Bagian 1: Kamar Beraroma Minyak Kayu Putih
Lampu kamar ibu tak pernah benar-benar padam sejak tiga tahun lalu. Cahayanya selalu temaram, membiaskan bayangan botol-botol obat, selang oksigen portabel, dan tumpukan popok dewasa di sudut meja. Di situlah duniamu berpusat, Arum.
Pukul tiga pagi. Ketika seluruh kota masih tertidur nyenyak, jarimu yang gemetar mengusap kening Ibu yang hangat. Dengkur halus Ibu terdengar berat, sesekali tersedak oleh lendir yang menumpuk di tenggorokan. Dengan terampil dan cekatan—keterampilan yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah—kamu mengambil alat penyedot dahak, membersihkannya pelan-pelan agar Ibu tidak terbangun kaget.
"Bagus, Bu... pinter..." bisikmu lirih, mengusap dadanya yang kurus kering.
Kamu melirik ijazah sarjana sains berkulit biru tua yang tergeletak di dalam laci meja belajar. Dulu, lembaran kertas itu dilapisi emas. IPK 3,92. Lulusan terbaik fakultas. Predikat *Summa Cum Laude*. Foto wajahmu yang tersenyum bangga memeluk buket bunga bersama Ibu dan keempat kakakmu masih terpajang di ruang tamu.
Namun, emas itu kini berdebu.
Saat skripsi dulu, ketika Ibu pertama kali divonis stroke ringan dan komplikasi ginjal, kamu adalah satu-satunya anak yang rela mengetik bab demi bab di samping ranjang rumah sakit. Ketika lulus dan langsung diterima di perusahaan multinasional dengan gaji fantastis, kamu hanya sempat mencicipi kursi kantor selama delapan bulan. Kondisi Ibu memburuk. Beliau butuh perawatan 24 jam.
Malam itu, dalam rapat keluarga sederhana, kamu melihat wajah kakak-kakakmu.
"Mbak kan sibuk, Rum. Manajer baru di kantor. Mana bisa bolak-balik rumah sakit?" ujar Mbak Nita, anak sulung yang seluruh biaya pernikahannya dulu ditanggung Ibu dari menjual tanah warisan.
"Mas juga target sales lagi gila-gilanya. Kalau Mas yang jaga, anak-anak Mas siapa yang kasih makan?" sahut Mas Rian. Dia yang dulu dibelikan mobil pertama oleh Ibu agar bisa pamer ke calon mertuanya.
"Aku ada business trip terus ke luar kota, Rum," kata Mas Deni singkat. Rumah dua lantai yang ditinggalinya sekarang adalah hadiah pernikahan dari Ibu.
"Mbak Citra kan baru punya bayi, mana mungkin mengurus Ibu yang butuh tenaga ekstra?" tambah Mbak Citra, anak keempat yang dari kecil hingga anaknya lahir, seluruh biaya pengasuhan anaknya ditanggung oleh pensiunan Ibu.
Mereka semua menatapmu. Si Bungsu. Anak emas yang cerdas, yang baru saja memegang masa depan cerah.
"Kamu kan masih muda, Rum. Karir masih bisa dicari nanti. Lagi pula, kamu kan belum menikah, belum ada beban keluarga," ucap Mbak Nita lembut, namun seperti sembilu yang mengiris pelan.
Malam itu, kamu membuat keputusan. Kamu melayangkan surat pengunduran diri. Kamu memilih Ibu.
---
Bagian 2: Tamu-Tamu yang Menilai
Hari Minggu adalah hari yang paling kamu takuti. Bukan karena pekerjaannya bertambah, melainkan karena rumah akan ramai oleh "para penyelamat".
Pukul sepuluh pagi, deru mobil milik Mas Deni dan Mbak Nita terdengar di pekarangan. Anak-anak mereka berlarian masuk, melempar sepatu sembarangan di teras. Mbak Citra menyusul membawa bungkusan makanan sisa dari restoran.
Kamu keluar dari dapur dengan wajah lelah, tanganmu masih basah setelah mencuci sprei Ibu yang terkena kotoran tadi subuh.
"Aduh, Rum! Ini rumah kok baunya amis gini, sih?" Mbak Nita langsung mengibaskan tangan di depan hidungnya begitu melangkah masuk ke ruang tengah. "Kamu ini gimana, sih, ngurus rumah? Ibu disapu nggak kamarnya?"
