Hawa dingin dan segar memasuki tenggorokannya dan paru-paru Sri, wanita muda yang baru saja menikah tiga minggu lalu, yang artinya Sri baru tiga minggu tinggal di desa sang suami, desa Tampu.
Kaswan dan Sri tinggal di rumah pribadi Kaswan, sejak sebelum menikah mereka sudah sepakat akan langsung tinggal terpisah dengan orang tua Kaswan yang juga tinggal di desa Tampu.
Sri sudah menggendong ransel tua milik Kaswan, ransel tua berisi air minum dan makan siang mereka berdua di ladang.
Kaswan hendak membersihkan gulma di sekitar tanaman cabainya yang sedang asik berbunga saat ini.
Kaswan sudah melarang Sri untuk ikut, sayang jika istrinya itu lelah, biar dia melakukan pekerjaan rumah saja, tetapi Sri memaksa untuk ikut. Bukan sekali dua kali Sri merengek ingin ikut.
"sudah bang?" tanya Sri pada suaminya yang sudah keluar rumah
"sudah" jawab Kaswan. "Sri yakin mau ikut abang ke ladang?" tanya Kaswan
"iya bang, Sri bosan di rumah sendirian" jawab Sri
Kaswan menghidupkan motornya. Keduanya berboncengan menuju ladang Kaswan yang saat ini di tanami cabai, jaraknya tak terlalu jauh dari desa, sekitar tiga puluh menit berkendara. Desa mereka terletak di area perkebunan, itulah sebabnya jarak yang ditempuh tak terlalu jauh, paling jauh kebun milik warga hanya memakan waktu satu jam berkendara.
Tiga puluh menit Kaswan dan Sri tiba di ladang, motor di parkir dibawah pohon alpukat, guna melindungi dari panas matahari nantinya. Sri lebih dulu ke gubuk sementara Kaswan memarkir motornya.
Kaswan berlari demi mendengar Sri berteriak, ketakutan.
"ada apa?" tanya Kaswan khawatir. Sri dengan gemetar menujuk pada bak di depannya. Bak yang dibuat dengan cara menggali tanah yang selanjutnya dilapisi plastik, digunakan untuk menampung air hujan, untuk kebutuhan penyemprotan dan pemupukan tanaman diladang. Bak di buat persis dibelakang gubuk.
Kaswan sama terkejutnya ketika melihat arah telunjuk istrinya, sesuatu mengapung di bak ladangnya, bukan sesuatu tapi seseorang. Kaswan menarik nafas, mengembuskan, menarik lagi, hembusankan lagi, beberapa kali ia lakukan, guna menenangkan diri, ia tak boleh panik, ada istrinya yang harus ia tenangkan juga.
"apa Sri menyentuh mayat yang mengapung itu?" tanya Kaswan
"ti..dak" Sri menggeleng
"air bak nya?" tanya Kaswan lagi. Kembali Sri menggeleng
"syukurlah" Kaswan bernafas lega.
"sebentar abang akan telpon kepala desa". Sri mengangguk setuju.
Tiga puluh berita menyebar dengan cepat, warga berdatangan, tak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya di desa mereka. Sepuluh menit berikutnya barulah pak kades tiba dengan anggota kepolisian. Garis polisi langsung dipasang, mengamankan penduduk yang datang agar tak mendekat. Mereka masih harus menunggu tim inafis, unit Reskim dan juga dokter.
Tiga puluh menit selanjutnya, para ahli yang di tunggu sudah tiba, semua dilakukan dengan seksama. Sri dan Kaswan ditanyai perihal kronologi kejadiannya.
"saya hendak mengambil air untuk mencuci piring pak" jawab Sri ketika ditanya
"kapan terakhir kali ibu dan bapak mengunjungi tempat ini?"
"kemarin pak" jawab Kaswan
"jam berapa bapak meninggal tempat ini kemarin?"
