“Katanya, masa SMA adalah masa paling indah. Tapi nggak ada yang bilang kalau di dalamnya, kita juga belajar kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat kita miliki.”
Kalau ada penghargaan untuk kelas paling berisik seantero SMA Nawasena, XI IPS 2 mungkin sudah memenangkan pialanya tiga tahun berturut-turut. Padahal, mereka baru kelas sebelas.
Di kelas itu, ada tiga puluh enam manusia dengan tingkat kewarasan berbeda-beda. Ada yang ambisius mengejar ranking, ada yang sibuk mengejar cinta, dan ada juga yang datang ke sekolah cuma buat menikmati AC gratis.
Salah satunya adalah Raka Mahendra.
Cowok itu punya prinsip hidup sederhana: selama masih bisa dikerjakan besok, kenapa harus dikerjakan hari ini?
Sayangnya, prinsip itu bertolak belakang dengan Nadira Aksara, ketua kelas yang percaya bahwa keterlambatan mengumpulkan tugas adalah salah satu bentuk pengkhianatan terhadap masa depan.
“RAKA!”
Suara Nadira menggema sampai koridor.
Raka yang sedang tidur dengan buku matematika menutupi wajahnya cuma mengangkat satu jempol.
“Hadir, Bu Presiden.”
“Lo belum bayar kas tiga minggu!”
“Gue lagi nabung.”
“Nabung apaan?”
“Nabung kesabaran menghadapi lo.”
Seketika kelas pecah oleh tawa.
Dari bangku belakang, Bima ikut berteriak, “DIRA, UDAH! JANGAN BERANTEM MULU! KALIAN TUH KAYAK PASANGAN GAGAL NIKAH!”
“BIMA, DIEM!”
“NAH, KOMPAK KAN!”
Di sudut ruangan, seorang cewek bernama Senja Kirana cuma menggeleng sambil menuliskan sesuatu di buku kecilnya.
Ada manusia yang datang seperti hujan: berisik, merepotkan, tetapi diam-diam membuat hari terasa lebih hidup.
“Lo nulis puisi lagi, Ja?”
Senja menoleh. Di sampingnya sudah berdiri Arkan, cowok yang terkenal paling irit bicara sekelas.
“Bukan. Lagi nulis daftar orang yang pengin gue lempar dari lantai dua.”
“Nama gue ada?”
“Urutan pertama.”
Arkan mengangguk santai. “Lumayan. Berarti gue prioritas.”
Senja mendengus.
Arkan tersenyum tipis.
Dan seperti biasa, tidak ada yang menyadari bahwa cowok yang hampir tidak pernah tersenyum itu selalu punya alasan untuk mendatangi bangku Senja.
Masalah dimulai pada hari Rabu.
Bu Ratih, wali kelas mereka, datang membawa sebuah kardus bekas mi instan.
“Anak-anak, Ibu punya proyek untuk kalian.”
“BU, JANGAN PROYEK LAGI!” teriak Bima. “PROYEK KEHIDUPAN SAYA AJA BELUM SELESAI!”
“Bima, kamu mau Ibu pindahkan ke kelas sebelah?”
“Jangan, Bu. Di sana ada mantan saya.”
“Memangnya kamu punya mantan?”
“Belum, Bu. Tapi siapa tahu calon mantan saya ada di sana.”
Satu kelas kembali tertawa.
Bu Ratih hanya menghela napas, mungkin sedang mempertanyakan keputusan hidupnya menjadi guru.
“Proyeknya sederhana. Setiap orang menulis satu surat tanpa nama. Isinya boleh tentang siapa pun di kelas ini. Sesuatu yang belum pernah kalian berani sampaikan.”
“Boleh confess, Bu?” tanya Bima antusias.
“Boleh.”
“Boleh nagih utang?”
“Bima.”
“Baik, Bu. Saya mengerti batasan demokrasi.”
Surat-surat itu nantinya akan dibacakan secara acak pada hari Jumat.
Awalnya, semua menganggapnya permainan receh.
Sampai Jumat benar-benar datang.
Surat pertama dibacakan Nadira.
“Buat orang yang selalu duduk dekat jendela. Gue tahu lo sering pura-pura tidur supaya nggak ada yang ngajak ngobrol. Tapi gue juga tahu, setiap ada teman yang kesusahan, lo orang pertama yang diam-diam bantu. Lo nggak seburuk yang orang-orang kira.”
Semua langsung menoleh ke Raka.
“ANJIR, RAKA PUNYA PENGAGUM RAHASIA!” teriak Bima.
Raka tertawa. “Wajar. Pesona orang miskin kas emang beda.”
Namun, setelah semua kembali ribut, cowok itu diam-diam menunduk.
Sebab, selama ini dia mengira tidak ada yang benar-benar memperhatikannya.
Surat kedua membuat suasana berubah.
“Buat ketua kelas. Lo mungkin nggak sadar, tapi cara lo selalu ingin semuanya sempurna kadang bikin orang lain merasa nggak pernah cukup baik. Kita teman sekelas, bukan anak buah lo.”
Senyum Nadira perlahan menghilang.
Tidak ada yang tertawa.
Bahkan Bima, untuk pertama kalinya dalam sejarah, memilih menutup mulut.
“Lanjut aja,” kata Nadira akhirnya.
Tapi suaranya tidak setegas biasanya.
Surat ketiga ditujukan kepada Bima.
“Terima kasih sudah selalu bikin kelas ketawa. Tapi lo nggak harus lucu setiap waktu. Kalau lagi capek, lo boleh diam. Kita tetap bakal menganggap lo teman.”
Bima membaca surat itu dua kali.
Lalu tertawa kecil.
“Siapa nih yang nulis? Tumben banget ada yang peduli sama badut negara.”
Namun, kali ini tawanya terdengar berbeda.
Seperti seseorang yang akhirnya diberi izin untuk berhenti berpura-pura.
(bersambung)...