🛑‼️Disklaimer cerita ini tidak sepenuhnya buatan sendiri ada bantuan dari google dimohon jangan menghujat 🛑‼️
.
.
.
tanpa berkata-kata, Oscar berdiri dari kursinya.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh perhatian ala pria terhormat Eropa, Oscar melingkarkan syal rajut abu-abu perak miliknya ke leher Florence.
Jarinya sempat bersentuhan tak sengaja dengan kulit leher Florence, mengirimkan sensasi hangat yang membuat keduanya sempat tertegun saling menatap dalam jarak dekat selama beberapa detik.
"Udara Zurich tidak sehangat ruang perpustakaan di London, Florence. Pakai ini," ucap Oscar, suaranya kini terdengar sangat manis dan tulus.
Florence memegangi syal rajut itu, menghirup aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh Oscar, berpadu dengan wangi teh mawar miliknya.
Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Lalu kamu bagaimana? Kamu bisa kedinginan."
Oscar tidak kembali ke kursinya. Ia justru melangkah mendekat, lalu duduk di kursi kosong tepat di sebelah Florence.
Sentuhan fisik yang tiba-tiba ini membuat Florence sedikit menahan napas. Dengan sangat perlahan, Oscar mengulurkan tangannya, merapikan posisi kacamata sebelah (monocle) di wajah Florence yang sempat sedikit bergeser.
"Melihat pipimu yang memerah karena kehangatan syal ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa hangat," bisik Oscar lembut, wajahnya kini berada hanya beberapa sentimeter di dekat wajah Florence.
Florence tertegun menerima kedekatan itu. Kali ini, ia tidak mengomel atau memalingkan muka lagi. Sisi tsundere-nya mencair sepenuhnya. Ia justru tersenyum sangat manis, mata heterokromianya menatap Oscar dengan binar penuh rasa suka yang jujur.
Florence mengulurkan tangannya di bawah meja, dan sebelum ia sempat ragu, Oscar langsung menyambutnya. Cowok itu menyalipkan jemarinya di sela-sela jari Florence, menggenggamnya dengan sangat erat dan membawanya masuk ke dalam saku mantel hangatnya—sebuah gerakan mesra yang persis seperti yang sering dilakukan Oliver pada Violetta dan Jasper pada Rosalie.
"Ngomong-ngomong, Oscar..." Florence menyandarkan kepalanya dengan sedikit manja di bahu rompi rajut Oscar, merasakan detak jantung cowok itu yang juga ikut berdegup cepat.
"Karena keempat sahabat kita tampaknya sengaja lama-lama membeli wafel... bagaimana kalau kita tinggalkan mereka dan jalan-jalan berdua saja menyusuri Danau Zurich yang bersalju?"
Oscar menatap puncak kepala Florence yang bersandar di bahunya, lalu mengecup kening gadis itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, membuat Florence semakin mengeratkan pelukan lengannya pada tangan Oscar.
"Sebuah ajakan yang sangat puitis," balas Oscar dengan bisikan hangat di dekat rambut Florence. Ia menuntun Florence berdiri tanpa melepaskan genggaman tangan mereka yang bertautan erat di dalam saku mantel. Mereka melangkah keluar kedai bersama-sama dengan mesra, siap menulis bab pertama dari kisah cinta manis mereka di bawah indahnya malam musim dingin Swiss.
.
.
‼️🛑Disklaimer sekali lagi cerita ini tidak sepenuhnya buatan sendiri ada bantuan dari google dimohon jangan menghujat 🛑‼️