Sore di penghujung bulan Oktober menua dengan cepat. Debu-debu tipis menari di udara saat Arga menggeser lemari kayu tua di sudut loteng. Cahaya matahari barat yang berwarna jingga pekat menembus celah genting, memotong kegelapan seperti bilah pisaunya yang tumpul.
Arga mengusap keringat di dahinya. Di usianya yang ke-25, garis wajahnya makin mirip dengan pria yang hanya ia ingat lewat foto-foto kabur berbingkai perak: Suwito, ayahnya. Lima belas tahun telah berlalu sejak ayahnya mendadak hilang dari Desa Karang Kelam, meninggalkan mantel berbau tembakau dan sepiring nasi dingin yang tak sempat tersentuh.
"Arga, sudah belum? Barangnya harus diikat sebelum orang angkutan datang," suara dari lantai bawah terdengar ringkih dan serak.
Ibu Retno berdiri di pangkal tangga loteng. Tubuhnya yang kurus tampak semakin menyusut dari tahun ke tahun, digerogoti ketakutan yang tak pernah ia namai.
"Sebentar lagi, Bu," sahut Arga tanpa menoleh.
Saat ia menarik sebuah kardus berisi buku-buku lama, jemarinya membentur benda keras di balik tumpukan kain sarung tua. Sebuah kotak kayu jati berukuran seukuran buku agenda. Permukaannya berukir motif geometris yang rumit, dikunci dengan gembok kuningan kecil yang sudah berkerak hijau karena korosi.
Arga menatap ukiran di tutup kotak itu. Pola lingkaran melilit tiga garis sejajar engrave unik yang dulu selalu diukir ayahnya pada gagang perkakas atau barang pribadinya.
Mengambil pahat kecil dari kotak perkakas di dekatnya, Arga menyelipkan ujung besi ke celah gembok tua itu. Dengan satu hentakan mantap, kunci yang rapuh itu patah dengan bunyi krak yang tajam.
Kertas-kertas lapuk berbau tengik memenuhi isi kotak. Kebanyakan adalah peta topografi wilayah pegunungan selatan dan lembar-lembar perhitungan geometris tanah. Namun, di paling bawah, terbaring sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel lilin merah pekat.
Lilin itu dicetak menggunakan stempel logam, membentuk lambang yang sama dengan ukiran di luar kotak.
Arga memecahkan segel lilin yang sudah mengeras seperti batu. Di dalamnya hanya ada selembar kertas tebal bergaris kasar dan sebuah peta kuno bergambar tangan yang menunjukkan garis lintang Hutan Larangan hingga sebuah titik bermarka silang merah di tepi jurang.
Ia membuka lembaran kertas itu. Di tengah halaman yang menguning, tertulis satu kalimat pendek dengan tinta hitam yang memudar di beberapa bagian:
“Jika kau ingin mengetahui kebenaran tentang ayahmu, datanglah ke Tebing Jurang sebelum malam Jumat.”
Napas Arga tertahan. Tidak ada tanda tangan, tidak ada tanggal. Namun, gaya tulisan tangan bergaris tegas dan miring ke kanan itu sangat ia kenali. itu bukan tulisan ayahnya, melainkan tulisan seseorang yang pernah ia lihat di buku catatan administrasi desa semasa kecil.
"Apa itu, Arga?"
Suara Ibu Retno terdengar begitu dekat. Ibunya telah memanjat tiga anak tangga terakhir dan kini berdiri di ambang pintu loteng, menatap jemari Arga yang memegang kertas cokelat itu.
Mata wanita tua itu membelalak saat menangkap warna lilin merah yang remuk di lantai.
"Ibu... lihat ini," Arga menunjukkan surat itu. "Ini tentang Ayah. Seseorang menulis ini ... "
Sebelum Arga menyelesaikan kalimatnya, Ibu Retno maju dan menyambar kertas itu dengan kekuatan yang tak terduga dari tubuh ringkihnya. Matanya membacanya sekilas, lalu seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya memucat seketika, seolah-olah seluruh darah di tubuhnya tersedot habis.
"Bakar. Bakar sekarang, Arga!" jerit ibunya, suaranya melengking pecah.
"Bu, tunggu dulu! Itu petunjuk soal Ayah!" Arga menahan tangan ibunya yang mencoba meremas kertas tersebut. "Selama lima belas tahun Ibu bilang Ayah cuma pergi meninggalkan kita! Tapi surat ini ... peta ini ... menunjukkan hal lain! Ayah tidak pernah pergi dari desa itu!"
