Sore itu Dion mengajakku pertama kalinya kerumah.
Besar, sepi hanya ada beberapa asisten rumah disitu, itu saja cuma nyapa.
"Kamu tunggu disini bentar ya, aku ambil minum".
Aku pun ngangguk.
Ngga lama Dion datang bersama pria yang kupikir Om nya.
"Kenalin ini Aca, Aca ini ayah".
Aku kaget setengah mati.
Saat Salim cukup lama.
Tanganku agak merinding Salim dengan ayahnya Dion.
---
Aku lanjutin ya versi Aca:
Tangannya hangat, tapi genggamannya kelamaan. Nggak kayak salim sama bapak-bapak biasanya yang langsung lepas.
Aku coba tarik pelan, dia baru lepas sambil senyum.
"Jadi ini Aca yang sering diceritain Dion," katanya. Suaranya pelan, santai. "Cantik, pantesan anak saya susah disuruh pulang kalau lagi sama kamu."
Aku cuma bisa senyum kaku. Jujur, aku ngira ayah angkat Dion itu bakal seumuran bapakku, yang perutnya udah agak buncit dan rambutnya mulai tipis. Ternyata enggak.
Orangnya masih kelihatan muda, mungkin awal 40-an. Tinggi, bersih, pakai kemeja rumah yang lengannya digulung. Beda banget sama Dion yang masih berantakan pakai kaos band.
"Ayah, jangan digodain," Dion nyeletuk sambil naruh dua gelas es teh di meja. "Nanti dia kapok main kesini."
Ayahnya ketawa. "Loh, ayah kan cuma ramah. Duduk, Ca."
Dan dari situ mulai aneh.
Sepanjang ngobrol, tatapannya tuh sering ke aku. Bukan tatapan om-om genit yang terang-terangan, tapi tatapan yang... memperhatikan banget. Waktu aku cerita kuliah, dia dengerin serius. Waktu Dion cerita ngalor-ngidul, matanya tetap ke aku.
"Kalau ada apa-apa di kampus, bilang ayah aja ya," katanya pas Dion lagi ke toilet. "Dion kan masih suka nggak peka. Ayah bisa bantu."
Nada ngomongnya biasa, tapi caranya bilang itu bikin bulu kudukku naik lagi.
Pas mau pulang, Dion nganter aku sampai gerbang. Ayahnya ngikut sampai teras.
"Hati-hati ya, Aca. Main lagi kesini kapan-kapan. Rumah ini sepi kalau cuma ayah sama Dion."
Aku salim lagi. Kali ini lebih cepat aku lepasin.
Di motor, aku diem aja. Dion nanya, "Gimana ayah aku? Asik kan orangnya?"
Aku ngangguk. "Asik. Baik banget."
Padahal di kepala aku muter terus. Itu tadi ramah biasa, atau...
Sejak hari pertama itu, aku jadi sering main ke rumah Dion. Bukan karena aku mau, tapi karena Dion yang maksa. Katanya ayahnya seneng ada aku, rumah jadi nggak sepi.
Dan polanya selalu sama.
Selama ada Dion di sampingku, ayahnya itu Ayah yang sempurna. Sopan, bijak, nanya kuliahku gimana, nanya skripsiku udah sampai mana. Ayahable banget.
Masalahnya mulai pas Dion nggak ada.
"Aca tunggu bentar ya, charger ketinggalan di kamar,"
Dion ngeloyor ke atas. Tinggal aku sama Ayah di ruang tengah. TV nyala tapi nggak ada yang nonton.
Awalnya masih normal. Dia geser duduk agak deket.
"Kamu cantik kalau lagi serius mikir gitu, Ca."
Aku pura-pura nggak denger, pura-pura sibuk mainin ujung kerudung.
Dia lanjut, pelan. "Dion itu beruntung banget. Masih muda, masih main-main, tapi udah dapet cewek kayak kamu. Kalau ayah di umur Dion dulu..."
Tangannya nggak nyentuh, tapi jaraknya jadi kelewat deket. Aku bisa nyium parfumnya. Bukan parfum bapak-bapak. Wangi mahal.
"Dion cerita, kamu suka kopi yang di deket kampus itu ya? Besok ayah ada meeting di sana. Mau ayah beliin? Ayah antar sekalian? Nggak usah bilang Dion, biar surprise."
Aku gelagapan. "Eh nggak usah, Yah. Makasih. Aku udah jarang ngopi."
Dia senyum, senyum yang bikin aku nggak nyaman. Senyum orang yang tau dia bisa dapet apa yang dia mau.
"Jangan manggil 'Ayah' kalau cuma berdua gini. Kaku. Panggil Om aja."
Sebelum aku sempat jawab, Dion udah turun lagi sambil teriak, "Lama banget nyarinya!"
Dan ajaib. Dalam sedetik, Ayah langsung geser balik. Jaraknya jadi normal lagi. Wajahnya balik jadi Ayah yang ramah.
"Ini Aca mau pulang, suruh hati-hati di jalan," katanya ke Dion.
Di motor aku diem.
Besoknya lebih parah.
Dion ke dapur cuma buat ambil minum. Cuma 30 detik. Tapi 30 detik itu cukup.
Ayah yang dari tadi duduk di seberang tiba-tiba berdiri di belakang kursiku.
"Aca..."
Tangannya nyentuh pundakku. Nggak lama. Cuma diusap sekali.
"Kamu kalau butuh apa-apa, jangan sungkan sama Om. Ya? Dion kan masih anak-anak. Om lebih ngerti kamu butuhnya apa."
Aku langsung berdiri. Alasannya bego banget, "Eh aku mau bantuin Dion aja di dapur!"
Di dapur, Dion bingung lihat mukaku pucet. "Kenapa?"
Aku pengen banget cerita. Tapi gimana caranya? Itu ayah angkatnya. Orang yang ngerawat dia dari kecil. Satu-satunya keluarga yang dia punya. Kalau aku cerita dan Dion nggak percaya, aku yang jadi jahat.
Malamnya, HP ku bunyi. Nomor baru.
Dari Om. Tadi lupa minta nomor kamu sama Dion. Disimpen ya. Kalau kangen rumah sini chat aja.
Aku nggak pernah kasih nomorku ke dia.
Bulan ketiga.
Itu semua kejadian.
Dion berubah. Chat dibales lama. Kalau main ke rumahnya, dia lebih sibuk main HP. Kalau aku cerita, jawabnya cuma, "hmm, iya, terus?"
Puncaknya hari itu. Di rumahnya lagi.
Aku udah ngerasa nggak enak dari awal. Di ruang tengah ada cewek lain. Cantik, rambutnya diwarnain. Tari, temen kampusnya Dion.
"Ca, kita ngomong bentar di sini aja ya," Dion narik aku agak jauh dari ruang tengah.
Dan dia ngomongnya enteng banget. Kayak ngomongin tugas kelompok.
"Aku bosen, Ca. Sumpah. Aku ngerasa kita gini-gini aja. Aku butuh yang lebih nyambung."
Aku masih bengong. "Maksudnya?"
"Ya udahan aja. Kita putus. Gue udah nggak ngerasa apa-apa lagi sama lo."
Kata "lo" itu yang nyakitin. Selama ini dia manggil aku "kamu".
Aku ngerasa muka panas, suara ketahan di tenggorokan. "Tapi kemarin kamu-"
"Udah lah, Ca. Jangan drama di rumah gue."
Belum sempat aku jawab, dia balik badan. "Tar, ayo cabut. Jadi kan nonton?"
Tari yang dari tadi pura-pura main HP langsung berdiri. Mereka lewat depan aku kayak aku nggak ada. Pintu gerbang nutup. Suara motor Dion ngegas pergi.
Aku masih berdiri di tengah ruang tamu yang gede dan sepi itu. Asisten rumah tangga cuma ngintip dari dapur, nggak berani deket.
Kakiku lemes. Aku duduk di lantai. Bukan di sofa. Di lantai. Nangisnya jelek, sesenggukan.
Aku nggak tau kalau dari lantai 3, dari balkon kaca itu, ada yang ngeliatin semua.
Lima menit. Sepuluh menit. Aku masih di situ.
Terdengar langkah turun tangga. Pelan.
Aku cepet-cepet buang muka, ngusap air mata pakai lengan.
Dia duduk. Nggak di sofa seberang. Di lantai juga. Di sebelahku. Jaraknya deket, tapi kali ini nggak bikin merinding. Bikin capek.
Dia ngasih kotak tisu.
"Udah nggak usah dipikirin, anak saya emang gitu," suaranya datar. Nggak belain anaknya, nggak kaget juga. Kayak udah tau ini bakal kejadian.
