Aroma kapur tulis selalu menjadi penanda paling jujur bagi pagi hari di SMA Bina Bangsa. Di tempat ini, di mana udara sering kali berbau peluh sisa upacara bendera dan halaman buku cetak yang baru dibuka, hidup diukur dengan angka di atas kertas. Dan di papan pengumuman utama, tepat di sebelah ruang guru, hukum rimba sekolah kami berlaku mutlak: siapa yang berada di urutan teratas, dialah yang berhak mendongak paling tinggi.
Nama "Keandra Paramitha" selalu berada di sana. Semester lalu, selisihku dengan peringkat kedua hanya terpaut nol koma dua lima poin. Angka yang sangat tipis, setipis kertas HVS tujuh puluh gram, namun cukup untuk membuatku tidak bisa tidur nyenyak selama tiga malam berturut-turut.
"Kurang teliti di nomor empat, Keandra," sebuah suara bariton yang amat familier mendadak membuyarkan lamunanku.
Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Bau sabun mandi beraroma mint yang bercampur dengan dinginnya angin pagi selalu mengikutinya ke mana pun ia melangkah.
Arka Dirgantara. Manusia paling menyebalkan yang pernah diciptakan semesta untuk menjadi bayang-bayangku selama tiga tahun terakhir.
Aku melirik sekilas ke arah papan pengumuman. Di sana, nilai ujian fisika milik Arka tertera di angka sembilan puluh delapan, sementara miliknya ralat, milikku berada di angka sembilan puluh tujuh setengah. Setengah poin. Sialan.
"Setengah poin bukan berarti kamu menang selamanya, Arka," kataku dingin, melipat tangan di dada sambil mendongak menatapnya tajam. "Jangan senang dulu. Minggu depan masih ada pemilihan ketua OSIS, dan aku pastikan program kerja andalanmu yang sok idealis itu bakal aku bantai habis di depan majelis guru."
Arka terkekeh pelan. Tawanya rendah, nyaris seperti bisikan yang sengaja dihembuskan untuk memancing emosiku. Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan pergelangan tangan kokoh yang biasa dipakai untuk memegang bola basket atau merumuskan persamaan matematika tingkat lanjut.
"Silakan dicoba, Keandra," tantang Arka, mendekatkan wajahnya sepersekian senti, membuatku refleks menahan napas. "Tapi ingat, argumenmu di ruang rapat minggu lalu soal anggaran bazar itu bolong di mana-mana. Kalau kamu terus-terusan mengandalkan emosi alih-alih logika, jabatan ketua OSIS itu bakal jatuh ke tanganku tanpa perlawanan."
Sebelum aku sempat membalas hinaannya dengan makian paling elegan yang kuhafal, bel masuk berbunyi nyaring, menyelamatkanku dari kekalahan telak dalam perang urat saraf pagi itu.
Jika orang-orang melihat kami dari luar, mereka akan mengira aku dan Arka adalah dua orang yang ditakdirkan untuk saling melenyapkan. Di ruang rapat OSIS, meja panjang berpelitur kayu jati itu sering kali menjadi saksi bisu pertumpahan darah intelektual.
"Anggaran dana untuk seksi dokumentasi terlalu berlebihan, Keandra!" protes Arka setengah membanting proposal di atas meja. Alisnya yang tebal bertaut tajam. "Kita tidak butuh kamera DSLR baru untuk sekadar meliput acara pensi. Dana itu lebih baik dialokasikan untuk perbaikan laboratorium komputer yang komputernya sudah mirip fosil dinosaurus."
Aku mendengus keras, melemparkan pulpenku ke atas meja hingga mengeluarkan bunyi ketukan yang nyaring. "Kamu ini tidak punya visi estetika sama sekali, Arka! Dokumentasi itu wajah sekolah kita di media sosial! Kalau hasil fotonya buram seperti zaman batu, siapa sponsor yang mau melirik sekolah kita?!"