"Kau tidak tahu apa-apa!" tangis ibunya pecah, suaranya serak dan ketakutan. "Tempat itu bukan milik manusia! Siapa pun yang mendatangi tebing itu tidak akan pernah kembali! Ayahmu sudah mati, Arga! Dia mati dimakan jurang itu!"
"Kalau begitu biarkan aku membuktikannya!" Arga berdiri tegak, pandangannya mengeras. "Malam ini malam Kamis. Besok adalah malam Jumat. Aku berangkat ke Karang Kelam malam ini juga."
"Jangan! Ibu mohon, Arga! Jangan pergi!"
Ibu Retno mencengkeram jaket Arga, jemarinya yang gemetar mencengkeram kain jeans dengan putus asa. Matanya membelalak penuh terror, napasnya tersendag-sendag cepat dan pendek.
"Mereka sudah menunggu... kalau kau kembali, mereka akan..." Suara Ibu Retno makin mengecil, tercekik oleh udara yang seolah menghilang dari paru-parunya.
Tiba-tiba, pegangannya melonggar. Matanya mendelik ke atas, dan tubuhnya ambruk terlentang di lantai kayu loteng yang berdebu.
"Bu! Ibu!" Arga berlutut cepat, memangku kepala ibunya. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari napas ibunya sangat lemah dan kesadarannya hilang sepenuhnya.
Arga berteriak memanggil tetangga. Dalam keramahan ambulans dan kekacauan malam itu, Arga merebut kembali surat tua dan peta kuno dari genggaman ibunya yang telah melemah, lalu menyimpannya rapat-rahat di balik jaketnya.
Pukul 22.15 WIB. Gerbong kereta malam menuju wilayah selatan bergerak lambat membelah kegelapan. Suara derit roda besi di atas rel memecah hening malam yang dingin.
Arga duduk di dekat jendela gerbong tiga yang hampir kosong. Di pangkuannya, tas ransel hitamnya terisi pakaian seadanya dan peta kuno milik ayahnya. Pikirannya melayang pada ibunya yang kini terbaring di ruang rawat intensif rumah sakit kota di bawah penjagaan bibinya.
Saat Arga membetulkan letak jaketnya, rasa dingin yang aneh menusuk tengkuknya. Bukan dingin dari AC gerbong, melainkan perasaan tajam bahwa ia sedang diawasi.
Arga menoleh perlahan ke arah lorong tengah gerbong.
Empat baris di belakangnya, seorang pria duduk bersandarkan kursi. Pria itu mengenakan mantel hitam tebal dan masker kain warna senada yang menutup separuh wajahnya. Topi rimba tua menutupi matanya dalam bayang-bayang.
Pria itu tidak bergerak, namun pandangannya lurus tertuju pada Arga. Dan di atas pangkuannya, tangan kanan pria itu menggenggam sebuah stempel kuningan tua.
Cahaya lampu gerbong yang berkedip menyinari genggaman pria itu memperlihatkan ukiran lingkaran melilit tiga garis sejajar. Simbol yang sama persis dengan segel lilin merah pada surat di tas Arga.
Bus tua berpintu besi longgar yang menumpangi Arga akhirnya berhenti di pinggir jalan berkerikil. Asap knalpot hitam menyembur deras saat kendaraan tua itu menderu pergi, meninggalkan Arga sendirian di halte kayu beratap seng karatan yang hampir roboh.
Hari baru saja memasuki senja, namun suasana di pinggiran Desa Karang Kelam bagai dikubur dalam kegelapan yang datang lebih awal. Kabut putih tebal merayap dari arah lereng hutan utara, bergulung-gulung memenuhi jalanan tanah dan menyelimuti tiang-tiang listrik kayu yang lapuk. Bau tanah basah beradu dengan aroma asap kemenyan tipis yang dibawa angin.
Arga membetulkan posisi tali ranselnya. Saat ia berjalan menyusuri jalan utama desa, beberapa warga setempat yang sedang membawa kayu bakar atau menggembala ternak mendadak berhenti beraktivitas. Langkah-langkah mereka membeku. Mata mereka membelalak menatap Arga dari kejalan.