"Bukan salah kamu."
Aku masih nunduk.
"Dion itu dari kecil kalau bosen sama mainan, ya dibuang. Nggak bisa ngerawat. Bukan cuma kamu. Pacar-pacarnya yang dulu juga gitu."
Dia diem bentar, biarin aku nangis.
"Om udah bilang sama Dion, Aca itu beda. Dewasa. Sayang kalau disia-siain. Tapi dia nggak denger."
Terus dia ngomong pelan banget, hampir kayak bisik,
"Kalau kamu mau di sini dulu aja nggak apa-apa. Sampai tenang. Om temenin. Nggak usah buru-buru pulang kalau masih nangis begitu. Bahaya di jalan."
Tangannya mau nyentuh punggungku, tapi berhenti di tengah. Akhirnya cuma naruh tisunya di pangkuanku.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, tatapan Ayah angkat Dion itu nggak bikin aku takut. Justru... kasian. Kayak dia juga capek punya anak kayak Dion.
Aku harusnya lega. Aku udah putus. Aku nggak perlu lagi pura-pura sopan sama Ayahnya.
Tapi kenapa rasanya, setelah Dion pergi sama Tari, aku malah jadi kejebak berdua di rumah sepi ini sama Ayahnya?
Ca, mau dilanjut gimana?
Oke, kita gabungin dua-duanya. Malam itu, sama after effect-nya.
---
Hujan.
Deresss banget. Pas aku mau maksa pulang, langit kayak bocor. Petir nyamber di belakang rumah Dion yang gede itu.
"Jangan, Ca."
Ayah angkatnya berdiri di pintu.
"Udah jam 9 malem, kamu masih nangis, hujan badai gini. Om nggak bisa biarin kamu pulang naik ojek. Bahaya."
Aku ngecek HP. Sinyal hilang-hilangan. Ojek online nggak ada yang ambil.
"Di atas ada kamar tamu. Kunci dari dalem. Kamu istirahat aja. Besok pagi Om suruh Pak Yanto anter pulang. Ya?"
Aku nggak punya pilihan lain. Aku ngangguk.
Kamar tamunya bersih, wangi. Jauh lebih rapi dari kamar Dion. Aku duduk di pinggir ranjang, ganti jilbab yang agak basah karena air mata.
Nggak lama ada ketukan.
"Ca, Om bawain teh anget."
Pintunya aku buka dikit aja.
Dia nggak masuk. Cuma ngasih gelas dari luar. Sopan. Untuk pertama kalinya aku ngerasa mungkin aku suudzon selama ini.
Sampai dia ngomong.
"Ca... boleh Om jujur?"
Aku diem.
"Om suka sama kamu dari pertama kali Dion bawa kamu ke sini. Bukan sebagai calon mantunya Dion. Sebagai Aca."
Darahku berhenti.
"Om tau ini salah. Kamu habis diputusin anak Om sendiri di rumah Om. Om harusnya nggak ngomong gini. Tapi Om udah cape liat Dion sia-siain kamu tiga bulan. Dia cerita kamu nangis karena dia lupa anniversary, dia malah ketawa."
Dia nunduk.
"Om bukan Dion. Om udah tua, Om tau maunya apa. Om nggak akan bikin kamu nangis di lantai kayak tadi."
Tangannya nggak nyentuh aku. Sama sekali nggak. Dia cuma berdiri di depan pintu kamar tamu itu.
"Om nggak minta jawaban malam ini. Kamu istirahat aja. Anggep Om nggak pernah ngomong ini kalau kamu nggak nyaman."
Terus dia pergi. Langkahnya pelan naik lagi ke lantai 3.
Malam itu aku nggak tidur. Bukan karena takut. Karena bingung. Ada lega karena akhirnya ada yang ngertiin sakitnya aku. Ada jijik juga, karena yang ngomong itu ayahnya Dion.
Paginya hujan udah reda. Aku pulang dianter supirnya. Nggak ngomong apa-apa sama Ayahnya. Dia cuma bilang dari teras, "Hati-hati, Ca."
Sampai kos, yang pertama aku lakuin: BLOKIR.
Nomor Dion aku blokir. Nomor Tari - padahal aku nggak punya - tapi Instagram Dion aku blokir. Dan nomor baru yang ngaku-ngaku "Om" kemarin juga aku blokir.
Opsi 1 ku jalanin.
Aku pikir selesai.
Ternyata enggak.
Siangnya, ada karangan bunga gede dateng ke kos. Nggak ada nama pengirim.
Sorenya, ada chat masuk dari nomor kantor. Foto profilnya logo perusahaan.
Aca, ini Om. Maaf kalau tadi malem bikin nggak nyaman. Om cuma mau mastiin kamu udah sampai kos dengan selamat. Tehmya dihabisin nggak tadi? Jangan diblokir lagi ya, Om khawatir.
Aku blokir lagi.
Besoknya, dari nomor asisten rumah tangganya.
Mbak Aca, ini Bi Iyah. Kata Bapak, Mbak ada ketinggalan gelang di kamar tamu. Mau diambil kapan?
Padahal aku nggak pakai gelang.
Dia nggak nyentuh aku sama sekali malam itu. Tapi caranya ngejar, caranya mastiin aku nggak bisa hilang... itu yang bikin lebih merinding daripada salim pertama dulu.
Sekarang aku di posisi paling nggak enak.
Dion yang mutusin aku udah pergi sama Tari.
Ayahnya yang dulu aku takutin, sekarang jadi satu-satunya orang yang tau aku nangis sejelek apa di lantai ruang tamunya.Oke. Bikin nyaman yang versi dewasa itu ya. Bukan yang buru-buru.
---
Setelah teror bunga dan chat dari nomor kantor itu, aku capek ngeblokir. Jadi satu chat terakhir dari dia aku biarin kebaca. Cuma satu.
Om nggak akan chat lagi kalau kamu nggak mau. Tapi kalau kamu butuh apa-apa, rumah ini kebuka. Bukan sebagai Om-nya Dion lagi. Sebagai teman.
Kalimat terakhir itu yang bikin aku berhenti ngeblokir.
Sebagai teman.
Dua minggu aku nggak ke mana-mana. Putus sama Dion tuh ternyata bukan cuma putus sama orangnya, tapi putus sama rutinitas. Biasanya tiap sore disuruh ke rumahnya. Sekarang kos sepi.
Sampai akhirnya skripsiku bermasalah. Dosen pembimbing minta revisi data yang aku nggak ngerti sama sekali. Aku nangis lagi di perpustakaan. Iseng, aku chat nomor kantor itu.
Aca: Om, maaf ganggu. Om pernah bilang kerja di konsultan data ya? Aku boleh nanya dikit soal olah data skripsi?
Dibales 10 menit kemudian. Singkat.
Om: Boleh. Ke rumah aja jam 4. Om di rumah.
Aku datang. Bukan karena kangen rumahnya. Karena aku butuh bantuan.
Dan hari itu beda.
Rumah masih sepi, masih besar. Tapi dia nggak duduk deket-deket lagi. Dia duduk di meja kerja di lantai 2, pakai kacamata baca. Di depannya laptop.
"Duduk sini, Ca."
Dia ngajarin aku. Tenang. Nggak kayak dosen yang ngomel "kamu gimana sih". Dia jelasin pelan, "Yang ini salah input, Ca. Harusnya di sini. Coba kamu yang klik."
Tangannya nggak nyentuh tanganku. Dia cuma nunjuk dari jauh.
"Pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru pinter."
Itu kalimat dewasa pertama yang aku denger setelah 3 bulan pacaran sama anak ingusan yang kalau aku nangis dibilang drama.
Jam 6 selesai. Skripsiku beres 80%.
"Udah, pulang. Udah maghrib," katanya sambil nutup laptop.
Aku yang malah nggak mau pulang. Di situ anehnya aku ngerasa aman.
"Makasih ya, Om."
"Sama-sama."
Di gerbang, dia nggak salim lama kayak dulu. Cuma angguk.
"Besok kalau mau kesini lagi buat lanjutin, bilang aja. Nggak usah sungkan. Tapi kalau nggak mau, nggak apa-apa juga."
Itu polanya setelah itu.
Aku datang kalau butuh. Kadang beneran butuh bantuan skripsi. Kadang cuma butuh tempat yang sepi dan nggak berisik kayak kos.
Dia nggak pernah nanya, "Kamu kapan move on dari Dion?"
Dia nggak pernah ngomong, "Dion jelek, Om lebih baik."
Dia cuma ada.
