Hujan.
Matanya sayup-sayup menengadah membiarkan wajahnya basah keseluruhan oleh air yang jatuh dari langit yang cerah. Iya, langitnya sedang cerah tetapi hujan turun. Katanya kalau keadaannya begini ada yang meninggal. Oke, jangan pikirkan itu. Shera harus berteduh dulu. Di teras rumah bercat putih tulang, Shera penasaran saja lalu mengintip jendela yang setengahnya hanya ditutupi gorden. Di dalam terang, sangat aestethic tentunya tapi sepi. Tidak ada suara orang berbincang atau tv yang menyala. Hanya ada seekor anjing putih berjenis German Shepherd.
Mungkin hanya perasaan Shera kalau anjing itu menatapnya dengan lembut, Dia mau keluar kali ya?
Shera mengambil ranting. Lalu dia arahkan kekaca jendela. Anjing itu mendekat ke arah jendela.
Setengah jam berlalu, Shera belum juga melihat penghuni rumah ini. Hanya anjing yang ada di dalam ruangan itu yang sebelumnya dia ajak main. Shera tersenyum pada anjing itu, rasanya mau Shera bawa pulang. Lalu anjing itu menjauh dari jendela. Shera mencoba mengintip lagi kemana anjing itu pergi.
Anjing itu ke arah pintu depan. Shera juga, menggerakan knop pintu mencoba membukanya. Shera menghembuskan napas panjang. Yah dikunci.
Shera kembali berdiri di depan jendela. Lalu tiba-tiba pintu itu terbuka. Shera membeku sesaat. Duh, kok tiba-tiba kebuka sih? Orangnya udah keluar ya?
Tanpa dia duga, hanya seekor anjing putih yang keluar berdiri menghadapnya. Shera tidak menduga kalau ukurannya lebih besar dari anjing sejenisnya. Ya karena Tuan Brax juga memelihara anjing seperti ini tetapi warnanya coklat dan ukurannya tidak lebih besar dari si putih ini.
Shera membungkuk lalu mengelus kepala anjing itu, "hai, kenapa gak keluar dari tadi aja? Oke, sekarang mulai reda hujannya, aku pulang ya. Nanti kalau ada waktu aku kesini lagi."
...
Dua hari kemudian, dari jauh Shera melihat rumah putih itu, wah dia udah di depan. Anjing itu ada tepat di depan pintu. Shera bisa merasakan kalau dia menatap Shera.
"Halo. Kamu abis mandi ya?" kata Shera, karena sebelum Shera membungkuk untuk mengelus bulunya, wangi citrus sudah tercium dari bulu-bulu anjing ini.
Dan Shera sampai sekarang belum tahu nama anjing ini. Dia tidak memakai kalung. Lehernya juga tidak ada bekas pemakaian kalung. Pintu rumah ini terbuka, Shera mengintip, masih sepi dan tidak ada tanda ada seseorang yang tinggal disini. Shera berpikir untuk membawa dia ke rumahnya. Eh tunggu, dia harus diberi nama. "Hmm...mungkin Flynn cocok denganmu"
Sejak hari itu Shera dan Flynn bertemu setiap hari. Bahkan berangkat sekolah membawa Flynn lalu ia dititipkan bersama Merlyn, security disekolahnya. Lalu setelah pulang sekolah ke rumah putih untuk istirahat sejenak dan dilanjutkan ke rumah Shera. Oh! Tidak lupa dengan kalung yang kemarin Shera beli di Petsmart dan itu berpasangan dengan gelang untuk si pemilik.
"Kita ke rumahmu yuk, sepertinya buku matematikaku tertinggal." Shera memakai topi baseballnya, lalu berangkat menuju rumah putih.
Setelah mereka sampai Shera langsung mencari buku tersebut. Flynn mendekatinya, "kamu mau bantu?" kata Shera, Flynn mengangguk, Shera langsung menunjukan foto bukunya pada Flynn. "Yang seperti ini ya"
Mungkin ada 30 menit mereka mencari. Tapi baiknya Flynn menemukannya! Shera langsung memeluknya. "Duh kamu pintar." Shera masih memeluknya sambil mengelus puncak kepalanya. Lalu mereka terdiam, Flynn tiba-tiba diam menatap Shera, "Kenapa Flynn?" tanya Shera.