Kamu mengelap tangan pada celemek kusam. "Tadi subuh Ibu sempat pup di kasur, Mbak. Sprei baru selesai dijemur. Ini lagi ngetim bubur buat Ibu."
"Bubur terus! Ibu tuh butuh gizi, Arum! Kamu ini sarjana tapi ngurus gizi orang tua saja ndak paham!" sahut Mas Rian yang baru masuk sambil sibuk mengotak-atik ponsel mahalnya. "Coba kasih daging atau buah yang bagusan. Jangan dibikin lemas terus."
Dadamu sesak. Tenggorokanmu bagai tersumbat batu besar.
Mereka tidak tahu. Mereka tidak pernah tahu bahwa uang pensiun Ibu sudah habis untuk membeli obat anti-kejang dan popok bulanan yang harganya melangit. Uang peninggalan Ibu yang mereka bagikan dulu saat Ibu belum sakit parah, tak pernah kembali. Mereka hanya menyisipkan uang seratus atau dua ratus ribu sesekali, itu pun dengan gaya seperti raja membuang koin kepada pengemis.
"Lagian kamu di rumah terus kan nganggur, Rum," timpal Mbak Citra sambil menyuapi anaknya. "Masa bersih-bersih rumah saja ndak becus? Kasihan Ibu. Kalau aku jadi kamu, setidaknya rumah ini dibikin wangi. Jangan kelihatan kayak rumah hantu begini."
"Nganggur?" bisikmu dalam hati. Jiwamu menjerit.
Kamu bangun pukul empat pagi, memandikan Ibu yang berat tubuhnya tak lagi ringan karena kaku sendi, mengganti pampers, menyuapi makan per sendok selama satu jam penuh, menyuntik insulin, mencuci baju, membersihkan rumah, dan tidur hanya dua jam sehari. Kamu tak pernah keluar rumah. Kamu tak punya teman lagi. Wajahmu yang dulu bersih kini pucat, matamu menghitam, jemarimu kasar.
Tapi di mata mereka, kamu hanyalah "si bungsu yang nganggur dan menumpang hidup dari rumah Ibu."
"Mbak," suaramu bergetar, mencoba menahan tangis. "Obat ginjal Ibu tinggal buat dua hari lagi. Uang yang kemarin Mas Rian kasih sudah habis buat beli strip tes gula darah..."
Mbak Nita menghela napas panjang, mendecak keras. "Duh, Rum! Kok habisnya cepat banget, sih? Kamu pakai buat apa saja? Jangan-jangan kamu pakai buat beli jajan kamu, ya?"
Deg.
Jantungmu seakan berhenti berdetak. Kamu menatap Mbak Nita tak percaya. Sandal jepit yang kamu pakai sudah bolong di bagian tumit. Baju yang kamu kenakan adalah kaos lusuh lima tahun lalu. Kamu bahkan tak pernah membeli pelembab bibir lagi sejak resign.
"Mbak... aku nggak pernah pakai uang itu buat diriku sendiri..." air matamu menetes, tak sanggup lagi ditahan.
"Sudah, sudah! Nggak usah drama menangis begitu!" potong Mas Deni galak. "Tinggal bilang kurang berapa! Kita ini capek kerja cari uang di luar, Rum! Kamu enak tinggal duduk manis di rumah jaga Ibu, nggak merasakan stessnya dikejar deadline dan bos!"
Mereka tertawa kecil, membenarkan ucapan Mas Deni. Bagi mereka, mengurus ibu yang sekarat adalah "duduk manis di rumah".
---
Bagian 3: Kenangan yang Terdistorsi
Sore hari, ketika kakak-kakakmu berkumpul di ruang tamu sambil menikmati teh hangat yang kamu buatkan, Ibu terbangun. Suara lenguhan pelan terdengar dari kamar.
Kamu bergegas masuk, namun Mbak Nita mendahuluimu. Dia mendadak menjadi anak paling berbakti di depan kamera ponselnya.
"Ibu... ini Nita, Bu. Nita datang dibawain buah naga kesukaan Ibu," ucap Mbak Nita dengan suara dibuat-buat lembut, merapikan selimut Ibu lalu mengambil foto selfie bersama Ibu yang terbaring lemas.
Ibu yang matanya sudah kabur akibat katarak dan komplikasi stroke, hanya bisa mengedipkan mata lambat. Tangan Ibu yang gemetar mencoba meraih sesuatu. Tangan itu menggapai udara, mencari jemarimu.
"A... rum..." suara Ibu sangat pelan, serak dan hampir tak terdengar. "A... rum..."
