Pada malam hari aku pergi ke pantai bersama temanku yang bernama Tika. Kami kepantai untuk mendatangi tempat yang 'kakek itu' memberi tahukan kami keberadaan warisan nenek moyang kami pada jaman dahulu kalah. Tengah gelapnya malam, aku dan Tika kepantai dengan menggunakan sepeda bonceng dua, dan aku yang mengendarainya. Malam berkabut yang sunyi dan gelap.
Tengah perjalanan kami, tiba-tiba sepeda menjadi hilang dengan sendirinya, dan tiba-tiba kami jadi berposisi berdiri tegak disekelilingi cahaya putih. Aku melihat diriku sendiri tubuhku ditutupi aura, dan aura itu berwarna biru. Aku tidak tahu itu apa dan aku langsung bergegas memberontak ditempat itu. Alhasil, aku tiba tiba kembali ke posisiku saat mengayunkan sepeda.
"Apa itu? Ilusi, " tanya Tika yang kebingungan.
"Ntah akupun tidak tahu, " jawabku.
"Eh sebentar, kau ingat perkataan kakek itu? Bahwa akan banyak halangan saat kita ketempat itu, dan kau ingat dia pernah membicarakan tentang kabut ilusi?, " ucapku dengan berfikir sambil mengingat-ingatkan perkataan kakek itu.
"Oh iyaaa dia berkata seperti itu, dan dia juga bilang kalo kita harus bertahan sampai kita sampai ketempat yang ingin kita tuju, jika tidak? Katanya kita pasti mati, " jawab Tika sambil mengingat-ngingat perkataan kakek.
"Cih mengerikan, kita harus bertahan!, " teriakku.
"Siap!"
Jalanan yang melewati hutan-hutan yang gelap, amat sangat gelap ditutupi kabut yang tebal. Sunyinya malam, dinginnya malam membuatku semakin bersemangat untuk mencapai tempat itu. Saat diperjalanan, ditengah-tengah hutan yang berkabut itu tiba-tiba muncul anak panah.
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sethh
Sleebb
Sepuluh anak panah mengarahkan kepada kami. Kaki kananku terkena anak panah itu. Kakikku mengeluarkan darah yang sangat banyak. Anehnya, aku tidak merasakan sakit sama sekali.
"Astaga Karin kau tak apa?, " ucap Tika sambil mencabut anak panah yang ada dikakikku.
"Aku tak apa"
"Hei, darahmu banyak"
"Sejujurnya aku tidak merasakan sakit, jadi mari kita lanjutkan perjalanan"
"Aku ingin sekali bertukar posisi, aku ingin memboncengmu, tapi aku sadar aku tak bisa menggunakan sepeda"
"Tak apa, biar aku saja"
Aku langsung menggoweskan sepeda lagi. Langit sudah menuju pagi, dan aku masih belum sampai juga. Aku sangat tidak sabar. Kata kakek, warisan itu berupa pedang. Aku sangat menginginkan pedang. Kuharap pedang itu bisa dibagi menjadi dua agar satunya itu untuk Tika. Hal apapun bisa terjadi.
Ditengah perjalanan, aku bersyukur karena tidak ada halangan lagi, jadi aku bisa menggowes sepeda secepat dan sekencang mungkin agar cepat sampai tujuan. Tika tertidur lelap sampai memelukku dari belakang, pasti dia lelah.
Kukuruyuk...
Pagi hari sudah tiba, dan aku sangat-amat bersyukur bisa sampai tujuan dengan selamat. Darah dikakikku berhenti dan menghilang bekas lukanya. Mengapa cepat sekali? Padahal aku tidak melakukan apapun.
Dan setibanya dipantai, kami tiba ditengah-tengah pulau dilaut itu. Kami harus keluar hutan untuk mendapatkan pedang itu. Karena kata kakek, pedang itu terletak didepan pulau tepat samping laut.
"Tika? Bangunlah, sudah tiba dipantai, tinggal kita cari pedang itu bersama!, " ucapku.
