Surat demi surat dibacakan.
Ada yang meminta maaf karena pernah menyebarkan gosip. Ada yang berterima kasih kepada teman sebangkunya. Ada pula yang mengaku sengaja meminjam penghapus selama enam bulan hanya supaya punya alasan mengajak seseorang bicara.
Sampai akhirnya tersisa satu surat.
Nadira membukanya.
“Untuk seseorang yang namanya berarti waktu menjelang malam.”
Senja langsung mengangkat kepala.
“Gue nggak tahu sejak kapan mulai memperhatikan lo. Mungkin sejak lo meminjamkan pulpen waktu ujian, atau sejak lo bilang kalau orang pendiam bukan berarti nggak punya cerita.”
“Lo pernah bilang, senja itu indah karena tahu kapan harus pergi. Tapi menurut gue, ada hal-hal yang justru indah karena memilih tinggal.”
“Gue nggak minta lo membalas apa-apa. Gue cuma mau lo tahu, di antara tiga puluh enam manusia berisik dalam ruangan ini, ada satu orang yang selalu berharap hari sekolah berjalan sedikit lebih lama.”
Kelas mendadak sunyi.
Kemudian—
“CIEEEEEEE!”
“SIAPA ITU?!”
“ANJIR, SASTRAWAN KELAS TURUN GUNUNG!”
Senja menatap kertas itu dengan wajah memerah.
Sementara Arkan tetap duduk tenang, memainkan tutup pulpennya.
“Kan,” bisik Senja.
“Hm?”
“Lo tahu siapa yang nulis?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Kalau tahu, emangnya kenapa?”
Senja terdiam sebentar.
“Gue cuma mau bilang makasih.”
Arkan menoleh ke jendela.
“Ya udah. Anggap aja orangnya udah dengar.”
Sepulang sekolah, Nadira masih berada di kelas.
Dia sibuk merapikan surat-surat yang berserakan di meja guru ketika Raka datang membawa dua kotak susu cokelat.
“Nih.”
Nadira melirik. “Buat apa?”
“Buat diminum. Masa buat ngepel?”
“Tumben lo baik.”
“Gue emang baik. Cuma kurang publikasi.”
Nadira menerima kotak susu itu.
Mereka duduk berdampingan, memandangi lapangan yang mulai sepi.
“Ka,” panggil Nadira pelan.
“Hm?”
“Menurut lo, gue nyebelin banget, ya?”
Raka terdiam.
Biasanya dia punya seribu jawaban konyol untuk pertanyaan semacam itu.
Tapi kali ini tidak.
“Kadang,” jawabnya.
Nadira tertawa hambar.
“Tapi,” lanjut Raka, “kalau nggak ada lo, kelas ini mungkin udah jadi cabang kebun binatang.”
“Emang sekarang bukan?”
“Sekarang masih kebun binatang terakreditasi A.”
Nadira akhirnya tertawa sungguhan.
Raka ikut tersenyum.
“Dir, lo nggak harus ngurus semuanya sendirian. Kalau capek, bilang. Kita emang sekumpulan manusia nggak jelas, tapi bukan berarti nggak bisa diandelin.”
Nadira menatapnya.
Untuk pertama kalinya, cowok yang selalu dia anggap sumber masalah itu terdengar seperti seseorang yang memahami isi kepalanya.
“Raka.”
“Apa?”
“Makasih.”
“Sama-sama. Tapi jangan baper.”
“Najis.”
“Nah, gitu dong. Ketua kelas gue udah balik.”
Sore itu, hujan turun ketika bel pulang sudah lama berhenti berbunyi.
Bima duduk di depan kelas, tidak melawak seperti biasanya. Beberapa teman memilih menemaninya, membicarakan hal-hal kecil yang tidak penting tetapi terasa menyenangkan.
Senja berdiri di koridor bersama Arkan.
“Kan.”
“Hm?”
“Surat terakhir tadi tulisan lo, ya?”
Arkan menatap hujan.
“Kalau iya?”
Senja tersenyum kecil.
“Berarti tulisan tangan lo jelek banget.”
Arkan tertawa.
“Gue kira lo bakal bilang sesuatu yang puitis.”
“Ngapain? Lo udah ngabisin jatah puisi satu kelas.”
Mereka tertawa bersama.
Tidak ada pengakuan dramatis. Tidak ada janji akan bersama selamanya.
Hanya dua anak SMA yang berdiri di bawah atap sekolah, membiarkan hujan mengulur waktu sebelum pulang.
Dan mungkin, untuk usia mereka saat itu, hal sesederhana itu sudah cukup.
Beberapa minggu kemudian, sebuah tulisan muncul di papan pengumuman kelas XI IPS 2.
Tidak ada nama penulisnya.
Hanya selembar kertas dengan judul:
“Untuk Kita yang Pernah Berisik di Ruangan yang Sama.”
Suatu hari nanti, bangku-bangku ini akan ditempati orang lain.
Nama kita mungkin terhapus dari meja, suara kita digantikan tawa yang berbeda, dan papan tulis tak lagi mengenali tulisan tangan kita.
Kita akan tumbuh menjadi orang-orang yang sibuk mengejar dunia. Barangkali, beberapa dari kita akan kehilangan kabar, beberapa lainnya hanya akan menjadi nama yang sesekali muncul dalam ingatan.
Tetapi sebelum hari itu tiba, izinkan kita menjadi remaja yang sedikit berantakan.
Yang tertawa saat seharusnya diam.
Yang jatuh cinta tanpa tahu caranya mengungkapkan.
Yang bertengkar karena hal sepele, lalu berbaikan hanya karena sebungkus cilok.
Yang diam-diam menyimpan luka, tetapi tetap datang ke sekolah dengan harapan hari ini akan lebih baik daripada kemarin.
Sebab masa muda bukan tentang menjadi sempurna.
Melainkan tentang menemukan orang-orang yang membuat ketidaksempurnaan terasa layak dikenang.
Di bawah tulisan itu, seseorang menambahkan kalimat menggunakan spidol merah.
“Tapi siapa pun yang nulis ini, tolong bayar kas. Kita minus Rp87.000.” — Nadira.
Lalu muncul tulisan lain.
“Sastra boleh tinggi, ekonomi tetap membumi.” — Raka.
Disusul tulisan Bima.
“GUE SUMBANG DUA RIBU, TAPI PINJEM DULU.”
Dan paling bawah, dengan tulisan kecil yang hampir tidak terlihat:
“Ternyata, rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Kadang, ia hanya sebuah kelas dengan tiga puluh enam manusia yang enggan kita tinggalkan.” — Senja.
Pagi berikutnya, kelas XI IPS 2 kembali berisik.
Nadira kembali marah-marah.
Raka kembali tidur.
Bima kembali membuat lelucon tidak penting.
Senja kembali menulis.
Dan Arkan kembali mencari alasan untuk meminjam pulpen yang sebenarnya sudah ada di sakunya.
Tidak ada yang berubah secara besar-besaran.
Namun, mereka mulai mengerti satu hal.
Bahwa suatu hari, yang paling dirindukan dari sekolah mungkin bukan nilai sempurna, piala kemenangan, atau siapa yang pernah menjadi cinta pertama.
Melainkan suara teman yang memanggil nama kita dari ujung kelas, tepat sebelum bel pulang berbunyi.
Karena ternyata, hal-hal yang kita anggap biasa hari ini, bisa menjadi kenangan paling luar biasa di kemudian hari.
(Tamat)...