Setiap pagi pukul tujuh tepat, dia datang. Pesanan selalu sama: kopi tubruk tanpa gula, dua potong roti bakar, dan duduk di meja sudut dekat jendela. Aku sudah hafal. Bahkan sebelum dia membuka mulut, aku sudah menyiapkan pesanannya.
Namanya Arka. Pegawai bank yang selalu memakai kemeja biru muda. Dia jarang tersenyum, tapi setiap kali aku meletakkan kopinya, dia mengangguk pelan dan bilang “terima kasih” dengan suara yang sama.
Enam bulan berlalu seperti itu. Suatu pagi dia datang lebih awal. Matanya merah.
“Kopinya boleh diganti jadi dingin?” tanyanya.
Aku terkejut. “Biasanya panas.”
“Hari ini aku ingin yang dingin.”
Aku membuatkan. Dia minum pelan, lalu berkata, “Pacarku putus sama aku tadi malam. Dia bilang aku terlalu datar.”
Aku tertawa kecil. “Kamu memang datar.”
Dia menatapku. “Kamu juga.”
Sejak hari itu, percakapan kami bertambah. Kadang dia cerita tentang klien yang menyebalkan, kadang aku cerita tentang pelanggan yang tidak pernah bayar. Suatu sore dia menunggu sampai toko hampir tutup.
“Mau makan malam?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Kami ke warung makan sederhana. Percakapan mengalir lebih mudah di luar toko. Dia ternyata punya anjing bernama Mochi yang suka mencuri kaos kaki. Aku punya kebiasaan menonton film horor sambil makan es krim. Dia tertawa untuk pertama kalinya.
Minggu-minggu berikutnya terasa lebih hangat. Dia masih pesan kopi tubruk, tapi sekarang sering ditambah kue. Kadang dia meninggalkan catatan di bawah piring. Aku membalas dengan tulisan di tepi struk.
Suatu pagi dia tidak datang. Keesokan harinya juga tidak. Pada hari ketiga, seorang perempuan masuk. Cantik, rapi, dan memesan kopi tubruk tanpa gula.
“Ini untuk Arka,” katanya. “Dia bilang kamu tahu pesanannya.”
Aku terdiam. “Dia sakit?”
Perempuan itu tersenyum. “Tidak. Kami baru balikan. Aku yang mengantar pesanan hari ini.”
Kopi itu terasa pahit di lidahku, padahal aku tidak meminumnya. Aku hanya mengangguk dan menyiapkan pesanan.
Arka muncul seminggu kemudian. Wajahnya canggung.
“Aku harus jelaskan,” katanya.
“Tidak perlu.”
“Dia datang tiba-tiba. Bilang masih cinta. Aku bingung.”
Aku mengelap meja dengan kain yang sudah basah. “Kopimu masih sama?”
Dia mengangguk. Aku membuatkan. Ketika meletakkannya, aku bilang, “Kalau suatu hari kamu ingin yang dingin lagi, bilang saja.”
Dia tertawa getir. “Kamu marah?”
“Tidak. Aku hanya kecewa karena kamu tidak bilang sendiri.”
Arka diam lama. “Aku takut kehilangan rutinitas ini.”
“Rutinitas bisa diganti,” kataku pelan. “Tapi kepercayaan tidak.”
Dia tidak datang lagi selama dua minggu. Pada suatu pagi yang hujan, dia muncul. Tanpa kemeja biru. Hanya kaos oblong dan wajah basah.
“Aku putus lagi,” katanya. “Kali ini aku yang memutuskan. Karena setiap kali minum kopi, aku hanya ingat kamu.”
Aku menatapnya. “Kopinya mau panas atau dingin?”
Dia tersenyum. “Dingin. Seperti yang kemarin.”
Aku membuatkan. Kali ini aku duduk di depan mejanya.
“Jangan bilang kamu datang karena kopi,” kataku.
“Aku datang karena orang yang membuatnya,” jawabnya.
Kami tertawa. Di luar, hujan masih turun. Tapi di dalam toko, kopi yang dingin terasa tepat.