Sinopsis Part 2:
Setelah pertemuan takdir di Ainokura, Sumire dan Takio Amamiya tidak langsung berpisah. Hujan tanpa mendung yang menyambut marga Amamiya belum selesai. Sumire mengajak Takio untuk grounding di penginapan tua desa itu, dan di malam pertama, saat Sumire masuk ke trance untuk membantu Takio menstabilkan gift-nya, mereka berdua justru melihat memori yang sama — memori yang bukan milik kehidupan ini.
Tokoh Tetap:
1. Sumire (FC)
Sumire bertubuh mungil 150cm dengan tubuh sintal berisi, rambut ikal hitam panjang sebahu, wajah oval berkacamata, bermata coklat hazel karena mendiang orang tuanya darah blasteran Jawa dan Belanda. Banyak yang bilang Sumire cantik, tapi banyak juga yang membully bahwa dia jelek dan gendut. Dia adalah Trance Medium Psychic, Reiki Practitioner, dan Oracle Reader.
2. Takio Amamiya (MC)
Takio Amamiya (雨宮 - Kuil Hujan), asli Jepang. Tinggi 175cm, bertubuh atletis proposional karena dia juga seorang model, rambut coklat gelap lurus setengah panjang tapi bukan gondrong, berwajah tampan dengan wajah pahatan sempurna. Seorang public figure yang gift-nya baru aktif bisa lihat vision masa depan.
🌹Malam di Ainokura tidak seperti malam di Tokyo.
Tidak ada lampu neon. Tidak ada suara klakson. Hanya suara Sungai Sho dan kayu gassho-zukuri yang berderit karena angin.
Karena bus terakhir sudah tidak ada, pemilik penginapan — seorang nenek yang tinggal sendiri — menawarkan satu kamar dengan dua futon yang dipisahkan oleh tirai washi. Sumire yang terbiasa tidur dengan entitas di sekitarnya tidak masalah. Takio yang terbiasa tidur di hotel bintang lima dengan blackout curtain, justru merasa tenang untuk pertama kalinya.
"Gift yang baru lahir itu seperti otot yang kram," kata Sumire sambil menyalakan dupa dan menyiapkan deck oracle-nya di antara mereka. "Kamu pakai terus tanpa stretching, ya sakit."
Takio duduk bersila di depannya. Tanpa topi dan masker, wajahnya terlihat lelah. Bukan lelah syuting, tapi lelah menahan vision.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Tutup mata. Jangan lawan vision-nya. Lihat saja sebagai awan lewat."
Sumire mulai menyalurkan Reiki. Tangannya bergetar pelan di atas kepala Takio, tidak menyentuh. Ia berbisik mantra Reiki yang biasa ia pakai untuk kliennya.
Takio memejamkan mata. Awalnya vision itu datang lagi — potongan-potongan masa depan yang berisik. Tapi dengan hawa hangat dari tangan Sumire, vision itu melambat.
Dan kemudian... vision itu berubah.
Bukan masa depan. Tapi masa lalu. Sangat lampau.
Ia melihat kuil yang sama. Tapi bukan kuil kecil di Ainokura yang sekarang. Kuilnya besar, dengan gerbang merah. Hujan deras turun.
Di depan kuil, seorang perempuan dengan kimono putih miko sedang berlutut, menahan pedang. Di depannya, seorang samurai muda dengan armor hitam berdiri membelakanginya, melindunginya dari puluhan orang yang membawa obor.
Perempuan itu berteriak, "Amamiya! Jangan!"
Takio membuka mata dengan napas terengah. Di saat yang sama, Sumire yang sedang dalam trance ringan juga membuka mata, air matanya jatuh.
"Kamu lihat itu juga?" tanya Sumire dengan suara gemetar.
"Kuil hujan... kamu pakai kimono putih... aku..." Takio tidak bisa melanjutkan. Dadanya sesak.
Sumire mengambil satu kartu oracle tanpa dikocok. Kartu itu melompat dan jatuh.
Past Life.
"Kita pernah disini," bisik Sumire. "Bukan sebagai Sumire dan Takio."
Takio meraih kartu itu. Tangannya bersentuhan dengan tangan Sumire untuk pertama kalinya. Tidak ada kesetrum seperti di drama. Yang ada hanya rasa hangat yang sangat familiar, seperti pulang.
"Aku yang samurai itu kan? Yang jaga kamu?" tanya Takio pelan.
Sumire mengangguk. Matanya yang di balik kacamata berkaca-kaca. "Dan aku miko di Kuil Hujan. Kuil keluargamu. Marga Amamiya itu penjaga kuil. Aku yang kamu jaga sampai akhir."
Hening.
Selama ini Sumire selalu merasa gift-nya adalah kutukan karena membuatnya dijauhi. Banyak yang bilang cantik, banyak yang bully jelek dan gendut. Takio selalu merasa gift-nya adalah kutukan karena membuatnya tidak bisa jadi public figure yang sempurna.
Tapi malam itu, di penginapan 350 tahun yang dingin, mereka mengerti. Gift mereka bukan untuk menyakiti mereka. Gift mereka adalah pengingat bahwa mereka sudah terhubung jauh sebelum kehidupan ini.
Takio yang biasanya harus menjaga jarak dengan semua orang karena statusnya, malam itu tanpa sadar menarik selimut futon Sumire yang hampir jatuh.
Sumire yang biasanya tidak pernah membiarkan orang menyentuh deck oracle-nya, malam itu membiarkan Takio mengocok kartunya.
"Kartu ini untuk kamu," kata Sumire sambil memberikan satu kartu.
Takio membukanya. Gambar dua pohon yang akarnya saling melilit di bawah tanah, padahal di atas terlihat berjauhan.
Kartunya bertuliskan: Soul Contract - Sudah Ditulis.
Benih rasa itu tumbuh bukan karena mereka saling menatap sebagai pria dan wanita. Tapi karena jiwa mereka akhirnya ingat, bahwa mereka pernah berjanji untuk bertemu lagi ketika hujan turun tanpa mendung di Kuil Hujan.
Di luar, hujan tipis tanpa mendung turun lagi di Desa Ainokura. Kedua kalinya dalam sehari. Orang desa bilang itu tidak pernah terjadi.
Kecuali kalau ada jiwa yang akhirnya pulang dan menemukan pasangannya lagi.
BERSAMBUNG KE PART 3...
Terima kasih ya teman-teman,sudah mau mampir untuk baca cerpen ini. Terima kasih atas waktu kalian. Jangan lupa follow dan tinggalkan positif komen ya,biar energinya selaras juga.
Sampai bertemu lagi di Part 3 😎
Kira-kira,ada kejutan apa ya dari Sumire dan Takio nanti?
Penasaran?
Cuzz...langsung follow akun aku ya 🌹🙏🏻🫶🏻