Flynn seperti menginginkan sesuatu. Dia berlari ke arah ruang dengan pintu berwarna beige diikuti Shera di belakangnya. Lalu anjing itu membuka lemari besar berwarna abu-abu. Entah bagaimana ada gambar yang sepertinya perempuan digambar itu adalah Shera yang ada di balik jendela rumah ini. Tapi, kenapa ada gambar lelaki juga?
Flynn masuk ke lemari tersebut dan Shera gak tau harus apa, "Flynn? Kamu ngapain di dalam?" teriak Shera setelah beberapa menit Flynn tidak keluar juga. Shera mendekatkan telingannya dipintu lemari tetapi tidak ada suara apa-apa. Akhirnya Shera tiduran di ranjang sambil mengingat rumus-rumus yang dia pelajari.
"Shera"
Shera tertegun setelah menoleh, dia menghela napas. Siapa pria yang berdiri di depannya ini? Dengan rambut berwarna silver keseluruhan pria ini tersenyum menatapnya. "Ini gak mungkin kal--nggak nggak, di mana Flynn?"
"Aku di sini."
...
Shera masih gak bisa membayangkan kalau Flynn bakal berubah jadi manusia setampan ini. Bahkan dia memegang kalungnya. Pantas saja kalau anjing itu selalu wangi setiap bertemu dengannya, masalahnya ini bukan aroma sabun hewan atau sejenisnya. Melainkan aroma parfum. Dan barusan Flynn menunjukkan parfum yang dia pakai. Entah bagaimana dia membeli parfum semahal itu.
"Ya jadi aku bisa ada disini karena ini bentuk pengasingan dari bangsaku. Tentu saja karena aku melanggar peraturan turun-temurun. Lalu kamu datang, aku senang sekali waktu itu." katanya.
Shera masih memperhatikan setiap jengkal tubuh Flynn. Ini terlalu indah. Flynn memakai kaos polos putih dan celana pendek berwarna coklat susu. Kulitnya putih tanpa freckles diwajah. Hah, Shera bisa sesak napas hanya melihatnya terus-terusan seperti ini. "Kapan berakhirnya masa pengasinganmu?"
"Seingatku tiga hari lagi. Aku sebenernya sedih harus berpisah denganmu."
Shera tersenyum lalu menggenggam tangan Flynn, "hei aku juga. Tapi apa kamu bisa mengunjungiku setelah waktu itu tiba?"
"Aku tidak tau. Sudah jangan kau pikirkan. Aku pasti akan cari cara supaya bisa bertemu kamu lagi. Sekarang kita lakukan hal yang menyenangkan yang bisa aku rasakan lebih dari sebelumnya"
Entah harus sedih atau senang dengan Flynn yang seperti ini. Shera hanya remaja perempuan biasa yang tinggal bersama bibinya. Orangtua Shera tidak tau dimana, bahkan Shera tidak tau mereka masih hidup atau sebaliknya. Hanya Mom Elle yang menemani dan juga Flynn. Bagaimana nanti kalau Flynn pergi? Shera tidak ada teman dekat, rumahnya jauh dari sekolah dan jauh dari rumah teman-teman sekolahnya. Mom Elle tidak memiliki anak dan Shera dijadikan anak angkatnya, suaminya bekerja merantau. Jadi kau tau bagaimana kesepian Shera selama ini.
Dalam waktu tiga hari mereka menghabiskan waktu bersama. Bahkan Shera libur di hari ketiga Flynn terakhir di sini. Mereka sekarang saling duduk berhadapan disofa rumah putih. Shera terus menatap Flynn, seorang pria tampan, bukan seekor anjing putih yang empat bulan lalu dia temukan di rumah putih ini. "Aku gak bisa.."
Flynn mendekat, mengelus puncak kepala Shera, "hei, aku juga mau tinggal lebih lama.."
