Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tiba-tiba terbangun sebagai Kaisar?
Zuhri, seorang pria pusing dari Bekasi, mungkin akan memberikanmu jawabannya.
Bukan jawaban yang tepat pastinya.
"Yang Mulia!! Apa Anda baik-baik saja?!"
Sebuah suara bernada tinggi dengan campuran rasa kekhawatiran bergema di seluruh ruangan.
Zuhri yang baru membuka matanya, membelalak kaget.
"Huh? Di mana ini?"
Saat membuka matanya, Zuhri berada di dalam ruangan yang luas nan megah, dengan beragam ornamen emas mengisi hampir setiap ruang yang ada.
Di hadapan matanya, Zuhri melihat puluhan orang dengan setelan mewah namun jadul berdiri menatapnya dengan ekspresi berbeda-beda.
Kemudian, suara dari orang yang sama terdengar.
"Yang Mulia? Apa Anda baik-baik saja?"
Melihat wajah orang itu, Zuhri mengetahui jika ialah orang yang dimaksud oleh orang itu.
"Ah! Ya, ya! Aku baik-baik saja!"
Zuhri tidak tahu situasi macam apa yang sedang terjadi padanya, tapi ia akan mencoba mengikuti arus sambil mencari informasi.
"Baiklah kalau begitu. Karena Yang Mulia telah kembali bersama kita, jadi mari kita lanjutkan persidangannya."
Dengan perkataan orang itu, sesuatu yang tampak seperti persidangan tengah berlangsung di hadapan Zuhri.
Tapi, itu bukanlah persidangan yang Zuhri ketahui, karena tidak ada hakim, jaksa, ataupun pengacara. Segalanya berjalan dengan dirinya yang menjadi pusatnya.
"Yang Mulia! Bawahan Anda ini telah melakukan kejahatan yang sangat keji terhadap Kekaisaran kita!"
Orang yang berdiri di dekat Zuhri, menunjuk pada seseorang yang dipaksa berlutut di hadapannya.
Orang itu tampak seperti tahanan.
Melihat hal ini, Zuhri sedikit banyaknya paham akan situasi yang tengah terjadi apa perannya dalam situasi ini.
"Oh? Kejahatan apa itu?"
Zuhri bertanya dengan penasaran.
"Dia dengan semena-mena telah menggelapkan uang pajak kita!"
""Itu benar!!""
""Yang Mulia, tolong hukum dia!""
Bersamaan dengan laporan yang diungkapkan oleh orang yang sepertinya adalah Perdana Menteri dari sudut pandang Zuhri, suara ricuh dari puluhan orang yang hadir di ruangan beramai-ramai menanti keputusan Zuhri.
'Wah, gila! Kirain cuma di tempat asalku saja, ternyata di sini juga ada korupsi, ya?!'
'Ternyata gak di mana, manusia itu memang serakah, ya?'
Zuhri berkata dalam hati dengan penuh keheranan.
Selepas menghela napas ringan, Zuhri mengangkat tangannya sebelum menjatuhkan putusannya.
"Jika laporan itu benar dan orang ini terbukti bersalah, maka potong kedua tangannya, sita seluruh aset keluarganya, dan buat ia dan seluruh anggota keluarganya yang ikut merasakan uang tersebut bekerja di tambang selama sepuluh tahun."
"...."
Mendengar putusan dari Zuhri, keheningan pun terjadi.
Bahkan sang terdakwa hanya bisa ternganga tak percaya.
"Hei, kita memang meminta dia untuk dihukum, tapi bukankah hukumannya agak terlalu kejam?"
"Aku tidak tahu apakah aku salah dengar, tapi memotong kedua tangannya? Bahkan iblis pun masih punya belas kasihan, bukan?"
"Memaksa seluruh anggota keluarganya menjadi pekerja tambang selama sepuluh tahun? Apakah hukuman seperti ini memang diperlukan?"
Para penonton yang tadinya bersemangat meminta penghakiman, sekarang justru berbalik ingin meminta keringanan bagi sang terdakwa.
Bahkan sang Perdana Menteri sendiri tidak yakin apakah ia harus langsung memvalidasi hukuman ini atau mencoba membujuk Yang Mulia guna merevisi hukumannya.
Sang terdakwa yang berlutut di hadapan Zuhri, hanya bisa menatap kedua tangannya. Ia bahkan tidak memikirkan soal nasib keluarganya saat ini.
Zuhri menatap keheningan itu dengan tanda tanya?
'Hmm? Bukankah seharusnya hukuman itu adalah hal yang wajar?'
'Kita membicarakan uang pajak, loh. Ada hak dari banyak rakyat yang terkandung di dalam uang itu. Jadi, menggelapkannya untuk keuntungan pribadi adalah dosa besar.'
"Ehem!"
Mendengar dehaman Zuhri, semua orang yang hadir akhirnya kembali ke kenyataan.
Perdana Menteri pun mengulangi putusan dari Zuhri dan mengintruksikan para Ksatria menyeret sang terdakwa kembali ke penjara sebelum menjalani hukumannya.
Pada saat itu, Perdana Menteri merasa merinding.
'Yang Mulia tiba-tiba menjadi sangat kejam hari ini.'
'Bagaimana bisa ia memiliki ide membuat orang cacat tanpa tangan untuk bekerja di tambang selama sepuluh tahun.'
'Hukuman semacam ini pasti akan mengubah sejarah Kekaisaran di masa depan.'
Sementara itu, Zuhri masih tidak tahu sampai kapan ia harus memainkan peran sebagai Kaisar ini.
'Siapa pun yang menyebabkanku begini, tolong, aku ingin pulang, masih banyak cicilan yang harus kubayar.'