Seorang wanita tengah melihat berita di TV. Berita itu memuat temuan Villa terbengkalai oleh konten kreator pemburu hantu yang menemukan beberapa mayat di rumah itu. Mayat empat orang dewasa yang sudah jadi setengah kerangka di bagian dalam rumah dan yang paling mencengangkan ada mayat anak kecil di freezer di mobil boks serta mobil pribadi yang sudah tak terbentuk, seperti terkena ledakan besar.
"Sayang kamu nonton apa sih?" seorang pria datang menghampiri lalu meraih remote control lalu mengganti saluran TV itu dengan yang lain.
"Kamu ini sedang hamil, jangan melihat yang seperti itu, tidak baik untuk anak kita" Pria itu langsung meraih secangkir kopi yang sudah di siapkan oleh wanita ini.
Wanita ini langsung menatap suaminya dengan penuh arti saat suaminya meneguk kopi yang ia siapkan.
"Sayang kok agak pusing yah?"
<<<<<<⏳⏳⏳
Rumah mewah dengan dua pilar besar penyangga terlihat sangat kokoh, rumah yang di huni sepasang suami istri yang telah menikah 6 tahun namun belum juga di karuniai buah hati.
"Sayang, kok aku belum juga hamil ya?" keluh Sena. Semenjak mengalami kecelakaan karena menyelamatkan Raven suaminya sekarang kini Sena harus duduk di kursi roda.
Raven lantas mencium pipi Sena. Raven lantas berjongkok di depan Sena.
"Sabar, belum waktunya. Minum vitamin dulu yah?"
"Ngak, minum itu juga sama saja" tolak Sena. Raven lantas berdiri, meraih vitamin di meja dekat mereka.
"Jangan seperti itu, kita tidak boleh putus usaha." ucap Raven sembari memberikan pil berwarna putih. Sena lantas meraihnya walau pun engan.
"Nah gitu dong" Ucap Raven sembari memberikan segelas air.
"Nanti Priscilla mau main, katanya dia kangen banget sama kamu. Tapi Rara bilang cuma sebentar"
"Loh kenapa? Kalau Rara ada urusan penting biar Priscilla di titipin saja padaku, biar dia bisa jadi pemancing kehamilan untukku" pinta Sena. Raven tersenyum lantas mengecup bibir Sena.
"Apa pun akan aku lakukan untuk mu sayang, nanti aku bilang sama Rara."
Tok.. Tok..tok..
"Tuan Nyonya ada Rara sama Pricilla" ucap pembantu dari luar kamar. Mendengar itu Sena terlihat sangat senang.
"Ayo kesana!"
"Sabar" Raven mendorong kursi roda Sena menuju ruang tamu.
..
Ruang tamu.
Pricilla langsung berlari menghampiri Sena. Gadis kecil berusia 5 tahun ini sangat lengket kepada Sena.
"Tante, Cilla kangen banget sama Tante" Pricilla melihatkan senyum nya lantas meminta naik ke pangkuan Sena seperti biasa.
"Tante ayo main" rengek Pricilla membuat Sena tersenyum antar senyum senang dan getir, andai sejak awal dia hamil mungkin sebesar Pricilla sekarang.
"Sena, maaf jadi merepotkan mu" ucap Rara meminta maaf"
"Tidak apa, kamu kalau ada urusan pergi saja, tidak usah khawatir" ucap Sena dengan tulus.
"Terima kasih, Cilla, kamu jangan nakal yah? Nurut sama Tante Sena" pinta Rara. Gadis kecil ini hanya mengangguk, Rara langsung berpamitan pergi. Raven yang ada janji temu dengan rekan bisnis juga berpamitan pergi.
"Pulangnya jangan kemalaman yah?" pinta Sena.
"Iya".
Di luar gerbang Rara langsung memasuki taxi yang ia pesan, ia naik Taxi hanya sampai keluar dari kompleks perumahan. Rara terdiam di tepi jalan seakan tengah menunggu seseorang.
Tak lama sebuah mobil mewah berhenti di depannya. Rara tersenyum senang lantas masuk kedalam mobil.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" ucap Rara langsung mengecup bibir pria yang sangat ia cinta yaitu Raven.
"Aku juga, males banget sumpah terus berputar-putar baik di depan si lumpuh itu. Rasanya aku ingin bercerai dengannya tapi kamu kamu tahu sendiri, aku tidak mungkin melakukannya."
"Iya... Iya... iya karena dia sudah menyelamatkan nyawa mu tapi tetap saja Cilla butuh sosok ayahnya!" ucap Rara dengan nada kesal. Selama ini Raven terpaksa menikahi Sena dan Raven sudah sangat lama mengenal Rara, hingga di karuniai seorang putri yaitu Pricilla. Keduanya selalu mencari kesempatan untuk bertemu. Setelah Pricilla agak besar keduanya sengaja menjadikan Sena baby sitter gratisan mereka.
"Sayang, ayo lah jangan ngambek gitu?" Pinta Raven.
"Ya, terus kita kemana?"
"Masa kamu nanya?"
"ih kamu yah!" ucap Rara dengan malu-malu.
..
Kamar hotel 223.
Raven terlihat sangat puas dengan servis yang Rara berikan. Rara hanya menatap sebal ke Raven yang semakin membuatnya malu.
"Udah!" tolak Rara saat Raven minta nambah. Terlihat wajah kecewa Raven.
"Ya udah tapi setelah ini beliin aku tas, aku di ejek terus karena tas ku yang itu-itu saja."
"Bukannya aku selalu mengirim kan mu uang?"
"Kurang, lagi pula kebutuhan anak kita itu banyak, aku mau nanti dia besar jadi model karena itu body care sama semuanya itu harus yang terbaik" jelas Rara. Raven tersenyum tipis lantas menarik Rara dalam pelukannya.
..
Rumah.
Sena kedatangan ayahnya yang masih sama tidak suka dengan kehadiran Pricilla. Sena lantas menyuruh Pricilla main dengan art yang lain.
"Kamu ini, jangan terlalu baik. Ayah curiga dengan suami mu itu."
"Ayah curiga apa sih? Raven itu baik sama aku"
"Jangan terlalu naif, Sena!"
"Ayah!"
Bersama dengan itu Raven memasuki rumah dan keduanya mengganti topik pembicaraan.
"Ayah kapan datang?" ucap Raven dengan wajah senang.
"Barusan"
"Oh, Yah boleh ngak ajak Sena liburan ke villa, Deket kok" pinta Raven tiba-tiba. Sena memandang suaminya intens, padahal tidak ada rencana itu sebelumnya.
"Pricilla juga ikut" sambung Raven. Mendengar nama Pricilla, Sena jadi bersemangat.
"Ayah boleh yah? Sena bosen di rumah terus"
"Tapi?"
"Ayah tenang saja sama bi Asih kok" pinta Sena. Saat mendengar nama Asih, Ayah Sena langsung menunjukan senyumnya.
"Baik lah, Kalau sama bi Asih. Papa izinkan"
"Ye.. Terima kasih Ayah"
"Ya sudah Ayah pamit"
Seperginya Ayah Sena, Raven langsung bertanya siapa Bi Asih itu.
"Oh, dia itu kepercayaan Ayah, dia sudah lama berkerja di keluarga kita"
"Aku belum pernah melihatnya"
"Nanti juga ketemu, kita berangkat kapan?"
"Nanti malam"
"Oh oke"
..
Raven dari tadi mondar-mandir, dia takut kehadiran Asih merubah semua rencananya.
"Sayang kamu sedang apa?" tanya Sena. Sekarang Sena menggunakan kursi roda elektrik, jadi tidak merepotkan orang lain.
"Apa kamu akan mengunakan itu?"
"Iya, jadi kamu tidak terlalu repot nanti soalnya bi Asih itu sudah berumur. Aku takut akan membuatnya kelelahan" ucap Sena bersamaan dengan itu seorang wanita paruh baya memasuki rumah. Rambutnya yang putih serta wajah yang agak berkeriput itu membuat Raven jadi lega.