Anggota OSIS yang lain hanya bisa menunduk, pura-pura sibuk mencatat notulen rapat, tidak ada yang berani ikut campur ketika dua singa ini sudah saling mengaum. Kami berdebat selama dua jam penuh, saling memotong kalimat, mempertahankan ego setinggi langit, dan memastikan tidak ada satupun dari kami yang terlihat lemah di hadapan yang lain.
Orang-orang di sekolah sering bertaruh: kira-kira kapan Keandra dan Arka akan benar-benar saling menjambak rambut di koridor?
Mereka tidak tahu. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu, bahwa tepat pukul sebelas malam nanti, pertunjukan sandiwara permusuhan itu akan runtuh seketika menjadi abu.
Pukul 23.15 WIB.
Kamar kamarku sunyi, hanya ditemani lampu meja belajar berwarna kuning temaram dan tumpukan buku kalkulus yang berserakan. Aku baru saja hendak memejamkan mata ketika layar ponselku bergetar hebat di atas kasur.
Sebuah panggilan masuk. Nama yang tertera di sana membuatku menghela napas panjang sebelum mengangkatnya.
Arka.
"Halo?" suaraku terdengar ketus, sengaja ditekan agar ia tahu aku sedang tidak ingin diganggu.
“Tar... lu belum tidur, kan?” suara di ujung sana terdengar serak, jauh dari kesan arogan yang biasa ia tunjukkan di sekolah. Ada kelelahan yang nyata di balik nada bicaranya.
"Udah hampir tidur kalau HP aku nggak kamu bisingin. Kenapa lagi? Mau protes soal proposal bazar tadi siang?"
“Bukan...” jeda sejenak. Aku bisa mendengar helaan napas panjang di ujung sana, disusul suara kertas yang dibalik dengan kasar. “Gua buntu. Bagian integral yang kemarin lu jelasin di perpus... otak gua rasanya korslet. Ini angka-angka pada ke mana sih? Kok nggak ada yang ketemu hasilnya?”
Aku memutar bola mata ke udara, meski ia tidak bisa melihatnya. "Makanya, waktu aku jelasin di perpustakaan sore tadi, jangan malah ngeliatin aku dengan muka songong. Perhatiin catatannya!"
“Iya, iya, Bu Guru Keandra yang terhormat. Ampun. Tolongin gua dong, jelasin sekali lagi ya? Please? Besok pagi rumus itu bakal di-prefix di kuis pertama.”
Aku menggerutu pelan, merapikan letak kacamataku, lalu membuka buku catatan khusus rumus matematika bersampul biru tua buku keramat yang tidak pernah kuizinkan siapa pun menyentuhnya di sekolah.
"Dengerin baik-baik ya, Arka Dirgantara," kataku mulai mendikte dengan sabar. "Variabel x itu jangan kamu pindah ruas sembarangan kalau tandanya belum diubah..."
Selama satu jam penuh, suara Arka yang tadinya kebingungan perlahan berubah menjadi tenang, digantikan oleh gumaman paham setiap kali ia mengerti alur logikanya. Hubungan kami memang aneh. Di sekolah kami adalah musuh bubuyutan yang saling jegal, tapi di balik layar telepon tengah malam, kami adalah dua orang anak remaja kesepian yang saling bergantung untuk bertahan hidup di bawah tekanan ekspektasi akademik orang tua dan sekolah.
Aku bahkan sering meminjamkan buku catatan ringkasanku padanya lewat kolong meja secara diam-diam, begitu pula Arka yang kadang menyelipkan susu kotak kesukaanku di dalam laci meja kelasku tanpa nama pengirim meski aku tahu persis siapa pelakunya karena ia selalu salah menuliskan merek susu low-fat kesukaanku.
Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Ujian akhir semester penentu juara umum sekolah diselenggarakan secara serentak. Seluruh koridor mendadak senyap, bau disinfektan dan kertas ujian baru memenuhi setiap sudut ruangan.
Aku duduk di bangku baris kedua, fokus menatap lembar soal kalkulus lanjutan yang tingkat kesulitannya benar-benar menguji kewarasan. Di sebelah kananku, berjarak dua deret meja, Arka duduk dengan posisi tegap.
