Rian turun dari bus antarkota pukul empat sore. Udara kota kecilnya masih sama: campuran debu, bensin, dan aroma tanah setelah hujan. Delapan tahun ia merantau ke ibu kota, dan delapan tahun pula ia pulang dengan koper berisi baju, buku, dan rasa gagal yang tidak pernah ia ceritakan lewat telepon.
Rumahnya masih berdiri di ujung gang. Cat putihnya mengelupas, tetapi pot bunga di teras tetap rapi. Rian mendorong pintu. Di ruang tengah, ayahnya duduk di kursi rotan, menatap televisi yang tidak menyala.
“Yah, Rian pulang,” kata Rian.
Pak Hasan menoleh. Tatapannya kosong, lalu seperti mengenali sesuatu yang jauh. “Kamu sudah pulang sekolah? Bukumu mana?”
Rian terdiam. Ia baru tahu ayahnya pikun. Tetangga bilang Pak Hasan mulai sering lupa, tetapi Rian mengira itu hanya kabar yang dibesar-besarkan. Kenyataannya, ayahnya tidak mengenalinya sebagai anak yang sudah dewasa. Pak Hasan hanya tahu Rian kecil yang pulang sekolah jam empat.
Hari-hari berikutnya terasa berat. Rian harus mengurus surat-surat rumah, tagihan listrik, dan obat ayahnya. Setiap sore, Pak Hasan selalu bangkit dari kursi, memakai topi, lalu berjalan pelan ke halte bus di depan gang. Rian mengikutinya dari belakang.
“Ayah mau ke mana?”
“Menjemput Rian.”
“Rian sudah di rumah, Yah.”
Pak Hasan menggeleng. “Belum. Dia pulang jam empat. Kalau Ayah telat, dia nangis.”
Rian ingin marah, tetapi tidak bisa. Ia hanya menuntun ayahnya pulang. Besoknya, hal yang sama terjadi lagi. Dan lagi. Rian mulai lelah. Ia merasa ayahnya lebih mencintai bayangan masa lalu daripada dirinya yang nyata.
Suatu sore, Rian membereskan lemari ayahnya. Di dasar lemari, ia menemukan buku kecil bersampul cokelat. Isinya catatan rute angkot yang dulu dikemudikan ayahnya. Ada nama-nama penumpang, jam, dan coretan kecil. Di halaman terakhir, tulisan ayahnya masih rapi.
“Rian pulang sekolah jam 4. Jangan telat. Dia takut sendiri.”
Rian membalik halaman sebelumnya. Ada catatan bertanggal bertahun-tahun lalu.
“Hari ini Rian dimarahi guru. Aku belikan es krim di halte. Dia senang.”
“Hari ini Rian menang lomba menggambar. Aku tunggu di halte. Dia lari memelukku.”
“Hari ini Rian bilang mau merantau. Aku tidak bisa menahannya. Aku hanya bisa menunggu.”
Halaman terakhir membuat dada Rian sesak. Ternyata halte itu bukan sekadar tempat menunggu bus. Halte itu adalah tempat ayahnya pernah menjadi pahlawan kecil setiap sore. Tempat ayahnya selalu ada, bahkan ketika Rian lupa menelepon.
Malam itu Rian menangis di kamar mandi, menutup mulut agar ayahnya tidak dengar. Ia baru sadar, selama delapan tahun ia sibuk mengejar dunia, sementara ayahnya menua di kursi rotan, menyimpan rindu yang tidak pernah ia ucapkan.
Besok sore, Rian tidak lagi menahan ayahnya. Ia memakai seragam sekolah yang sudah tidak muat, lalu berjalan bersama Pak Hasan ke halte.
“Ayah, hari ini Rian pulang,” katanya.
Pak Hasan menatapnya lama. Untuk pertama kali, matanya seperti menemukan sesuatu. “Kamu sudah besar.”
“Iya, Yah.”
“Ayah telat ya?”
“Tidak. Ayah selalu tepat waktu.”
Mereka duduk di bangku halte. Bus datang dan pergi. Pak Hasan bercerita tentang penumpang yang dulu sering mengeluh, tentang hujan yang membuat jalan licin, tentang Rian kecil yang selalu membawa payung terlalu besar. Rian mendengarkan. Ia tidak menyela. Ia tidak memperbaiki ingatan ayahnya. Ia hanya hadir.
Hari itu, di halte terakhir, Rian memutuskan tidak kembali ke ibu kota. Ia membuka bengkel kecil di rumah. Penghasilannya tidak besar, tetapi cukup. Setiap sore, ia mengantar ayahnya ke halte. Kadang ayahnya lupa siapa Rian, kadang ingat. Rian tidak keberatan. Ia belajar bahwa pulang bukan tentang kembali ke tempat yang sama, melainkan tentang menjadi orang yang mau menunggu.