"Non Sena, lama tidak bertemu"
"Iya, bibi mau kan dampingi aku?"
"Iya, apa pun kan saya lakukan untuk non"
"BI tolong yah?"
"Iya den"
..
Mobil Raven berhenti di sebuah perempatan jalan. Raven bilang ia menunggu temanya, Sena pikir itu Rara namun yang datang malah malah satu mobil box seta satu mobil mini bus.
"Sayang mereka siapa?"
"Teman ku, mereka baik kok, Cilla di mobil itu"
Raven kembali melanjutkan mobilnya menuju jalan yang sangat sepi. Raven bilang hanya butuh 2 jam perjalanan namun sudah empat berlalu namun belum juga sampai. Di samping jalan hanya ada hutan belantara bahkan tidak ada cahaya sedikit pun di pinggir jalan.
"Sayang masih lama yah?"
"Engak kok kamu tidur saja, seperti bibi" suruh Raven.
"Iya deh"
Setelah menempuh waktu yang sangat lama akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang cukup besar namun terasa seram. Teman-teman Raven kini turun dari mobil ada lima orang termasuk Rara. Ke empatnya itu pria. Zio, Dendo, Rui dan Ken. Ken ini yang menyetir mobil box dan tubuhnya di penuhi tato, membuat Sena agak ngeri dan Sena tidak mengenalnya sama sekali. Zio, Dendo dan Rui itu sering datang bertamu kerumah jadi Sena sudah cukup banyak mengenal mereka.
Rara langsung mendorong kursi roda Sena, sedangkan Pricilla kini di bopong oleh Zio.
Mereka langsung masuk kedalam Villa. Villa ini nampak sudah lama tidak di kunjungi namun terlihat cukup bersih.
"Ini Villa milikku, semoga kalian betah" ucap Zio.
Mereka memutuskan untuk mencari kamar masing-masing dan Raven memilih kamar paling belakang beralasan agar Sena bisa dekat dengan bi Asih yang kamar nya berdekatan. Jika Sena butuh sesuatu bi Asih bisa cepat datang.
..
kamar Sena.
Raven kini bernapas lega, akhirnya Sena tertidur juga. Raven lantas keluar kemarin menemui teman-temannya yang ternyata sedang pesta alkohol di bangunan samping yang agak jauh dari rumah utama. Mereka sengaja biar Sena tidak mengetahui semuanya.
"Ck, pengasuh kita sudah sampai" ejek Zio.
"Ck diam Lo semua!" Kesal Raven yang langsung mendekati Rara.
"Sabar, nanti juga berakhir kok" ucap Rara sembari menyodorkan segelas alcohol.
"Terima kasih sayang" Raven langsung menghabiskannya.
"Rencana kita di muali kapan?" tanya Dendo.
"Sabar bro kita nikmati waktu di sini dulu. Mumpung ada pengasuh gratis untuk Cilla" usul Zio.
"Ya.. Ya.. Bener tuh kali aja mau nambah lagi" ledek Rui. Yang langsung mendapatkan lemparan kacang dari Raven.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang mengawasi mereka semua. Tatapan matanya seperti singa yang tengah mengincar mangsa.
----
Matahari belum juga menampakkan sinarnya meski ini sudah jam tujuh pagi. Sena dengan kursi roda elektriknya menuju meja makan. BI Asih sudah menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Mobil box itu ternyata berisi bahan makanan dan yang lainnya.
"Kok disini nggak ada sinyal yah?" ucap Sena sembari mengangkat ponsel ke atas.
"Kan banyak pepohonan jadi ngak ada sinyal" jelas Raven.
"Oh"
"Nanti kamu main sama Cilla yah? Soal nya kita ada urusan sebentar" pinta Raven, Sena mengangguk, ia melihat ke arah Pricilla yang tengah di suapi oleh BI Asih.
"Ya sudah, ngak apa-apa. Kita di sini berapa hari?"
"Kenapa? Kamu tidak suka disini? nati sore kita jalan ke desa di bawah, kamu pasti suka, ada kebun stroberi." ajak Raven. Sena hanya mengangguk, Raven lantas menyuapi Sena. Teman yang lain tengah berkumpul di dekat mobil box.
"Sumpah, kalau sampai rencana kita nanti sore buat membunuh Sena berhasil, wih Lo bisa cepat' jadi nyonya besar Ra. Lo masih ingat kan rencana selanjutnya?" ucap Dendo. Rara tersenyum licik.
"Pastinya, aku juga sudah muak harus terus jadi pemuasnya" kesal Rara. Zio langsung memeluk Rara dari belakang. Zio itu ayah kandung Pricilla kelima orang ini sudah sangat muak dengan Raven yang sok jadi bos terlebih jika dia tidak menikah dengan Sena, dia hanya seorang yang bisa saja.
"Tahan sebentar lagi yah, setalah itu kita habisi Revan. Kita kuasai hartanya!" ucap Zio sembari menyusuri di balik kos Rara.
"Ck, Lo berdua bisa tahan dulu napa!" kesal Rui yang takut Raven melihat mereka seperti itu.
"Iya.. Ya"
Tak lama Raven datang dengan wajah kecut, Sena terus saja mengajak pulang.
"Kenapa bro?" tanya Zio.
"Kita harus secepatnya mencari tempat buat menghabisi Sena, kita buat seolah-olah kecelakaan" ucap Raven,
"Tenang bro, disini banyak tempat indah yang mematikan, gue jamin sekali dorong pasti langsung mati!" Riu yang sudah hapal tempat ini tersenyum, terlebih menghabisi wanita yang duduk di kursi roda itu sangat mudah.
"Kenapa ngak langsung di habisi saja di sini, terus kita buang ke mana kek" kesal Rara.
"Ngak segampang itu, Ra. Lo tahu sendiri bokap nya Sena? Dia bisa nyewa ratusan polisi bahkan detektif, buat usut semuanya, Lo mau berakhir di penjara?" jelas Ken.
"Yak engak lah!"
Sedetik itu pun hujan langsung turun dan rencana mencari lokasi untuk menghabisi Sena juga tertunda. Mereka agak kesal namun tidak masalah, ada hari besok.
Raven tidak membiarkan Rara menganggur begitu saja, dia langsung mengajak Rara ke kamar. Zio terlihat sangat kesal, terlebih Raven sudah bersama Rara tadi malam.
"Santai bro, Lo udah bisa tahan sejauh ini" ucap Ken sembari menepuk bahu Zio sedangkan Riu dan Dendo sudah cekikikan menertawai Zio.
..
Sena tengah membacakan buku dongeng tentang putri duyung ke Pricilla. Pricilla nampak sangat nyaman dekat dengan Sena. Mereka tengah berada di dalam kamar dan terdengar hujan yang sangat deras di luar.
"Oh.. Jadi putri duyung itu kalau kena air, kakinya jadi ekor"
"Iya, Tante itu putri duyung tahu karena itu ngak bisa jalan. Cilla juga putri duyung."
"Beneran? Tapi kaki Cilla ngak berubah jadi ekor waktu mandi"
"Bisa, kalo di kolam renang, soal nya kan butuh air yang banyak banget!" Ucap Sena sembari menyuapi Pricilla dengan cokelat batang.
"Wah, Cilla jadi penasaran. Tante.. Tante" ucap Pricilla sembari menepuk-nepuk kaki Sena.
"Kenapa?"
"Om Raven sering banget ke rumah Cilla tahu, dia bawa mainan banyak terus om Raven itu sering giniin mami" Pricilla meragakan apa yang ia lihat ke boneka beruangnya. Sena mengeryit keningnya saat Pricilla meremas-remas bagian dada boneka itu.
"Terus Cilla di tinggalin sendiri, om Raven sama Mami malah bobo bareng, Cilla kadang kesal banget"
Tangan Sena mengepal, ia menolak mempercayai apa yang Pricilla katakan, Raven tidak mungkin mengkhianati nya apa lagi dari mulut anak kecil.
..
