Penyihir Terburuk yang Menantang Sang Jenius
Di dunia tempat kekuatan sihir menentukan harga diri seseorang, seorang murid tanpa bakat berani menantang jenius terhebat di akademi.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat.
Melainkan untuk membuktikan bahwa mimpinya tidak pernah menjadi sesuatu yang mustahil.
PROLOG — Anak yang Tidak Bisa Menggunakan Sihir
Di dunia ini, setiap manusia dilahirkan dengan inti sihir yang berada di dalam jantung mereka.
Inti itu menentukan seberapa banyak mana yang dapat mereka hasilkan, seberapa kuat mantra yang bisa mereka gunakan, dan seberapa jauh mereka dapat melangkah dalam dunia sihir.
Anak-anak biasanya menjalani pemeriksaan pertama ketika berusia tujuh tahun.
Ada yang mendapatkan inti sihir tingkat rendah.
Ada yang memperoleh inti tingkat menengah.
Dan beberapa anak yang sangat langka terlahir dengan inti sihir tingkat tinggi.
Mereka disebut para jenius.
Namun, pada suatu musim dingin, seorang anak laki-laki menjalani pemeriksaan yang berbeda dari anak-anak lainnya.
Namanya adalah Leon Arvandel.
Usianya tujuh tahun.
Rambutnya hitam berantakan, matanya berwarna abu-abu, dan pakaiannya tampak sedikit kebesaran. Ia berdiri di hadapan sebuah kristal transparan di ruang pemeriksaan.
Salah seorang pemeriksa meletakkan tangannya di atas kristal.
"Letakkan tanganmu di sini, anak muda."
Leon menurut.
Kristal itu menyala.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Kemudian cahaya di dalamnya meredup.
Pemeriksa mengerutkan kening.
Ia mencoba sekali lagi.
Tidak ada perubahan.
"Mustahil."
Pria itu mengangkat kristal, memeriksanya dari berbagai sudut, kemudian meminta asistennya mengganti alat pemeriksaan.
Hasilnya tetap sama.
Tidak ada respons mana.
Tidak ada gelombang sihir.
Tidak ada apa pun.
"Anak ini tidak memiliki inti sihir yang dapat dideteksi."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun bagi seorang anak berusia tujuh tahun, kalimat tersebut menjadi awal dari mimpi buruk yang panjang.
Ibunya menggenggam bahunya.
"Apakah ada kesalahan?"
Pemeriksa menggeleng.
"Kami sudah mengulang pemeriksaan tiga kali."
Leon menatap kristal itu.
Ia tidak memahami apa yang salah dengan dirinya.
Ia hanya tahu bahwa anak-anak lain dapat menghasilkan cahaya dari tangan mereka, sementara dirinya tidak bisa.
Dalam perjalanan pulang, Leon menggenggam tangan ibunya.
"Bu."
"Ya, sayang?"
"Kalau aku tidak punya sihir, apakah aku tetap bisa menjadi penyihir?"
Ibunya terdiam.
Untuk beberapa saat, ia tidak menemukan jawaban.
Kemudian ia berlutut di hadapan putranya.
"Leon, dengarkan Ibu."
Ia tersenyum lembut.
"Kamu boleh menjadi apa pun yang kamu inginkan. Tetapi kalau kamu ingin menjadi penyihir, jalanmu mungkin akan lebih sulit daripada orang lain."
Leon mengangguk.
Ia tidak menangis.
Ia hanya memandang langit yang mulai gelap.
Hari itu, ia membuat sebuah janji.
Suatu hari nanti, ia akan menjadi penyihir hebat.
Bahkan jika seluruh dunia mengatakan bahwa hal tersebut mustahil.
Namun, tujuh tahun kemudian, Leon mulai memahami betapa kejamnya dunia terhadap seseorang yang tidak memiliki bakat.
Dan ketika ia akhirnya berdiri di gerbang akademi sihir paling bergengsi di kerajaan, ia mendengar seseorang tertawa.
"Jadi, orang tanpa sihir itu benar-benar mendaftar?"
Leon berhenti melangkah.
Di depannya berdiri seorang pemuda berambut perak dengan seragam hitam berlapis emas.
Tatapannya tenang.
Sikapnya angkuh.
Di dada kirinya terdapat lambang keluarga bangsawan yang sangat terkenal.
Pemuda itu tersenyum tipis.
"Menarik. Aku ingin melihat seberapa jauh seseorang tanpa sihir bisa bertahan."
Namanya Caelum Edevane.
Murid dengan hasil ujian tertinggi dalam sejarah Akademi Sihir Asteria.
