai bicara!!" Wanita itu kembali memakai krudung hitamnya. Lalu keluar dari rumah bata merah itu. Sebelum pergi beliau memandang ibunya lagi dari balik jendela ruang tamu yang tengah menyapu disana.
"Ibu, kapan engkau akan pergi dengan tenang? Kenapa arwahmu masih betah disini, padahal ragamu sudah lama menyatu dengan tanah." Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya pulang ke rumahnya untuk meminta kami pindah lagi dari sana.
TAMAT