Kalau aku cerita Dion jalan sama Tari di mall, dia dengerin sambil bikin teh. Terus cuma bilang, "Sakit ya?"
Kalau aku diem, dia juga diem. Nggak maksa ngobrol. Dia baca buku, aku ngerjain laptop. Satu ruangan, dua orang, tapi nggak canggung.
Dewasa. Tenang. Serius.
Sampai satu sore, aku ketiduran di sofa ruang kerjanya. Kecapean.
Kebangun, udah ada selimut tipis di badan aku. Di meja ada teh yang masih anget. Dan dia kerja di meja seberang, pakai headset meeting. Suaranya pelan banget biar aku nggak kebangun.
Pas meetingnya selesai, dia lihat aku udah bangun.
"Kebangun? Maaf, Om berisik ya?"
Aku geleng.
Dia jalan pelan, duduk di sofa seberang, bukan di sebelahku. Jarak aman.
"Ca, Om mau tanya. Boleh jujur?"
Aku ngangguk.
"Kamu di sini sekarang karena masih butuh tempat buat lupain Dion, atau karena kamu nyaman sama Om?"
Jantungku jederrr.
Merinding. Tapi merinding yang aman. Yang bikin aku tau, kalau aku jawab "karena masih butuh tempat lupain Dion" pun, dia nggak akan marah. Dia akan tetep kasih aku teh dan selimut.
Aku diem lama.
"Kayaknya... yang kedua, Om."
Dia senyum. Senyum pertama yang nggak bikin aku takut selama ini.
"Ya udah. Kalau gitu pelan-pelan aja ya, Ca. Om nggak kemana-mana."
Hari itu.
Aku dateng jam 4 sore, niatnya cuma mau benerin bab 4.
Dia udah di meja kerja. Kemeja putihnya digulung sampai siku. Kacamata.
Aku berdiri di pintu.
"Om-... eh..."
Lidahku keseleo. Tiga bulan manggil Om, Ayah, Om lagi.
Dia noleh, senyum tipis.
"Arga," dia bantuin. Pelan.
"Arga... aku udah sampai."
Satu kata itu doang. Arga.
Dan mukanya yang selama ini tenang, serius, jaim banget itu... langsung berubah. Telinganya merah. Dia batuk kecil, pura-pura beresin kertas padahal kertasnya udah rapi dari tadi.
"Ya... duduk, Ca."
Aku duduk. Tapi kali ini bukan di kursi tamu seberang. Di kursi sebelahnya. Dia yang geserin buat aku tadi pagi katanya.
Sepanjang ngerjain skripsi, dia grogi. Salah pencet tombol laptop dua kali. Aku yang biasanya grogi, hari itu malah jadi pengen ketawa.
"Arga, salah. Harusnya yang ini," kataku.
"Eh iya... iya, sorry."
Arga yang biasanya "Om ngerti, Om paham, pelan-pelan" — hari itu jadi Arga yang kaku.
Jam 7 malem selesai. Dia anter aku sampai teras depan, bukan cuma sampai pintu ruang kerja kayak biasanya.
Di teras itu, angin malem. Rumahnya sepi.
"Ca."
Aku noleh.
Dia nggak langsung cium. Dia nanya dulu pakai mata. Nunggu aku ngangguk kecil.
Baru keningku.
Ciuman pertama kami mendarat di kening. Anget. Lama. Bukan ciuman buru-buru.
Aku merinding. Yang aman itu. Yang bikin lutut lemes tapi nggak takut.
Pas aku buka mata, dia udah serius lagi. Serius banget. Tangan dia nggak meluk, cuma megang pundakku biar aku tetap hadap dia.
"Ca, saya nggak mau lama-lama, Ca," suaranya pelan tapi berat. Bukan suara Om Arga yang santai. Ini suara Arga yang laki-laki.
"Saya mau nikah."
Aku bengong.
"Tentang Dion... itu bukan anak kandung saya. Saya ngurus dia dari kecil karena adik saya meninggal. Saya sayang dia, tapi dia bukan darah saya. Saya belum pernah punya keluarga sendiri."
Dia narik napas.
"Saya mau punya anak sendiri sama kamu."
Dunia berhenti.
Aku keselek ludah sendiri. Batuk.
"HOEK — pelan-pelan Om — eh Arga, aku masih kaget!"
Aku beneran kaget. Baru 3 jam lalu aku belajar manggil Arga, sekarang diajak nikah dan punya anak.
Dia langsung panik, ngambilin minum yang ada di teras.
"Eh sorry sorry, minum dulu. Pelan-pelan," dia tepuk punggungku pelan. "Maaf, Om — Arga kecepetan ya?"
Aku minum, masih batuk.
"Arga... aku... aku baru putus 2 minggu lalu. Aku baru belajar manggil Arga. Skripsi aja belum kelar. Nikah? Anak?"
Dia jongkok biar matanya sejajar sama mataku yang masih duduk di kursi teras.
"Iya, Arga tau. Makanya Arga bilang sekarang. Biar kamu nggak nebak-nebak Arga maunya apa. Arga maunya serius. Bukan main-main kayak Dion."
"Jadi Arga nggak akan maksa sekarang. Kamu selesain kuliahmu dulu. Setahun, dua tahun, Arga tunggu. Tapi Arga mau kamu tau dari hari pertama kita jadian — tujuan Arga itu nikah. Bukan pacaran lama-lama."
Jadian.
Dia ngomong kata "jadian" itu enteng, tapi matanya nggak enteng sama sekali.
Aku diem. Keningku masih anget bekas ciumannya.
"Arga... boleh nggak aku mikir dulu? Jangan yang anak dulu... aku masih..."
" boleh," dia potong cepet. "Boleh banget. Kita pelan-pelan. Kamu yang atur temponya. Arga cuma yang ngarahin tujuannya mau kemana. Setuju?"
Malam itu aku pulang dengan status baru.
Bukan lagi "mantan pacarnya Dion".
Bukan lagi "Aca yang disukai ayah angkat pacarnya".
Tapi "Aca pacarnya Arga".
Dan di chat, nama kontak yang tadinya aku save "Om Dion" — malam itu aku ganti jadi "Arga" doang. Tanpa emoji.
Arga: Udah sampai kos?
Aca: Udah. Keningku masih anget tau.
Arga: Maaf, kelamaan ya tadi?
Aca: Enggak. Pas.
Hujan itu nggak berhenti.
Dari jam 5 sore sampai jam 10 malem, deresnya sama. Ditambah mati lampu satu komplek. Rumah gede itu jadi gelap total, cuma suara hujan sama petir yang nyamber-nyamber.
Dion nggak pulang. Tadi siang Arga bilang, Dion lagi di apartemennya, ada Tari di sana.
Aku kejebak.
"Aca, nggak usah panik ya," suara Arga dari bawah tangga. Dia bawa senter kecil sama lilin. "Mati lampu komplek, bukan cuma rumah kita. Gardunya kena petir."
Aku duduk di sofa ruang tengah, meluk lutut. Dress yang aku pakai hari itu dress selutut, tipis, soalnya tadinya cuma mau bimbingan skripsi sebentar, nggak mikir bakal hujan badai.
Petir jederrrr lagi. KENCENG banget. Lampu senter goyang.
Aku paling takut petir. Dari kecil.
Reflek.
Aku langsung lari, meluk Arga dari samping. Kenceng.
"Arga!"
Dia kaget. Senter di tangannya hampir jatuh. Badannya kaku sedetik.
Dressku yang tipis itu ketarik pas aku lari, hampir naik. Langsung aku tarik ke bawah lagi, aku tutupi pakai tangan. Malu setengah mati.
Aku mau lepas pelukan, tapi petir nyamber lagi. Aku makin kenceng meluknya.
Di situ... godaannya kerasa. Bukan cuma buat aku. Buat dia juga. Aku ngerasa napasnya berubah.
Rumah sepi, mati lampu, mantan pacarku nggak ada, aku meluk dia karena takut. Situasinya gampang banget kelewat batas kalau orangnya nggak dewasa.
Tapi Arga...
Dia nggak balik meluk kenceng. Tangannya cuma satu yang megang punggungku, pelan. Nggak ngeraba. Cuma nepuk-nepuk pelan kayak nenangin anak kecil.
"Shhh... udah, aman. Ada Arga di sini. Petir doang, Ca. Nggak nyamber ke dalam."
Satu tangannya lagi sibuk nyariin selimut yang ada di sofa. Dia taruh selimut itu di bahuku, nutupin dressku yang tipis itu sama kaki aku yang dingin.
