"Aku pulang" Aurora membuka pintu rumahnya. Ia menunduk sedih karena tidak ada balasan seperti anak lainnya, yang biasanya dibalas 'Selamat datang, ayo makan'.
Rumahnya sunyi dan sepi bak sarang hantu, ia adalah anak tunggal yang telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.
Aurora melepas kaca matanya di depan meja rias. "Hufftt.. Hari ini makan apa ya" Ucapnya pada diri sendiri.
Mengganti pakaiannya menjadi santai, gadis itu berjalan menuju dapur sambil bernyanyi menikmati hari. Saat ia melewati sebuah bingkai foto yang tak pernah ia bersihkan sedari tiga tahun yang lalu, Aurora berhenti.
"Ini foto Ibu dan ayah... Udah lama setelah kejadian mereka menghilang secara misterius, aku nggak pernah bersihin foto ini". Aurora tersenyum lalu mengusap pelan Foto orang tuanya bermaksud membersihkan.
SRINGGGG
Tiba-tiba foto tersebut bersinar terang membuat Aurora reflek menutup mata. Saat dirinya membuka mata, ia terkejut karena sudah berada di perpustakaan.
Perpustakaan normal, banyak buku berjejeran, orang-orang mencari atau membaca buku, suasana yang sangat disukai Aurora sejak dulu.
"Kenapa aku ada disini.." Ucapnya bingung.
"Selamat datang di Theo Library!" Seorang pemuda datang, ia memakai seragam sekolah biasa namun terlihat sedikit...mewah?
"Ah halo, namaku Aurora.. Dan tadi kau bilang Theo Library? Boleh tahu ini di daerah mana?"
"Namaku Galen, seorang yang akan mengantarmu kepada seseorang di ruangan VIP" Pemuda yang ternyata bernama Galen itu menarik pergelangan Aurora tanpa basa-basi.
"T-tunggu, kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Kau akan tahu sesampai disana"
Ceklek.
"Sudah datang?" Seorang Pria berbadan kekar itu tersenyum.
"Sudah, Guru!"
"Bagus Galen. Sekarang ambilkan buku itu di rak rahasiaku".
"Baik"
Aurora terdiam, ia sangat pusing, ada apa dengan hari ini, apa ini semua mimpi?
"Ini bukan mimpi" Pria itu berucap seolah telah membaca pikiran Aurora.
"Eh ah, apa ini penculikan?" Gadis itu bertanya dengan cengo.
Terkekeh, "Bukan. Namaku Felix, kau ingin bertemu orang tua mu kan?"
Aurora tersentak, jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. "Y-ya!"
"Guru, ini bukunya" Galen datang membawa buku yang dibungkus kain putih.
"Duduklah" Felix memberi perintah.
"Baik~"
Aurora masih menatap serius Felix, kenapa pria asing ini tahu masalah orang tuanya?
"Baik aku tak mau berbasa-basi lagi. Orang tua mu terjebak di dalam buku ini" Felix membuka bungkusan kain putih itu hingga nampak sebuah buku kusam bersampul merah, kertasnya telah menguning dan memudar.
"Pak, jangan bercanda" Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya, ia telah membuang waktu disini.
"Aku tidak berbohong, hanya kau yang dapat menyelamatkan orang tuamu"
"Baiklah jika itu benar, bagaimana caranya"
"Tanda lahir di lenganmu" Felix menarik lengan Aurora lalu memperlihatkan sebuah tanda lahir berbentuk aneh.
"Kau.. Bagaimana kau bisa-"
Felix memotong ucapan Aurora, "Cepat tempelkan tanda lahirmu dengan buku ini".
Mau tak mau, Aurora pun menempelkan tanda lahirnya di sampul merah itu.
Lalu tiba-tiba dalam sekali kedip ia sudah berada di lorong rumah sakit... Ah sh*t! Kenapa harus lorong.
"Apa lagi inii!!" Aurora berteriak, frustasi rasanya.
"Sayangg" Suara ibunya yang lembut bagai sutra masuk kependengaran Aurora, membuat gadis itu tertegun.
Itu adalah ibunya!
"Ibu, kau dimana!!"
"Tidak, Aurora! Kau jangan kesini nak" Suara ibunya kembali terdengar.
Aurora menggeleng keras, "Aku harus menyelamatkan mu"
Gadis itu membuka salah satu kamar inap yang terlihat gelap. Suara decitan pintu yang khas tercipta, berbekal rasa tekat Aurora berjalan masuk. Lampu kamar berkedip kedip, hawanya sangat dingin hingga menusuk tulang.
Menoleh ke kanan, ia hanya melihat ranjang kosong. Menoleh ke kiri, di kursi, ibunya terikat!
"Ibu" Aurora berlari menuju kursi dengan wajah cerah. Namun tiba-tiba ada seorang wanita berpakaian putih dan rambutnya berantakan muncul didepan Aurora.
Tangannya memegang kepala Aurora, kukunya yang tajam membuat gores luka di pipi. Wajahnya seram, matanya melotot dan mukanya rusak.
"Akhhh Ibuu!!!"
"Aurora! Lari!" Ibu berteriak histeris, jangan sampai anaknya kesakitan. Tuhan.. Tolong kami.
Aurora mencoba melepas kepalanya di genggangam wanita seram itu, namun hanya membuat luks gores semakin dalam. Aurora merasa kesakitan, ia terlalu ceroboh untuk berpikir bahwa kasus hilangnya orang tua adalah hal sepele.
BRAKK
sebalok kayu besar menghantam kepala wanita seram dan membuat wanita itu tak sadarkan diri. Aurora terkejut, lalu menoleh kebelakang hendak tahu siapa yang menyelamatkan nya.
"Ayah!!!"
"Sayangku" Mereka berpelukan dengan haru, sangat erat. Aurora sudah tak peduli dengan luka di seluruh wajahnya, ia hanya rindu ayah dan ibu.
"Kita selamatkan ibumu dulu, sebelum wanita ini kembali bangun" Ayah langsung berlari dan melepas ikatan ibu dengan cekatan.
"Ayo lari, keluar dari sini!" Mereka bertiga berpegangan tangan, berlari bersama dan memastikan bahwa mereka akan pulang bersama.
"Ja...ngan.. Harap..." Wanita seram itu terbangun dengan kepala terbalik, lalu tangan tajamnya bergerak membenarkan posisi.
"Sialan, ayo lebih cepat!"
Ayah menggendong Aurora agar lari mereka semakin cepat, sedangkan dibelakang wanita seram berlari dengan langkah besar mengejar mereka.
Didepan mereka sudah ada pintu yang bercahaya terang, "Itu pintu keluarnya ayah!" Aurora berteriak girang, mereka akan selamat.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, puluhan langkah mereka berlari hingga sampai di pintu keluar.
"Kita.. Selamat, ayo pergi".
Aurora, ibu, dan ayah masuk bersama-sama melewati cahaya terang, luka-luka diseluruh tubuh mereka menghilang.
KRINGGGGGGG
"Hah! Hah hah hah hah" Aurora mengusap wajahnya.
"M-mimpi?" Gadis itu menatap tangannya tak percaya. "Ayah ibu!"
Aurora berlari menuju dapur, lalu tertegun saat melihat ibunya sedang memasak, dan ayahnya membaca koran harian.
"Sudah kembali.. Mimpi buruk sudah berakhir" Aurora bergumam lalu menangis, membuat orang tuanya tersentak kaget.
"Sayang kenapa kau menangis!"
"Kau butuh handphone baru?"