Tidak ada sapaan ramah. Tidak ada tegur sapa khas pedesaan. Ketika Arga membalas tatapan mereka, warga-warga itu bergegas menarik anak-anak mereka masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kayu rapat-rapat dengan bunyi blag yang bergema di sepanjang jalan desa.
Mencari jawaban, Arga melangkah menuju satu-satunya bangunan yang masih terang di sudut simpang tiga: Warung Kopi Pak Margo. Lampu bohlam kuning 15 watt bergoyang perlahan di teras warung, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di lantai semen pecah-pecah.
Di dalam warung, tiga pria paruh baya sedang duduk mengelilingi meja kayu pendek. Begitu Arga menyingkap tirai bambu di pintu masuk, percakapan pelan yang sedang berlangsung mendadak terhenti seketika. Kesunyian begitu pekat hingga suara jangkrik di luar terasa memekakkan telinga.
"Numpang bertanya..." kata Arga datar.
Pak Margo (60 tahun), pemilik warung bergaris wajah keras dengan rokok kretek membakar di celah jarinya, mengembuskan asap pekat. Matanya yang merah mengamati Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ketiga pria yang tadi duduk langsung berdiri dari kursi mereka. Mereka mengemas barang-barang dengan tergesa-gesa, meletakkan koin pecahan di meja, lalu bergegas keluar tanpa memandang wajah Arga sedikit pun.
"Kau bukan orang sini," kata Pak Margo pelan namun dingin, sambil menyapu meja dengan kain lap kotor. "Dan di Karang Kelam, orang asing yang datang sebelum Maghrib tidak pernah membawa kabar baik."
"Saya bukan orang asing, Pak Margo," sahut Arga seraya melangkah mendekat. "Saya Arga. Anak Suwito."
Tangan Pak Margo yang sedang mengelap meja mendadak berhenti. Rokok kreteknya hampir terlepas dari bibirnya.
"Jangan sebut nama itu di desa ini!" desis Pak Margo dengan suara berbisik yang sarat akan ancaman. "Bapakmu sudah mati. Namanya dihapus dari desa ini lima belas tahun lalu!"
"Kalau begitu beri tahu saya bagaimana dia mati!" tekan Arga, dadanya naik turun menahan emosi. "Kenapa semua orang di sini bersikap seperti menyembunyikan dosa besar?"
Sebelum Pak Margo sempat menjawab, sesosok tubuh ramping menyelusup dari balik pintu dapur warung. Siti (22 tahun), dengan kain sarung menutupi bahunya dan mata gelap yang dipenuhi ketakutan, memberikan isyarat dengan lambaian tangan agar Arga mengikutinya ke balik warung.
Di balik dapur warung yang tersembunyi oleh tumpukan kayu bakar dan pepohonan bambu yang rimbun, Siti menatap Arga dengan napas memburu.
"Arga... kau benar-benar tidak boleh ada di sini," bisik Siti cepat, matanya terus melirik ke sekeliling kegelapan. "Surat itu... kau menerima surat itu, kan?"
Arga terkejut. "Kau tahu soal surat itu?"
"Bukan cuma aku," suara Siti bergetar. "Ada kelompok di desa ini, mereka yang berkuasa tidak pernah ingin kau atau siapa pun membongkar apa yang terjadi di Tebing Jurang. Mereka sengaja membiarkan mitos 'Tangisan Jurang' hidup supaya tidak ada orang yang berani mendekati tempat itu. Jika mereka tahu kau kembali untuk mencari Suwito, kau tidak akan pernah keluar dari desa ini hidup-hidup!"
Ngoonggg... Ngoonggg...
Tiba-tiba, suara sirene tua peninggalan zaman kolonial di balai desa bergema keras, membelah malam yang makin pekat. Disusul oleh pukulan kentongan kayu bertubi-tubi dari berbagai arah RT.
Tepat saat suara tanda malam itu berbunyi, angin kencang berhembus dahsyat menghantam pepohonan bambu sekitar warung. Udara dingin yang menusuk tulang mendadak terasa hampa.
Dari arah hutan utara arah lokasi Tebing Jurang berada terdengar gema suara samar-samar. Suara itu mirip lengkingan tangisan perempuan yang memilukan, meliuk-liuk di udara, memanjang dan bergetar hebat.
Rattlllee!
Getaran suara gema itu begitu kuat hingga membuat kaca-kaca jendela warung Pak Margo bergetar hebat. Gelombang udara seolah ditekan dari jauh, menciptakan ketegangan psikologis yang membuat tenggorokan terasa kering.