Tika tak kunjung bangun. Akhirnya, aku mencari pedang itu dengan menggunakan sepeda dan melihat-lihatnya sendiri. Aku melihat sesuatu seperti api biru? Tidak, bukan. Aku tidak tahu itu apa. Yang jelas, aku menuju ketempat biru-biru tadi.
Pedang, ya itu ternyata pedang yang ada cahaya biru-biru tadi. Tempat yang ditengah-tengah bangunan kuno dan banyak bebatuan kuno yang banyak tulisan sansekerta. Tika tiba-tiba segera terbangun dan dia bergegas menuju pedang itu. Kakek bilang, untuk mengambilnya bersama, tapi dia malah duluan.
"Hei, ayo barengan mengapa kau ingin cepat-cepat mengambilnya dan ingin lebih dulu dariku?, " tanyaku yang jalan kecil sambil mengikuti Tika.
"Hahahaha, tentu saja aku ingin lebih dulu, karena aku tak ingin membaginya denganmu, bwahahahaha, " ucapnya dengan tertawa menyebalkan.
"Hei apa-apaan itu, perjanjian kita itu bersama, kakek pun bilang seperti itu kok!"
"Ku tak peduli. Sekarang, mari berebut siapa yang bisa mengangkatnya, dia yang dapat"
"Cih terpaksa, siapa takut sialan!, kau sudah melanggar janji dan tak akan kumaafkan itu"
"Siapa juga yang meminta maaf kepadamu, wahai Karina?"
"Liat saja nanti, sial"
Tika brengsek muka dua, dari awal perasaanku tidak enak. Dugaanku yang dia mencabut anak panah dari kakikku itu sengaja, agar aku kehabisan darah. Tak mungkin dia tidak sengaja mencabutnya.
"Akh brengsek aku tak bisa mengangkatnya, " ucap Tika.
Aku bergegas mengangkat pedang itu, dan tiba-tiba Tika mendorongku sekuat tenaga.
"Uh minggir kau, " ucap Tika sambil mendorongku.
Aku terjatuh dan langsung kembali bangkit untuk mengangkat pedang itu lebih dulu. Sejujurnya aku padahal ingin mengangkat pedang itu bersamaan dengab Tika, tapi karena dia sudah nenghianatiku, aku harus menang.
Syaht
Aku berhasil mengangkat pedang itu.
"Brengsek, sial, " ucap Tika.
Tiba-tiba, cahaya dari pedang membesar dan cahaya itu putih, tiba-tiba aku kesuatu kota yang besar. Aku merasa kota ini adalah kota masa depan. Disini aku menjadi seorang wanita yang mempunyai keluarga dengan 3 bersaudara dan aku anak kedua dan tinggal disuatu rumah ditengah-tengah gedung tinggi.
"Kakak, ini diminum susunya, " ucap seorang wanita paruhbaya, anehnya aku memanggil dia Ibu.
"Iya bu, terimakasih, " jawabku sambil menghabiskan segelas susu.
Saat itu sudah pagi hari, aku bergegas keluar rumah dan jalan jalan. Tiba-tiba tanganku mengeluarkan cahaya biru. Aku tak tahu itu apa. Tapi, itu cepat menghilang dengan sendirinya. Seorang pria dan wanita datang kepadaku.
"Kau, boleh ikut dengan kami?, " tanya pria nya.
"Tentu saja boleh, " jawabku.
Aku pergi kesuatu tempat, dimana kesananya dengan sebuah portal tersembunyi disekitar jalan sempit.
Aku sampai disuatu gedung yang seperti istana. Lalu, aku masuk kesana bersama dengan pria dan wanita itu.
"Maaf kami belum perkenalkan diri, perkenalkan nama saya Azhar, dan ini adik saya Shilda, kami kembar yang berbeda gender, " ucap lelaki itu.
"Hai, salam kenal, nama aku Karina, " jawabku.
Sehabis perkenalan, didalam gedung itu terdapat banyak tembakan modern dan berbagai alat tarung lainnya.
"Mau kah kau menjadi pemimpin kami?, " tanya Azhar yang membuatku terkejut.
"E-eh kenapa tiba-tiba?"
