Dulu, di kota B adalah tempatku menempuh kelana waktu, menjelajah buku-buku tua demi pendidikan. Aku berasal dari kota A berdekatan dengan kota B.
Semenjak lulus dari SMP, aku mengambil keputusan melanjutkan pendidikan ke kota B, lebih tepatnya sekolah SMA. Hari-hari dulu berkelana, berlanglang entah kemana.
Sekian detik. Menit berlalu, bahkan tahun telah berganti empat kali. Rembulan menunjukkan cahaya di malam ke empat belas. Di saat dulu, kelulusan SMA. riuh suara bergemuruh, hampir membuatku gugup setengah mati, detak jam berbunyi, jelas kudengar, bunyi itu seolah ingin membunuhku.
Sekilas mengherankan, tetapi tidak pernah kusangka, semua itu berakhir melegakan pikiran.
Kelulusan SMA cukup membuatku bergembira. Berbagai peristiwa yang telah berlalu, cukuplah menjadi kenangan serta renungan, langkah kaki ini terus berjalan, meninggalkan jejak-jejak kehidupan.
Tak terasa setelah hari itu, setahun yang lalu, kini aku hanya tertegun menatap sebuah foto kebersamaan kami saat terakhir bersama.
Pada sore hari, tepatnya hari minggu. Aku diundang oleh salah seorang teman alumni SMA untuk berkunjung ke rumahnya, dia bernama Litan.
Dia tidak mengatakan mengenai alasan apa yang mendorongnya melakukan itu. Dia mengundangku ke rumahnya, itu saja. Aku sekadar mengiakan tanpa bertanya alasannya apa. Saat di pukul 16.56 sore, matahari kulihat tertutup awan. Aku sudah berlalu dan kini mengetuk pintu rumahnya.
Tak berlangsung lama, dia membukakan pintu tampak memakai setelan jas hitam dengan dasi merah pekat, juga rambutnya menutupi mata. Aroma parfum itu juga semerbak mengelilingi tempat.
Aku di situ sekilas heran. Sedikit menyela di dalam benak mengenai caranya dalam berpakaian. Bagiku itu terlalu berlebihan.
“Kau sungguh keren, Litan. Apa dirumahmu sekarang ada acara atau setelah ini, kau ada acara yang akan dihadiri? Kenapa kau tidak memberitahuku terlebih dulu?” tanyaku bertubi-tubi.
“Kau sungguh penuh kejutan,” kataku setelahnya. Dia hanya tertawa.
Aku mengenalnya. Dari dulu, dia adalah tipe orang yang kalo berpenampilan rapi, di balik semua itu, pasti ada acara yang sedang ingin dia hadiri. Lebih herannya, setelah dia pulang dari acara, dia tidak ingin melepaskan pakaian dari mula siang sampai berganti malam, itu adalah kebiasaannya dari dulu. Mungkin saja orang yang tengah kutatap ini telah berubah dari kebiasaannya, aku tidak mengetahuinya.
“Ini hari libur, Rai. Tidak ada acara, sudahlah. Ayo, masuk.” Dia menarik tanganku. Kami berdua masuk ke rumah yang dalamnya tersusun rapi. Lampu ruangan bercahaya seperti senja yang kusukai, cahaya yang jelas mendamaikan baik raga maupun pikiran.
Kami berdua duduk di sofa, berjarak, dekat televisi. Kami mengobrol bersama di sana ada banyak obrolan. Beberapa saat berlalu, dia mulai membuatku heran dengan kosa katanya. Nada bicaranya agak berat.
“Rai ....”
“Apa?”
“Apakah kau ingat janjimu?” Dia bertanya sekilas pandang kepadaku. Hawa udara terasa kurang nyaman.
“Janji?” Aku menelan ludah, mengapa dia mengucapkannya. Di beberapa waktu sebelum semuanya sirna. Hanya satu janji yang pernah kuucapkan. Aku tidak ingin mengingatnya, juga terbias kenangan itu bagai sinar mahatari yang menembus celah di jendela kaca.
“Janji setahun lalu, saat kau dan dia berpacaran, janji yang kau ikrarkan bersamanya.” Entah apa alasannya, dia seolah ingin mengungkit sebuah masa yang telah berlalu. Aku mengerti, saat itu ... di ruangan yang serba salah, rasanya aku ingin lari, hilang dari dunia ini.
“Jelas, aku mengingatnya,” ujarku mencoba menstabilkan nada bicara.
Tepat setahun lalu. Acara kelulusan SMA adalah hari terakhir, sebuah janji berurai putus, berakhir habis dibakar api. Janji yang ada di antara aku dan seseorang yang entah di mana sekarang dia berada. Hubungan cinta yang seakan berakar kuat dan hubungan yang digadang-gadang akan sampai ke jenjang pernikahan.
Semua itu hancur berantakkan.
Sebuah janji. Janji yang terikrar dengan harapan di antara aku dan dia. Namun, janji itu seperti sebuah kebohongan, aku saat itu marah dan meninggalkannya.
