Part 4 Epilog: Pameran*
Jakarta, Satu tahun kemudian.
Gedung galeri di Senopati itu ramai. Orang-orang dengan blazer hitam, bawa wine, ngomongin "komposisi" dan "tone warna yang berani".
Di depan pintu, tulisan besar:
*PAMERAN TUNGGAL: DELON - "JAM 5.15"*
Delon berdiri di pojok, kemejanya masih agak kebesaran. Gugup. Setahun tidak pameran.
Seorang kurator kota menghampiri, bawa katalog.
"Delon, gila. Karya kamu berubah total. Dulu kamu pelukis landscape kosong yang melankolis. Sekarang... semua ada orangnya. Siapa gadis ini terus? Muse kamu?"
Delon hanya senyum. "Yang ngajarin saya cara balik."
Kurator itu berjalan menyusuri galeri. 24 lukisan. Semuanya Desa Kalijaga.
Lukisan 1: Air terjun pink, ada gadis bawa kayu bakar kecil di pojok.
Lukisan 5: Gadis pakai sweater hijau kebesaran, minum teh kaleng, mata ngantuk.
Lukisan 12: Tangan kasar pegang pensil gigitan, sedang menggambar makhluk kotak di buku Doraemon.
Lukisan 20: Dua orang jalan di kebun kopi gelap, hanya siluet, tapi cahaya dari celah pinus bikin bayangan mereka panjang.
Dan di tengah galeri, di tempat yang paling terang, yang biasanya untuk karya termahal...
Bukan lukisan cat air mahal.
Tapi kertas buku tulis garis biru, sudah lecek, di dalam bingkai kaca paling mahal.
Gambar makhluk kotak kepala besar, rambut sapu lidi, mata juling, tas kebesaran. Di bawahnya tulisan spidol hitam: `MAS DELON GANTENG`.
Semua pengunjung berhenti di situ. Ada yang bingung. Ada yang ketawa.
Seorang ibu-ibu berkerudung nyeletuk, "Ini... ini apa ya? Kok dipajang di tengah?"
Sebelum Delon jawab, pintu galeri terbuka. Angin masuk.
Sari.
Masih rambut kuncir rendah. Tapi sekarang pakai dress sederhana warna krem, bukan kaos abu-abu. Sendal swallow-nya ganti sepatu kets putih yang kebesaran. Di tangannya, masih buku Doraemon itu, yang versi baru.
"Telat!" katanya ngos-ngosan, langsung ke Delon. Tidak peduli orang-orang blazer. "Angkotnya macet! Sunrise Jakarta ga se-pink di desa!"
Semua orang menatap.
Delon tertawa. Mengambil buku Doraemon baru dari tangan Sari.
"Muse saya telat," katanya ke kurator. "Biasa. Dia kalau nyari kayu bakar, suka lupa waktu."
Sari mencubit lengan Delon. Lalu melihat sekeliling galeri. Matanya berhenti di bingkai tengah.
"Loh! Itu kan... itu lukisan aku! Mas beneran pajang?!"
"Kan perjanjian. Lukisan terjelek di dunia harus dipajang paling depan. Biar semua orang tau, pelukis dari kota ini dulu pernah dilukis sama guru TK yang pensilnya suka digigit."
Sari menatap lukisan jelek itu, lalu menatap 23 lukisan lain yang semuanya adalah dia.
"Mas Delon," bisiknya pelan, supaya hanya Delon yang dengar, "habis pameran ini, kita balik jam berapa? Anak-anak TK nanyain kapan Mas ajarin lukis lagi."
Delon menatap jam tangannya. Jam 7.15 malam. Jauh dari jam 5.15.
"Kapan pun," jawabnya. "Selama sunrise-nya masih ada kamu, jam berapa pun jadi jam 5.15."
Sari senyum. Gigi tidak ratanya kelihatan lagi.
Di luar galeri, Jakarta berisik. Di dalam, semua orang masih bingung kenapa lukisan terjelek itu harganya paling mahal dan tulisannya `TIDAK DIJUAL`.
Karena beberapa lukisan memang bukan untuk dijual.
Tapi untuk dibawa pulang.
Ke desa, air terjun jam 5.15 yang pink.
*- TAMAT -*
---