"Suara itu..." gumam Arga, merasakan bulu kuduknya berdiri. "Itu... suara apa?"
"Masuk!" jerit Pak Margo dari pintu belakang, menyambar kerah jaket Arga dan menariknya masuk ke dalam warung secara paksa.
Pak Margo membanting pintu kayu tebal warungnya, menggeser palang kayu jati raksasa untuk mengunci pintu dari dalam. Seluruh slot jendela dipastikan terkunci rapat.
Napas tua Pak Margo memburu hebat. Wajahnya yang semula keras kini dipenuhi ketakutan yang murni. Dari balik meja kasir, jemarinya yang gemetar mencengkeram sebuah celurit tua bermata tajam yang mengkilat dihantam cahaya bohlam redup.
Dengan mata mendelik tajam, Pak Margo menodongkan celurit itu tepat beberapa inci dari leher Arga.
"Kau membawa kutukan itu kembali, Anak Suwito!" bisik Pak Margo dengan nada liar dan penuh kepanikan. "Darah ayahmu sudah memberi makan jurang itu lima belas tahun lalu, dan sekarang kau datang membawa bencana untuk kami semua! Keluar dari rumahku sebelum warga tahu kau ada di sini dan membakarmu hidup-hidup!"
Garis batas Desa Karang Kelam memudar dihantam kegelapan. Jam tangan Arga menunjukkan pukul 22.30 WIB ketika ia berdiri di belakang gubuk penyimpanan kayu mati, hanya beberapa ratus meter dari gerbang Hutan Larangan.
Di hadapannya berdiri Bagas (27 tahun), pemuda lokal berwajah keras dengan luka parut tipis di pelipis kirinya. Di bahu Bagas tertambat senapan angin rakitan berkaldron tebal, sementara pinggangnya terselip parang panjang.
"Tiga ratus ribu rupiah dan cincin perak ini," Arga berbisik seraya menyerahkan uang kertas kusam dan perhiasan peninggalan ibunya ke telapak tangan Bagas. "Cukup bayar kau untuk bawa aku sampai ke tepi tebing. Tanpa omong kosong, tanpa beritahu tetua desa."
Bagas menguji berat cincin itu dengan jemarinya, lalu menatap Arga dengan seringai tipis yang dingin.
"Kau gila, Anak Suwito. Orang desa bilang tempat itu berhantu, tapi aku tahu bedanya setan dan manusia," kata Bagas seraya menyelipkan uang ke saku celana komputnya. "Hutan Larangan ini penuh jebakan racun dan celah batu yang bisa mematahkan kaki. Kalau kau jatuh, aku tidak akan memanjat turun untuk mengambil mayatmu."
"Deal," jawab Arga pendek.
Memasuki Hutan Larangan seperti berjalan ke dalam tenggorokan binatang raksasa. Pohon-pohon tua berdiameter dua meter menjulang tinggi, saling mengunci tajuk hingga sinar bulan Jumat Kliwon tak mampu menembus rimba. Kabut tebal berwarna abu-abu kehijauan merayap dari permukaan tanah basah, membawa bau belerang dan pembusukan vegetasi yang pekat.
Napas Arga terasa berat. Setiap helapan udara meninggalkan rasa pahit dan terbakar di pangkal tenggorokannya.
"Pakai masker sarungmu," tegur Bagas tanpa menoleh. "Itu gas rawa. Terlalu banyak menghirupnya, otakmu mulai membayangkan hal-hal yang tidak ada."
Namun suara itu tidak lagi penuh. Saat mereka masuk lebih dalam, bisikan-bisikan asing mulai terdengar menyeruak dari sela-sela batang pohon berlumut.
“Arga... Arga...”
Suara itu lembut, sangat mirip dengan nada bicara ayahnya ketika Arga masih berusia sepuluh tahun. Arga mendadak menghentikan langkahnya. Di antara dua pohon beringin tua, ia melihat siluet pria tinggi bermantel lusuh sedang berdiri membelakanginya, melambaikan tangan perlahan.
"Ayah...?" gumam Arga, melangkah menyimpang dari jalur.
Plak!
Bagas mencengkeram kerah jaket Arga dan menariknya kasar hingga Arga tersungkur di tanah basah.
"Jangan tergiur bisikan angin!" gertak Bagas, matanya liar memindai kegelapan sekitar. "Gas ini bikin pikiranmu kacau. Ikuti jejak kakiku atau kau akan melangkah ke jurang tanpa sadar!"