Mbak Nita tertawa hambar. "Halah, Bu... Arum terus yang dipanggil. Arum kan cuma di dapur. Ini loh anak-anak Ibu yang sukses pada datang. Mas Rian, Mas Deni, Citra... kami yang sudah kerja keras, Bu."
Kamu berdiri di ambang pintu kamar, memegangi pinggiran kayu pintu hingga kuku-kukumu memutih.
Ibu tidak bisa berbicara banyak, tapi dari sudut matanya, sebakter air mata menetes. Ibu tahu. Ibu sangat tahu siapa yang memotong kukunya setiap minggu, siapa yang memijat kakinya saat kram hebat menyerang di tengah malam, siapa yang membacakannya shalawat hingga Ibu tertidur, dan siapa yang menyiramkan air hangat saat matanya perih.
Namun, di luar kamar, saat kakak-kakakmu bersiap untuk pulang, percakapan di teras rumah kembali meremukkan jantungmu.
"Kasihan ya Ibu," ujar Mas Rian sambil memasak kuncinya ke dalam saku celana mahal. "Dulu waktu kita kecil, Ibu berkorban banyak. Tapi sekarang malah terlantar begini gara-gara diurus sama Arum yang ndak berpengalaman."
"Iya," sahut Mbak Citra. "Coba kalau Arum kerja dan punya uang banyak, kita bisa sewa suster khusus yang profesional. Ini karena Arum nggak punya karir, jadinya ngurus Ibu seadanya saja. Kasihan Ibu."
Mereka lupa.
Mereka lupa bahwa modal usaha Mas Rian dulu adalah hasil Ibu menggadaikan sertifikat rumah ini.
Mereka lupa bahwa rumah megah tempat Mas Deni tinggal adalah hasil Ibu menjual tanah warisan di kampung.
Mereka lupa bahwa anak Mbak Citra dibesarkan oleh Ibu dari bayi hingga balita tanpa sepeser pun bayaran, hingga kesehatan Ibu menurun drastis.
Mereka mengambil seluruh masa muda dan harta Ibu. Dan ketika Ibu tak lagi memiliki apa-apa selain tubuh yang renta dan sakit-sakitan, mereka menyerahkan sisa bongkahan nestapa itu ke pundakmu—lalu menyalahkanmu karena kamu tidak mampu mengubahnya menjadi emas.
"Kalian..." suara melengking keluar dari tenggorokanmu.
Langkah kaki mereka terhenti. Mereka menoleh, menatapmu dengan pandangan meremehkan.
"Kalian bilang aku nganggur?" suaramu gemetar hebat. Airmata mengalir deras membakar pipimu. "Kalian bilang aku enak duduk manis di rumah?"
"Rum, tak usah mulai teriakan tak jelas—"
"SIAPA YANG MEMANDIKAN IBU TIAP PAGI?!" teriakmu meluapkan sesak yang terpendam berthaun-tahun. "Siapa yang merawat luka di punggung Ibu karena terlalu lama berbaring?! Siapa yang bangun tiap jam dua malam saat kalian tidur nyenyak di rumah mewah hadiah dari Ibu?! KALIEN BERBICARA SOAL SUDAH BERKORBAN, TAPI MANA KALIAN WAKTU IBU KRITIS MINGGU LALU?!"
Mbak Nita membelalakkan mata, merasa harga dirunya tercoreng. "Kurang ajar kamu ya, Arum! Kamu berani bentak-bentak kakak kamu?! Kita ini biayain kamu ya!"
"Biayain apa, Mbak?!" kamu tertawa sumbang, suara tawa yang begitu menyayat hati hingga anak Mbak Citra ketakutan. "Seratus ribu seminggu? Dua ratus ribu sebulan? Buat beli pampers Ibu saja kurang! Aku melepas karirku! Aku melepas masa depanku! Aku menolak beasiswa S2-ku demi Ibu! Dan kalian bilang aku menumpang hidup?!"
"Kamu yang pilih sendiri buat resign!" bentak Mas Deni. "Jangan salahkan kami kalau karirmu hancur! Itu salahmu sendiri karena ndak sanggup membagi waktu! Dasar anak tak tahu diri!"
Mereka melangkah pergi. Pintu mobil ditutup kasar. Mesin meraung, meninggalkan debu di pekarangan dan kamu yang tersungkur di lantai teras, menangis meraung-raung meremas dadamu yang hancur berkeping-keping.