"Tentu saja, auramu besar sekali, sungguh aku ingin sekali kau menjadi pemimpin disini, karena disini tidak ada pemimpin, aku tidak bisa memimpin, " ucap Azhar.
"Hei kenapa tiba-tiba? Tentang kekuatan Aura aku belum bisa menggunakannya, tapi tadi sedikit keluar kekuatanku, " jawabku.
"Ditempat ini ada ujian, siapapun yang mendapatkan point tertinggi dia menjadi pemimpin, disetiap ruangan ada tantangan tersendiri dan harus melewatkan semuanya,, tapi belum ada yang menempatkannya, kau cobalah"
"Baiklah, aku akan mencobanya"
Tantangan demi tantangan dengan mudahnya kulewati. Tanpa sadar, aku mampu menggunakan kekuatanku sendiri. Lalu, aku resmi jadi pemimpin disana. Aku bisa merasakan aura lainnya, aku merasakan ada aura besar dan ada juga yang kecil.
"Selamat, kau resmi jadi pemimpin kami, kau disini hanya mengecek kinerja mereka saja ko, sisanya kami yang mengurusnya"
"Untuk apa aku jadi pemimpin tapi tidak memimpin sesuatu?"
"Kau akan memimpinnya nanti jika ada perang"
"Owh oke"
Singkat cerita, aku bolak balik dari dimensi asli ke dimensi lain. Didimensi asli, aku mempunyai masalah dengan keluargaku, ya aku bukan keluarga kandung mereka dan aku mempunyai seorang kakak laki laki, itu kakak kandungku yang asli didunia yang sekarang ini. Tunggu, aku kepikiran dengan Reinkarnasi.
Kakakku itu seorang agen Rahasia, ia pemimpin dari segala organisasi dunia. Rumahnya benar-benar ditutupi untuk publik, dan data diri diapun ditutupi.
Saat itu aku diajak kerumahnya dengan naik Helikopter. rumahnya ditengah-tengah hutan yang lebat dengan tanaman. Rumah ia tidak berupa rumah, namun istana. Besar, sangat besar. Dilapangannya ada tempat memanah dan aku menyukai itu, ada tempat berkuda, dan lain-lain.
"Hei Karin, mari masuk dan makanlah sesuatu didalam rumah, " ucap Kakak.
"Baik ka, terimakasih"
Aku bergegas masuk kedalam rumah, disuguhi banyak buah buahan dan makanan mewah lainnya. Saat ditengah aku sedang makan, tiba-tiba telingaku berdengung, dan aku mendengarkan suara Azhar.
"Karin, ada orang yang sedikit lagi mencapai pointmu"
"Oke aku akan kesana"
Tubuhku tiba-tiba berpindah tempat ketempat Azhar dan Shilda berada.
Sebelum itu, dirumah kakak Berada, aku sempat keruangan yang ada dipojok kiri, aku dilarang masuk disitu karena dia bilang berbahaya.
"Hei, siapa yang hampir menandingiku?"
"Seorang pria bernama Glenn, " jawab Shilda.
"Jadikan dia sebagai wakil, aku lebih sibuk didimensi nyata saat ini"
"Baiklah"
Lelaki itupun menghampiriku.
"Halo, perkenalkan nama saya Glenn"
"Sudah tau, sekarang kau urus semua yang ada disini selama aku didimensi nyata"
"Baik, nona"
Aku kembali ketempat kakak. Tapi, saat disana aku diajak untuk kesuatu tempat, tempat itu disuatu gurun. Lalu aku diajaknya untuk kebawah tanah dan aku dikurung disitu.
*pov author
Kakaknya mempunyai kekuatan aura juga, dan tingkatan dia sudah dibawah paling tinggi, yaitu Infinity Blue, sedangkan yang tertinggi adalah Infinity White dan musuh dari Infinity Black. Sejak awal Azhar ketika menemui kakaknya dan diperkenalkan olehnya, dia tersadar bahwa kakaknya itu sedang menekan kekuatannya sendiri yang sangat besar. Kekuatan Aura yang besar bisa menjadikannya bersayap, dan bisa membuat senjata sendiri dengan kekuatannya itu secara langsung. Aura nya sama seperti sebuah partikel yang bisa dijadikan benda apa saja dengan kekuatan yang tinggi.