Litan menatapku tajam. “Kau telah mengingkari janjimu, Rai. Di mana letak harga dirimu sebagai seorang lelaki!” Dia mulai mengeluarkan nada amarah. Aku menghela napas, sejenak mendongak.
“Tidak, kau sudah salah menilai, justru dialah yang mengingkari janji!” Aku menekan suara lantang, mengeluarkannya dengan nada getar.
Tak disangka, dia malah menaikan volume suara. “Aku menyaksikannya sendiri, dia menangis tersedu karena olahmu!”
“Aku melakukannya, itu semua ada alasannya.” balasku.
“Alasan, kau bilang itu ada alasannya. Jelaskan alasan itu kepadaku!” Dia menarik kerah bajuku. Kepalan tangannya bersiap menabok, kuhela napas tenang.
“Perlu kau ketahui, tepat saat acara kelulusan berlangsung, aku menatap dia berselingkuh dengan orang lain. Dia orang yang selama ini kusangka adalah seorang wanita setia. Nyatanya tidak, semenjak hari itu, aku tidak pernah mengingatnya lagi. Janji itu telah kubuang dan hilang, lebur pun aku menyukai. Bayangkan dirimu yang setia dengannya, sedangkan dia mengkhianatimu, bayangkan!”
“Anehnya, setelah kejadian itu berlalu, dia memohon untuk kembali, tapi aku sudah mengatakannya. Aku tak ingin menjilat ludahku sendiri!” jawabku menjelaskan alasan kejadian yang sudah berlalu.
“Sebenarnya apa alasanmu mengungkit masa laluku?” Lanjutku bertanya. Masa lalu yang sering dijadikan orang sebagai titik kelemahan, bagiku masa lalu adalah titik terakhir. Aku tak ingin terjebak di dalam masa lalu. Jika diingat, tak ada habisnya, hari terus berlalu, masa lalu kian terkubur dalam, biarkanlah. Jangan pernah mengungkitnya.
Dia tersenyum sepintas. “Aku sekadar ingin bernostalgia. Rai, kau terlalu serius.” Dia melepaskan genggaman kerah bajuku, lalu tertawa.
“Eh, kau bercanda atau serius tidak ada bedanya.” Aku ingin mengumpatinya. Tapi, aku menahan diri, sebagai seorang pelajar di perguruan tinggi. Aku jelas mengerti sopan santun.
“Tidak juga. Ini lebih dari itu, Rai. Ayo, semua. Keluaaar!" Dia bersuara keras. Aku menanti ada apa sebenarnya. Aku tidak mengetahuinya alasan dari dirinya.
Perlahan, banyak teman alumni keluar mengejutkanku. Mereka membawa kue bertuliskan selamat ulang tahun ke–19.
“Kejutaan!” Suara mereka serentak mengucapkannya bersamaan. Aku melupakan hari spesial. Hari di mana yang katanya sering diingat-ingat. Hari kelahiran.
Astaga. Aku ternganga di situ, bagaimana mungkin kejutan seperti itu membuatku tertipu dengan perbuatan Litan. Lihatlah orang yang tadi mengungkit masa laluku, kini dia tertawa menepuk-nepuk pundak, aku menahan tepukan tangannya.
“Ayo, ditiup dong lilinnya. Kenapa malah ternganga begitu.” Itu dia suara Mika, aku hampir melupakannya. Dia adalah ketua kelas saat sekolah SMA dulu.
“Rai, jangan lupa baca doa dulu,” ucap Reyhan, dia seorang ketua geng motor sampai sekarang.
“Iya, Raikan juga tahu kok! Kenapa kamu ribut-ribut sendiri sih!” ketus Tina, sejak dulu dia berpenampilan tomboy sampai sekarang, sifatnya juga sedikit galak. Salah-salah bisa kena tabok, auto lebam.
“Parah, cok! Lo lama bener, tinggal tiup-tiup aja, kenapa sih lama banget?” Suara Boy memecahkan suasana dengan nada khas miliknya, gaya keren ala broken heart.
“Apaan sih, terserah Raikan! Dia meniupnya bulan depan juga, ya terserah dialah!” ketus Tina lagi dengan wajah kesal.
“Sudah, kalian berdua. Jangan ribut, kalau kalian berdua ribut-ribut, aku tidak jadi meniupnya.” Aku menyela di antara mereka. Beberapa tertawa dengan semua itu.
“Tuh, Raikan ngambek, kan. Ini semua karena kamu Boy, udah bikin Raikan ngambek!” Tina kembali menyuarakan suara khas keturunan macho, katanya.
“Lah, kok gue sih yang disalahin, elo kalo ngomong, jangan asal mangap!” Boy kembali membalas dengan ciri khasnya.
“Apa? Mau berkelahi?” Tina menggulung lengan baju. Sedikit melotot tajam.
“Ogah, lo cewek. Jangan sok keras! Kena tampol dikit dah nangis.” Boy tertawa.
Aku ikut tertawa kecil karena melihat tingkah laku mereka berdua. Lilin itu masih menyela. Di saat mereka tengah ribut. Aku meniupnya. Beberapa teman yang menatapku seketika bersorak sorai. Tina dan Boy termanga, kemungkinan mereka merasa kecewa, aku tidak mengetahuinya.