Jenius yang diperkirakan akan menjadi penyihir agung sebelum berusia dua puluh tahun.
Dan orang yang kelak menjadi rival terbesar Leon.
BAB 1 — Akademi Para Jenius
Akademi Sihir Asteria berdiri di atas sebuah dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan.
Menara-menara putih menjulang ke langit. Jembatan melayang menghubungkan gedung-gedung utama, sementara puluhan lingkaran sihir berputar di atas lapangan latihan.
Bagi banyak orang, akademi itu adalah tempat impian.
Tempat para bangsawan mengirimkan anak-anak mereka.
Tempat para jenius mengasah bakat.
Dan tempat para calon penyihir terhebat di kerajaan memulai perjalanan mereka.
Bagi Leon, tempat itu adalah medan perang pertamanya.
"Nama?"
"Leon Arvandel."
"Nilai ujian teori?"
"Sembilan puluh enam."
Petugas penerimaan mengangkat alis.
"Ujian praktik?"
Leon terdiam sebentar.
"Empat."
Petugas itu mengangkat kepalanya.
"Empat?"
"Dari seratus."
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa siswa yang sedang mengantre mulai tertawa.
"Nilai teori sembilan puluh enam, tapi praktik empat?"
"Dia bisa membaca buku, tapi tidak bisa menggunakan sihir?"
"Untuk apa dia datang ke akademi ini?"
Leon mengabaikan mereka.
Petugas itu menghela napas.
"Kau tahu bahwa akademi ini mengutamakan kemampuan praktik, bukan?"
"Tahu."
"Kau juga tahu bahwa siswa yang gagal memenuhi standar dapat dikeluarkan?"
"Tahu."
"Lalu kenapa tetap mendaftar?"
Leon menatapnya.
"Karena saya ingin belajar menjadi penyihir."
Petugas itu terdiam.
Jawaban tersebut terdengar begitu sederhana hingga hampir menyebalkan.
Ia menyerahkan sebuah kartu identitas.
"Kelas F. Ruang kelas berada di gedung timur."
Leon menerima kartu itu.
Di Akademi Asteria, para siswa dibagi menjadi lima kelas berdasarkan kemampuan mereka.
Kelas S untuk para jenius.
Kelas A untuk siswa berbakat.
Kelas B untuk siswa dengan kemampuan rata-rata.
Kelas C untuk siswa di bawah rata-rata.
Dan kelas F untuk mereka yang dianggap paling tidak menjanjikan.
Leon mendapatkan kelas F.
Ia tidak terkejut.
Yang mengejutkannya adalah kenyataan bahwa beberapa siswa di kelas tersebut memiliki kemampuan sihir yang jauh lebih baik daripada dirinya.
Ada seorang gadis yang hanya mampu menggunakan mantra tingkat rendah.
Ada seorang anak laki-laki yang sering kehilangan kendali atas mantranya.
Dan ada seorang siswa bertubuh besar yang tidak bisa menghafal rumus sihir dengan benar.
Mereka semua memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Leon.
Inti sihir.
Sementara Leon bahkan tidak bisa menghasilkan percikan cahaya dari ujung jarinya.
"Hei, kau murid baru?"
Seorang pemuda berambut cokelat menghampirinya.
"Namaku Finn. Finn Calder."
"Leon."
Finn memandangnya dari kepala sampai kaki.
"Aku dengar nilai teorimu tinggi."
"Begitu katanya."
"Tapi kemampuan praktikmu buruk."
"Sepertinya begitu."
Finn menggaruk kepala.
"Kau selalu menjawab seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seolah-olah kau tidak peduli."
Leon memandang jendela.
"Aku peduli."
"Lalu kenapa santai sekali?"
Leon tersenyum kecil.
"Kalau aku harus sedih setiap kali seseorang mengatakan aku tidak berbakat, kapan aku punya waktu untuk belajar?"
Finn terdiam.
Kemudian ia tertawa.
"Kau aneh."
"Aku sering mendengarnya."
Hari pertama Leon di kelas F berakhir tanpa kejadian istimewa.
Ia tidak mendapatkan teman dekat.
Tidak juga membuat musuh.
Namun, ketika melewati lapangan utama saat pulang, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya berhenti.
Di tengah lapangan, seorang pemuda berambut perak sedang berlatih.
Caelum Edevane.
Ia mengangkat satu tangan.
Enam lingkaran sihir muncul di udara.
Api, air, angin, tanah, petir, dan cahaya berputar mengelilinginya.
Dengan gerakan kecil, keenam elemen itu menyatu menjadi sebuah tombak bercahaya.
Caelum melemparkannya.
DUAARRR!
