Bab 1. Bisikan di tengah Rintikan Hujan
Suara rintik hujan yang membasahi sekelilingnya selalu membawa pikiran Nisa kembali ke masa itu.
— Sepuluh tahun yang lalu.
Kala itu, nisa kecil tidur di sudut kamar dengan selimut yang lesu. Tiba-tiba ia mendengar jelas kalimat yang di ucapkan kerabat nya kepada pria parubaya dengan nada yang sangat kencang dan penuh penekanan, " Bang, abang itu miskin jadi ya sadar diri aja doong !."
Kalimat itu tidak pernah hilang. Iya mengendap, membusuk, lalu berubah menjadi jelaga dendam di dada nisa. Karna pria parubaya itu telah di injak oleh mereka yang sedang angkuh. Sosok pria parubaya itu adalah ayah nya.
Kini, di usianya yang sudah beranjak dewasa, Nisa berdiri di depan cermin kamar kosnya. Ia merapikan kemeja kerjanya yang sudah rapi. Hari ini adalah hari pertamanya ia bekerja di salah satu perusahaan terbaik.
" Lihat saja nanti, " bisik Nisa pada bayangan sendiri di cermin " Aku bakalan buktikan kalau kalian semua salah."
Namun, di balik kepalan tangannya yang erat, dadanya berdebar kencang. Ada suara kecil di kepalanya yang berbisik lirih: Memangnya kamu benar-benar sanggup?
Bab 2. Antara Ambisi dan Kecerobohan
Semangat nisa membara seperti api unggun yang kian menyala besar. Hari pertama ia menaruh keyakinan, "Aku bisa, Semangat nis!" lirik nya dalam hati.
Ia segera bergegas dan tanpa sadar nisa sudah berdiri di depan perusahaan yang berdiri kokoh dan menjulang tinggi." Wah, akhirnya sampai juga." Senyum hangat dan bahagia memenuhi wajah nya. Ia bergegas masuk ke ruang kantor nya dan di sana dia melihat susunan dokumen yang sudah rapi. kemudian Ia segera mengerjakan dokumen itu satu persatu dengan hembusan nafas yang legah.
Dalam hati ia ingin cepat berhasil, cepat sukses, dan cepat menunjukkan hasilnya kepada orang yang dulu memandang keluarganya sebelah mata.
Namun, semangat tanpa perhitungan adalah resep bencana.
Senin siang itu, meja kantor nya sedikit berantakan. Membuat beberapa dokumen berceceran. Nisa panik. Karena terburu-buru dan ceroboh, Iya lupa untuk meletakkan selembar dokumen ini di mana karna selembar kertas lolos dari susunan itu.
"Aduh, Nisa! kenapa bisa ceroboh lagi,sih?"
gerutunya pada diri sendiri sambil menepuk dahi.
Saat telepon selulernya berdering dan atasan menanyakan dokumen yang seharusnya di berikan saat itu juga, jemari Nisa bergetar. Keraguan diri yang selama ini bersembunyi langsung menyeruak naik ke permukaan.
" Kamu memang tidak teliti. Kamu memang ceroboh. Mereka benar, kamu tidak akan pernah bisa berhasil." Bisik nya dalam hati.
Rasa panik memicu sifat inkonsistennya. Karena merasa gagal di hari itu, Nisa mendadak kehilangan seluruh energinya. Pikirannya sangat kacau karna di hari pertamanya ia sudah diberi peringatan oleh atasannya dan kehilangan rasa semangat. Dendamnya masih ada, tetapi rasa takut dan ragu melumpuhkan setiap langkahnya.
Bab 3. Lingkaran Setan di Warung Kopi
Malam itu, Nisa duduk sendirian di sudut coffee shop dengan secangkir kopi hitam favoritnya, ia menyesap kopi hitam itu dan rasanya seperti sebuah ketenangan hinggap di kepalanya. Di saat ia merasakan lelah yang berkepanjangan Nisa selalu melarikan diri ke kopi sebagai tempat pelampiasan rasa suntuk yang kian menggerogoti tubuhnya.
Seorang kawan lamanya memergokinya dan duduk di seberang meja. "Kenapa, Nis? Kelihatan capek banget."
Nisa helan napas panjang, menatap gelas kopinya. "Aku cuma mau buktikan kalau aku bisa, Rey. Tapi makin aku paksain, makin sering aku bikin kesalahan bodoh. Kadang aku semangat banget, tapi besoknya aku merasa semua yang aku kerjain itu percuma. Aku ragu sama diriku sendiri."