BI Asih tengah mengepel lantai di depan kamar Rara dan samar-samar bi Asih mendengar suara aneh. BI Asih lantas mendekati pintu terdengar suara Rara.
"... Uh .. Raven pelan dong..Uh"
Pintu kamar yang tak tertutup rapat, membuat bi Asih penasaran dan mengintip ke dalam terlihat Raven tengah melakukan hubungan intim dengan Rara.
"Den Raven?" ucap Bi Asih tidak percaya dan bergegas menuju kamar Sena.
....
Sesampainya di kamar Sena, Bi Asih jadi nampak ragu sebab Sena terlihat sangat bahagia dengan Pricilla. Firasat bi Asih langsung terpikirkan bahwa Pricilla itu anaknya Raven.
"BI tolong bantu aku, kita mau main di luar" pinta Sena. BI Asih pun menurut saja.
"Bi, kalau ada tikus yang mengganggu bunuh saja, aku tidak ingin mereka lepas begitu saja" mendengar itu bi Asih tersenyum tipis.
"Baik Non"
..
Pricilla tengah mendorong kursi roda Sena dengan kencang di ruang tengah. Suara tawa mereka terdengar menggema hingga ke kamar Rara.
"Kamu khawatir apa? Mereka sangat menikmati kebersamaan mereka" ucap Rara sembari menarik selimut menutupi tubuhnya. Raven tengah berpakaian membelakangi Rara.
"Aku khawatir dia melihat kita, aku masih butuh tanda tangannya."
"Iya... Iya, aku akan menunggu mu"
Revan langsung keluar kamar setelah Raven pergi Zio memasuki kamar.
"Apa kamu sangat menikmatinya?" sinis Zio langsung. Rara tersenyum lalu menyingkirkan selimut.
"Aku hanya membayangkan bersama dirimu. Ayo, aku bisa dua ronde lagi"
"Cih!" Zio langsung naik ke tempat tidur.
...
Kursi roda Sena menabrak sesuatu hingga Sena terjatuh.
"Aww" erang Sena. Pricilla langsung berlari mencari bantuan. Pricilla langsung menghampiri Riu yang tengah bermain PS.
"Om Riu tolongin Tante Sena, Tante Sena jatuh" Pricilla langsung menarik tangan Riu. Riu dengan malas mengikuti Pricilla. Riu langsung menolong Sena yang tengah kesakitan memegangi lututnya.
"Kamu ngak apa-apa?" Riu langsung membopong tubuh Sena. Tangan Riu tidak sengaja menyentuh 'PD' Sena saat membopong Sena. "wih gila padet banget" ucap Riu dalam hati.
"Engak apa-apa makasih yah?" ucap Sena. Riu langsung mendudukkan tubuh Sena di sofa.
"Cilla kamu bisa ambilin air minum gak?" tanya Riu. Pricilla langsung mengangguk dan berlari menuju dapur.
"Sorry aku lihat lukanya dulu" ijin Riu yang memang berprofesi sebagai dokter.
"Iya"
Setelah baju yang Sena pakai memang agak terbuka dan roknya hanya di atas lutut, Riu berjongkok di depan Sena, tangannya langsung menyentuh lutut Sena yang terlihat memerah.
"Apa kamu rajin terapi?" tanya Riu yang kini tengah memeriksa kaki Sena.
"Iya, tapi hanya bisa jalan dua langkah saja"
"Oh bagus"
Parfum Sena seakan menusuk hidung Riu dan kulit putih mulus dan halus ini membuat Riu berfantasi.
"Eh?" Sena langsung mencengkram tangan Riu saat tangan Riu bergerak terlalu ke atas.
"Aku hanya memeriksa saja, aku takutnya akan tambah parah kondisi kaki mu" jelas Riu yang ketahuan modus.
"Ehmm" deheman Raven membuat Riu berdiri.
"Tadi jatuh udah ngak apa-apa kok" Riu langsung melangkah pergi meninggalkan keduanya bersamaan dengan Pricilla yang membawakan segelas air untuk Sena.
"Tante ini minumnya" Pricilla sangat lucu terlebih pipi gembulnya.
"Makasih sayang" Sena menerima gelas itu. Pricilla yang mendengar Rara memangilnya langsung berlari ke ruang tamu.
"Kamu beneran ngak apa-apa?" tanya Raven memastikan.
"Cilla mirip banget sama kamu yah?" ucapan tiba-tiba dari Sana membuat dirinya sulit bernapas.
"Iya kan dia anak sepupuku, kami kebetulan mirip" jelas Raven berbohong.
"Oh? Tadi Cilla bilang kamu sering kerumahnya apa itu benar? Anak kecil tidak mungkin berbohong kan?" selidik Sena. Raven yang menyadari Sena sudah mulai curiga langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Sudah jangan di pikiran, ayo ke kamar saja. Hujannya semakin deras, di sini dingin"
Di dalam mobil box ada seorang yang mengenakan hodie hitam dan juga masker menutupi wajahnya. Ia tengah menyuntik sesuatu ke dalam susu kotak rasa strawberry lalu mengoleskan sesuatu di semua botol alkohol.
"Kalian menyakiti tuanku dan kalian harus mati!"
------
Jam 15.00
Sena tengah menyisir rambut Pricilla di kamar Sena. Villa ini nampak sepi karena yang lain nya tengah di gazebo halaman samping.
"Tante"
"Iya, kenapa?"
"Umm... Putri duyung yang Tante ceritain itu, emang bener?kalo masuk ke kolam renang itu kaki ya jadi ekor"
"Iya, Cilla mau jadi putri duyung?" tanya Sena yang sudah selesai menguncir rambut Pricilla.
"Mau" Pricilla kini berhadapan dengan Sena. Senyum di bibir Sena terasa begitu tenang.
"Kalo gitu Cilla harus makan ini"
Sena meraih tasnya lalu mengeluarkan botol plastik dari dalam sana. Sena mengeluarkan 10 pil berbentuk hati lalu menyuapi Pricilla. Pil itu kecil jadi sekali hap sudah habis.
"Tante kok agak pait yah?" keluh Pricilla yang langsung menyambar susu stroberi nya.
"Ini rahasia kita, jangan bilang ke Mama Rara yah? Kalau Pricilla bilang nanti ngak jadi putri duyung loh?"
"Cilla janji gak bilang mama"
...
Gazebo samping.
"..... Gilak, itu padet banget sumpah! Meski cukurannya kecil!" Riu. Dendo Zio dan Ken menatap Riu dengan tidak percaya terlebih mereka tahu Riu itu suka cewek yang padet depan belakang.
"Ck, terus si Raven gimana saat lihat Lo sama Sena?" tanya Ken.
"Cuma acuh, ee.. Gue jadi pengen make sumpah, boleh gak sama si Raven"
"Lo yakin mau tidur sama cewek yang jauh dari tipe Lo?" Zio tak percaya.
"Dih, gue kagak rugi juga lagian Sena mau kita bunuh kan?"
"APA KALIAN MAU BUNUH NON SENA!"
Suara itu mengangetkan ke empat Pria ini, mereka melihat Bi Asih tidak sudah tua itu dengan tatapan tajam.
"Bunuh orang tua itu dulu" Perintah Zio. Ketiganya langsung mengangguk. BI Asih langsung berlari meninggalkan mereka. Ke empatnya tidak langsung mengejar, mereka sudah sangat hafal tempat ini dan untuk seorang wanita tua pasti bisa di selesaikan dengan mudah.
BI Asih terus berlari, pikirannya cuma satu yaitu membawa Sena pergi dari tempat ini. Bi Asih yang panik tanpa ia sadari menabrak Raven.
"Den, tolong mereka mau ngebunuh non Sena!" ucap Bi Asih dengan panik. Raven mengerutkan keningnya, bersamaan dengan kedatangan Riu dan Ken.
"Terus?" ucapan singkat dari Raven membuat Bi Asih langsung menyadari bahwa Raven juga terlibat.
"Non Sena harus tahu" Bi Asih langsung berlari dan Raven mengisyaratkan untuk mengejarnya.
