Ada satu dunia di luar sana yang belum pernah kusentuh. Dunia petualangan. Dan malam itu, semuanya dimulai karena sebuah ajakan. Aku benar-benar ingin berterima kasih kepada temanku—partner yang memberiku kesempatan luar biasa ini untuk melangkah masuk ke dunia yang baru. Semoga kalian selalu sehat dan bahagia.
Namun, bagian tersulit dari sebuah perjalanan terkadang bukanlah jalurnya, melainkan langkah paling awal: mendapatkan restu orang tua.
Jujur, karena ini adalah pengalaman pertamaku, meluluhkan hati Ayah dan Mama butuh perjuangan yang tidak main-main. Berhari-hari aku memutar otak, mencari cara paling meyakinkan untuk membuktikan bahwa perjalanan ini akan aman.
"Usaha tidak akan mengkhianati hasil," kalimat itu benar adanya. Ketika kata "iya" akhirnya terucap dari mereka, rasanya dadaku ingin meledak oleh kebahagiaan. Senyumku terus terpancar, tak bisa disembunyikan.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Demi malam ini, aku sengaja menukar jadwal kerjaku yang biasa sore ke malam menjadi pagi ke sore. Begitu jam pulang berbunyi dan senja mulai turun, aku bergegas pulang. Mandi secepat kilat, lalu mengecek kembali semua barang bawaan di dalam tas.
Ketika kegelapan malam benar-benar jatuh, aku duduk menunggu dengan debar jantung yang kian cepat. Tak butuh waktu lama, suara motor temanku terdengar di depan rumah. Rasa senang itu membuncah lagi.
Ayah dan Mama menyambut mereka dengan hangat. Teman-temanku dengan sopan langsung menghampiri kedua orang tuaku untuk berpamitan. Sebelum kami benar-benar melangkah pergi, wejangan-wejangan khas orang tua yang penuh kekhawatiran sekaligus kasih sayang mengiringi langkah kami.
Kami pun membelah jalanan malam menuju titik kumpul utama, yaitu rumah dari temannya temanku. Begitu sampai, di sana sudah berkumpul anggota tim yang lain. Karena ini pertama kalinya aku bertemu mereka, ada rasa canggung yang membuatku sempat malu-malu kucing. Tapi, hey, perjalanan harus tetap berlanjut! Setelah memastikan perut kenyang dan persiapan matang, mesin motor kembali dinyalakan.
"Dinginnya malam mulai menusuk kulit, tapi hangatnya obrolan di sepanjang jalan perlahan mengusir rasa sunyi."
Kami mengobrol tentang banyak hal, salah satunya menebak-nebak bagaimana rasanya mendaki Sibayak nanti. Seingatku, terakhir kali aku pergi ke arah Berastagi adalah saat masih duduk di bangku kelas 6 SD atau 1 SMP. Sudah lama sekali! Dan sepanjang jalan, aku dibuat terpukau. Banyak sekali perubahan yang terjadi di sana hingga membuatku membatin, Astaga, aku benar-benar sudah tertinggal jauh.
Aku menikmati setiap detik perjalanan malam itu dari kursi belakang motor. Menatap lampu-lampu jalan yang bergerak mundur, ditemani embusan angin pegunungan yang membuat tubuhku sedikit menggigil.
Singkat cerita, roda motor kami akhirnya berhenti di tempat tujuan: Pos 1 Gunung Sibayak. Rasa senang yang sempat meredup karena lelah di jalan, seketika menyala kembali. Kami berkumpul, merapatkan barisan membentuk lingkaran kecil, dan menundukkan kepala sejenak untuk berdoa demi keselamatan bersama.
Pendakian pun dimulai.
Makin ke atas, jalur yang kami lalui semakin menanjak dan menguras tenaga. Namun, tidak ada satu pun dari kami yang menyerah. Kami saling melempar kata penyemangat, memastikan tidak ada yang tertinggal di belakang.
Di sinilah aku menyadari satu hal yang luar biasa indah dari dunia pendakian: rasa kepedulian dari orang-orang asing. Di tengah kegelapan jalur, suara-suara ramah dari pendaki lain yang berpapasan terdengar begitu tulus.
“Semangat, Kak, Abang! Lima menit lagi sampai!”
“Kak, di atas ada Gacoan, ayo semangat-semangat!”
Mendengarnya membuatku batin berseru, Wah, gila! Keren banget! Sebagai pemula, interaksi hangat antar-orang asing seperti itu benar-benar membuatku sangat bersemangat dan takjub!
Teman-temanku pun tak kalah luar biasa. Mereka berulang kali menoleh ke belakang, memastikan keadaanku baik-baik saja. Beruntung, malam itu semangatku sedang membara di puncak tertinggi. Rasa lelah seolah menguap begitu saja, kalah oleh rasa penasaran dan bahagia.
Bahkan, teman dari temanku sampai keheranan melihatku. “Kok bisa nggak capek?” atau “Kok nggak ada ngeluh-ngeluhnya sama sekali?” Padahal, ini adalah pendakian pertamaku, sementara mereka sudah berkali-kali ke sini tapi justru terlihat lebih lelah dariku. Aku sendiri bingung kenapa fisikku sekuat itu malam itu. Mungkin, karena saat kaki ini menyentuh tanah pegunungan, aku merasa benar-benar hidup. Seolah-olah... alam bebas inilah duniaku yang sebenarnya.
Sebenarnya, jika dituliskan semua, kisah perjalanan ini masih sangat panjang. Namun, poin terpenting dari malam itu adalah kebahagiaan luar biasa yang kurasakan. Menyenangkan sekali bisa bertemu dengan teman-teman baru yang langsung terasa akrab seperti sahabat lama, tanpa ada rasa canggung sedikit pun.
Malam itu, di bawah langit Sibayak, aku mengukir sebuah memori baru. Sebuah pengalaman pertama yang benar-benar luar biasa!