Aynar tidak pernah tahu bagaimana rasanya mendengar suara dirinya sendiri.
Sejak lahir, dunia mengenalnya sebagai seorang gadis bisu.
Ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Tidak bisa berteriak ketika kesakitan, tidak bisa memanggil seseorang ketika ketakutan, bahkan tidak bisa mengatakan bahwa dirinya sedang bahagia.
Namun, Aynar tetap bisa merasakan semuanya.
Sedih.
Marah.
Takut.
Dan cinta.
Sayangnya, tidak semua orang mau memahami itu.
Di rumahnya sendiri, Aynar sering dianggap sebagai beban.
"Kamu itu bisanya cuma merepotkan orang!"
Bentakan itu sudah terlalu sering ia dengar.
Aynar hanya menundukkan kepala.
Tangannya bergerak perlahan, mencoba menjelaskan sesuatu dengan bahasa isyarat.
Namun ibunya justru menghela napas kasar.
"Sudahlah. Ibu tidak mengerti bahasa tanganmu itu."
Aynar terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi selalu berhasil membuat dadanya terasa sesak.
Maka ketika usianya cukup, Aynar memilih bekerja.
Ia menjadi housekeeping di sebuah hotel mewah di pusat kota. Pekerjaannya tidak mudah. Ia harus membersihkan kamar, mengganti seprai, membawa perlengkapan, dan memastikan semuanya terlihat sempurna sebelum tamu datang.
Tetapi Aynar menyukainya.
Bukan karena pekerjaannya mudah.
Melainkan karena di sana, untuk pertama kalinya, tidak ada yang bertanya mengapa ia tidak bisa berbicara.
Setidaknya, tidak setiap hari.
Hotel itu dimiliki seorang pria bernama Narendra.
Pemilik muda yang jarang sekali terlihat di area hotel.
Narendra dikenal sebagai pria kaya, dingin, dan sulit didekati.
Namun orang-orang juga membicarakan satu hal lain tentang dirinya.
Narendra sedang sakit.
Penyakit yang membuat tubuhnya sering melemah dan membuat banyak orang menganggap hidupnya tidak akan panjang.
Beberapa perempuan yang dahulu mendekatinya perlahan menjauh setelah mengetahui kondisinya.
Bagi mereka, Narendra adalah pria kaya.
Tetapi sakit.
Dan itu cukup untuk membuat mereka memilih pergi.
Narendra sudah terbiasa.
Hingga suatu sore, ia melihat Aynar.
Gadis itu sedang berdiri di depan salah satu kamar, berusaha mengangkat sebuah kotak perlengkapan yang terlalu berat untuknya.
Narendra memperhatikannya dari kejauhan.
Aynar mencoba mengangkatnya sekali.
Gagal.
Mencoba lagi.
Gagal.
Ia akhirnya duduk di lantai sambil memegangi pinggangnya.
Narendra hampir tersenyum.
Hampir.
Kemudian ia berjalan mendekat.
"Berat?"
Aynar menoleh.
Matanya langsung membesar ketika menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
Narendra menunjuk kotak itu.
Aynar mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa, Narendra mengangkatnya.
Aynar buru-buru berdiri dan menggelengkan kepala.
Tangannya bergerak cepat.
Saya bisa.
Narendra mengerutkan kening.
"Kamu bilang bisa?"
Aynar mengangguk.
"Kalau begitu kenapa tadi duduk di lantai?"
Aynar terdiam.
Narendra menatapnya beberapa detik.
Kemudian untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu.
Gadis ini tidak bisa berbicara.
Namun kedua matanya seperti selalu memiliki sesuatu untuk dikatakan.
Sejak hari itu, Narendra mulai memperhatikannya.
Bukan karena rasa kasihan.
Justru karena Aynar tidak pernah meminta dikasihani.
Ketika Narendra memberinya uang tambahan, Aynar menolak.
Ketika Narendra menawarkan untuk membantunya, Aynar berusaha melakukannya sendiri.
Bahkan ketika Narendra bertanya mengapa ia tidak pernah berbicara, Aynar hanya tersenyum tipis lalu menunjukkan sebuah buku kecil.
Di halaman pertama tertulis:
Aku tidak bisa berbicara sejak kecil.
Narendra membaca kalimat itu.
Lalu membalik halaman berikutnya.
Bukan berarti aku tidak punya sesuatu untuk dikatakan.
Narendra terdiam.
Entah mengapa, kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Hari demi hari mereka semakin dekat.
Narendra mulai belajar bahasa isyarat.
Awalnya kacau.
Gerakannya salah.
Aynar bahkan beberapa kali tertawa tanpa suara ketika Narendra salah mengartikan isyaratnya.
Untuk pertama kalinya, Narendra melihat Aynar benar-benar bahagia.
Dan anehnya, ia menyukai pemandangan itu.
Suatu malam, Narendra bertanya melalui bahasa isyarat yang baru dipelajarinya.
Kamu bahagia?
Aynar menatapnya.
Kemudian ia mengangguk.
Narendra tersenyum.
Kenapa?
Aynar berpikir sebentar.
Tangannya bergerak perlahan.
Karena sekarang ada seseorang yang mau belajar mendengarkanku.
Narendra terdiam.
Dadanya terasa hangat.
Ia kemudian menggenggam tangan Aynar.
Bukan untuk mengasihaninya.
Melainkan untuk meyakinkannya bahwa ia tidak sendirian.
Namun hubungan mereka tentu saja tidak diterima semua orang.
Keluarga Narendra menolak.
"Kamu pemilik hotel. Banyak perempuan yang lebih pantas untukmu."
"Dia bahkan tidak bisa bicara."
Narendra hanya menatap mereka.
"Justru kalian yang terlalu banyak bicara."
Ruangan mendadak sunyi.
Narendra menggenggam tangan Aynar lebih erat.
"Aku tidak menikahinya karena dia bisa berbicara."
Ia menatap Aynar.
"Aku menikahinya karena setiap kali bersamanya, aku merasa didengarkan."
Air mata Aynar jatuh.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang tidak melihat kekurangannya sebagai alasan untuk meninggalkannya.
Narendra akhirnya menikahi Aynar.
Pernikahan mereka sederhana.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada pidato panjang.
Hanya dua orang yang saling menggenggam tangan dan berjanji untuk tetap bersama.
Beberapa tahun kemudian, Narendra masih sering bertanya hal yang sama.
Kamu menyesal menikah denganku?
Aynar selalu menggeleng.
Lalu ia menulis di secarik kertas.
Tidak.
Narendra tersenyum.
"Kamu tahu?"
Aynar menatapnya.
"Aku dulu mengira dunia ini terlalu sunyi."
Ia menggenggam tangan Aynar.
"Ternyata aku hanya belum bertemu orang yang tepat untuk mendengarkan."
Aynar tersenyum.
Ia memang tidak pernah mampu mengeluarkan suara.
Namun Narendra tahu.
Ada begitu banyak hal yang selama ini ingin dikatakan Aynar.
Tentang luka.
Tentang kesepian.
Tentang ketakutan.
Dan tentang cinta.
Semua itu tidak membutuhkan suara.
Karena terkadang, seseorang tidak perlu berbicara untuk membuat hatinya terdengar.
Dan di dunia yang selama ini terlalu sibuk mengabaikannya, Aynar akhirnya menemukan seseorang yang bersedia mendengarkan.
Bukan dengan telinga.
Melainkan dengan hati.
Dunia tanpa suara ternyata tidak selalu berarti dunia tanpa cinta.