Sasaran latihan di ujung lapangan hancur seketika.
Para siswa bersorak.
Instruktur mengangguk puas.
Caelum bahkan tidak terlihat kelelahan.
Ia berdiri dengan ekspresi datar, seolah-olah baru saja melakukan sesuatu yang biasa.
Leon memandangnya lama.
Bukan dengan kebencian.
Bukan pula dengan rasa iri yang membutakan.
Ia hanya merasa kagum.
Betapa hebatnya seseorang yang bisa melakukan sesuatu yang selama ini hanya dapat ia bayangkan.
Leon mengepalkan tangannya.
Suatu hari nanti, ia ingin berdiri di lapangan itu.
Bukan sebagai penonton.
Melainkan sebagai seseorang yang pantas berada di sana.
BAB 2 — Tantangan dari Sang Jenius
Dua minggu pertama berjalan dengan buruk.
Leon gagal dalam pelajaran pengendalian mana.
Ia gagal dalam latihan mantra dasar.
Bahkan saat ujian sederhana untuk menyalakan lilin menggunakan sihir, ia hanya berhasil membuat sumbu lilin itu sedikit berasap.
Instruktur menatapnya dengan ekspresi lelah.
"Arvandel, kau bisa mengulang rumus ini seribu kali, tetapi tanpa mana, kau tidak akan menghasilkan apa pun."
Leon menunduk.
"Baik, Pak."
"Pertimbangkan kembali tujuanmu berada di sini."
Kalimat itu terdengar seperti nasihat.
Namun Leon tahu, bagi sebagian orang, itu adalah cara halus untuk menyuruhnya menyerah.
Setelah kelas berakhir, ia tetap tinggal di ruang latihan.
Ia mencoba lagi.
Dan lagi.
Sampai telapak tangannya memerah karena terlalu lama menggenggam tongkat sihir.
Hasilnya tetap sama.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada mantra.
Hanya keheningan.
"Kau benar-benar keras kepala."
Leon menoleh.
Caelum berdiri di pintu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Berlatih."
"Aku bisa melihatnya."
Leon kembali memandang tongkatnya.
Caelum berjalan mendekat.
"Kenapa tidak menyerah?"
Leon tertawa kecil.
"Pertanyaan itu sudah sering kudengar."
"Aku bertanya karena ingin tahu jawabannya."
Leon berpikir sejenak.
"Karena kalau aku menyerah sekarang, aku akan menghabiskan sisa hidupku bertanya-tanya apakah aku sebenarnya bisa berhasil."
Caelum terdiam.
Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.
"Kau tahu, bahkan siswa kelas C bisa menggunakan mantra dasar," katanya.
"Aku tahu."
"Beberapa dari mereka sudah bisa membuat perisai sihir."
"Aku tahu."
"Kau bahkan tidak bisa menyalakan lilin."
Leon mengangguk.
"Aku tahu."
Caelum mengerutkan kening.
"Apakah kau tidak merasa malu?"
Kali ini, Leon berhenti bergerak.
Ia menatap Caelum.
"Tentu saja."
Jawaban itu membuat Caelum terdiam.
"Aku malu ketika semua orang tertawa. Aku malu ketika instruktur menyuruhku menyerah. Aku malu setiap kali melihat orang lain melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan."
Leon menarik napas.
"Tapi rasa malu tidak akan mengajariku cara menggunakan sihir."
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Caelum tersenyum tipis.
"Baiklah."
Ia mengangkat tangan.
Sebuah bola api kecil muncul di telapak tangannya.
"Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan."
Leon memandang bola api tersebut.
"Apa?"
"Tiga bulan dari sekarang, akademi akan mengadakan ujian duel antarkelas."
"Aku tahu."
"Kalau kau berhasil mengalahkanku, aku akan mengakui bahwa kau pantas menjadi penyihir."
Leon berkedip.
"Kau ingin berduel denganku?"
"Tidak. Aku ingin melihat seberapa jauh kau bisa melangkah."
Caelum memadamkan bola api di tangannya.
"Namun, jika kau gagal mencapai tahap duel, kau harus berhenti mengaku ingin menjadi penyihir hebat."
Leon menatapnya.
Itu bukan tantangan yang adil.
Caelum adalah jenius dengan enam elemen sihir.
Sementara dirinya bahkan tidak bisa menggunakan satu mantra dasar.
Namun, untuk pertama kalinya, seseorang memberinya tenggat waktu yang jelas.
Tiga bulan.
Leon mengulurkan tangannya.
"Baik."
Caelum menatap tangan itu, lalu menjabatnya.
"Jangan mengecewakanku, Leon Arvandel."