---
Bagian 4: Hujan di Bulan November
Kesehatan Ibu memburuk secara drastis di pertengahan bulan November.
Malam itu, hujan lebat mengguyur kota. Listrik padam. Suara petir menyambar-nyambar menggetarkan kaca jendela kamar Ibu. Nafas Ibu terdengar patah-patah, seperti nafas seseorang yang sedang berlari jauh.
Kamu panik. Tanganmu yang gemetar mencoba menghubungi nomor Mbak Nita.
Panggilan ditolak.
Kamu mencoba menghubungi Mas Rian.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
Kamu menelpon Mas Deni dan Mbak Citra. Tak ada satu pun yang mengangkat. Mereka sedang berada di acara pesta ulang tahun anak Mas Deni di sebuah restoran mewah—kamu mengetahuinya dari unggahan status WhatsApp mereka beberapa jam lalu. Di foto itu, mereka tersenyum cerah, mengenakan pakaian seragam yang indah, menikmati hidangan lezat.
Tanpa dirimu. Tanpa Ibu.
"Mas... Mbak... tolong..." ketikmu dengan jemari basah oleh air mata dan keringat dingin. "Nafas Ibu sesak banget. Tolong antar ke rumah sakit. Arum nggak ada uang buat panggil ambulans privat..."
Pesan itu hanya bertanda centang dua abu-abu.
Ibu memegang tanganmu. Genggamannya yang biasanya lemah, tiba-tiba terasa begitu erat. Sangat erat.
Dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi sebatang lilin, kamu mendekatkan wajahmu ke wajah Ibu.
"Bu..." bisikmu, tangismu pecah tanpa suara. "Maafin Arum, Bu... Arum ndak punya uang buat bawa Ibu ke rumah sakit bagus... Arum ndak punya karir hebat kayak Mbak dan Mas... Arum cuma anak yang gagal..."
Ibu menggelengkan kepalanya pelan. Sangat pelan.
Dengan sisa tenaga terakhirnya, tangan Ibu yang kasar dan kurus meraba pipimu. Ibu menghapus air matamu dengan ibu jarinya. Mulut Ibu bergerak-gerak, mencoba membentukkan kata.
"A... rum..." bisik Ibu, matanya menatapmu dengan kasih sayang yang begitu dalam, begitu murni, tak ada sedikit pun penilaian atau penghinaan di sana. "A... nak... ba... ik..."
"Ibu..."
"Ma... af... in... I... bu..." air mata Ibu menetes dari sudut matanya yang keriput. "Ka... mu... ca... pei..."
"Nggak, Bu! Arum nggak capek! Arum ikhlas, Bu! Tolong jangan tinggalin Arum... cuma Ibu yang Arum punya..." kamu menjerit, memeluk tubuh Ibu yang terasa makin dingin.
Ibu tersenyum. Sebuah senyuman paling indah, paling damai yang pernah kamu lihat sepanjang hidupmu. Genggaman tangan Ibu perlahan-lahan mengendur. Jari-jemarinya yang hangat berubah kaku.
Dada Ibu tak lagi naik dan turun.
Di tengah deru hujan dan kegelapan malam, dalam keheningan kamar yang beraroma minyak kayu putih, Ibu pergi. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya tepat di pelukanmu—anak bungsu yang dianggap tak berguna, anak yang dipandang sebelah mata karena tak memiliki karir cemerlang.
Kamu meraung. Kamu memeluk jasad Ibu kencang-kencang, mencium keningnya, pipinya, tangannya. Suara tangismu bersahut-sahut dengan gemuruh petir di luar. Kamu sendirian. Benar-benar sendirian.
---
Bagian 5: Warisan Terakhir
Pemakaman berlangsung keesokan harinya.
Kakak-kakakmu datang dengan tangisan paling kencang di depan pusara. Mbak Nita pingsan dua kali—di depan kamera kerabat yang melayat. Mas Rian dan Mas Deni tampak begitu terpukul, menerima ucapan duka cita dari rekan-rekan bisnis mereka dengan wajah penuh duka yang teramat sangat.
Mereka terlihat seperti anak-anak yang paling kehilangan di dunia.
Kamu? Kamu hanya duduk terdiam di sudut kain tenda. Matamu sembab, bibirmu pecah-pecah, bajumu kusam. Kamu tak lagi punya air mata untuk dikeluarkan. Hatimu sudah mati rasa.