"Ck orang tua itu harus mati, aku belum dapat tanda tangan Sena" Raven langsung menuju mobil dimana dokumen pengalihan saham dan surat kuasa yang ia buat selama ini hanya perlu tanda tangan Sena.
..
Riu dan Ken seperti orang gila, mereka berdua berjalan dengan santai sembari menembaki sisi kanan dan Kiri jalan, mereka sengaja membuat Bi Asih ketakutan. BI Asih berlari sampai ke tepi jurang.
"Mau kemana lagi bi?"
"Sudah nyerah aja! Mau di dor di mana? Di kepala atau di jantung?" tanya Ken. Bi Asih terlihat sangat takut, di depannya jurang yang sangat dalam.
"Gimana bi?"
Riu dan Ken terbelalak saat melihat Bi Asih memilih untuk loncat ke jurang, keduanya terlihat sangat puas karena tidak usah repot-repot membunuh nya.
Keduanya melihat ke dasar jurang, mereka melihat Bi Asih yang tak bergerak, pasti bi Asih udah tamat.
..
Kamar Sena.
Raven tengah meminta tanda tangan Sena, ia beralasan itu dokumen untuk mengadopsi bayi untuk jadi pemancing ke hamilan Sena. Sena yang sangat senang langsung menandatanganinya. Raven sangat senang akhirnya mendapatkan tanda tangan Sena.
"Ini, kapan kita jemput bayinya?" tanya Sena dengan nada yang tak sabar.
"Setelah pulang dari sini, aku ada urusan. Aku pergi dulu ya!" Raven langsung mencium bibir Sena sekilas lalu berlalu pergi. Sena agak kesal tapi ya sudahlah.
Sena menoleh ke arah jendela karena merasa ada yang mengawasi, ia melihat kaca jendelanya ada lumpur.
"Hitung mundur sudah di mulai yah?" Sena langsung menarik paksa kalung yang ia pakai.
...
22.45
Raven tengah bercumbu dengan Rara, mereka tidak menghiraukan Pricilia yang memanggil di luar.
"Ck, apa Sena tidak mengurusnya!" kesal Raven yang kini sudah menyatu dengan Rara.
"Sudah biarkan saja toh ada keempat orang itu." serah Rara yang kini semakin mengeratkan rengkuhannya.
"Kamu benar juga"
..
"Mama mana sih?" Pricilia menghela napas, sinar bulan sangat terang di luar sana. Sinar bulan terpantul indah oleh air kolam yang sangat jernih. Pricilia dibuat kagum melihatnya. Kaki mungilnya berjalan mendekati kolam.
"Wah cantik banget, Cilla mau jadi putri duyung!"
gadis kecil ini langsung melompat ke dalam kolam. Sedetik itupun langsung panik dan meronta di dalam air. Mulut mungilnya terus saja menelan air kolam.
Ada dua pasang mata yang melihat kejadian itu namun hanya membiarkan saja tanpa menolong.
"Semua sudah di atur, anda tenang saja"
"Baik lah, setelah ini giliran Rui"
"Tuan?"
"Tambahkan saja dosisnya, itung-itung buat hadiah buat mereka"
"Baik Tuan."
...
"CILLLAA!!!" Teriak Rara dengan Frustasi melihat putri kecilnya sudah kaku di pinggir kolam renang berserta Zio yang terlihat basah kuyup. Riu tengah RJP (Resusitasi Jantung Paru) berharap masih ada harapan.
Pagi-pagi sekali Zio sudah bangun dan ingin berenang namun matanya tertuju ke tubuh mungil yang mengapung.
"Cilla!"
Zio langsung melompat ke air menghampiri tubuh mungil putrinya yang sudah dingin.
...
Rui menggeleng kan kepalanya, menandakan Pricilia sudah tidak tertolong. Rara semakin histeris putrinya sudah tidak ada lagi sekarang.
Raven mendekati tubuh Pricilia namun langsung di dorong oleh Zio. Dendo langsung menarik Zio pergi takutnya Zio akan mengatakan kebenaran tentang Pricillia.
"Cilla!"
Raven langsung memeluk dan mencium Pricillia, Raven tidak ingin kehilangan bidadari kecilnya.
"Maafin Ayah, Cilla. Harusnya kamu tidak ikut" ucap Raven di sela-sela tangisnya.
"Cilla kenapa?" tiba-tiba Sena datang dengan kursi roda elektriknya. Raven langsung menoleh ke arah Sena. Sena melihat Cilla yang di peluk Raven sudah sangat berbeda, dia nampak dingin. Rara yang tahu terakhir kali Pricillia dengan Sena.
"Kamu! KAMU BUNUH PUTRIKU!" Rara bangkit dari duduknya langsung menuju Sena yang nampak kebingungan.
"Rara? Cilla kenapa?" tanya Sena polos. Rara langsung menampar wajah Sena dengan keras.
"RARA!" Bentak Raven.
"Kamu kenapa sih! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud! Cilla bilang tidak mau tidur denganku! Dia bahkan menggigit ku semalam!" Sena melihatkan lengannya yang ada bekas gigitan yang sangat dalam.
"Cilla bilang ingin tidur denganmu! Aku tidak tahu Cilla akan seperti ini, kalau aku tahu aku akan mengantarnya sendiri kepada mu, aku juga tidak tahu bi Asih kemana?" jelas Sena. Raven menitipkan tubuh dingin Cilla ke Riu. Raven mendekati Sena, menanyakan keadaannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Raven memastikan.
"Iya, Cilla?"
"Sudah jangan dipikirkan, aku antara kamu ke kamar" tanpa mendapatkan persetujuan Raven langsung mengantar Sena kembali ke kamar bersamaan dengan itu Zio datang menghampiri Rara dengan penuh amarah.
"Cilla ke kamar mu? Dan kamu tidak membukakan pintu?" tanya Zio dengan nada datar dan Rara tahu Zio benar-benar marah. Kolam renang dengan kamar Rara sangat lah dekat.
"Maaf, aku dengan Raven semalam" ucap Rara dengan menunduk.
"Rara kamu!" Zio menggertakan giginya menahan amarah.
"Kamu bunuh anak kita" kata-kata Zio langsung menusuk hati Rara.
"Aku tidak... Tolong maafkan aku, kamu benar aku yang membunuh putri kita, semua salah Raven, dia sangat lambat membunuh Sena. Anak kita jadi korban! Ini salah Sena! Harusnya dia jaga Cilla!" Rara malah menyalahkan Sena yang tidak bisa menjaga Pricilla.
"Kamu malah menyalahkan dia? Apa kamu tidak punya otak! Bisa kan kamu menolak B*jingan itu? Apa kamu sudah nyaman sama dia?!" kesal Zio yang tidak bisa menerima putri kecilnya tidak. Rara hanya terisak.
"Sudah jangan di bahas lagi, kalian masih bisa punya anak lagi. Fokus, jangan sampai kematian Cilla jadi penghambat kita. Ini sudah kepalang tanggung" ucap Riu dan diangguki oleh Dendo dan juga Ken.
Kamar Sena.
"...... Cilla kenapa bisa jadi seperti itu? Harusnya aku antar di ke kamar Rara, ini semua salahku. Aku takut, ayo kita pulang? Bi Asih juga kemana? Raven ayo pulang!" pinta Sena.
"Bi Asih paling ada di belakang, dia sudah tua pasti butuh istirahat soal Cilla tidak perlu di pikirkan, ini sudah jadi takdirnya Pricillia. Kamu tidak pelu memikirkannya. Aku ke luar dulu, mau berdiskusi dengan yang lain soal Cilla" Raven langsung pergi setelah membaringkan Sena ke tempat tidur.
"Kamu tidak ingin menemaniku? Aku takut" pinta Sena namun Raven tetap keluar kamar.
"Cilla, maaf seharusnya aku tidak main dengan mu"
..
"Raven? Cilla?" tanya Rara.