Arga menggelengkan kepala, mencoba mengusir rasa pening yang menusuk pelipisnya. Siluet ayahnya menghilang, berganti menjadi batang kayu lapuk berduri.
Pukul 23.00 WIB. Vegetasi Hutan Larangan mendadak terhenti, berganti menjadi hamparan batu karang yang licin dan berangin kencang.
Di hadapan mereka membentang kegelapan abadi: Tebing Jurang. Kedalamannya tak terukur oleh pandangan mata, ditutupi kabut tebal yang bergulung-gulung bagaikan lahar dingin di bawah sana. Dari dasar jurang, suara deru angin yang lolos dari celah-celah tebing terdengar persis seperti erangan dan tangisan manusia yang tersiksa.
Arga berlutut di tepi jurang, menyorotkan senter dayanya ke bawah. Cahaya lampu hanya mampu menembus sepuluh meter sebelum ditelan kabut.
Tiba-tiba, sorot lampu senternya menangkap kilatan logam pada sebuah dahan pohon mati yang tumbuh meliuk di bibir tebing hanya dua meter di bawah pijakan kaki Arga.
Arga mencondongkan tubuhnya. Di sana, tersangkut pada dahan yang hampir patah, terikat sebuah jam tangan kulit tua berduri dengan kaca retak. Di balik kacanya yang buram, terukir inisial nama: S.W.
"Jam tangan Ayah..." bisik Arga, dadanya bergemuruh hebat. "Dia benar-benar pernah di sini!"
Tanpa mengindahkan peringatan Bagas, Arga berbaring menelungkup di tepi batu yang licin, merentangkan tangan kanannya untuk menggapai jam tangan tersebut. Tali tali kur pengaman yang terikat di pinggangnya ditahan oleh Bagas dari balik pohon batu.
Jemari Arga berhasil menyentuh sabuk kulit jam tangan itu. Namun, tepat saat ia menariknya.
KRAK!
Pinggiran tebing tebing batu kapur tempat Arga menumpu mendadak rapuh dan runtuh! Longsoran tanah dan batu jatuh meluncur ke dalam kegelapan.
"Arga!" jerit Bagas, bertahan memegang tali dengan otot-otot lengannya yang menegang.
Arga tergantung di udara kosong, berayun-ayun di atas kedalaman jurang yang mematikan. Jam tangan ayahnya berhasil ia genggam erat di telapak tangannya.
Namun sebelum Bagas sempat menariknya naik, tiga bayangan hitam muncul secara tiba-tiba dari balik kabut tebal di atas tebing. Mereka mengenakan penutup wajah dan menggenggam senjata tajam.
"Siapa kalian?!" teriak Bagas.
Salah satu sosok bayangan melompat maju, mengayunkan parang panjang ke arah Bagas. Bagas melepaskan tali pengaman Arga demi menyambar senapannya.
DOOOOOM!
Suara tembakan senapan rakitan membelah malam, disusul jeritan kesakitan seseorang yang robek dadanya. Namun sosok lainnya menebas tali pengaman Arga yang terikat pada batang batu!
SRAAK!
Tali kur itu putus tertebas.
Sensasi hampa mendadak menyergap tubuh Arga. Tubuhnya meluncur jatuh bebas menembus kabut dan kegelapan abadi dasar Tebing Jurang.
Di atas sana, dalam detik-detik sebelum pandangannya ditelan kepekatan malam dan deru angin yang memekakkan telinga, Arga sempat mendengar suara tembakan kedua... disusul teriakan tewas Bagas yang terpotong secara mengerikan.
Lalu, hanya ada kegelapan dan benturan keras yang menunggunya di bawah.
Rasa sakit memukul seluruh tubuh Arga bersamaan dengan kesadarannya yang perlahan pulih. Gemericik air yang menetes dari stalaktit dan bau tanah basah bercampur karat besi langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya.
Arga menelan ludah, merintih saat merasakan pergelangan kaki kirinya terkilir dan bahu kanannya memar hebat. Keajaiban atau mungkin rimbunnya semak liar dan timbunan lumpur lunak di dasar jurang telah menahan benturan maut yang seharusnya mematahkan seluruh tulangnya. Jam tangan tua milik ayahnya masih terikat erat dalam genggaman tangannya yang gemetar.