Kawan lamanya menatap Nisa dengan lembut. "Kamu mau sukses buat siapa, Nis? Buat dirimu sendiri, atau cuma buat nyumpal mulut orang-orang yang pernah nyakitin kamu?"
Pertanyaan itu menohok dada Nisa.
Selama ini, setiap langkah yang diambil Nisa tidak pernah berakar dari rasa cinta pada prosesnya, melainkan dari ketakutan akan diremehkan lagi. Rasa dendam membuatnya terburu-buru, lalu kecerobohannya memicu kegagalan, dan kegagalan itu membuktikan ketakutannya sendiri. Ia terjebak dalam lingkaran setan yang ia buat sendiri.
Bab 4. Belajar Berdamai
Malam itu menjadi titik balik bagi Nisa. Ia menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah orang-orang yang dulu mengejeknya, melainkan suara di dalam kepalanya yang selalu meragukan kemampuannya sendiri.
Besok harinya, Nisa memulai dari hal-hal kecil untuk melatih konsistensi dan mengurangi kecerobohan. Ia memulai nya kembali dengan semangat dan kehati-hatian agar pikirannya tidak menggangu fokusnya saat bekerja.
Perubahannya tidak terjadi dalam semalam. Ada hari-hari di mana ia masih ingin menyerah, tetapi kini ia tidak lagi berhenti total. Ia belajar untuk bangkit lebih cepat.
Bab 5. Puncak yang Sebenarnya
lima tahun berlalu. Nisa mendapatkan sebuah penghargaan terbaik dari kantornya dan sebuah jabatan karna ia berhasil mencapai target di perusahaan itu, atas kerja kerasnya selama ini.
Senyum bahagia memenuhi wajahnya yang kecil, membuat orang orang melihatnya ikut merasakan bahagia akan pencapaian nya. kini, Ia bangga dengan usahanya yang jujur saja tidak gampang karena ada masanya ia benar-benar jatuh dan ada masanya ia bangkit kembali.
Suatu sore dia memutus kan untuk pulang ke kampung halaman dan merayakan hari spesialnya itu bersama keluarga tercinta terutama, Ayahnya. Yang kian sudah menua. Nisa tidak sabar ingin memberi tahu kepada ayah nya bahwa ia sudah mendapatkan jabatan yang sedari kecil ia impikan.
Di pagi buta. Nisa sudah berdiri di depan rumahnya, yang menyimpan banyak kenangan manis dan pahit bersama keluarga, kenangan itu tidak pernah lupa dari pikirannya. Tiba tiba sosok pria parubaya muncul dari balik pintu, membuat pikirannya buyar begitu saja. Rasa senang dan kerinduan dari kedua orang itu membuatnya tak sabar ingin memeluk, dan airmata Nisa pun mengalir deras karena kerinduannya sudah terbalaskan.
" Sudah lama aku tidak berjumpa dengan ayah, aku kangen banget. ayah... ayah aku mau beri tahu, kalau aku sudah menjadi anak yang bisa kau banggakan dan bisa mengangkat derajat ayah." lirih Nisa.
Pria parubaya itu membalas nya. " Nak, kau itu selalu membanggakan ayah mu ini. Dan aku senang kau bisa berada di titik yang tidak gampang ini, Ayah benar benar bangga pada mu, nak."
Momen haru itu ia dapatkan di dalam rumah dan ini menjadi kenangan terindah yang sekarang tidak bisa di lupakan Nisa.
Dengan hasil kerja kerasnya selama ini, Nisa sudah bisa membangun rumah yang bagus buat ayah dan keluarganya tinggal.
"Dan sekarang ini tidak ada lagi orang yang bisa meremehkan ayah ku. " batin nisa dalam hati.
Nisa berjalan keluar dengan mengendarai mobilnya yang sedang menuju ke sebuah taman. Tempat di mana ia juga membuang rasa suntuk nya dikala itu.
"Huft, akhirnya aku sudah berada di titik ini. Legah banget rasanya ya tuhan. Sakit yang selama ini ku pendam sekarang sudah sirna. Trimakasih, aku sangat bersyukur atas nikmat mu ini. Maaf aku sudah pernah menyalahkan mu atas keadaan ku waktu itu. Dan sekarang aku di penuhi dengan rasa syukur."
Ia sadar, kesuksesan sejati yang ia capai hari ini bukan karena ia berhasil membungkam mulut orang lain, melainkan karena ia berhasil menang atas keraguan dan ketakutan di dalam dirinya sendiri.
Dendam itu telah padam, digantikan oleh rasa percaya pada langkahnya sendiri.