"Kita tempatkan dulu cilla di freezer, nanti setelah di kota kota makamkan dengan layak. Maaf jadi mengorbankan anak kita" Raven langsung menarik Rara ke pelukannya.
"Kita bisa punya anak lagi, anggap saja ini jalan untuk adik-adik agar hidup nyaman" bisik Raven ke telinga Rara. Rara mengepak tangannya. Ia sudah sangat muak dengan Raven.
"Kamu sudah dapat tanda tangannya, kapan kamu mau habisi Sena? Jangan tunda lagi"
"Iya sayang tapi tunggu Riu mendapat imbalannya dulu"
"Baiklah, lagi pula Sena hanya burung dalam sangkar, sekali timpuk pasti mati"
"Nah kamu tahu itu sayang, tunggu sebentar lagi"
..
Zio tengah menatap tubuh putrinya yang meringkuk di freezer, dia sudah mati kedinginan sekarang harus kedinginan lagi.
"Bro.. Sabar besok pasti Raven juga mendapatkan jatahnya" ucap Dendo yang langsung menutup pintu freezer yang ada di mobil box.
Dendo melihat botol alcohol yang masih banyak, ia agak curiga padahal datang kesini cuma bawa sedikit.
"Bro, ini bukannya sudah mau habis yah?" Dendo langsung mengambil botol alcohol lalu melepas segelnya.
"Wih, mantap nih!" Dendo langsung meneguknya tanpa ragu.
"Cih, Lo ngak setia kawan Luh!" cibir Zio yang langsung mengambil bagiannya.
"Dih, tinggal bikin lagi kan. Cara bikinnya juga enak, ngapain gue harus sedih buat Lo!" ceplos Dendo yang langsung dapat jitakkan dari Zio.
"Malam ini Rui mau coba Sena, Lo mau ikut?" tawar Dendo.
"Lo mau gue di gantung sama Rara? Lo aja sonoh dan kasih Riu obat itu biar nggak masuk langsung keluar.. Hahahhaa.."
"Tuh barang keknya udah keluar masuk jutaan lobang jadi ngak tahan lama" ejek Dendo.
...
18.45
Sena menatap Raven yang tengah mendorong kursi rodanya ke ruang tamu dan terlihat teman-teman Raven tengah meminum alkohol padahal Cilla baru saja meninggal.
"Raven? Cilla baru saja meninggal kenapa kalian malah berpesta alcohol?" tanya Sena dengan nada tidak suka.
"Ini buat hilangin stres itu saja, Kamu juga harus minum!" ucap Rara yang langsung mendekati Sena dengan segelas alcohol.
"Nggak! Aku ngak bisa minum!" tolak Sena yang memang tidak kuat minum.
"Ayo sayang cuma sedikit, biar agak tenang, soal bi Asih, dia yang tega mendorong Cilla ke kolam." ucap Raven. Sena menggeleng cepat, bi Asih tidak mungkin melakukannya.
"Dia tidak suka Cilla, dia bilang Cilla akan menggangu pernikahan mu dengan Raven, benarkan Sena?" Rara menatap nanar Sena, seolah-olah Sena lah yang menyuruh bi Asih mencelakai Pricilla.
"Rara, itu pasti salah paham. Aku tidak begitu!" bantah Sena.
"Kalau begitu minum lah!"
Rara langsung menyodorkan gelas ke Sena. Sena menatap Raven.
"Cuma minum kan?"Raven tak membantu Sena. Dengan terpaksa Sena pun meminumnya, rasa tidak enak langsung terasa di tenggorokan Sena.
"Sudah, kamu tidak curiga lagi kan pada ku?"
"Iya" Rara langsung menjauh namun sedetik itupun Sena merasa tubuhnya sangat panas dan juga agak pusing.
"Raven, aku ngak enak badan" keluh Sena yang langsung tidak sadarkan diri.
"Obatnya cepet juga?" ucap Riu dengan nada tak percaya.
"Udah sana, jangan terlalu kasar, kalau bisa main sampai sadar biar dia ada rasa bersalah sama gue" Raven langsung berjalan mendekati Rara. Rui langsung membopong tubuh Sena menuju tangga.
"Jangan lupa obatnya!" Teriak Dendo.
"CK! Diam Lo b*ngsat!" semprot Rui.
Kamar.
Rui membaringkan tubuh Sena, tatapan Rui seperti serigala yang menatap mangsanya. Tangan Rui membelai wajah Sena hingga ke dada Sena. Rui langsung membuka kancing baju Sena dan mata Rui semakin menggila saat melihat apa yang di depannya, sangat mulus dan padat.
"CK, kenapa kamu bisa jatuh ke tangan orang tidak berguna seperti Raven! Kenapa kamu tidak jadi milikku!"
Rui langsung melepas kaos yang ia pakai lalu naik ke ranjang.
"Malam ini akan aku puaskan kamu cantik!"
Rui langsung bersiap untuk mencumbu Sena, leher jenjang Sena sangat menggoda Rui.
"Malam ini kamu milikku!.. Aakkk!" Rui langsung memegangi tengkuk lehernya yang seperti tertusuk sesuatu.
Ia pun merasa tubuhnya tidak beres lalu jatuh ke samping tempat tidur, rasanya dunianya berputar. Samar-samar Rui melihat seseorang menghampiri dengan setelan serba hitam mendekatinya.
"Lo...lo siapa!" Rui merasa dadanya sangat sesak. Sosok serba hitam itu melepas maskernya, dia menunjukan senyum yang mengerikan.
"Ngak mungkin! Lo udah mati!" panik Rui langsung hilang kesadaran, mulut Rui kini keluar busa serta kejang.
..
Dendo meneguk alcohol terakhirnya lali bangkit. Ken mengerutkan keningnya, ia tahu Dendo tidak mungkin secepat itu puas dengan minuman satu ini.
"Lo mau kemana?" tanya Ken selidiki. Raven dan Rara sudah tak terlihat, ya pastinya tengah membuat pengganti Pricillia sedangkan Zio tengah menjenguk tubuh dingin Pricillia.
"Gue mau ke atas, Lo ngak penasaran apa?" ajak Dendo yang ingin juga mencicipi tubuh Sena.
"CK Lo aja sana, Gue lagi ngak pengen."
"Cih, dasar bodoh loh! Besok hari terakhir untuk wanita itu hidup, sayang kalau tidak di nikmati dulu!"
Dendo langsung berlari menaiki anak tangga, ia sungguh tidak sabar menemani Riu menghabiskan malam dengan Sena.
Dendo langsung membuka pintu dengan sumringah, namun senyum itu hilang seketika saat melihat Rui yang terkapar di lantai.
"Bro?" Dendo langsung masuk memastikan. Rui sudah tidak bernapas dan Sena masih belum tersentuh dan masih tidak sadarkan diri.
"Gawat!" Dendo langsung keluar untuk memanggil Ken.
"Woy cepat ke atas!" suruh Dendo ke Ken yang asik mengunyah kacang.
"CK apa an sih! gue bilang ngak berminat!"
"Bukan itu! Rui... tuh anak sudah mati!"
"APA! Lo serius!"
**
Zio, Dendo, Ken dan Raven menatap tubuh Rui yang sudah tak bernyawa. Mereka menaruh tubuh Rui di gudang belakang.
"CK, apa otaknya sudah di makan tikus? Obat kuat di makan semua" Ucap Ken dengan nada heran.
"Paling barang ngak bereaksi jadi gila" sambung Dendo.
"Tetep aja malah ngerepotin kita!" Kesal Ken.
"Sudahlah, besok kita pikirin cara buat bawa mayatnya pulang" serah Raven yang langsung pergi begitu saja membuat ke tiga orang ini sangat kesal.
"Cih, dasar gila!" kesal Dendo dan di sambut kata oleh Ken dengan nada yang sama kesalnya.
"Kalau bukan soal uang, gue ogah jadi kacung dia!"
"Sudah lah, udah terlanjur juga kan?" ucap Zio menengahi.
"Lo yakin? Mayat ini?" tanya Ken ke Zio terlebih ini Villa miliknya.