"Pakai ini dulu ya, dingin."
Aku masih meluk.
"Ca, lihat Arga."
Aku dongak. Mukanya deket banget, kena cahaya lilin. Serius, tapi bukan serius yang nakutin.
"Kamu takut gelap ya?"
Aku ngangguk di dadanya.
"Ya udah, kita di sini aja. Di sofa. Arga temenin sampai lampunya nyala. Nggak usah ke kamar, di sini lebih terang kalau ada petir."
Dia duduk. Narik aku duduk juga di sebelahnya, tapi dikasih jarak bantal sofa di antara kami. Selimut tetap di aku.
Tangannya tadinya yang di punggungku, sekarang dia tarik. Dia ganti pegang tangan aku doang. Satu tangan. Diremas pelan.
"Gini aja ya? Kalau ada petir lagi, remas tangan Arga aja. Jangan lari lagi, nanti kamu jatuh, gelap."
Aku ngangguk. Malu, tapi aman. Merindingnya masih ada, tapi merinding yang aman itu.
Setiap petir nyamber, aku meremas tangannya. Kenceng. Dia diem aja, biarin tangannya aku remas sampai putih.
"Dressnya benerin lagi, Ca. Kedinginan nanti," katanya pelan, matanya nggak lihat ke bawah sama sekali. Malah lihat ke lilin.
Aku benerin dressku cepet-cepet di balik selimut.
Sepuluh menit, dua puluh menit, kami cuma gitu. Pegangan tangan, dengerin hujan, di rumah mati lampu.
Sampai akhirnya dia ngomong, pelan banget,
"Ca, makasih ya udah percaya sama Arga malam ini. Padahal situasinya begini. Arga janji nggak akan manfaatin kamu pas kamu takut gini. Nggak akan."
Aku yang tadinya takut petir, sekarang malah takut sama deg-degan aku sendiri. Karena yang bikin aku deg-degan bukan petirnya lagi.
Tapi Arga yang dewasa, tenang, serius, bahkan pas aku udah meluk dia duluan, dia tetep milih buat kasih aku selimut, bukan kesempatan.
Siangnya, setelah Dion agak tenang di bawah.
Aku di kamar tamu lantai 2. Pintu nggak aku kunci, tapi aku nggak keluar. Aku denger semua dari atas.
Suara Arga turun. Tenang. Nggak bentak.
"Dion, duduk. Kita ngobrol kayak laki-laki."
"Ayah ngapain sih, Yah? Malu-maluin tau nggak? Itu mantan aku!"
"Iya, Ayah tau. Mantan kamu yang kamu putusin di ruang tamu ini, di lantai, depan cewek lain. Kamu yang buang dia, Dion. Bukan Ayah yang rebut."
Dion diem.
"Dion, dengerin Ayah. Ayah udah 45 tahun. Ayah ngerawat kamu dari kamu umur 2 tahun. Ayah nggak pernah nikah karena Ayah mikir, udah ada kamu. Cukup. Tapi kemarin pas kamu bawa Aca ke sini pertama kali, Ayah lihat ada yang beda."
Suara Arga pelan, tapi seriusnya sampai ke atas.
"Ayah suka sama Aca. Bukan karena dia cantik doang. Karena dia dewasa. Dia sabar ngadepin kamu yang masih bocah. Dia nangis di lantai kemarin, Ayah lihat dari atas, Ayah sakit. Karena Ayah tau rasanya disia-siain."
"Ayah mau nikah, Dion. Bukan pacaran. Nikah. Sama Aca. Ayah mau punya keluarga sendiri, punya anak sendiri, sebelum Ayah makin tua. Itu salah?"
"Terus aku harus manggil mantan aku sendiri 'Mama'? Gila kali, Yah!"
"Nggak," jawab Arga cepet. "Kamu nggak perlu manggil dia Mama kalau kamu nggak mau. Kamu tetep panggil dia Aca. Kayak dulu. Ayah nggak akan maksa kamu hormat pakai sebutan. Ayah cuma minta satu hal: jangan hina dia. Jangan hina calon istri Ayah di rumah Ayah sendiri."
Aku di atas langsung merinding. Calon istri.
"Calon istri?" Dion ngulang, kaget.
"Iya. Kalau Aca mau. Kalau dia udah lulus, kalau dia udah siap. Ayah nggak akan buru-buru. Tapi tujuannya ke sana. Jadi mulai hari ini, Ayah minta kamu bersikap dewasa. Kamu mau tetep tinggal di sini, silakan. Kamar kamu masih ada. Kamu mau pindah ke apartemen, Ayah biayain. Terserah kamu. Tapi satu aturan di rumah ini: Aca harus ngerasa aman. Aman dari petir, aman dari hujan, aman dari omongan kamu juga."
Lama hening di bawah.
Terus aku denger langkah kaki naik. Bukan Arga. Dion.
Dia berhenti di depan pintu kamar tamu yang setengah kebuka. Aku masih pakai selimutnya Arga.
Dia lihat aku.
Mukanya udah nggak marah. Capek. Kayak anak kecil yang ketahuan salah.
"Ca..."
Aku berdiri.
"Sorry ya, Ca. Kemarin... gue kelewatan mutusin lo kayak gitu."
Aku ngangguk kecil.
"Lu... bahagia sama bokap — sama Ayah?"
Aku lihat ke bawah, ke arah Arga yang masih berdiri di bawah tangga, nggak ikut naik. Ngasih ruang buat kami berdua ngobrol.
Aku jawab jujur.
"Baru kali ini setelah 3 bulan, Dion, aku ngerasa aman. Nggak takut dibilang drama. Nggak takut dibosenin. Jadi... iya. Aku bahagia."
Dion nunduk lama. Terus dia ngulurin tangan. Mau salim.
Kayak pertama kali aku salim sama Ayahnya dulu yang kelamaan itu. Tapi kali ini beda.
Aku salim. Cepet.
"Jaga dia ya, Ca. Bokap gue — eh, Ayah tuh emang kaku, tapi dia baik. Lebih baik dari gue."
Terus dia turun lagi. Ngambil helmnya yang tadi dibanting.
"Ayah, gue ke apartemen dulu ya. Butuh waktu mikir."
Arga cuma angguk dari bawah. "Kunci masih di kamu. Kapan pun mau pulang, pulang."
Pintu gerbang nutup lagi. Kali ini nggak ngegas. Pelan.
Tinggal aku sama Arga lagi di rumah gede yang sepi itu.
Arga naik pelan. Sampai di depan pintu kamar tamu.
"Gimana?" tanyanya.
Aku masih megang selimutnya.
"Arga... tadi Arga bilang calon istri... beneran?"
Dia senyum. Senyum lega pertama hari ini. Telinganya merah lagi kayak pas pertama kali aku panggil "Arga".
"Kalau kamu mau pelan-pelan manggil Arga aja dulu nggak apa-apa, Ca. Nggak usah langsung jadi calon istri. Satu-satu."
Dia benerin selimut di bahu aku yang agak miring.
"Keningnya masih anget nggak bekas semalem?"
Aku ketawa kecil, nangis kecil. "Masih."
"Ya udah, sini Arga angetin lagi."
Dan untuk kedua kalinya, ciuman mendarat di kening. Lama. Tenang. Serius. Bikin merinding tapi aman.
Rumah masih sepi. Selimut masih di aku. Tangan Arga masih di bahu aku setelah Dion pergi.
"Sayang kalau gini terus, ngga bisa lama-lama," ujar Arga, masih meluk Aca. Suaranya pelan, agak nahan napas. Bukan marah. Nahan.
Aku yang masih di pelukannya dongak, "Iya Ayah?"
Dia langsung lepas. Pelan, tapi tegas. Mundur selangkah. Ngasih jarak satu bantal sofa lagi di antara kami.
"Jangan mancing-mancing ya," ujarnya. Matanya nggak lihat aku, lihatnya ke lilin yang udah mau habis. Tangannya ngusap muka sendiri.
"Arga bukan anak kecil, Ca. Arga laki-laki normal. Kamu habis nangis, pakai dress tipis, meluk Arga semaleman karena takut petir. Kalau Arga terusin peluknya, Arga nggak bisa janji bisa tetap jadi yang tenang terus."
Aku langsung sadar. Mukaku panas. Bukan karena dia marah, karena dia jujur.
"Maaf ya, Arga... aku nggak bermaksud mancing... aku beneran takut tadi..."
"Iya, Arga tau. Makanya Arga yang harus ngerem. Bukan kamu yang salah."
Dia ambil selimut tambahan dari lemari, dilempar pelan ke pangkuan aku, biar dobel nutupnya.