Namun, ada yang aneh.
Di tengah-tengah jam ujian, mataku tanpa sengaja menangkap gerak-gerik Arka. Wajah cowok itu tampak sangat pucat, butiran keringat dingin mengalir di pelipisnya. Tangannya yang memegang pulpen bergetar hebat setiap kali ia mencoba menuliskan jawaban di lembar kertas.
Aku tertegun. Aku tahu betul apa penyebabnya. Malam sebelumnya, lewat suara ibunya yang sempat bocor di latar belakang telepon saat ia meneleponku pukul dua pagi, aku tahu bahwa ibu Arka baru saja menjalani operasi besar dan Arka harus menjaga beliau seorang diri di rumah sakit tanpa tidur semalaman.
Dadaku mendadak sesak. Rasa nyeri yang aneh menghantam ulu hatiku.
Ego rivalitas yang kupertahankan setengah mati selama tiga tahun runtuh berkeping-keping dalam detik itu juga. Aku melihat seorang Arka yang biasanya begitu perkasa, kini tampak begitu rapuh di ambang kelelahan yang luar biasa.
Sepuluh menit sebelum bel tanda selesai berbunyi, pengawas ujian mengalihkan pandangan ke jendela. Pada saat itulah, alih-alih merampungkan dua soal esai terakhir yang rumit dan menjadi penentu kemenangan nilaiku, tanganku bergerak sendiri.
Aku mengosongkan dua nomor terakhir di lembar jawabanku. Sengaja membuat coretan hitungan yang salah di kertas buram, lalu meremasnya dan memasukkannya ke dalam saku rokku, membiarkan nilai tertinggiku terancam melayang.
Aku ingin Arka menang. Aku ingin beban di pundaknya sedikit berkurang, setidaknya untuk satu hal ini saja.
Tetapi, keputusanku itu justru menjadi awal dari bencana besar.
Sore harinya, saat lonceng kepulangan sekolah berbunyi dan suasana sekolah mulai sepi, seseorang mencegatku di ujung koridor lantai dua dekat ruang laboratorium kimia.
Itu Arka.
Wajahnya sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan seorang juara. Tidak ada senyum usil, tidak ada ejekan khasnya. Yang ada hanya sepasang mata merah menyala penuh amarah yang tertahan.
Ia melangkah mendekatiku dengan napas memburu, lalu melemparkan selembar kertas coretan kalkulus ke hadapanku. Kertas itu mendarat tepat di sepatuku.
"Apa-an ini, Keandra?!" suara Arka bergetar hebat, sarat akan kekecewaan yang mendalam.
Aku terperanjat, menatap kertas itu. Itu adalah kertas buram coretan ujianku yang tadi pagi tanpa sengaja terjatuh di dekat meja pengawas dan ditemukan oleh petugas kebersihan.
"Arka, aku..." lidahku mendadak kelu.
"Kamu sengaja ngalah?!" teriak Arka, suaranya menggema di sepanjang koridor yang kosong. Ia mencengkeram tepi dinding di sebelahku, membuatku terperanjat. "Kamu sengaja mengosongkan jawaban itu biar aku dapet peringkat pertama?! Jawab aku, Keandra!"
"Iya!" bentakku balik, pertahananku akhirnya jebol. Air mata geram mulai menggenang di pelupuk mataku. "Kamu puas?! Aku lihat kamu semalem begadang di rumah sakit, muka kamu pucat kayak mayat hidup saat ujian! Kalau kamu kalah cuma karena kondisi fisikmu yang hancur, aku nggak akan bisa menang dengan adil!"
"Gua nggak butuh dikasihani, Keandra!" potong Arka, suaranya parau, nyaris menyerupai tangisan tertahan. "Selama ini... selama tiga tahun ini, gua berjuang mati-matian, begadang tiap malam, belajar setengah mati, semata-mata karena gua menghormati lu sebagai saingan yang sepadan! Kalau lu menang atau kalah bukan karena kemampuan lu, tapi karena lu sengaja merendahkan diri demi rasa kasihan... itu artinya lu tidak pernah menganggap keberadaan gua ada di mata lu!"