Kakaknya membuat Cloningan adiknya sendiri. Yang kekuatannya dari dia sendiri dan tidak sebesar Karina. Mereka sama persis, namun yang membedakan hanyalah kekuatannya. Clon itu bergerak selayaknya menjadi 'Karina'.
"Karin? Tumben kau kemari, " tanya Azhar yang mulai curiga.
"Ah iya, waktuku sedang kosong"
"Oalah, silahkan dilihat kembali ya kinerja merekanya"
"Baik, Azhar"
Karina(clon) melihat lihat isi ruangan itu, dan bertemu dengan Glenn.
"Halo nona, selamat datang"
"Iya terimakasih"
*tumben kau Karin, biasanya cuek denganku, ditambah lagi kenapa kekuatannya tidak sebesar kemarin?* batin Glenn.
Karina pun segera kedimensi asli, dan disana tiba-tiba dia diserang.
"Siapa kau menyerangku?"
"Siapapun aku bukan urusanmu, mati kau brengsek"
Karina diserang sampai dia kalah. Kakaknya bergegas membawa nya kesuatu tempat. Lebih tepatnya Clon Karina yang kalah dibawa kembali oleh yang membuatnya. Kakaknya Karina menggendong clonnya dengan kekuatan aslinya, besar, sangat besar. Wujudnya yang ada sayapnya. Glenn mengikutinya dengan cara teleportasi. Kakaknya ke menuju ke Gurun tempat Karina asli dikurung.
"Cih, ngapain di brengsek ini?, " ucap Glenn sambil menghina kakaknya Karin.
"Hei, jika Karina dengar, mungkin nyawamu tidak akan selamat, " ucap Azhar yang mengangetkan Glenn
"Cih mengapa kau ikut kesini?"
"Melihat kebenaran"
"Ck, iya juga ayo kesana"
"Oke"
Glenn dan Azhar menghampiri kakaknya Karina yang sedang menggendong Karina itu.
"Hei berhenti!" ucap Glenn.
"Reseh, untuk apa kalian kemari?"
"KEMBALIKAN KARINA!"
"CK, apa apaan tu"
Swushhh
Glenn menyerang kakaknya Karina dengan kobaran api.
"Aku tahu kekuatan auraku memang lebih sedikit dibanding kalian, tapi aku tak akan kalah jika bertanding dengan sesingkat-singkatnya, " ucap Glenn.
"Belaga sekali kau bocah, " ucap kakaknya Karina.
"Hei, dari awal aku sudah curiga dengan kekuatan besar yang ditekankan, " ucap Azhar.
"Anak Hebat"
Jederrr
*Duarrrr
Ledakan api kekuatan Glenn menyerang kakaknya Karina.
*Switchh
Pedang tipis kecil tajam dibaluti kekuatan Aura Blue kakaknya mengarahkan ke Azhar.
Dan Azhar menghindarnya dengan cepat.
"Woah, kekuatanmu banyak sekali ya, tapi, kekuatan Infinity pun bisa mencapai batasnya, batas pemakaian, " ucap Azhar.
"Haha, aku tak yakin kau bisa bertahan lama menggunakan kekuatan besar itu, kekuatan kecil jauh lebih tahan lama, " ucap Glenn.
"Betul, oleh sebab itu aku tak pernah sekalipun mengeluarkan kekuatan asli, " ucap Azhar.
"Berisik kalian bocah brengsek!, " teriak kakaknya Karina dengan kesal.
"Eeh lihat lihat, king kong kita marah Zhar, "
"Aowkaowkaowk"
"Cih"
Kakaknya Karina bersiap untuk bertanding, dia menaro clon Karina di belakangnya. Dengan ancang-ancang siap tandingnya. Tiba-tiba Karina aslinya muncul dari bawah tanah dan terbang keatas, kelangit yang tinggi menggunakan sayapnya. Azhar pun ikut terbang dan ia mengeluarkan kekuatan aslinya yaitu "Infinity White".