"Duduk sini aja ya. Kita ngobrol aja. Nggak usah peluk-pelukan dulu kalau lagi berdua di rumah mati lampu gini. Godaannya kenceng buat Arga juga, Ca. Arga nggak mau ngerusak rasa aman yang udah Arga bangun susah-susah cuma karena nggak kuat nahan."
Aku ngangguk. Selimutnya aku peluk gantiin pelukan dia.
Dia geser duduk agak jauh, ambil gelas teh yang udah dingin.
"Lagipula, Arga kan udah bilang. Arga maunya nikah, bukan maunya cepet-cepet. Kalau maunya cepet-cepet, dari malam pertama hujan kemarin juga udah Arga apa-apain. Tapi Arga nggak mau gitu."
Kalimat itu yang bikin merinding aman itu balik lagi.
"Jadi kita pelan-pelan ya, Sayang? Peluknya nanti aja kalau lampunya udah nyala semua, rumah udah rame, dan kamu udah beneran jadi milik Arga yang sah. Bukan pas kamu lagi takut dan kejebak hujan gini. Setuju?"
Aku ketawa kecil, masih malu.
"Setuju, Ayah — eh, Arga."
"Ya udah. Pinter."
Dia tepuk sofa di sebelahnya yang jauh itu.
"Sini, ceritain aja skripsi kamu yang bab 4 tadi. Biar Arga nggak mikir macem-macem."
Dan kami ngobrol lagi. Nggak pelukan. Cuma pegangan tangan jarak jauh, pakai selimut dobel, sampai akhirnya lampu komplek nyala lagi. Terang.
Aman.Habis skripsi selesai, ritual mereka nggak berubah.
Masih sama kayak dulu pas bimbingan di meja kerja lantai 2.
Kalau kangen, Aca chat duluan.
Aca: Arga di rumah?
Arga: Di rumah. Pintu kebuka buat kamu.
Aca dateng. Nggak pakai drama.
Pintu dibuka, Arga udah di ruang tengah. Nggak langsung peluk.
"Udah sampai?" tanyanya.
Aca angguk.
Baru peluk.
Pelukan lama. Yang tenang. Yang bikin capeknya skripsi, capeknya nunggu sidang, hilang.
Pelukan yang aman itu. Yang dulu Aca cari pas hujan mati lampu.
Abis peluk, ciuman.
Bukan yang buru-buru. Ciuman kening dulu. Lama.
Terus pipi.
Kalau kangennya udah numpuk seminggu nggak ketemu karena Arga dinas luar kota, baru ciuman kangen. Yang dalem maksudnya yang lama, yang ditahan, bukan yang aneh-aneh.
Ciuman yang habis itu dahinya ditempelin lagi.
"Udah kangennya hilang?" Arga bisik.
"Belum. Masih kangen," jawab Aca, masih di pelukannya.
"Ya udah, peluk lagi."
Ritualnya gitu aja terus.
Pelukan — ciuman kening — ngobrol — pelukan lagi.
Nggak pernah lebih dari itu di rumah itu. Karena Arga masih pegang omongannya dulu.
"Peluknya nanti yang bener-bener kalau kamu udah jadi milik Arga yang sah. Sekarang pelan-pelan aja ya, Ca."
Dan Aca nurut. Karena justru pelan-pelan yang bikin dia ngerasa paling aman.
Sebulan setelah sidang skripsi Aca selesai.
Rumah yang gede itu lagi nggak mati lampu. Terang. Rapi.
Aca dateng jam 4 sore kayak biasanya. Pakai kemeja putih buat wisuda yang masih kebesaran.
Arga udah nunggu di ruang tamu. Bukan di meja kerja lantai 2. Di ruang tamu yang dulu — tempat Aca nangis di lantai pas diputusin Dion, tempat Aca ketiduran pakai selimut pas hujan mati lampu.
Di meja ada kotak kecil. Nggak ada bunga gede, nggak ada balon. Cuma kotak beludru sama dua gelas teh anget. Ritual mereka.
"Duduk, Ca."
Aca duduk.
Arga duduk di sebelahnya. Nggak pakai jarak bantal lagi kayak dulu.
"Ca," dia buka kotaknya pelan. Cincin simple, nggak norak.
"Arga ngomong terus terang aja ya, kayak biasanya."
Aca udah deg-degan, tangannya dingin.
"Ngga mau lama-lama, kita udah terlanjur sering bareng, biar kalau kelewat batas udah halal."
Kalimatnya pelan, serius, dewasa. Yang bikin merinding tapi aman itu lagi.
"Sebulan ini, dua bulan ini, Arga nahan terus. Tiap kamu dateng pakai dress, tiap kamu meluk karena kangen, tiap ciuman kangen itu... Arga nahan. Karena Arga janji mau jaga kamu sampai halal."
"Arga nggak mau janji itu jebol cuma karena Arga nggak kuat. Arga mau kita kelewat batasnya nanti, kalau udah halal. Biar tenang. Biar aman beneran. Bukan cuma aman pura-pura."
Dia lihat Aca.
"Aca, mau nggak kamu nikah sama Arga?"
Hening. Suara AC doang.
Aca nangis. Bukan nangis jelek kayak dulu di lantai itu. Nangis lega.
Dari diputusin di ruangan ini, nangis di lantai, dikasih tisu, dikasih selimut pas mati lampu, diajarin skripsi, diajarin manggil "Arga", sampai dilamar di ruangan yang sama.
"Aku terima, Arga."
Nggak pakai mikir lama.
Arga pasangin cincinnya. Tangannya gemeteran. Yang biasanya tenang, serius, jaim, hari itu gemeteran kayak pertama kali Aca panggil "Arga".
Pas cincinnya udah kepasang, Arga cium kening Aca. Lama. Kayak ritual mereka yang pertama dulu.
"Bismillah ya, Ca. Pelan-pelan kita urus. Arga mau nikah yang bener. Biar kamu nggak perlu lagi pulang malem-malem kehujanan. Biar kamu di sini aja terus."
Aca meluk Arga. Pelukan yang kali ini boleh lama. Boleh kenceng. Karena bentar lagi halal.
"Terima kasih ya, Ayah — eh... calon suami," bisik Aca di bahunya.
Arga ketawa, telinganya merah lagi.
"Jangan panggil Ayah lagi, Sayang. Panggil Arga aja. Sampai nanti panggil Abi juga nggak apa-apa."
Akadnya lancar.
Cuma di ruang tamu itu juga.
Nggak di gedung. Nggak ngundang banyak orang. Cuma ada penghulu, Pak Yanto supirnya, Bi Iyah, sama Dion yang datang telat pakai kemeja putih, duduk paling pojok.
Aca pakai kebaya putih simple. Nggak menor. Arga pakai beskap putih, kacamata bacanya masih di saku.
Waktu penghulu bilang, "Arga Pratama bin... saya nikahkan..."
Suara Arga yang biasanya tenang, serius, dewasa itu, gemeter. Sekali tarikan napas.
"Saya terima nikahnya..."
Sah.
Aca nangis. Langsung. Di ruangan yang dulu dia nangis di lantai karena diputusin.
Bi Iyah yang pertama bilang "Sah! Sah!"
Dion yang di pojok cuma angguk pelan, senyum kaku. Abis akad dia salim ke Aca.
"Selamat ya, Ca... eh, Tante Aca," bisiknya canggung, terus salim ke Arga, "Selamat, Ayah."
Arga tepuk bahunya, "Makasih udah dateng, Dion."
Tamu pulang jam 9 malem. Rumah gede itu akhirnya sepi lagi. Tinggal berdua.
Aca masih di sofa ruang tamu, masih pakai kebaya putih. Cincin yang sebulan lalu dipasang sekarang ada temennya.
Arga kunci pintu depan. Matikan lampu tamu yang terang, sisa lampu temaram aja.
Dia balik, duduk di sebelah Aca. Nggak pakai jarak bantal lagi. Nggak perlu nahan lagi.
"Udah halal ya, Ca," bisiknya. Suaranya beda. Lega. Beratnya yang ditahan berbulan-bulan sejak malam mati lampu itu akhirnya lepas.
Aca angguk. Mukanya merah.
Arga nggak langsung macem-macem. Ritualnya masih sama.
Pelukan dulu. Yang lama. Yang aman. Tapi kali ini boleh kenceng, boleh lama, nggak perlu takut kelewat batas.
Ciuman kening. Lama.
"Akhirnya nggak perlu bilang 'jangan mancing-mancing ya' lagi," bisik Arga sambil ketawa kecil, telinganya merah lagi.