Setelah Caelum pergi, Leon menatap tangannya sendiri.
Ia tahu tantangan itu hampir mustahil.
Namun, justru karena itulah ia menerimanya.
Sebab jika dunia hanya mengizinkan orang berbakat untuk bermimpi, ia ingin menjadi orang pertama yang membuktikan bahwa dunia salah.
BAB 3 — Bakat Bukan Segalanya
Leon mulai mengubah cara latihannya.
Selama ini, ia mencoba menggunakan sihir seperti siswa lainnya.
Ia menghafal mantra.
Mengikuti gerakan tangan.
Memusatkan pikiran.
Dan berharap mana muncul dari dalam tubuhnya.
Namun, tidak ada hasil.
Karena itu, ia mulai mempelajari sesuatu yang hampir tidak pernah diperhatikan siswa lain.
Struktur mantra.
Setiap mantra memiliki tiga komponen utama.
Pertama, rumus yang menentukan bentuk sihir.
Kedua, mana yang menjadi sumber energi.
Ketiga, pola pelepasan yang mengarahkan hasil akhirnya.
Kebanyakan siswa mempelajari ketiganya secara bersamaan melalui latihan.
Leon tidak punya pilihan selain memisahkannya.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan.
Membaca buku-buku sihir kuno.
Membandingkan diagram mantra.
Mencatat kesalahan kecil yang bahkan tidak disadari para instruktur.
Ia menemukan sesuatu yang menarik.
Banyak mantra dasar menggunakan pola yang sama, hanya dengan susunan berbeda.
Dan beberapa mantra menghabiskan lebih banyak mana daripada yang sebenarnya diperlukan.
Leon mulai menulis ulang rumus-rumus itu.
Ia tidak dapat menciptakan mana.
Namun, ia bisa memahami bagaimana mana bekerja.
Masalahnya, pengetahuan saja tidak cukup.
Suatu malam, ia duduk di perpustakaan dengan puluhan buku terbuka.
Matanya terasa panas.
Tangannya gemetar karena kelelahan.
Finn yang baru kembali dari ruang latihan menghampirinya.
"Kau belum pulang?"
"Sebentar lagi."
"Kau mengatakan itu tiga jam lalu."
Leon tersenyum.
Finn melirik tumpukan catatannya.
"Kau sedang membuat apa?"
"Metode untuk mengurangi penggunaan mana dalam mantra dasar."
Finn mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena aku tidak bisa menghasilkan mana sendiri."
"Jadi?"
Leon menutup bukunya.
"Kalau aku tidak bisa menjadi lebih kuat daripada orang lain dalam hal jumlah mana, aku harus menemukan cara agar jumlah kecil yang mereka miliki bisa digunakan dengan lebih baik."
Finn terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Leon tidak sedang mencoba mengejar ketertinggalannya dengan cara biasa.
Leon sedang mencari jalan lain.
Jalan yang belum tentu berhasil.
Jalan yang bahkan belum tentu diakui oleh akademi.
Namun, Finn tidak menertawakannya.
Ia menarik kursi dan duduk.
"Baiklah. Apa yang harus kulakukan?"
Leon menatapnya.
"Bukankah kau punya latihan?"
"Besok saja."
Finn menyeringai.
"Aku ingin tahu apakah ide gilamu bisa berhasil."
Malam itu, mereka mencoba metode pertama.
Gagal.
Metode kedua.
Gagal lagi.
Metode ketiga membuat sebuah bola cahaya muncul selama kurang dari satu detik sebelum meledak menjadi percikan kecil.
Finn terbatuk karena asap.
Leon memandang hasilnya.
Kemudian tertawa.
Mereka tertawa bersama.
Bukan karena berhasil.
Melainkan karena untuk pertama kalinya, kegagalan terasa seperti sesuatu yang bisa mereka hadapi bersama.
Sejak malam itu, Finn menjadi rekan latihan Leon.
Ia menyediakan mana.
Leon menyusun rumus.
Mereka mencoba berbagai metode sampai akhirnya menemukan sebuah teknik sederhana yang mampu mengurangi konsumsi mana hampir setengahnya.
Teknik itu tidak membuat Finn menjadi lebih kuat secara tiba-tiba.
Namun, ia bisa mempertahankan perisai sihir lebih lama daripada sebelumnya.
Finn memandang tangannya sendiri dengan takjub.
"Leon."
"Hm?"
"Kau benar-benar berhasil."
Leon tersenyum.
"Belum. Kita baru menemukan satu cara untuk membuatmu lebih efisien."
Finn menggeleng.
"Tetap saja."
Ia menepuk bahu Leon.