Dengan susah payah, Arga meraba saku jaketnya. Senter tahan air berkepala alumunium yang disimpannya masih utuh meski kacanya sedikit retak. Begitu sakelar ditekan, seberkas cahaya putih menerobos kegelapan yang pekat.
Sorot lampu senter membuka pemandangan yang membekukan darahnya.
Di sekelilingnya, dasar jurang bukanlah hamparan hutan liar yang alami. Permukaan tanah ditumpuki oleh sisa-sisa reruntuhan besi lapuk, gerobak tambang berkarat yang terguling, dan selang-selang fleksibel tua yang sudah koyak. Di antara gundukan tanah basah, bertebaran belulang hewan ternak dan tengkorak yang separuh tertimbun lumpur.
Arga menyeret kaki kirinya yang terkilir, menjadikan sebatang kayu tebal sebagai penopang. Suara aliran air bawah tanah yang deras menuntun langkahnya menelusuri rongga tebing yang kian menyempit.
Semakin jauh ia melangkah, dinding-dinding batu alam mulai berganti menjadi lorong buatan manusia. Pilar-pilar kayu jati penyangga terpasang serampangan di sepanjang lorong gua. Di beberapa titik dinding batu, terdapat goresan pahat dan sapuan cat minyak warna merah yang sudah memudar, membentuk angka-angka koordinat serta tanda panah penunjuk arah.
Ini bukan sekadar jurang terkutuk. Tempat ini adalah situs ekskavasi dan penambangan rahasia yang sengaja disembunyikan dari dunia luar.
Arga melintasi jembatan kayu lapuk di atas sungai bawah tanah hingga sampai di sebuah pintu besi tebal yang engselnya sudah jebol. Di balik pintu itu, berdiri sebuah ruangan kerja darurat yang terbengkalai. Meja kayu yang hampir lapuk, botol-botol kimia kosong, dan meja pemetaan tua berselimut debu tebal.
Di atas meja kayu tua, di bawah gumpalan kain terpal yang hampir hancur, Arga menemukan sebuah buku bersampul kulit cokelat. Sampulnya ternoda bercak kehitaman yang mengering darah tua.
Dengan jemari yang gemetar, Arga membuka lembaran-lembaran kertas tebal di dalamnya. Itu adalah tulisan tangan yang sangat ia kenali: buku catatan harian Suwito, ayahnya.
Arga membaca baris demi baris tulisan tangan ayahnya dengan napas tertahan:
12 Agustus 2011 Peta geologi itu benar. Di dasar Tebing Jurang terkandung urat emas pekat dan situs artefak kuno. Namun, Samad dan orang-orang balai desa ingin menguasainya secara pribadi. Mereka menolak melaporkannya ke pemerintah daerah.
18 Agustus 2011 Aku menolak memalsukan laporan analisis tanah. Samad mengancam keselamatan Retno dan Arga. Aku harus menyembunyikan buku catatan dan kunci area ekskavasi ini sebelum mereka...
Mata Arga membendung air mata. Rasa marah yang membakar menggantikan rasa sakit di tubuhnya. Ayahnya tidak pernah melarikan diri. Ayahnya tidak dicabut nyawanya oleh iblis atau hantu dalam mitos warga. Suwito dihancurkan oleh pengkhianatan orang-orang yang dipimpin oleh tetua desanya sendiri.
FWUUUUUUU...
Tiba-tiba, suara erangan dan tangisan memilukan bergema kembali! Suara yang selama ini memfasilitasi mitos "Kutukan Tebing Jurang" mendadak berembus dari sudut ruangan bawah tanah.
Arga tidak lagi gemetar. Ia melangkah cepat menuju sumber suara di balik pilar kayu utama.
Di sana, terpasang serangkaian pipa besi berdiameter besar yang disambungkan langsung dari selah-selah tebing luar menuju lorong bawah tanah. Di ujung pipa, terdapat katup resonator kuningan yang sengaja dirancang untuk mengubah embusan angin malam yang kencang menjadi suara melengking mirip tangisan manusia.
"Pipa resonansi..." bisik Arga dengan tawa getir dan penuh kemarahan. "Kutukan ini... suara setan ini... semuanya cuma kebohongan mekanis!"
Sebuah sandiwara horor buatan yang dirancang dengan rapi untuk menakut-nakuti warga desa Karang Kelam agar tidak ada satu pun orang yang berani mendekati Tebing Jurang, sementara tambang rahasia di bawahnya dikuras habis-habisan.