Aca ketawa di dadanya. "Terus sekarang boleh mancing?"
"Boleh. Sekarang mancingnya udah halal. Sepuasnya kamu."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan nahan, ritual kangen mereka nggak perlu berhenti di ciuman kening sama pelukan pakai selimut dobel.
Udah halal. Udah aman beneran. Bukan aman pura-pura lagi.
7 hari setelah nikah.
Aca diajak ke kantor Arga. Katanya biar tau ruangan suaminya, biar nggak penasaran.
Aca pakai dress pink yang baru. Rambutnya baru di-blow.
Di ruangan, cuma berdua. AC dingin.
Arga lagi kerja di laptop, Aca duduk di sofa tamu kantornya, main HP.
Tiba-tiba laptop ditutup.
Arga jalan pelan, duduk di sebelah Aca di sofa.
"Ca, rambutnya wangi," ujarnya, deketin mukanya. Nggak langsung macem-macem, cuma cium rambut Aca dari jarak deket, sampai Aca geli.
"Mas, ini di kantor!" Aca ketawa, dorong pelan bahunya.
"Tenang sayang, Mas udah kunci," bisik Arga, senyum kecilnya yang jaim itu keluar lagi. Senyum yang dulu bikin Aca merinding pas masih dipanggil Om.
Arga buka dasinya. Gerah katanya. Habis meeting seharian.
Terus dia peluk Aca dari samping. Pelukan suami istri yang sah. Yang lama. Yang dulu berbulan-bulan ditahan pas mati lampu, pas di sofa ruang tamu.
Nggak ada yang aneh-aneh. Cuma pelukan kangen versi kantor.
Aca senderan di bahunya.
"Mas astaga, ini kantor loh, Mas. Nanti ada yang ketuk."
"Nggak ada yang berani ketuk kalau ruangan Mas udah dikunci dari dalam, Sayang. Ini jam istirahat. Biarin Mas kangen dulu sama istri Mas sendiri."
Abis pelukan lama, Arga cium kening Aca. Ritualnya masih sama kayak dulu.
"Makasih ya sayang," bisiknya, "Udah mau ikut Mas ke kantor pakai dress pink ini. Cantik."
Aca cubit pelan lengannya.
"Sama-sama, Mas. Tapi dasinya dipakai lagi ya, nanti dikira habis ngapain di dalem."
Arga ketawa, pakai lagi dasinya pelan-pelan, sambil masih meluk Aca.
Halal, aman, nggak perlu buru-buru lagi.
Pulangnya jam 5 sore.
Keluar dari kantor, Arga masih pakai kemeja yang dasinya agak miring karena tadi dibuka pas di ruangan. Aca masih pakai dress pink-nya.
Di parkiran, Arga bukain pintu mobil buat Aca kayak biasa. Ritual dari jaman masih dipanggil Om dulu.
"Mas, lapar," kata Aca sambil pasang seatbelt.
"Lapar apa?"
"Martabak manis yang di perempatan itu loh, Mas. Yang keju coklat."
Arga senyum, langsung belokin mobil. Nggak pakai nanya lagi. Dari jaman Aca masih bimbingan skripsi di rumahnya, Arga udah hafal Aca kalau lapar mintanya apa.
Sampai di tukang martabak, antriannya panjang. Arga yang turun.
Aca nunggu di mobil, kaca dibuka setengah.
Dari jauh Aca lihat, Arga berdiri antri martabak pakai kemeja kantor, bawa map kerja, ditungguin tukang martabak yang lain pada liatin karena nggak biasa ada bapak-bapak rapi antri martabak jam segini.
Balik ke mobil bawa kotak martabak masih panas.
"Nih, punya istri Mas yang cantik pakai dress pink," katanya sambil kasih kotaknya.
Aca buka langsung di mobil. Harum.
"Mas suapin."
Arga ambil satu potong, disuapin. Keju coklatnya beleberan ke bibir Aca.
"Belepotan," kata Arga, ngambil tisu, dilap pelan. Bukan cium. Dilap.
"Enak?" tanyanya.
"Enak. Kayak pertama kali Mas kasih teh anget pas aku nangis di lantai itu. Angetnya sama."
Mobil jalan lagi. Kotak martabak di pangkuan Aca. Tangan kiri Arga nyetir, tangan kanannya gandeng tangan Aca di atas kotak martabak.
Sampai rumah, lampu ruang tamu udah dinyalain Bi Iyah.
Aca ganti baju daster, Arga ganti kaos.
Mereka makan martabak berdua di sofa ruang tamu yang sama — tempat Aca dulu nangis, tempat mereka mati lampu, tempat Arga ngelamar, tempat akad kemarin.
Nggak ada godaan kantor lagi. Nggak ada drama Dion lagi.
Cuma martabak keju coklat, teh anget, dan ritual pelukan kangen yang sekarang udah halal dan boleh kapan aja.
"Mas," kata Aca sambil senderan, mulut masih penuh martabak.
"Hm?"
"Makasih ya udah jemput aku dari lantai waktu itu."
Arga peluk Aca dari samping, cium rambutnya lagi yang masih wangi.
"Sama-sama, Sayang. Sekarang giliran Mas yang nggak mau kamu balik lagi ke lantai itu."
Lampu ruang tamu temaram. Kotak martabak kosong setengah.
Aman.
Malam. Kamar lantai 2 yang dulu ruang kerja.
Sekarang udah jadi kamar mereka. Meja kerja Arga masih ada di pojok, tapi kasurnya udah ganti yang gede.
Lampu kamar udah dimatiin, sisa lampu tidur kecil warna kuning.
Aca udah pakai daster, rambutnya diikat ke atas. Arga pakai kaos oblong.
Mereka tidur bareng. Beneran tidur bareng sebagai suami istri. Selimut yang sama dari malam mati lampu dulu, sekarang dipakai berdua tiap malam.
Aca senderan di dada Arga. Mainin kancing kaosnya.
"Sayang?" Arga manggil pelan.
"Khmm?" Aca jawab, ngantuk.
"Kira-kira kemarin malem jadi nggak ya?" bisik Arga kecil banget. Sampai hampir nggak kedengeran.
"Jadi apa Mas?" Aca dongak.
"Jadi dedek bayi," bisiknya lagi, telinganya merah lagi kayak dulu pas pertama kali dipanggil Arga.
"Maaaaassss!" Aca langsung nutup muka pakai selimut, malu setengah mati. Mukanya panas.
Arga ketawa kecil. Ketawa lega yang jaimnya hilang.
Peluk Aca kenceng banget. Pelukan suami istri yang sah, yang aman, yang dulu ditahan-tahan berbulan-bulan.
"Kenapa malu? Kan kita udah halal. Udah sah. Nggak perlu bisik-bisik takut dosa lagi," bisik Arga di atas kepala Aca, masih meluk kenceng.
"Arga ngomongin serius, Ca. Bukan godain. Arga mau punya anak sama kamu. Kayak yang Arga bilang di teras dulu itu. Inget? Arga mau punya anak sendiri sama kamu."
Aca masih nutup muka di balik selimut, tapi tangannya meluk balik pinggang Arga.
"Ya kalau jadi... jadi rezeki, Mas," jawabnya kecil dari dalam selimut. "Kalau belum ya kita coba lagi pelan-pelan."
Arga buka selimutnya pelan, biar Aca nggak pengap.
"Pelan-pelan terus ya? Kayak dulu ngerjain skripsi?"
"Iya. Pelan-pelan aja, Mas. Kan kita udah punya waktu seumur hidup buat pelan-pelannya."
Arga cium keningnya. Lama. Ritual yang nggak pernah berubah dari pertama kali di teras pas hujan.
"Ya udah, tidur ya, Sayang. Besok pagi kita cek. Eh, kita doa dulu biar jadi."
Aca ketawa di pelukannya.
"Mas tuh... doanya aja dibisikin kayak tadi, malu-maluin."
"Habisnya yang didoainnya malu-maluin sih, pakai dress pink ke kantor."
Dan mereka tidur. Berdua. Selimut yang sama. Lampu kuning temaram. Ngomongin anak sambil pelukan.
Di atas ranjang, selimut yang sama masih nutup setengah badan mereka.
Aca yang dari tadi di dada Arga, sekarang ngangkat kepala, ngeliatin Arga dari deket.
"Mas, udah berumur tapi masih kuat ya," ledek Aca, senyum jail. Tangannya nyolek lengan Arga yang masih kekar.
Arga yang tadinya ngantuk, langsung melek.
"Oh, jadi sekarang ledekin umur Mas ya?"