"Nanti gue suruh orang beresin kalau udah selesai semua. Lagipula ini juga kan jadi makam Raven" ucap Zio dan ketiganya melihatkan senyum mematikan.
...
06.30
Sena terbangun dengan rasa sakit di kepalanya, ia langsung melihat Raven yang duduk di tepi ranjangnya.
"Kepala ku kok pening yah?"
"Ngak apa-apa sayang, nanti juga sembuh. Mau mandi sekarang?" tanya Raven. Sena mengangguk.
..
Raven mendudukan Sena di tepi kasur. Sena hanya terbalut handuk putih yang melilit tubuhnya dan hanya sebatas lutut. Rambut Sena juga masih basah.
"Mau pakai baju apa?"
"Terserah"
"Ya sudah" Raven melihat ke dalam koper dan mengeluarkan baju ganti untuk Sena dan di barengi oleh Rara yang panik di luar kamar.
"Sena, Raven ada? aku butuh Raven untuk membantuku mengecek tubuh Pricillia, semalam listrik ke freezer mati. Yang lain tidak bisa di andalkan! Mereka masih tidur karena mabuk!" ucap Rara di balik pintu.
Raven menatap Sena, sekan meminta ijin.
"Pergilah, aku bisa sendiri"
"Maaf"
"Nggak apa-apa"
Raven langsung berjalan ke arah pintu. Sena menatap pintu kamar yang menutup.
"Kamu yah nakal!" Raven langsung menoel hidung Rara.
"Biarin, ayo pergi"
Rara langsung menarik tangan Raven. Rara menagih janji Raven yang mau menunjukan tempat eksekusi Sena. Yang tinggal hanya Ken yang masih malas beranjak dari kasur.
...
Ken yang merasa haus langsung menuju dapur, mengambil stok minum bagian Sena yang masih banyak, saat melintas di depan kamar Sena, Ken mendengar suara rintihan kesakitan dari dalam. Tanpa buang waktu Ken langsung masuk kedalam mendapati Sena yang terduduk di lantai, lututnya terlihat agak merah.
"Kamu kenapa?" tanya Ken. Sontak Sena mendongak, Sena reflek menutupi bagian dadanya. Tatapan Sena terlihat agak takut. Ken merasa bagian bawahnya bereaksi saat melihat Sena yang seperti ini.
"Bisa panggilkan Raven?" pinta Sena.
"Dia keluar, cuma ada aku dirumah, biar aku bantu kamu" Sena agak ragu namun mengangguk. Ken langsung membopong tubuh Sena dan mendudukkannya di kasur.
"Terima kasih" ucap Sena, sedetik itupun lilitan handuk di tubuh Sena memudar. Sena buru-buru menarik selimut di dekatnya.
"Kamu boleh keluar gak?" pinta Sena yang sangat malu. Ken tidak memperdulikannya, ia terus menatap Sena dengan intens, Sena hanya menunduk dengan kondisi sekarang tidak mungkin ia bisa lolos.
"Cantik" puji Ken. Sena mendongak menatap Ken.
"Kamu tolong pergi aku tidak mau Raven salah paham!" Sena menatap tajam Ken. Ken hanya berdecak kesal lalu 'menerkam' tubuh Sena. Kini Sena terbaring dengan kedua tangan di tahan oleh tangan Ken.
"Tolong lepaskan aku!" air mata Sena kini mengalir begitu saja.
"Buka matamu! Raven tidak baik untukmu!" ucap Ken dengan nada penuh penekanan.
"Pricilla itu anak Raven dengan Rara, Raven cuma mau membuatmu jadi bank pribadinya!" sambung Ken lagi.
"NGAK KAMU BOHONG! RAVEN TIDAK SEPERTI ITU! DIA SUAMIKU!"
"Lantas kenapa dia tega meninggalkan mu sendiri? Dia tahu keadaanmu, dan Cilla itu memang sudah tidak bernyawa, apa masih penting dibanding dengan mu? Kamu masih hidup dan butuh di dampingi."
Sena terdiam sesaat, semua yang Ken ucapkan benar. Selama di Villa ini Raven hanya menemaninya sebentar dan juga soal Cilla dia memang sedikit mirip Raven.
"Sudah sadar sekarang?" tanya Ken yang merasakan Sena tidak melawan lagi. Tatapannya kosong.
"Tolong tinggalkan aku sendiri" pinta Sena namun Ken tidak mengindahkannya. Tangan kanan Ken dengan cepatnya menyusup masuk ke balik selimut, menyusup masuk ke area sensitif Sena.
"Aakk." napas Sena langsung tak beraturan dan wajahnya merah padam. Ken begitu sangat lihai memainkan jarinya di dalam sana membuat Sena di mabuk kepayang.
"Kamu menyukainya?" tanya Ken mengoda lalu melumat bibir Sena dengan lembut dan mengoda. Sena yang masih terpengaruh obat semalam semakin memanas, tubuh Sena menerima apa yang Ken lalukan. Sena mengeluh panjang dan napasnya terengah-engah, ia menatap Ken yang tengah menyingkap selimut yang ia pakai.
"Aku takut, cukup disini" pinta Sena. Ken langsung mengecup leher Sena.
"Tidak ada orang, aku selesaikan dengan cepat. Ingat ini,Raven berselingkuh dan kamu tidak perlu merasa bersalah. Paham?"
...
Ken merasa sangat puas, Sena sepertinya jarang di pakai oleh Raven. Kini Ken tengah mengguyur tubuh Sena dengan air hangat di kamar mandi. Sena yang awalnya takut dengan Ken kini terasa sangat akrab.
"Ken... Ini? Apa bisa kita lupakan hal yang tadi?" ucap Sena ragu.
"Tentu apa pun mau mu, maaf aku agak kasar tadi."
"Engak kok, apa benar Raven itu tidak bisa di percaya? Dia bersamaku lima tahun ini? Aku sangat percaya padanya"
"Sudah, jangan di pikiran lagi. Ayo pakai bajunya"
"Iya"
...
Ken tengah menghisap rokok nya dalam-dalam. Kejadian tadi itu masih sangat mengenakan untuk di ingat dan di bawah juga masih bisa merasakan kehangatan.
"Lo tadi dari kamar Sena?" tanya Dendo selidik.
"Iya, kenapa?" ucap Ken malas.
"Cih, melihat Lo kayak gini pasti Lo habis menang besar kan? Lo tiduri Sena?" tebak Dendo.
"Kalau ia kenapa?"
"Ck curang Lo!" kesal Dendo. "Tapi kok Lo bisa sampai itu sih, Lo paksa?" sambung Dendo lagi.
"Sedikit, tapi bikin dia ketagihan"
Keduanya tertawa dengan renyahnya sampai tak sadar Zio sudah ada di belakang mereka berdua.
"Ken, lu ke gudang belakang, si Rui itu yang simpan kartu merah casino, di cari di kamarnya ngak ada kali aja masih di sakunya" suruh Zio. Ken nampak agak kesal, sedangkan Dendo sudah kabur karena tidak mau berurusan dengan mayat.
"Iya..iya"
...
Ken dengan malas menuju gudang belakang, bau mayat sudah tercium dari jauh.
"Sial banget sih! Padahal baru semalam kok udah busuk aja!" Ken nampak ngomel dan langsung masuk ke dalam. Ia langsung tertuju di saku celana Rui.
"Sialan! Di mana sih!" kesal Ken. Dari arah belakang muncul Zio dengan menenteng pistol, tatapannya datar namun mematikan. Ia arahkan pistol itu ke kepala Ken dan.
Dorrr...
Darah muncrat kemana-mana, Ken tewas seketika.
"Berani sekali kau membunuh putri ku dan menodainya!" ucap Zio sembari menginjak tubuh Ken.
10 menit yang lalu
Zio tengah melihat galeri ponselnya, melihat kembali putri kecilnya yang tak pernah memanggilnya Ayah. Suara kursi roda elektrik Sena membuat Zio melirik ke sumber suara. Ia melihat Sena yang tengah memangku selimut, botol air dan permen milik Pricilia.