Setelah acara tahlilan malam ketiga selesai dan para tetangga pulang, keempat kakakmu berkumpul di ruang tamu. Di meja kayu tua itu, sebuah amplop cokelat kusam tergeletak. Itu adalah amplop yang ditemukan Mas Deni di bawah kasur Ibu.
"Ini surat warisan Ibu," ujar Mas Deni dengan nada serius. "Kita harus bagi adil. Rumah ini kalau dijual bisa dapat lima ratus juta. Kita bagi lima."
"Lho, ndak bisa gitu dong!" sahut Mbak Nita cepat. "Aku anak sulung, utang-utang keluarga dulu aku yang bantu mikir. Aku harus dapat lebih banyak!"
"Aku yang paling banyak keluar uang buat beli obat Ibu belakangan ini!" balas Mas Rian tak mau kalah.
Mereka mulai berdebat. Suara mereka saling meninggi, memperebutkan setiap senti tanah dan pecahan rupiah dari rumah yang baru saja ditinggalkan oleh pemiliknya. Tak ada satu pun dari mereka yang membicarakan kenangan tentang Ibu. Tak ada yang menangisi kepergian Ibu. Yang ada di pikiran mereka hanyalah angka dan nominal.
Kamu berjalan perlahan mendekati meja. Kakak-kakakmu mendadak diam, menatapmu dingin.
"Kamu dapat bagian juga kok, Rum," kata Mbak Citra dengan nada menggurui. "Tapi ya sesuai porsi lah. Kamu kan selama ini menumpang makan dan tinggal di sini. Jadi potongan buat biaya hidupmu selama tiga tahun terakhir harus dihitung juga."
Kamu tidak menjawab. Tangarmu terulur mengambil amplop cokelat itu dari genggaman Mas Deni.
"Heh! Mau ngapain kamu?!" bentak Mas Rian.
Kamu membuka isi amplop itu. Bukan sertifikat tanah. Bukan pula buku tabungan.
Di dalamnya, hanya ada selembar kertas lusuh bergambar bunga yang digambar tangan, dan sebuah buku tabungan kecil atas namamu: Arum Restianti.
Di atas kertas bergambar bunga itu, ada tulisan tangan Ibu yang cakar ayam dan bergetar, ditulis beberapa bulan sebelum Ibu kehilangan kemampuannya menulis:
> "Kanggo Arum, anak bungsu Ibu seng paling ayu dan paling sabar..."
> (Untuk Arum, anak bungsu Ibu yang paling cantik dan paling sabar...)
> Ibu nyuwun pangapunten ya, Nduk. Ibu wis ngrepotke uripmu. Ibu wis ngrusak masa depanmu. Kakak-kakakmu kabeh wis entuk bagian harta waktu Ibu masih sehat. Rumah ini, uang ini, kabeh wis tak wenehke kanggo mereka dulu.
> (Ibu minta maaf ya, Nak. Ibu sudah merepotkan hidupmu. Ibu sudah merusak masa depanmu. Kakak-kakakmu semua sudah dapat bagian harta waktu Ibu masih sehat. Rumah ini, uang ini, semua sudah Ibu berikan untuk mereka dulu.)
> Rum, buku tabungan ini isinya uang sisa pensiun Ibu seng tak tabung diam-diam. Ora akeh, mung cukup kanggo kamu naik kereta pergi dari rumah ini. Pergio, Nduk. Kejar mimpimu seng sempat tertunda. Kamu anak paling berprestasi di mata Ibu. Gusti Allah mboten sare...
> Ibu sayang Arum.
Air mata yang menyumbat di dadamu mendadak menetes satu per satu, menumpahi kertas lusuh itu.
Di belakang kertas itu, terlampir kwitansi-kwitansi lama:
Kwitansi penyerahan uang hasil jual tanah kampung kepada Mas Deni (Rp 250 Juta).
Kwitansi pelunasan mobil Mas Rian dari uang tabungan Ibu (Rp 180 Juta).
Kwitansi biaya pernikahan Mbak Nita dari Ibu (Rp 150 Juta).
Surat perjanjian pengalihan sertifikat rumah ini yang ternyata sudah dijaminkan atas nama Mbak Citra dua tahun lalu.
Rumah ini bahkan sudah bukan milik Ibu lagi. Rumah ini sudah diagunkan oleh Mbak Citra ke bank untuk modal usaha suaminya. Ibu tak punya apa-apa lagi. Harta Ibu sudah habis terisap oleh empat anak yang merasa paling berjasa.
Harta Ibu yang tersisa hanyalah cinta tulus yang ditaruh di dalam dada anak bungsunya.