Peluknya makin kenceng. Gemes.
Belum selesai, Aca tiba-tiba ditarik pelan, dipangku padahal di ranjang. Duduk di pangkuan suaminya.
"Mas! Astaga, berat tau!" Aca ketawa, pegangan ke bahu Arga biar nggak jatuh.
"Berat apanya? Ringan kayak martabak keju tadi," kata Arga, masih meluk kenceng dari belakang, dagunya di bahu Aca. "Mas masih kuat gendong kamu dari ruang tamu lantai 1 sampai kamar lantai 2 juga masih kuat. Berumur doang, tenaganya masih kayak dulu pas ngangkatin galon."
Aca makin jail, "Iya sih, tadi di kantor dasinya aja masih kuat dibuka sendiri."
"Oh, jadi nguji?"
Arga goyang-goyang pelan pangkuannya, bikin Aca kegelian.
"Ampun Mas, geli! Geli!"
"Siapa yang berumur? Hah? Siapa?" Arga godain balik, tapi godainnya bukan yang aneh-aneh. Godain gemes bapak-bapak yang lagi dipangku istri mudanya.
Aca nyerah, meluk leher Arga balik.
"Mas Arga aja. Mas Arga paling kuat. Paling kuat nahan kangen dari jaman mati lampu dulu."
Kalimat itu bikin Arga langsung diem. Pelukannya yang kenceng tadi jadi pelan lagi. Jadi pelukan aman lagi.
"Iya, Sayang. Sekarang nggak perlu nahan lagi. Kan udah di pangkuan Mas terus."
Mereka gitu aja di ranjang. Aca dipangku, Arga meluk dari belakang, selimut nutupin kaki mereka berdua.
Ngobrolin besok mau sarapan apa, ngobrolin nama anak kalau jadi, nggak ngobrolin yang macem-macem.
Karena yang kuat itu bukan cuma badannya.
Tapi sabarnya dari dulu sampai sekarang.
Sebulan kemudian.
Pagi jam 6. Aca belum turun ke bawah buat bikinin teh kayak biasanya.
Arga udah rapi mau ke kantor, kemeja udah kepasang, dasi udah bener — bukan kayak sebulan lalu di kantor yang dibuka itu.
"Ca? Sayang? Nggak turun?" Arga ketuk pintu kamar mandi. Dari tadi kedengeran Aca di dalem.
Pintunya kebuka pelan. Aca keluar, mukanya pucet.
"Mas... aku mual," katanya pelan, pegangan ke pintu.
Arga langsung panik mode bapak-bapak. Tangannya langsung ke jidat Aca.
"Demam? Masuk angin? Tadi malem AC kekencengan ya? Sini duduk dulu."
Aca duduk di pinggir ranjang. Dipegangin air putih sama Arga.
Terus Aca diem. Ngitung-ngitung di kalender HP.
Tanggalnya lewat. Jauh lewat.
"Mas..." suaranya kecil.
"Hm?"
"Aku... kayaknya telat deh, Mas."
Arga yang lagi ngusap punggungnya berhenti.
"Telat... datang bulan?"
Aca angguk. Mukanya merah campur pucet. Antara mual sama malu.
Arga jongkok di depan Aca, biar sejajar.
"Udah berapa hari telatnya, Sayang?"
Aca bisik, "Dua minggu... aku baru sadar tadi pagi pas mual."
Hening. Detik.
Terus Arga — yang biasanya tenang, jaim, dewasa — senyumnya lebar banget. Lebar yang nggak pernah Aca lihat sebelumnya. Bahkan pas akad aja nggak selebar ini.
"Serius, Ca?"
Aca angguk lagi, matanya udah berkaca-kaca.
Arga peluk Aca yang lagi duduk itu. Peluknya hati-hati banget. Nggak kenceng kayak biasanya pas dipangku di ranjang itu. Pelan. Kayak takut kenapa-napa.
"Ya Allah... jadi ya, Ca?" bisiknya di telinga Aca.
"Belum tau Mas, aku belum tes... aku takut salah..."
"Ya udah, kita tes sekarang ya? Mas temenin. Abis itu kita ke dokter, biar dicek yang bener. Bukan nebak-nebak sendiri."
Aca masih mual, masih pucet, tapi dipeluk gitu jadi tenang.
"Mas, kalau beneran jadi gimana?"
Arga cium keningnya. Lama.
"Kalau beneran jadi, ya Alhamdulillah, Sayang. Doa kita yang di ranjang sebulan lalu itu yang pelan-pelan itu dikabulin. Kalau belum, ya kita coba lagi pelan-pelan juga. Kayak janji kita kan?"
Dia ambil selimut yang sama dari malam mati lampu itu, diselimutin ke bahu Aca yang lagi mual.
"Sini, duduk dulu. Mualnya biar hilang dulu. Mas bikinin teh anget sama roti. Nggak usah buru-buru."
Pagi itu kantor Arga telat buka. Bosnya telat karena nungguin istrinya yang lagi mual dan telat datang bulan di kamar lantai 2.
Test pack-nya dibeli Arga sendiri.
Padahal biasanya kalau beli apa-apa nyuruh Pak Yanto. Hari ini dia turun sendiri ke apotek depan komplek, masih pakai kemeja kantor, dasi di kantong.
Balik dengan kantong plastik kecil, dikasih ke Aca di depan kamar mandi.
"Nih, Sayang. Dua ya, Mas belinya dua. Biar nggak salah."
Aca masuk kamar mandi. Arga nunggu di luar pintu. Mondar-mandir. Kayak pertama kali nungguin Aca ujian skripsi dulu.
Lima menit kerasa lama banget.
Pintu kebuka pelan. Aca keluar, bawa dua stik itu di tangan, tangannya gemeteran.
Mukanya nangis. Tapi bukan nangis mual.
"Mas..."
Arga langsung jongkok lagi di depan Aca, kayak pagi tadi.
"Gimana, Ca?"
Aca nunjukin.
Dua garis. Dua-duanya.
Dua garis jelas.
Arga lihat. Baca. Baca lagi.
Yang biasanya tenang, jaim, dewasa, yang nggak pernah panik pas mati lampu, nggak panik pas Dion marah-marah...
Nangis duluan.
Beneran nangis. Air matanya netes sebelum Aca nangis.
"Ya Allah... Ca... jadi... jadi beneran ya, Sayang?"
Aca yang tadinya nahan, jadi nangis juga gara-gara lihat Arga nangis. Dipeluk.
"Jadi, Mas. Jadi dedek bayi yang kemarin Mas bisikin itu..."
Arga peluk Aca hati-hati banget. Nggak kenceng kayak pas dipangku di ranjang, nggak jail kayak pas diledekin berumur masih kuat. Pelukannya kayak megang sesuatu yang berharga banget.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah ya Allah..." bisiknya terus di kening Aca, dicium lama.
Aca masih di pangkuan suaminya di lantai kamar, depan kamar mandi, bawa test pack dua garis.
"Mas, kita ke dokter ya nanti? Biar dicek beneran. Aku masih mual..."
"Iya, Sayang. Nanti siang kita ke dokter kandungan langganan Bi Iyah. Mas udah telponin. Kita cek beneran, vitaminnya apa, pantangannya apa. Biar aman."
Arga angkat Aca pelan dari lantai, digendong balik ke ranjang — kuatnya yang kemarin diledekin itu kepakai lagi — diselimutin pakai selimut yang sama dari malam mati lampu dulu.
"Tugas kamu hari ini cuma tidur ya, ibu hamil," bisiknya sambil elus rambut Aca yang masih wangi itu. "Mas yang jaga di sini. Kantor libur."
Aca ketawa sambil nangis, "Ibu hamil..."
"Iya. Ibu hamil cantik pakai dress pink yang kemarin bikin Mas buka dasi di kantor itu."
Dan siang itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, meja kerja di lantai 2 kosong. Karena penghuninya lagi sibuk jadi calon Ayah yang lagi nangis sambil melukin calon Ibu yang lagi mual di bawah.
Kamar lantai 2 sekarang berantakan.
Bukan berantakan skripsi lagi. Berantakan kardus box bayi.
Arga duduk di lantai, masih pakai kemeja kantor yang lengannya digulung. Obeng di tangan. Manual book box bayi di pangkuan. Dari tadi ngrakitnya salah terus.
Aca duduk di ranjang, perutnya udah agak keliatan. Ngemil martabak keju coklat sisa kemarin.
Ngeliatin suaminya yang berumur itu ngrakit box bayi sampai keringetan.