Mata Shera berkaca-kaca lalu memeluk Flynn, "bagaimana kalau kau tidak usah pergi?"
"Tidak bisa She, ini hari terakhirku. Jangan menangis. Kau harus tetap bahagia"
"Bagaimana bisa aku bahagia kalau kau pergi? Aku sendirian di sini Flynn, aku juga sudah banyak merepotkan Mom Elle"
Flynn terdian sejenak. Dia beranjak lalu berdiri tetap menghadap Shera, "kamu mau ikut denganku?"
Shera tidak tau, bagaimana dengan bibi kalau dia pergi bersama Flynn? Shera tidak tau tempat tinggal Flynn seperti apa. Dan Shera bukan makhluk yang sejenis dengan Flynn. "Aku tau apa yang sedang kau pikirkan, Shera. Jangan khawatir, aku tau solusinya. Aku yang menanggung jika ada masalah."
"Baiklah."
"Sekarang kau pakai ini," Flynn memakaikan gelang tali berwarna biru tua, "ini liontinnya adalah cairan bunga occru, yaa ini seperti jimat perlindungan bagi bangsa manapun. Dan ini sangat langka. Jadi kau harus jaga baik-baik." kata Flynn.
Mereka menuju kamar dimana ada lemari besar berwarna abu-abu. "Nanti setelah sampai akan aku ceritakan bagaimana aku bisa ada di sini. Sekarang kita masuk dulu" mereka berdua akhirnya masuk ke dalam lemari itu.
Shera tidak bisa tenang sekarang. Dia terus menggenggam erat tanga Flynn.
...
Sudah musim gugur di Wynstelle, pohon azourea menggugurkan daun birunya. Sangat cantik, sepanjang jalan seperti langit yang sedang bercermin.
"Hei, hari ini Zach kembali!" seru Orsa berdiri di podium dekat jalanan menuju istana.
Semua yang mendengar seperti acuh-tak acuh dengan berita putra kerajaan akan segera tiba. Kebanyakan penduduk yang berusia setengah abad akan merespon, "kenapa tidak setahun saja dia diasingkan, kalau perlu keluarkan saja selamanya dari Bangsa Wynstelle!"
Tetapi untuk anak muda generasi penerus wilayah ini pastinya tidak setuju. Zach adalah harapan mereka satu-satunya. Tentunya untuk menghapus aturan turun temurun "Bangsa Wynstelle dilarang berbelas kasih pada bangsa manapun"
"Orsa, ayo kita menuju Lacustris! Zach pasti sudah sampai" ucap Luzy. Mereka pun berlari menuju tempat tersebut. Lacustris merupakan danau dengan air berwarna biru jernih dan di dasar danau itu ada sebuah pintu untuk seorang yang akan pergi kesuatu tempat, tidak lupa dengan banyaknya kristal di dalamnya. Di pinggiran danau itu dikelilingi pohon azourea. Jadi bisa dibayangkan dominan tempat ini adalah biru.
"Zaaaaaaaach.." teriak Orsa dan Luzy berlari ke arah pria itu. Mereka memeluk pria itu.
"Zach, ini siapa?" tanya Orsa.
"Ini Shera, teman dan keluargaku di tempat pengasingan." jawabnya sambil melingkari tangannya di bahu Shera. Dan mereka saling memperkenalkan diri.
Zach? Jadi nama aslinya Zach? Kenapa dia gak bilang? "Hmm.. Flynn apa kita bisa duduk di sana sebentar?" kata Shera, kakinya sangat pegal saat ini.
Mereka pun duduk di pinggir danau. Shera memerhatikan mereka bertiga. Sangat berbeda dengan dirinya, ya pasti lah. Shera kan manusia tulen. Telinga Flynn sedikit lebih panjang dan berbulu putih begitupun mereka berdua. Tanpa sadar Shera memegang telinganya, loh loh..aku bukan manusia tulen lagi nih? Astagaa.
"Hei, Shera. Bagaimana bisa Zach mau dipanggil Flynn?" tanya Luzy.
"Emm-ya.."
Ucapan Shera tiba-tiba dipotong Flynn, "-karena dia baik padaku."