Kata-kata itu meluncur bagaikan belati tajam yang menghujam jantungku tanpa ampun.
Pernyataannya salah besar. Bodoh. Dia sama sekali tidak mengerti apa pun.
Sebelum Arka berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkanku dalam kehancuran, tanganku bergerak lebih cepat dari akal sehatku. Aku mencengkeram kuat-kuat ujung jas almamaternya, menahan langkahnya dengan seluruh sisa tenaga dan harga diriku.
"Bukan karena kasihan, bodoh!" teriakku parau, isak tangisku akhirnya lolos, memecah kesunyian koridor sore itu. Dadaku naik turun dengan cepat, napasku sesak.
Arka tertegun. Langkahnya terhenti total. Ia perlahan menoleh ke belakang, menatapku dengan napas tertahan.
"Aku ngelakuin itu bukan karena aku kasihan sama kamu!" air mataku tumpah membasahi pipi, suaraku bergetar hebat namun penuh kejujuran yang selama ini kusimpan rapat-rapat di balik topeng permusuhan. "Aku ngelakuin itu karena... karena aku capek! Aku capek harus pura-pura jadi saingan terus setiap hari di saat sebenarnya... di saat aku cuma pengen kamu menang tanpa harus melihat kamu jatuh sakit! Aku capek pura-pura nggak peduli setiap kali kamu begadang, setiap kali kamu kelelahan!"
Lorong sekolah mendadak sunyi senyap. Angin senja berhembus pelan dari ventilasi terbuka, membawa aroma debu dan sisa hujan.
Arka terpaku di tempatnya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata-kata. Sorot mata marahnya lenyap seketika, berganti dengan keheranan yang teramat sangat, lalu perlahan, dinding pertahanan di antara kami runtuh tak bersisa.
Ia perlahan membalikkan seluruh tubuhnya menghadapku. Matanya menatapku lekat-lekat, membaca setiap inci kejujuran yang terpancar dari air mataku.
Jarak di antara kami kini hanya terpangkas dalam hitungan detik. Arka melangkah maju, mendekatiku dengan langkah pasti namun lembut.
Tangan kanannya yang hangat terulur perlahan. Jemarinya yang panjang menyapu lembut sudut mataku, menghapus jejak air mata yang masih membasahi pipiku dengan sentuhan yang begitu hati-hati seolah ia takut aku akan pecah jika ia menyentuhnya terlalu keras.
"Kamu..." suara Arka melemah, berubah menjadi bisikan yang sangat dekat di telingaku, "...ternyata sebodoh itu ya, Keandra."
Aku mendengus di tengah sisa tangisku, mencoba menepis tangannya meski tidak cukup kuat. "Biarin. Kamu yang lebih bodoh karena nggak pernah peka."
Arka tersenyum. Bukan senyum menyebalkan yang biasa ia tunjukkan di papan pengumuman atau di ruang rapat OSIS, melainkan sebuah senyum tulus yang amat lembut—senyum yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri.
"Kalau begitu..." bisik Arka tepat di depan bibirku, napasnya bergesekan dengan kulit wajahku, membuat debar jantungku menggila melampaui batas kewajaran, "...mulai hari ini, detik ini juga, kita resmi berhenti jadi saingan."
Aku mengerjap bingung, menatap manik matanya yang hitam pekat. "Terus... kita mau jadi apa?"
Arka mengangkat tangannya, menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga, lalu mengecup sekilas puncak kepalaku dengan penuh kelembutan.
"Bagaimana kalau kita kerja sama... untuk selamanya? Sebagai partner hidup, bukan lagi saingan di papan pengumuman."
Dan di bawah langit senja SMA Bina Bangsa, di antara tumpukan buku kalkulus dan sisa aroma kapur tulis, permusuhan panjang kami resmi berakhir, digantikan oleh sebuah awal cerita manis yang tidak akan pernah tertulis di lembar ujian mana pun.