Ssssh...
Sorot lampu senter Arga bergerak menelusuri sudut lorong tergelap di balik pipa resonator. Tiba-tiba, cahaya senternya menimpa sesosok tubuh yang terduduk kaku di lantai gua.
Seorang pria berseragam pemburu terikat erat di pilar batu dengan rantai besi berat. Mulutnya disumbat kain tebal, dan wajahnya dipenuhi lebam. Itu Bagas! Ia masih hidup, meski kondisinya sangat kritis.
Arga tersentak dan mengambil langkah cepat ke depan. "Bagas?!"
TAP. TAP. TAP.
Suara langkah sepatu bot beratap besi berdentang nyaring menghantam lantai batu keras di belakang Arga. Suara itu begitu dekat, bertumpu tepat di ambang pintu masuk gua.
KLA-KLAK!
Suara kokangan pistol yang dingin berbunyi nyaring di dalam rongga gua yang sunyi.
"Kau terlalu lambat lima belas tahun, Arga," kata sebuah suara berat dan dingin dari kegelapan di belakangnya. "Sama serba ingin tahunya... dan sama bodohnya dengan ayahmu."
Moncong pistol kelabu memantulkan seberkas cahaya senter yang bergoyang. Sesosok pria berselimut jas hujan tebal bermotif lumpur melangkah keluar dari kegelapan lorong. Ia melepaskan topi rimba dan topeng kain hitam yang melingkupi wajahnya dengan gerakan santai, membongkar sosok pria bermasker yang sebelumnya membuntutinya di kereta malam.
Arga membelalakkan mata. Kerut di dahi dan kumis tipis beruban itu sangat dikenal oleh seluruh warga Desa Karang Kelam.
"Pak Samad..." desis Arga, suaranya tercekat di tenggorokan. "Kepala Desa..."
"Surat tua itu umpan yang manis, bukan?" Pak Samad terkekeh dingin, suara beratnya bergema di dinding gua yang basah. "Aku sudah menunggu momen ini selama lima belas tahun. Begitu mendengar ibumu sekarat dan kau mulai mengaduk-aduk barang lama Suwito, aku tahu kau akan datang membawa sisa catatan dan Peta Bawah Tanah yang disembunyikan ayahmu."
"Jadi kau yang membunuh Ayah?!" teriak Arga, mencoba berdiri walau pergelangan kakinya menjerit sakit.
"Bapakmu gila!" potong Pak Samad tajam. "Dia ingin menyerahkan cadangan emas dan situs artefak kuno ini ke pemerintah provinsi! Kau tahu apa artinya itu untuk desa ini? Tidak ada apa-apa! Tapi di tanganku, dalam sepuluh tahun terakhir, batu-batu mulia ini telah memperkaya orang-orang yang mau patuh padaku. Ayahmu memilih menjadi pahlawan moral, maka dari itu dia harus dilenyapkan."
"Dan sekarang," Pak Samad memberikan isyarat kepada dua anak buah bersenjata tajam yang berdiri di belakangnya, "giliranmu untuk menyusul reputasi ayahmu sebagai mangsa iblis tebing."
Anak buah Pak Samad melompat maju dengan parang terangkat. Dalam kepungan sempit di lorong gua, Arga mengayunkan kayu penopangnya secara kalap. Bugh! Ujung kayu keras itu menghantam rahang salah satu penyerang hingga terjerembat ke aliran sungai bawah tanah.
Arga menerjang anak buah kedua, bergulat sengit di atas tanah berlumpur. Di tengah perkelahian brutal itu, Pak Samad menarik tuas penyulut dinamit rakitan yang terpasang di dinding pilar utama gua.
BZZZZT!
Sumbu merah terbakar dengan cepat. Pak Samad tersenyum culas, meraih sebuah peti kayu berukir rapat berisi sampel emas dan artefak murni dari meja ekskavasi, lalu berbalik melarikan diri menuju tangga batu darurat di sudut gua.
"Matilah bersama rahasia ini!" teriak Pak Samad.
BOOOMM!
Ledakan dahsyat menggetarkan perut bumi. Langit-langit gua runtuh secara masif, menjatuhkan bongkahan batu stalaktit raksasa dan menyumbat saluran air. Gelombang tekanan udara menghempaskan Arga hingga menghantam dinding batu, membuatnya batuk darah di tengah kepungan debu pekat.