"Zio.. Boleh tolong bantu aku kasih ini ke Cilla?" pinta Sena ragu. Sena tak berani menatap Zio langsung.
"Tentu, ada lagi?" tanya Zio yang memang peka dengan situasi.
"A....ada"
"Katakan"
"Tapi aku takut, kamu bisa jaga rahasia ini dari Raven?" kali ini Sena tepat menatap Zio.
"Baiklah, katakan saja" jujur Zio malas berbasa-basi.
"Aku... Aku tadi di p*rkosa Ken, dia bilang... Dia juga lakukan hal sama pada Cilla, aku takut... Dia bilang mau membunuhku jika bilang ke orang lain!" Sena langsung melihatkan bekas merah di tangannya.
"Apa!" Zio langsung bangkit dari tempat duduk dan langsung menghampiri Sena.
"Apa kamu tidak berbohong?" Zio nampaknya ragu terlebih dia tahu Ken orang yang seperti apa dan tidak mungkin melakukannya pada putrinya.
"Tidak.. Dia bilang Cilla lebih enak dari pada aku! Aku mohon... Aku mau pulang... Raven terus saja dengan Rara, aku takut... Aku ini istrinya tapi dia tidak perduli padaku." Sena menceritakan dengan air mata yang berlinang.
"Ini semua untuk Cilla, pasti dia kedinginan" Sena meletakan selimutnya ke atas meja langsung pergi dengan kursi rodanya.
Zio langsung menuju kamar Ken. Ia menggeledah semua isi ruangan ini. Tatapan Zio tertuju pada sudut kasur, seperti ada barang yang di sembunyikan.
Zio langsung mengecek dan menemukan ponsel dan juga celana dalam anak kecil bermotif stroberi yang beraroma familiar. Zio mengecek ponsel itu. Tatapan mata Zio langsung berubah tajam saat melihat di galeri ada foto-foto anak kecil yang tak pakai baju dan juga ada foto Cilla saat bermain di kolam renang saat awal masuk Villa dan Zio juga ada di sana menemani. Ini celana dalam milik Cilla saat bermain di kolam.
"Kurang ajar! Ku bunuh ba*jingan brengsek itu!"
Flas end.
Zio menatap tubuh putrinya yang dingin, ia meletakan selimut pemberian Sena di atas tubuh Cillla.
"Maafkan Ayah nak"
....
15.00
Dendo merebahkan tubuhnya di atas kasur, Ia sangat kesal Ken merebut star darinya untuk meniduri Sena.
"CK, Ken bisa kenapa aku tidak! Ken terlihat sangat puas, apa memang senikmat itu?"
Dendo melirik jam dinding lalu tertidur.
...
PLAKKK..
Tamparan mendarat di pipi Rara hingga terlihat memerah. Zio sangat marah karena Rara nampak tak kehilangan Pricilia.
"Kamu apa-apaan sih? Dulu kamu yang mendorong ku ke Raven. Kamu tahu sendiri hatiku hanya untukmu, sekarang kamu salahkan aku?"
Rara menatap Zio dengan kekecewaan. Zio hanya menatap Rara dingin.
"Aku harus tidur dengannya setiap saat, harusnya kamu tahu aku sangat menderita! Aku jijik dengan diriku ini!... Kamu boleh berpikiran macam-macam padaku tapi ingat aku juga kehilangan Rara, darah daging kita yang kita nantikan. Zio tolong jangan seperti ini?! Aku tidak bisa hidup tanpamu.. Aku mohon jangan bilang seperti itu lagi"
Pinta Rara. Zio langsung menarik Rara ke pelukannya, seharusnya dia tak seperti ini, dia juga gagal melindungi Pricillia.
..
20.00
Dendo menuju ke mobil boks dengan wajah yang masih mengantuk, dirinya ingin sekali meminum alkohol sebelum rapat rencana pembunuhan Sena.
"Hari yang tenang akan segera berakhir, gue masih ingin santai" Dendo sangat benci kalau sudah berkerja kembali, ia bosan dengan semua itu.
"Andai gue yang nikahin Sena pasti gue kaya banget, goblok tuh Raven, harusnya dia tinggal rebahan doang eh malah repot-repot gini... Awww..." Dendo merasa kakinya di gigit sesuatu.
"CK sialan apa sih!" Dendo menyenter ke arah kakinya dan ternyata ada ular berbisa di dekatnya.
"Sialan! Gue ngak mau mati" Dendo langsung berlari ke arah Villa.
...
"...... Gue jamin Sena bakal tamat, pastinya Lo semua dapat bagiannya!" Raven tersenyum puas dengan rencananya.
"Iya, Tuan Raven yang terhormat" sanjung Zio namun di dalam hatinya ingin sekali menebas leher Raven.
"Kok gua ngak lihat Ken?" tanya Raven.
"Paling lagi tidur, Lo tahu sendiri dia itu jadi kebo kalu minum banyak" ucap Zio dengan biasa tanpa rasa bersalah.
"CK! Yang satu kebo yang satunya gila minum" ucap Raven dengan nada miris.
Brak.. Pintu terbuka dengan kerasnya Dendo langsung ambruk di depan pintu. Ketiga orang ini lantas berlari menghampiri.
"Do, Lo kenapa?" tanya Rara panik. Tubuh Dendo sudah membiru.
"Sial, di gigit ular!" seru Zio yang memeriksa tubuh Dendo.
Rara mencengkram erat lengan Raven. Sejak datang ke villa nasib buruk menimpa pertama Pricilia sekarang Dendo.
"Raven, aku takut. Apa jangan-jangan di villa ini ada hantunya. Kita apes terus disini! Aku ngak mau mati!" rengek Rara.
"Ini cuma kebetulan, Zio ayo kita bawa tubuh Dendo ke gudang belakang, walaupun masih hidup pasti cepat atau lambat bakal mati juga"
"Eh? Gue sendiri sudah cukup, mending Lo temani Rara biar gak takut" ucap Zio yang tidak mau Raven tahu bahwa Ken sudah mati.
"Ya sudah"
..
Kamar Sena.
Sena tengah menyisir rambut, tatapannya ke cermin sungguh menyeramkan.
"Kalian mau membunuhku... Jangan terlalu percaya diri" Sena tersenyum sinis langsung berdiri berjalan mendekati jendela. Sena tidak pernah cacat, ini semua hanya permainan semata.
"Tuan, Dendo sudah tamat." sesosok bayangan mendekat ke arah jendela. Sinar bulan melihatkan bahwa dia adalah bi Asih. Bi Asih tidak mati di jurang itu bahkan itu malah di rencanakan. Bi Asih adalah salah satu eksekutor mesin pembunuh yang gila darah. Sena sudah tahu dari lama soal vitamin yang di tukar dengan pil pencegah kehamilan dan juga soal Pricillia. Sena tahu Pricillia bukan anak Raven karena itu sampai detik ini Sena masih menemani mereka bermain sandiwara.
"Baguslah"
"Tuan! Apa kematian ini sangat mudah untuk mereka?"
"Aku tahu Asih, kamu sangat haus darah tapi darah mereka itu kotor, tak pantas untuk tangan mu" jelas Sena. Dan Soal Ken yang berhubungan intim dengannya memang di sengaja, Sena sangat mengharapkan buah hati, mungkin melalui Ken dirinya bisa hamil.
"Malam ini Zio juga harus tamat, pasti kedua orang itu akan tidak sabar melakukannya malam ini, aku sudah sangat bosan disini."
"Baik Tuan, akan saya laksanakan"
..
Zio melamun sendiri di tepi kolam, ia masih teringat dengan jelas, tubuh Pricillia yang mengapung.
"Cilla.. Maafin papa! Papa yang salah."
Seorang dari belakang melangkah tanpa suara, ia langsung menyuntikan sesuatu di leher Zio lalu menendangnya ke dalam kolam.
"Selamat menyusul Anakmu"
...
07.00
Rara menatap kosong ke kolam, melihat Raven yang tengah menarik tubuh Zio yang kaku ke tepi.