"Mas, Mas udah berumur tapi baru mau punya anak, Mas hebat tau," ujar Aca, jail lagi. Mode ngledekin favoritnya sejak hamil.
Arga yang dari tadi sibuk ngrakit, noleh. Kacamata bacanya melorot.
Nyamperin ke ranjang.
"Iya soalnya Mas... semangat," katanya.
Aca langsung ketawa ngakak. Sampai perutnya yang lagi isi itu ikut goyang.
"IHHH jadi takut nanti kalau habis lahiran deket-deket sama Mas," kata Aca sambil nutup martabaknya.
Arga duduk di pinggir ranjang, obengnya ditaruh. Elus perut Aca pelan.
"Takut apa?" bisiknya, senyum jail bapak-bapaknya keluar lagi.
"Takut jadi lagi yang kedua?" lanjutnya.
"Maaaaasss!" Aca cubit lengan Arga. "Baru juga yang pertama belum lahir, udah mikirin yang kedua!"
Arga ketawa kecil, peluk Aca dari samping. Pelukannya sekarang hati-hati, nggak kenceng kayak dulu pas Aca dipangku di ranjang. Ada dedek di tengah.
"Abisnya Mas seneng, Ca. Dulu Mas ngerakit meja kerja buat kamu skripsi di ruangan ini. Sekarang ngerakit box bayi buat anak kita di ruangan yang sama. Ya Mas semangat lah."
Aca senderan di bahunya.
"Ya udah, semangatnya buat ngrakit boxnya dulu aja ya, Mas. Yang kedua nanti aja mikirnya. Kasian obengnya dari tadi diputer-puter nggak jadi-jadi."
"Siap, Bu Bos hamil," kata Arga, balik lagi ke lantai, ngrakit lagi.
Aca dari ranjang nyuapin martabak ke mulut Arga yang lagi di lantai.
"Ahhh..."
"Enak?" tanya Aca.
"Enak. Kayak dulu pertama kali nyuapin Mas di mobil habis dari kantor itu."
Box bayi masih miring. Martabak masih setengah. Tapi di kamar lantai 2 itu udah rame.
Bukan cuma berdua lagi.
Berdua plus satu yang masih di perut, plus rencana box bayi yang miring.
Rame yang halal.
Box bayi akhirnya jadi. Miring dikit, tapi jadi.
Arga tepuk-tepuk tangan, puas. Kayak dulu habis bantuin Aca selesai skripsi di meja kerja lantai 2 itu.
"Jadi, Ca! Nih lihat, punya dedek udah jadi!"
Aca turun dari ranjang pelan, dibantuin Arga. Duduk di lantai depan box bayi itu berdua.
Perut Aca udah keliatan jelas. 7 bulan.
Arga duduk bersila di depan perut Aca.
"Mas ngapain?" tanya Aca ketawa.
"Shhh... Mas mau nyapa anaknya Mas dulu."
Arga deketin mukanya ke perut Aca. Pelan banget. Tangannya megang perut dari samping, hati-hati.
"Halo..."
Suaranya kecil. Nggak kayak suara tegasnya di kantor. Suara bapak-bapak yang baru pertama kali jadi bapak di umur segini.
"Halo, dedek... ini Ayah... eh, ini Arga... eh, ini Mas..."
Aca ketawa, "Mas, manggilnya Ayah dong, masa Arga."
"Iya iya... Halo, dedek... ini Ayah."
Dia elus perut Aca pelan.
"Dedek sehat-sehat ya di dalem perut Mama ya. Jangan bikin Mama mual terus. Mama udah nggak bisa makan martabak banyak-banyak gara-gara dedek."
Aca elus kepala Arga.
"Jangan lama-lama di dalem ya. Ayah udah siapin box-nya nih, miring dikit nggak apa-apa ya, nanti Ayah benerin lagi."
Terus dedeknya nendang. Kecil. Kedut.
Arga kaget. Matanya langsung merah lagi. Kayak pas lihat testpack dua garis dulu.
"Ca! Ca! Nendang! Tadi nendang!"
"Iya Mas, dari tadi emang nendang-nendang," kata Aca senyum.
Arga tempelin lagi pipinya ke perut Aca. Lama.
"Makasih ya udah nendang, dedek. Ayah denger. Ayah di sini terus kok."
Aca nangis lagi. Hormon hamil emang gitu. Lihat suaminya yang berumur, yang dulu jaim, yang dulu cuma berani cium rambut di kantor, sekarang nempel di perutnya ngobrol sama anaknya yang belum lahir, di depan box bayi yang miring.
"Mas, udah berumur tapi pinter ya ngobrol sama bayi," bisik Aca sambil elus kepala Arga.
Arga dongak, senyum. Matanya masih basah.
"Kan Mas belajarnya dari ngobrol sama Mamanya dulu. Dari jaman Mamanya masih nangis di lantai ruang tamu itu."
Dia cium perut Aca pelan. Lewat daster.
"Udah ya dedek, bobok lagi ya. Ayah sama Mama di sini aja. Nggak kemana-mana."
Malam itu box bayi yang miring itu nggak dipakai.
Yang dipakai masih ranjang gede, selimut yang sama dari malam mati lampu dulu, sama ritual pelukan yang sekarang ada satu orang lagi di tengah-tengah pelukan mereka.
Berdua jadi bertiga.
Di kamar lantai 2 yang sama.
Rumah sakit jam 3 pagi.
Aca udah di dalem dari jam 8 malem. Arga di luar, masih pakai kemeja yang tadi dipakai ngrakit box bayi yang miring itu — belum sempat ganti.
Bolak-balik. Duduk. Berdiri. Bolak-balik lagi. Kayak dulu nungguin Aca testpack di depan kamar mandi, tapi ini seribu kali lebih deg-degan.
Pak Yanto sama Bi Iyah udah di ruang tunggu. Dion dateng jam 1 pagi, masih pakai hoodie kampus.
Jam 3.17 pagi pintu kebuka.
Suster keluar, "Bapak Arga? Selamat ya Pak, bayinya udah lahir. Perempuan. Sehat. Ibunya juga sehat, Alhamdulillah."
Arga diem. Nafasnya ketahan.
"Perempuan...?" suaranya pelan.
"Iya Pak, perempuan. Cantik kayak ibunya. Boleh masuk sebentar, Pak."
Arga masuk.
Aca di ranjang, pucet, keringetan, rambutnya berantakan. Tapi senyum.
Di dadanya ada yang merah, kecil, anget, nangis kenceng.
Anak mereka.
Arga jalan pelan ke deket ranjang. Lututnya lemes.
"Ca..."
Aca lihat Arga, nangis lagi. "Mas... mirip Mas..."
Arga jongkok di sebelah ranjang. Tangannya gemeter mau megang. Takut. Bayinya masih merah.
Suster kasih ke Arga, "Bapak mau adzanin?"
Arga angguk. Diambil pelan-pelan. Hati-hati banget. Kayak megang kaca yang paling berharga. Digendong kayak dulu dia gendong Aca dari lantai ruang tamu ke kamar lantai 2, tapi ini jauh lebih hati-hati.
Bayinya masih merah. Matanya masih ketutup. Nangisnya masih kenceng.
Arga deketin ke telinganya yang kecil itu. Suaranya yang biasanya tegas di kantor, yang jaim, yang dewasa itu, pelan banget. Gemeter.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Adzan pertama yang didenger dedek bukan dari masjid. Dari ayahnya sendiri yang udah berumur, yang nungguin dedeknya dari masih dua garis di testpack depan kamar mandi.
Selesai adzan, Arga iqomah di telinga kiri.
Bayinya diem. Nangisnya berhenti. Kayak dengerin.
Aca yang di ranjang lihat itu nangis lagi. Nggak bisa berhenti.
Arga cium kening bayinya yang masih merah itu. Lama.
"Halo, dedek... akhirnya ketemu ya. Tadi di perut nendang terus, sekarang udah di luar. Ini Ayah..."
Terus dia lihat Aca.
"Makasih ya, Sayang. Hebat kamu," bisiknya ke Aca, cium kening Aca yang masih basah keringet.
Dion ngintip dari pintu, "Ayah... boleh gendong adek nggak?"
Arga ketawa, matanya masih merah, masih gendong bayi merah itu hati-hati.
"Boleh, tapi cuci tangan dulu. Adeknya masih merah. Kayak mamanya dulu pas nangis di lantai itu, merah juga mukanya."
Ruang bersalin jam 3 pagi itu rame pelan.
Bukan rame kantor. Rame keluarga baru.
Box bayi yang miring di rumah lantai 2 akhirnya ada yang nempatin besok pagi.
Tamat