Menahan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya, Arga menyeret Bagas yang tak sadarkan diri keluar menaiki celah tangga batu darurat yang belum runtuh. Ia memanjat menembus asap sulfur hingga akhirnya keluar mencapai permukaan tanah di bibir luar Tebing Jurang.
Cahaya fajar menyingsing di ufuk timur, membelah kabut tebal yang menyelimuti area Hutan Larangan.
Di atas tebing, Pak Samad memeluk peti kayunya dengan napas memburu. Namun langkahnya terhenti.
Di hadapannya, belasan warga Desa Karang Kelam berdiri memegang obor dan cangkul. Di depan barisan warga, berdiri Siti dengan air mata mengalir di pipinya, menggenggam pipa resonator kecil yang berhasil ia ambil dari lorong teratas sebagai bukti.
"Cukup, Pak!" jerit Siti, suaranya pecah oleh duka. "Semua warga sudah tahu! Tangisan jurang itu cuma pipa buatan Bapak! Bapak membohongi kami puluhan tahun cuma demi tambang ilegal ini!"
Pak Margo melangkah maju dari kerumunan warga, memegang celuritnya dengan tangan bergetar, kini diarahkan bukan lagi kepada Arga, melainkan kepada Kepala Desa yang selama ini mereka hormati.
"Kau membodohi kami semua, Samad..." kata Pak Margo lirih namun penuh kemarahan. "Kau membuat kami mengutuk keluarga Suwito yang tidak bersalah!"
Disudutkan oleh warga dan dikuasai kepanikan, Pak Samad berjalan mundur mendekati tepi tebing yang rapuh akibat getaran ledakan dinamit di bawahnya.
"Jangan mendekat! Ini milikku! Semuanya milikku!" jerit Pak Samad histeris sambil memeluk peti emasnya erat-erat.
KRAK!
Pinggiran batu kapur yang dipijak Pak Samad mendadak retak dan runtuh! Pak Samad kehilangan keseimbangan dan tubuhnya meluncur jatuh ke belakang.
"Pak!" jerit Siti.
Arga menerjang maju secara refleks. Dengan sisa tenaganya, jemari Arga yang berdarah berhasil mencengkeram pergelangan tangan Pak Samad tepat di bibir tebing. Pak Samad tergantung di udara kosong, matanya membelalak penuh ketakutan saat menatap kedalaman jurang yang sebenarnya di bawah sana.
"Pegang tanganku! Lepaskan petinya!" teriak Arga, otot-otot lengannya menegang hebat.
Pak Samad menatap Arga, lalu melirik peti kayu penuh harta yang digenggam di tangan satunya. Keserakahan yang membutakan matanya selama lima belas tahun tidak membiarkannya melepaskan harta itu.
"Tidak akan..." bisik Pak Samad dingin.
Pak Samad menyentakkan tangannya dari genggaman Arga. Tubuhnya meluncur jatuh ke dalam kegelapan abadi dasar jurang bersama peti rahasianya, disambut bunyi benturan keras yang mengakhiri hidupnya seketika.
Matahari terbit sepenuhnya, memancarkan sinar keemasan yang menembus sisa-sisa kabut Tebing Jurang. Kesunyian yang murni kini melingkupi Desa Karang Kelam suara tangisan misterius itu telah hilang selamanya.
Arga duduk terduduk di tepi tebing, memegangi dadanya yang sesak. Di tangannya, buku catatan harian ayahnya yang ternoda darah terbuka di halaman paling akhir lembaran rahasia yang terlipat rapi dan baru saja dibersihkan dari debu ledakan.
Mata Arga tertuju pada paragraf terakhir yang ditulis ayahnya beberapa jam sebelum dinyatakan hilang lima belas tahun lalu:
...Samad tidak membunuhku malam ini. Dia menjualku kepada kelompok 'Jaringan Utama' di kota pelabuhan utara. Aku dieksekusi bukan untuk mati di sini, tapi dikirim sebagai pekerja paksa di tambang bawah tanah Pulau Hitam. Jika kertas ini sampai ke tanganmu, Arga... ketahuilah bahwa aku masih bernapas.
Arga mengusap darah di pipinya. Ia menatap matahari terbit di ufuk jauh dengan pandangan mata yang kini menyala oleh api tekad baru.
Misteri Tebing Jurang telah usai, namun pencarian ayahnya yang sebenarnya... baru saja dimulai.