"sekitar jam lima sore pak" jawab Kaswan
"baik, kami mengerti, terimakasih atas keterangannya"
"kami tidak akan dipenjara kan pak?" tanya Sri, mukanya pucat
"berdoa saja bu" balasnya dan meninggalkan Sri serta Kaswan dalam kegundahannya
"bagaimana ini bang?" tanya Sri
"tenang saja, kita tidak melakukan apa-apa" Kaswan merangkul istrinya
"kalau mereka salah tangkap bagaimana bang, kita kan tidak membunuh orang itu" Sri ketakutan
"tidak akan, tenang ya, abang disini, lihat ibu dan bapak juga disini dikerumunan warga" Kaswan mencoba memengangkan istrinya
Mayat di angkat setelah melakukan serangkaian yang diperlukan oleh ahlinya. Cerahnya sinar matahari tak membuat cerah hari warga Tampu ketika jenazah tak dikenal itu diangkat dari air. Tubuhnya kaku, kulit tangan dan kakinya terlihat berkerut, pria muda itu mengenakan kaos biru dan jeans. Tak ada yang mengenali siapa korban ini.
Kabar penemuan mayat di ladang cabaj milik Kaswan segera menjadi topik hangat dan mengerikan di desa Tampu dan sekitarnya.
"sekarang kok banyak mayat ditemukan mayat tak dikenal ya" gumam seorang pria paruh baya
"baru satu ini, kamu bilang banyak" balas pria paruh baya lain di sebelahnya. Mereka sedang dalam berjalan kaki pulang menuju desa Tampu, setelah jenazah tak dikenal itu dibawa polisi untuk penyelidikan lebih lanjut. Kaswan atau siapapun belum di ijinkan memasuki ladang ini sebelum selesai penyelidikan.
"kau tidak tau ya, soal penemuan mayat di desa Buntul sebulan lalu?" tanya pri paruh baya pertama
"masa iya ada yang seperti itu?" pria paruh baya kedua tak percaya
"iya, saat itu mayat ditemukan di dalam drum di kebun kopinya, korbannya juga seorang pria muda, mayatnya jauh lebih mengerikan daripada yang baru saja kita lihat"
"kau serius, jangan bercanda"
"mana mungkin aku bercanda tentang ini,korban di desa Buntul, mayant seperti di cincang-cincang, dagingnya terkoyak seperti di carak, pokonya mengerikan" pria paruh baya pertama bergidik menceritakannya.
"kau tau dari mana?" tanya pria paruh baya kedua
"ipar ku salah satu saksinya, ia ada dikebun ketika mendengar terikan perempuan yang menemukan mayat korban" jelas pria paruh baya pertama
🌹
Tawanya lepas kala melihat siaran di televisi yang sedang ramai saat ini. Pria ini baru saja memasak sarapan, sarapan yang sangat terlambat, ketika pembawa acara di televisi menyiarkan berita penemuan mayat di sebuah ladang cabai warga di desa Tampu. Demi menyaksikan berita yang disiarkan, pria itu bersila pada tikar di depan televisi, suap demi suap nasi masuk kedalam mulutnya.
Keterangan yang diberikan petugas kepolisian. Korban berusia sekitar 25-30 tahun, kematian korban diakibatkan jeratan tali di leher korban. Dari hasil pemeriksaan, korban diperkirakan meninggal sekitar 5-8 jam yang lalu, dan bisa dipastikan bahwa korban tidak meninggal ditempat dimana jasadnya ditemukan.
Seorang reporter menanyakan bahwa ini jelas kasus pembunuhan. Polisi itu membenarkannya.
"apakah ini ada hubungannya dengan mayat yang ditemukan bulan lalu di desa Buntul pak, yang mana diketahui jaraknya dengan desa Tampu hanya dipisahkan oleh dua desa?" tanya seorang reporter pria
"kami belum bisa memastikan, sejauh ini masih perlu dilakukan penyelidikan menyeluruh"
Pria itu terus menyantap sarapannya yang lebih tepat makan siang, ketika televisi memperlihatkan gambar lokasi penemuan mayat.
"yang bulan lalu saja belum selesai, sekarang mereka akan melakukan apa ya?" gumannya. Tawa mengejek mengiringi akhir kalimatnya. Ia bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci piring yang baru ia gunaka untuk makan.