"Hei! Kau kira kami selama ini seperti keluarga Whitford? Beruntung kau ada yang menjemput dari pengansingan" selak Orsa kesal.
"Iya iya maaf. Nah Shera ini.." Flynn melihat telinga Shera yang sudah berubah, dia sedikit kaget dengan itu, "..dia mengasingkan diri di sana. Lebih lama dariku. Bahkan dia tidak ingat dimana dia tinggal dahulu, ya kan She" kata Flynn dan mengedipkan mata kirinya sebagai kode kepada Shera.
"Ah-oh iya, iya. Ibuku yang diasingkan, dia mengajakku saat aku masih kecil. Dan dia meninggal di sana. Lalu aku bertemu Flynn, jadi aku bisa kembali ke sini." ucao Shera. Sedikit lega Flynn mendengar perkataan Shera yang membantu rencananya.
Sekarang Flynn harus ke gedung Ardymo untuk membuat kependudukkan Shera. Sementara Orsa dan Luzy harus merahasiakan kedatangan Shera.
Berjam-jam mengurus kependudukan Shera, Flynn merasa lapar begitupun Shera. Dan dia tidak punya uang. Bahkan barang berhagapun tidak ada untuk ditukarkan dengan makanan. Hei, Zach Flynn adalah putra kerajaan Wynstelle. Dia hanya perlu, "Hmm.. Bibi, apa aku boleh mengambil kue zu ini? Tapi aku tidak bawa uang saat ini, nanti akan aku bayar setelah aku mengambil uang di rumahku."
Bibi mendongak pada Flynn lalu melihat Shera yang kelihatan sangat kelaparan. "Kau sudah kembali, nak? Yasudah ambil saja untukmu dan perempuan itu. Tidak usah khawatir."
Selesai dari itu semua, Flynn kembali ke rumahnya bersama Shera. Tetapi ada yang aneh, kenapa mereka bilang kalau telapak tangan Shera sangat mirip dengan mendiang kakaknya? Mungkin hanya kebetulan. Flynn tidak akan pulang ke istana dalam waktu dekat ini, karena pasti ayahnya masih marah padanya. Jadi Flynn punya rumah sendiri, dia membuat rumah pohon berdaun hijau yang dikelilingi pohon azourea yang berwarna biru. Shera takjup melihat rumah pohon sebagus ini. Dan didalamnya pun tidak sempit. "Kau mau tunggu di sini? Aku akan keluar membeli minuman."
Shera mengangguk, lalu Flynn turun dari rumahnya. Dia menuju istana. Sebagian rakyat berbisik saat kedatangannya, tetapi sebagian yang lain, tentunya anak-anak muda saling memberi salam padanya. Dan sekarang dia ada di depan ruang raja. Ayahnya. "Apa ada kegiatan untukku setelah ini?"
"Kemana saja kau? Harusnya kau datang tiga hari sebelumnya! Kau meremehkan aku?" bentak Alphin. Dia langsung berdiri menghadap putranya.
"Oh? Aku kira kau senang aku datang lebih lama" jawab Flynn menatap ayahnya.
"Besok kau memimpin perang melawan Bangsa Dwyer."
...
Semua senjata sudah siap. Zach Flynn Whitney seorang putra Alphin Greer Whitney memimpin perang untuk pertama kalinya. Tidak ada persiapan mental yang matang. Bahkan untuk menyobek kulit musuh waktu peperangan sebelumnya saja masih terbayang sampai sekarang. Ya, dia pernah ikut perang sebelumnya disaat usianya 14 tahun. Dia menyaksikan kakak perempuannya mati. "Zach, apa nyalimu menciut sekarang?" tanya seorang prajurit.
Flynn tau kalau dia meremehkannya, dengan sigap Flynn mendongak menatap tajam pada prajurit itu, "mau apa kau jika aku terluka lebih dulu daripada kau?"
Prajurit itu tersenyum, "bagaimana dengan perempuan yang ada di rumahmu? Dia merarik."
Tidak Flynn, "Jangan sampai aku melihat kau menyentuhnya."