“Haa!” Suara mereka berdua menatapku sedikit aneh.
Aku tertawa sambil memotong kue. “Sudah, kalian berdua. Nih kue potongan pertama buat kalian.” Aku memberikan potongan kue, sejenak damai. Kami saling memakan kue.
Tak berlangsung lama, teman-teman yang lain tampak bersorak gembira.
Antara Tina dan Boy bagai kucing bertemu tikus, entah siapa yang ingin menjadi tikusnya, mungkin Boy saja. Kalau Tina bisa kena tabok. Betapa hari itu, sungguhlah kebersamaanku dengan teman-teman alumni terasa berkesan.
Akan tetapi, hanya Warda yang tidak hadir, mungkin saja dia merasa bersalah denganku karena kejadian waktu itu. Warda, satu hal mengenai dirimu. Jangan pernah kembali dalam kehidupanku.
Waktu berlalu, tak terasa telah dua minggu semenjak bertemu teman alumni. Di akhir bulan ini, di tanggal 27 Desember, aku merenung, menatap langit di tengah malam.
Kenangan dulu seakan bersemi kembali, menghampiri diriku yang malang, sebuah kenangan berupa janji dan harapan antara aku dan dirinya. Peristiwa berupa asmara, memberi kesan yang berbeda dari bulan yang lainnya.
***
Keesokan hari
Tertera sebuah pesan masuk di aplikasi hijau, bertanya kapan aku akan pulang. Pesan itu dari ibuku:
Ibu: Nak, kapan kamu akan pulang? Sebentar lagi tahun baru, loh.
Aku membacanya. Di bawah pesan ada stiker imut nan lucu, aku ingin tertawa. Semenjak sekolah di sini, aku tinggal di kota B, di sebuah asrama, memilih meninggalkan kota A, sebuah alasan ingin memfokuskan diri dengan pendidikan.
Di mana kebiasaan mendekati tahun baru. Beberapa ada yang sering menghabiskan hari bersama sanak keluarga, begitulah orang tuaku. Dia ingin aku pulang ke sana.
Aku: Besok, Rai akan pulang
Pesan itu kukirim. Aku segara mempersiapkan diri, membuang semua hal yang menganggu pikiranku kala itu.
Waktu berlalu. Pada hari ini. Tepat jam 12.00 siang aku pergi meninggalkan kota B menuju ke kota A, tempat kelahiranku untuk bertemu, melepas rindu dengan kedua orang tua.
***
“Hei ... tunggu!” Di stasiun kereta. Ramai dengan orang-orang berlalu lalang. Suara itu seakan memecah keramaian, memanggilku dari kejauhan. Aku jelas mendengarnya.
Aku menoleh ke arah suara itu, tanpa kuketahui suara itu berasal dari siapa. Sekilas kulihat dia seorang wanita, tetapi terlindung keramaian. Setelah, dia mendekat, aku seakan dibuat kejutan, ternyata wanita itu Warda. Wanita yang dulu mengingkari janji.
“Kenapa dia datang menemuiku?” Batinku mengutarakan kata tentang kejadian yang kualami. Aku menghela napas berat.
“Raikan!” Dia berseru, berlari ke arahku.
Kami berdekatan saling menatap seperti dua gedung yang diam tak bergerak. Semilir angin bertiup, drama musikalisasi puisi itu seperti menggambarkan suasana di antara kami.
“Warda ....” kataku seolah tidak percaya.
“Ada apa?” Lanjutku bertanya.
“Tidak ada apa-apa.” Wajahnya yang tampak memerah. Aku sekilas menduga, jauh dari pikiranku, aku ingin lari dari hadapannya.
“Baiklah, aku akan pergi, sebentar lagi jam keberangkatan.” Aku melihat jam sepintas, lalu beranjak pergi meninggalkannya.
“Maaf, aku tak bisa mengucapkan kata selamat tinggal ataupun menatap dan memberi kesan indah.” Suara batinku bergema memenuhi hasrat diri ingin meluapkannya.
Riuh orang-orang terdengar. “Raikan!” serunya lagi memecahkan keriuhan.
Satu kali. Tidak kuhiraukan. Berulang kali dia memanggil seraya menghampiri yang pada akhirnya membuatku berhenti melangkah dan menoleh.
Saat itu berurai kedua matanya. “Aku sangat senang bisa bertemu denganmu, aku baru tahu tentangmu hari ini, selama ini aku terus mencari tahu informasi tentang kamu, tetapi aku tak kunjung mendapat kabar tentang dirimu. Baru.. hari ini...”
Aku tertegun menatap wajahnya yang berurai air mata, tetapi aku memilih untuk tidak menghiraukannya. Dia terus melontarkan uraian alasan yang bisa kutebak dengan mudah. Air mata dusta! Penjelasan rekayasa!
Aku melanjutkan langkah. Untungnya kereta itu datang tepat di saat aku ingin lari. Aku masuk ke dalam kereta. So goodbye!
–Tamat–