"Cih, sialan kenapa pada mati sih! Rencana gue, berantakan!" kesal Raven yang berhasil menaikan jazat Zio.
"Raven, apa selanjutnya giliran ku?" entah kenapa Rara berucap demikian.
"Kamu bilang apa sih? Mereka semua memang sudah umur pendek. Ayo bantu aku ke gudang belakang." suruh Raven. Rara menggeleng.
"Buat apa?! Kita habisi Sena sekarang atau aku tidak ingin bersama mu lagi!" tegas Rara yang sangat ketakutan serta putus asa. Orang yang ia cintai kini tidak ada lagi.
"Oke-oke, Memeng harusnya dari kemaren, kita terlalu menunda-nunda!"
..
Raven langsung membekap Sena yang masih tidur dengan obat bius. Raven tidak langsung membunuh Sena, ia mau Sena membuat pernyataan untuk memberi hak kekuasaan perusahaan dan mengakhiri hidupnya karena depresi. Raven ingin terlihat Sena mencelakai dirinya sendiri secara suka rela.
..
Sena membuka kelopak matanya perlahan dan mendapati dirinya yang duduk terikat di kursi. Ia langsung melihat Rara yang berada di pangkuan Raven.
"Kamu sudah sadar?" tanya Raven dengan tatapan mematikan.
"Sayang, kenapa kamu lakuin ini? Apa salah ku? Aku ini istri mu! Rara, aku anggap kamu seperti saudara ku kenapa kamu tega rebut suamiku!". Air mata Sena kini mengalir. Rara dan Raven berjalan menghampiri Sena.
"Wanita cacat sepertimu memangnya pantas untuk Raven?"
Plakk...
Tamparan keras mendarat di pipi Sena. Sena menatap Raven dengan tatapan minta penjelasan.
"Rara sayang, nanti tangan mu sakit" Raven meraih tangan kanan Rara lalu mengecupnya dengan lembut.
"KALIAN SUDAH BERAPA LAMA!" teriak Sena dengan frustasi.
"Sangat lama, sebelum kamu mengenalnya" Rara langsung mencengkram dagu Sena.
"Ngimana rasanya jadi pengasuh anak selingkuhan Suamimu?" ucap Rara dengan picik. Sena menatap tajam ke arah Rara.
"Cilla anak kalian?"
"Ya jelas, dia anak kita, aku bahkan jijik harus tidur denganmu!" Raven kini datang dengan beberapa dokumen.
"Cepat tanda tangan, akan ku lepas kau." sambung Raven lagi.
"Kau cuma mau uangku?" tanya Sena dengan nada bergetar.
"Jelas, buat apa aku repot-repot mengurusi bayi tak berguna seperti mu!"
Sena menunduk, senyum misterius terukir jelas di bibirnya.
"Coba saja ambil jika kamu masih hidup" desis Sena dan langsung terdengar suara pukulan benda tumpul.
Bi Asih dengan tingkat golf memukul kepala Raven dan Rara hingga pingsan.
"Nona tidak apa-apa?" Bi Asih langsung membuka ikatan Sena. Sena langsung menginjak dada Raven.
"Kau kira kamu pemenangnya? Dasar sampah!"
..
"... Uuh" keluh Raven sembari memegangi kepalanya. Ia melihat sekelilingnya, Sena sudah tidak di kursinya dan dilihatnya juga Rara yang masih pingsan.
"Sudah bangun suamiku sayang"
Raven langsung mendongak ke sumber suara. Ia melihat Sena di lantai atas sembari memainkan kunci mobil dan juga sosok yang ia pikir sudah mati.
"Kamu.. Kamu tidak cacat!" ucap Raven panik.
"Menurutmu?"
Rara kini sudah sadar dan dia juga tak menyangka Sena ternyata bisa selamat.
"Kau membohongi ku! Kau menipuku!" ucap Raven menggebu-gebu.
"Siapa yang menipu kamu pasti tahu sendiri. Lagi pula orang bodohnya itu kamu, sudahlah cuma satu yang boleh pergi!"
Sena langsung melemparkan kunci mobil ke arah Raven.
"Raven?"
Rara menatap Raven. Raven menggambil kunci mobil itu lalu akan di serahkan ke Rara. Sena berdecak sinis.
"Kamu yakin? Dia sudah menipumu sampai ke tulang. Kamu pikir Pricillia itu anak mu? Kamu terlalu naif Raven! Haha"
Sena tertawa dengan garingnya. Rara meneguk ludah paksa. Raven nampak tidak percaya, dia sudah melakukan tes DNA dan memang Pricilia itu putrinya.
"Orang bodoh tetap lah orang bodoh, kamu pikir teman-teman itu setia padamu, dokumen bisa di palsukan, seperti yang kau lakukan selama ini."
"Ngga cila itu putriku!" Raven masih mengelak.
"Dia anaknya Zio, teman-teman mu itu mau membuat mu mati" Sena langsung memutar rekaman saat ke empat temannya merencanakan kematiannya melalui Rara.
Raven mengingat kembali selama ini Zio dan yang lainya memang lebih banyak menghabiskan waktu tanpanya dan kemungkinan hal pasti terjadi dan soal tes itu pasti Rui juga ambil alih toh yang urus itu Rui.
"Sejak kapan. RARA!"
"Aku tidak tahu menahu! Tolong percayalah!" pinta Rara. Namun Raven sudah tidak perduli ia langsung mencengkram erat leher Rara. Rara berusaha melepas cekikan itu namun tidak bisa. Rara hanya menatap Raven pasrah hingga tubuhnya melemas. Raven langsung meraih kunci mobil lalu berlari menuju mobil.
"Dasar b*jingan!" tak lama terdengar suara ledakan besar dari luar. Mobil yang disiapkan sudah di pasangi Bom daya ledak tinggi hingga tubuh Raven tak berbentuk lagi.
..
>>>>>>>⌛⌛⌛⌛⏱️⏱️
Sena menatap suaminya dengan penuh benci, dia kira kali ini dapat yang lebih baik tapi untung saja kali ini dirinya hamil.
"Siram!"
Pelayanan yang ada di sana langsung menyiram wajah suami Sena dengan air dingin hingga tersadar.
"Sudah bangun? Apa kau kenal dia?" Suami Sena melihat ke tempat Sena menunjuk. Matanya langsung membulat saat melihat seorang wanita tengah terduduk terkurung di kandang besi. Tubuhnya penuh luka, tatapannya kosong.
"CRIAN!" Pekiknya langsung berlari menghampiri.
"Ian ini aku, kamu kenapa sampai seperti ini? Perutmu kenapa rata? APA YANG KAMU LAKUKAN!" Teriaknya dengan frustasi. Wanita yang ia cintai sangat mengenaskan bahkan ia masih ingat perutnya yang besar dengan tendangan halus itu.
"KAU KEJAM! KAU IBLIS!"
"Aku benci penghianat!" ucap Sena dingin dan ia pun pergi dengan berjalan santai sembari mengelus perutnya.
"Kamu bisa berjalan?" ucapnya terkejut. Sena berhenti melangkah.
"Kamu ingat Brita TV itu? Aku yang membunuh mereka sekarang giliran mu!" Sena kembali melangkah.
"JANGAN AKU MOHON... MAAFKAN AKU!"
Dooorrr
..
Ruang Keluarga.
Ayah dan Ibu Sena tengah menunggu Sena dan juga ada beberapa dokter di sini.
"Kamu sudah puas mainnya?" tanya ibu Sena.
"Sudah, sekarang ini mainanku" ucap Sena sembari mengelus perutnya.
"Itu anak mu, jangan buat mainan" tegas Ayah Sena.
"Tergantung dia nurut atau tidak!" ucap Sena dingin.
"Kamu ini, jangan telat minum obat, ayah tidak ingin kamu jadi manusia haus darah" sambung Ayah Sena. Ibu Sena mengisyaratkan dokter-dokter itu untuk mengecek keadaan Sena.
.. Selesai...