---
Bagian 6: Menutup Pintu
Kakak-kakakmu terpaku membaca lembaran-lembaran kertas yang kamu letakkan di atas meja. Wajah Mbak Nita pucat pasi. Mas Rian membelalakkan mata menatap Mbak Citra.
"Citra! Kamu sudah mengagunkan rumah ini?!" teriak Mas Deni murka. "Kurang ajar kamu! Berarti rumah ini ndak bisa dijual?!"
"Mas! Waktu itu aku butuh uang! Lagian Ibu yang izinkan!" bela Mbak Citra hysteris.
"Ibu izinkan karena kamu ancam ndak mau bawa cucunya ke sini lagi kan?!" bentak Mas Rian.
Suara percekcokan kembali pecah. Mereka saling menunjuk, saling memaki, saling membongkar aib dan kerakusan masing-masing. Wajah-wajah yang dulu tampak terhormat dan berkarir cemerlang, kini bertransformasi menjadi sosok-sosok yang rapuh dan serakah, memperebutkan piring kosong yang tak lagi berisi.
Kamu menatap mereka satu per satu. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, kamu merasa kasihan pada mereka.
Mereka punya mobil, punya rumah, punya jabatan, punya karir. Tapi mereka tidak punya hati. Mereka miskin jiwa.
Kamu melangkah ke kamar kecilmu. Kamu memasukkan dua pasang baju lusuhmu, ijazah sarjanamu yang berdebu, dan surat kecil dari Ibu ke dalam tas ransel hitammu. Kamu tidak mengambil apa-apa lagi dari rumah itu.
Saat kamu melangkah keluar melewati ruang tamu, percekcokan mereka masih berlangsung panas. Tak ada satu pun dari mereka yang menyadari kamu membawa ransel. Tak ada yang bertanya kamu mau ke mana.
Di ambang pintu depan, kamu menghentikan langkahmu. Kamu menoleh ke belakang, menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto di mana kamu memegang buket bunga lulusan terbaik, dikelilingi orang-orang yang kini saling mencakar karena uang.
"Mbak... Mas..." suaramu membuat percekcokan itu terhenti sejenak.
Mereka menoleh padamu dengan napas terengah-engah.
Kamu tersenyum. Sebuah senyuman paling tulus, namun paling dingin yang pernah mereka lihat.
"Terima kasih," katamu lirih. "Terima kasih sudah membiarkan aku menjadi satu-satunya anak yang menemani detik-detik terakhir Ibu. Terima kasih sudah menyerahkan kemuliaan itu padaku."
"Rum, kamu mau ke mana?!" bentak Mbak Nita. "Ini urusan rumah gimana?! Utang Citra gimana?!"
Kamu menggelengkan kepala pelan.
"Itu urusan kalian. Rumah ini milik kalian. Harta Ibu sudah kalian habiskan sejak lama," kamu menarik napas dalam-dalam, merasakan udara bebas mengalir ke dalam paru-parumu untuk pertama kalinya dalam ribuan hari. "Aku sudah selesai. Tugas pengabdianku pada Ibu sudah usai."
Kamu melangkah keluar, menutup pintu kayu itu pelan. Klek.
Suara teriakan dan makian di dalam rumah bertahap menyayup saat kamu berjalan melintasi pekarangan. Malam dingin menyapa kulitmu, tapi di dalam dadamu, ada hangat yang membakar.
Kamu berjalan menuju stasiun kereta api. Di dalam saku jaketmu, kamu menggenggam buku tabungan kecil dari Ibu dan surat lusuh itu.
Kamu tahu, karirmu mungkin terlambat tiga tahun. Kamu tahu, teman-teman seangkatanmu mungkin sudah menjadi manajer, direktur, atau pengusaha sukses. Tapi kamu tidak lagi takut. Kamu telah menyelesaikan ujian terberat di dunia—ujian ketulusan cinta tanpa syarat.
Saat kereta api perlahan bergerak meninggalkan kota, kamu menatap bayangan dirimu di kaca jendela. Kamu tersenyum kecil.
"Bu," bisikmu ke arah langit malam yang bertabur bintang. "Arum jalan dulu ya... Arum mau mengejar mimpi Arum lagi."
Dan di antara deru mesin kereta yang membelah malam, kamu bisa merasakan sebuah usapan lembut di kepalamu, hangat dan penuh kebanggaan—usapan tangan Ibu yang kini telah tenang di surga.
---
### *TAMAT*