"Oke deal."
Mereka menuju padang rumput Felge. Tempat perang seluruh bangsa. Bangsa Wynstelle(White) melawan Dwyer(Black) untuk kedua kalinya. "Aku tidak mengharapkan kemenangan. Tapi aku mau kau membalas dendam ayah atas kematian Finian." kata Alphin. Finian Flynn Whitney adalah anak pertama dari Raja Alphin.
Flynn memakai gelang bertali putih, gelang tersebut merupakan kekuatannya. Entah ini akan berguna sangat besar atau tidak, setidaknya Flynn sudah tau mantra untuk membunuh musuhnya. Semuanya sudah siap, Flynn berdiri dibarisan paling depan menatap tajam Shion, pemimpin dari Dwyer. Suara terompet telah dibunyikan. Semuanya menyerang membabi-buta. Oh iya, semuanya yang ikut perang ini akan berubah menjadi setengah anjing pemangsa berukuran lebih besar dan memiliki kekuatan sihir. Tentu saja sihir diantara para bangsa berbeda-beda. Dan Bangsa Dwyer adalah bangsa yang banyak memiliki sihir ilmu hitam yang sudah terkenal kekuatannya.
Flynn terdiam sejenak setelah dia mencabik salah satu lawannya hingga tak berdaya, sebagian dari mereka menuju pemukiman Wynstelle. Napasnya terengah-engah, Shion ada jauh di sana. Dia dulu. Flynn berlari kencang mengarah ke Shion. Iris matanya yang biru berubah menjadi warna merah. Tetesan darah masih keluar dari mulutnya. Lima langkah dari musuh Flynn berteriak, "MAVRON EXALEPSI" semburat cahaya merah dalam sekejap mengelilingi Shion. Dengan cepat Shion menahan serangan itu.
"Kau berani menggunakannya? Bahkan aku yang pertama mendapat serangan itu? Kau tau aku sudah pernah merasakan mantra itu tanpa mengelaknya. " seringai Shion mendekat pada Flynn.
"Ya, kau sudah tau juga apa tujuanku bukan?" balas Flynn.
"Tapi aku lebih tertarik dengan perempuanmu itu" dagunya menunjuk Shera.
How askhole! Flynn berlari kearah Shera yang sudah terjada oleh prajurit Dwyer. Tanpa jeda Flynn mengambil dua anak panah dan menusuk keduanya. Flynn melepas zirah dari tubuhnya, "kau pakai ini cepat," titah Flynn pada Shera.
"Bagaimana denganmu? Kau sedang perang Flynn" balas Shera. Mata Flynn terjaga kalau-kalau ada serangan yang disasarkan untuk Shera. "Hei, maafkan aku. Aku gak mau kamu terluka dalam perang ini, okay? Pakai saja. " kata Flynn seraya memegang pundak Shera.
"Bukankah dia mirip Finian?" ucap Shion. Flynn langsung meninjunya hingga bibirnya mengerkuarkan dadah, "jangan. Kau. Sebut. Namanya!"
"Mari kita mulai lagi" ucap Shion.
Flynn mulai menyerang Shion. Sedangkan Shera tidak tau harus bagaimana. Tapi sepertinya ada yang salah dengan gelang yang dia pakai. Shera yakin sekali gelang yang diberikan Flynn berwarna biru. Tapi kenapa sekarang berubah menjadi putih? Luntur kali ya warnanya? Dari kemarin tidak melepas ini saat mandi.
Shera melihat Flynn yang mulai lengah dengan perlawanan Shion. Entah mengapa Shera merasakan kalau prajurit Dwyer yang bersembunyi pohon itu sedang memantrai Shion agar dia tetap terjaga walau sudah dilawan Flynn. Shera tidak bisa diam saja. Dia harus membantu Flynn sebelum terlambat. Prajurit Wynstelle mulai menipis karena harus menjaga daerah sekitar pemukiman. Tanpa Shera sadari tubuhnya berubah menjadi seperti mereka yang sedang berperang. Mata coklatnya berubah menjadi jingga yang menyala. Dia berlari dengan yakin menuju Flynn dan Shion.
