Part 2: Sunrise Jam 5.15*
Delon tidak tidur semalaman.
Bukan karena alas tikar di pos ronda desa itu keras. Tapi karena jam di HP-nya sudah 4.47 dan kata Sari kemarin, sunrise pink itu cuma ada di jam 5.15. Kalau telat 10 menit saja, hilang.
Jam 5.00, dia sudah lari setengah jalan. Cat air, buku sketsa, bahkan bekal singkong goreng dari Bu Kades dia bawa.
Air terjun masih gelap. Kabut lebih tebal dari kemarin. Sepi. Dinginnya menusuk sampai ke kaos.
"Kupikir Mas ga bakal balik."
Suara itu dari belakang.
Sari sudah ada di sana. Tanpa kayu bakar hari ini. Rambutnya masih dikuncir rendah, tapi pakai sweater kebesaran warna hijau pudar. Di tangannya ada dua gelas kaleng bekas, isinya teh panas.
"Kamu duluan?" tanya Delon.
Sari mengangguk, duduk di batu yang kemarin Delon duduki. "Aku tiap pagi di sini kok. Cuma biasanya jam 5 aku udah selesai nyari kayu. Kemarin aku sengaja agak lama, biar diliat Mas."
Delon tersedak tehnya. Sari tertawa, giginya yang tidak rata itu kelihatan lagi.
Jam 5.12, langit mulai berubah.
Kabut yang tadinya putih, perlahan jadi pink. Bukan pink cat, tapi pink sungguhan — seperti langit malu-malu. Sinar matahari menyusup dari balik pinus, memantul di air terjun, bikin seluruh kolam jadi warna peach keemasan.
"Lihat," bisik Sari.
Delon lupa melukis. Dia hanya menatap.
Indah sekali. Terlalu indah untuk dilukis.
"Kenapa Mas berhenti ngelukis di kota?" tanya Sari tiba-tiba.
Delon kaget. "Kok tau?"
"Soalnya tas Mas banyak cat, tapi tangannya gemetar pas ngelukis kemarin. Kayak orang yang udah lama ga ngelukis manusia."
Delon diam. Lama.
"Dulu aku pelukis pameran. Di kota. Lukisanku laku. Tapi semua orang cuma mau lukisan gunung, pantai, sawah yang bagus buat di ruang tamu. Ga ada yang mau lukisan tentang orangnya. Akhirnya aku capek. Makanya aku pergi. Aku mau lukis tempat yang sepi. Yang ga ada orangnya."
Sari menatap kolam pink itu. "Salah dong."
"Apanya?"
"Kalau Mas lukis tempat sepi terus, siapa yang bakal kangen sama tempat itu? Gunung ga bakal kangen Mas. Air terjun juga engga. Tapi kalau Mas lukis aku di sini..." dia menatap Delon, "aku bakal kangen lukisan itu. Dan Mas bakal kangen balik ke sini."
Jam 5.23, warna pink itu hilang. Kembali jadi putih biasa.
Delon akhirnya membuka buku sketsanya. Halaman kosong.
Kali ini dia tidak melukis air terjunnya dulu.
Dia melukis Sari dulu. Sedang duduk di batu, pegang teh kaleng, sweater kebesaran, mata ngantuk tapi senyum. Di belakangnya baru dia tambahkan air terjun pink itu.
"Je... jelek," kata Delon malu.
Sari merebutnya. Menatap lama.
"Bagus," katanya pelan. "Ini pertama kalinya aku dilihat bener-bener, bukan cuma lewat."
Sore itu, Sari tidak pulang dengan kayu bakar.
Dia pulang dengan janji.
"Besok jam 5.15 lagi?" tanya Delon.
Sari mengangguk. "Tapi besok gantian. Aku yang lukis Mas."
"Emang bisa?"
"Ga bisa. Tapi kalau jelek, Mas tetep harus bilang bagus. Kayak Mas bilang lukisan Mas kemarin jelek, padahal bagus."
Dan untuk pertama kalinya setelah 5 tahun, Delon merasa bukunya tidak kosong lagi. Karena akhirnya, ada alasan untuk kembali ke satu tempat yang sama.
Bukan karena pemandangannya.
Tapi karena orangnya masih nunggu di sana, jam 5.15.
---