"Kau mungkin tidak bisa menggunakan sihir seperti kami. Tapi kau bisa melihat hal-hal yang tidak kami lihat."
Leon tidak menjawab.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, ia mulai percaya bahwa mungkin masih ada tempat untuk dirinya di dunia sihir.
BAB 4 — Duel yang Tidak Seimbang
Tiga bulan berlalu.
Hari ujian duel antarkelas akhirnya tiba.
Arena akademi dipenuhi siswa.
Lingkaran pelindung mengelilingi lapangan.
Para instruktur berdiri di panggung pengawas.
Nama-nama peserta dipanggil satu per satu.
Caelum Edevane memenangkan pertandingannya hanya dalam waktu beberapa menit.
Ia bahkan tidak perlu menggunakan seluruh kekuatannya.
Bagi para penonton, kemenangan itu sudah bisa diprediksi sejak awal.
Namun, perhatian mereka berubah ketika nama berikutnya diumumkan.
"Peserta selanjutnya, Leon Arvandel dari kelas F!"
Tawa terdengar dari berbagai penjuru.
"Dia masih berani ikut?"
"Katanya bahkan mantra dasar saja tidak bisa."
"Pertandingan ini pasti selesai dalam beberapa detik."
Leon melangkah ke arena.
Tangannya dingin.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia tahu semua orang meragukannya.
Bahkan dirinya sendiri terkadang masih meragukan kemampuannya.
Namun, ia tetap berjalan.
Sebab keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu belum hilang.
Di seberang arena, lawannya sudah bersiap.
Seorang siswa kelas C dengan kemampuan sihir api.
"Jangan salahkan aku kalau kau terluka," kata lawannya.
Leon mengangguk.
"Begitu juga denganku."
Bel berbunyi.
Lawan Leon langsung mengangkat tongkat.
"Bola Api!"
Tiga bola api melesat ke arahnya.
Leon bergerak menghindar.
Bola pertama menghantam tanah.
Bola kedua melewati bahunya.
Bola ketiga menyambar ujung seragamnya.
Sorakan penonton semakin keras.
Leon tidak mencoba membalas dengan mantra.
Ia tidak bisa.
Sebaliknya, ia memperhatikan pola gerakan lawannya.
Setiap kali menggunakan sihir api, lawannya mengayunkan tongkat ke kanan.
Setiap kali mengubah arah serangan, ia membutuhkan jeda singkat untuk mengatur kembali aliran mana.
Kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun, itulah celah yang dicari Leon.
Ia berlari ke depan.
Lawannya terkejut.
"Dasar bodoh! Dinding Api!"
Api menyala di antara mereka.
Leon berhenti tepat sebelum menyentuhnya.
Kemudian ia melemparkan sebuah benda kecil ke tanah.
Sebuah kristal latihan.
Kristal itu memantulkan cahaya api ke arah yang berbeda.
Untuk sepersekian detik, lawannya kehilangan fokus.
Leon memanfaatkan kesempatan itu untuk bergerak ke samping.
Ia tidak menyerang tubuh lawannya.
Ia menendang tongkat sihir yang tergeletak di dekat kaki lawan, membuatnya bergeser dan mengganggu keseimbangan lawannya.
Siswa itu jatuh berlutut.
Arena menjadi sunyi.
Leon berdiri beberapa langkah darinya, terengah-engah.
Ia tidak menang karena memiliki sihir lebih kuat.
Ia menang karena memperhatikan sesuatu yang tidak diperhatikan lawannya.
Namun, sebelum hasil pertandingan diumumkan, instruktur mengangkat tangan.
"Pertandingan dihentikan!"
Leon menegang.
Instruktur memeriksa lawannya, lalu menatap Leon.
"Teknikmu tidak sesuai dengan metode duel sihir standar."
Leon menunduk.
"Maaf, Pak."
"Namun, kau tidak melanggar aturan."
Instruktur terdiam sebentar.
Kemudian mengumumkan hasilnya.
"Pemenang: Leon Arvandel!"
Arena meledak dalam kegaduhan.
Beberapa siswa tidak percaya.
Yang lain mulai berbisik.
Leon sendiri hanya berdiri diam.
Ia menang.
Untuk pertama kalinya, ia memenangkan pertandingan di hadapan semua orang.
Dari tribun utama, Caelum Edevane memperhatikannya dengan tatapan serius.
Kemudian ia tersenyum.
Bukan senyum mengejek.
Melainkan senyum seseorang yang akhirnya menemukan lawan yang layak untuk ditunggu.
"Bagus, Leon."
Ia mengepalkan tangannya.
"Jangan berhenti sampai di sini."
Bersambung...