Shera ingat kalimat yang tertulis dibuku biru milik Flynn. Shera yakin itu adalah sebuah mantra hebat yang bisa melenyapkan seseorang. Karena tanda yang ada dibuku itu sama persis dengan tanda yang ada zirah milik Shion. Shera menarik napas panjang, "MAVRON EXALEPSI!!"
"PROHIBILLIS MAXIM!!" teriak Shion melawan kuat sihir dari Shera. Jauh dari belakang Shion ada seorang prajurit yang melemparkan sihir pada Shera. Flynn yang sudah terkapar melihatnya segera melemparkan mantra itu dengan mantra "Jinx Fliato" membuat kaki lawan lumpuh seketika dan mantranya berbalik ke arahnya.
Sesaat setelah Shera mengatakan mantra itu gemuruh angin mengisi padang rumput itu. Langit mulai kelabu dengan cuaca yang mulai dingin. Serangan Shion mulai menipis dan Shera menghentakkannya. Napasnya terengah. Apa dia mati?
Flynn mendongak pada Shera. Bahkan bukan cuma Flynn, tapi seluruh prajurit Wynstelle melihat ke arah perempuan yang baru saja membunuh Shion.
"Finian?"
...
4 tahun lalu, dengan keputusan hakim wilayah hutan selatan milik Bangsa Dwyer resmi menjadi milik Wynstelle. Tentu saja karena hutan tersebut tidak memihak pada Bangsa Dwyer. Lalu mereka tidak terima. Dan perang untuk pertama kali bagi Bangsa Wynstelle melawan Bangsa Dwyer dimulai. Saat itu Raja Alphin mau tidak mau melibatkan anak perempuan pertamanya yang masih 17 tahun. "Kau juga harus ikut" kata Alphin pada Zach yang berusia 14 tahun.
"Tidak yah, dia tidak boleh terlibat." selak Finian.
"Dia anak lelaki yang kesehariannya melawan peraturan dan mengikuti beladiri tanpa sepengetahuan ayah. Tentu dia tau cara melawan musuh kan?"
Finian terus menentang agar adiknya tidak ikut perang. Tetapi keputusan sudah bulat. Dan saat waktunya tiba Finian memberikan gelang putih berliontin cairan bunga occru yang telah dibekukan pada Zach yang juga berpasangan dengannya. "Aku sudah memberi tahumu mantra-mantra yang harus kau lantangkan semalam, kau harus pastikan semuanya kau gunakan. Dan ini," Finian menujuk gelang putih, "adalah pelindung kita."
Perang dimulai. Finian memastikan agar adiknya tidak dibunuh oleh mereka. Tepat saat Finian menghadap musuhnya yang berbulu hitam pekat tanpa jeda dia berteriak "NAPHEO CURSE!" Finian langsung jatuh dengan tidak ada tanda kehidupan dalam tubuhnya. Dan Zach melihat itu semua, dia berlari menghampiri Finian.
Bangsa Wynstelle mengira Finian telah mati terbunuh oleh mantra itu. Jasadnya segera dimakamkan. Tetapi disisi lain, itu adalah mantra yang bisa melibatkan banyak orang. Yaitu dengan menjadikan ingatan bahwa Finian Flynn Whitney telah mati dibunuh Shion, pangeran dari bangsa Dwyer.
Kenyataannya Finian tidak mati. Tubuhnya yang asli dibawa oleh prajurit Dwyer. Setelah sadar dia dimasukkan ke penjara bawah tanah. Lalu dibuang ke dunia lain. Dengan tempo waktu yang berbeda. Finian kehilangan ingatannya. Dan tidak bisa berubah menjadi seperti sebelumnya. Di bumi, dia menjadi manusia yang berusia jauh lebih muda. Bahkan rambut silvernya berubah coklat, mata birunya berubah menajdi hazel.
Lalu tumbuh bertahun-tahun layaknya manusia setelah ditemukan oleh seorang wanita bernama Elle, dia mengasuhnya.
Yang diberi nama Shera Hughes.
Selesai.