Sejak pindah ke rumah peninggalan kakeknya, Rendra menemukan satu hal yang membuatnya penasaran.
Sebuah lukisan tua.
Lukisan itu menggambarkan sebuah rumah sederhana dengan pohon mangga di depannya. Warnanya sudah pudar, tetapi ada sesuatu yang aneh.
Di sudut kanan bawah lukisan terdapat gambar sebuah pintu kecil.
Padahal rumah yang digambarkan tidak memiliki pintu seperti itu.
Rendra menganggapnya hanya bagian dari imajinasi pelukis.
Sampai suatu malam, ia menemukan sebuah kunci kecil di dalam laci meja kakeknya.
Di gantungan kunci itu terdapat tulisan:
“Jangan cari pintunya sebelum waktunya.”
Rendra tertawa kecil.
“Pintu apa?”
Ia menyimpan kunci tersebut.
Namun rasa penasaran membuatnya mulai memeriksa rumah.
Ia mengetuk dinding.
Memeriksa lantai.
Membuka lemari.
Tidak ada apa-apa.
Beberapa hari kemudian, ketika membersihkan ruang keluarga, ia melihat sesuatu.
Lukisan tersebut ternyata sedikit menonjol dari dinding.
Rendra menurunkannya.
Di belakang lukisan terdapat lubang kecil.
Ukuran lubang itu persis seperti kunci yang ia temukan.
Tangannya mulai gemetar.
Ia memasukkan kunci.
Terdengar bunyi klik.
Sebuah bagian dinding bergeser.
Di baliknya terdapat ruang kecil.
Rendra menyalakan lampu ponsel.
Ruangan itu penuh kotak.
Tidak ada uang.
Tidak ada benda berharga.
Hanya surat.
Puluhan surat.
Semuanya ditulis oleh kakeknya.
Rendra mengambil satu.
“Untuk siapa pun yang menemukan ruangan ini.”
Ia membaca perlahan.
“Kemungkinan besar aku sudah tidak ada ketika kamu membaca surat ini.”
Rendra duduk.
Isi surat itu membuatnya terdiam.
Kakeknya ternyata pernah memiliki seorang adik perempuan bernama Mira.
Mira adalah anak yang sangat berbeda.
Ia suka melukis.
Ia sering menghabiskan waktu di rumah tua mereka.
Namun keluarga mereka tidak mendukung keinginannya menjadi pelukis.
Suatu hari, Mira pergi.
Tidak ada yang tahu ke mana.
Kakeknya adalah satu-satunya orang yang terus mencarinya.
Tetapi pencarian itu tidak pernah berhasil.
Rendra mengambil surat berikutnya.
“Kalau suatu hari ada yang bertanya mengapa lukisan rumah itu tidak pernah dipindahkan, jawabannya sederhana.”
“Karena itu adalah satu-satunya benda yang ditinggalkan Mira.”
Rendra memandangi lukisan di tangannya.
Ia mulai memahami.
Pintu kecil dalam lukisan itu mungkin bukan sekadar gambar.
Ia membuka kotak lain.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.
Salah satunya menunjukkan seorang perempuan muda berdiri di depan rumah yang sama.
Di belakang foto tertulis:
Mira, 1978.
Rendra kemudian mencari nama Mira melalui arsip digital.
Tidak banyak informasi.
Namun ia menemukan sebuah artikel lama tentang pameran lukisan di kota sebelah.
Salah satu seniman yang disebut bernama Mira Rahma.
Rendra terkejut.
Ia mencari lebih jauh.
Ternyata Mira pernah menjadi pelukis terkenal di daerah tersebut.
Namun namanya menghilang setelah pindah ke luar negeri.
Rendra tidak menyerah.
Ia menemukan sebuah alamat email lama dari komunitas seni.
Ia mengirim pesan.
“Apakah Anda mengenal Mira Rahma yang pernah tinggal di kota ini?”
Beberapa hari kemudian, balasan masuk.
“Ya. Ia tinggal di Melbourne. Usianya sekarang delapan puluh tahun.”
Rendra membaca kalimat itu berkali-kali.
Mira masih hidup.
Ia mengirim foto lukisan tersebut.
Balasan datang malam itu.
“Dari mana kamu mendapatkan lukisan itu?”
Rendra menjelaskan bahwa lukisan tersebut adalah milik kakeknya.
Tidak lama kemudian, sebuah panggilan video masuk.
Seorang perempuan tua muncul di layar.
Rendra langsung tahu.
Ada sesuatu pada matanya yang mirip dengan kakeknya.
“Siapa namamu?”
“Rendra.”
“Anak siapa?”
Rendra menyebut nama ayahnya.
Perempuan itu terdiam.
“Jadi kamu cucunya?”
“Iya.”
Mira menangis.
Bukan karena bahagia.
Bukan pula karena sedih.
Seolah-olah puluhan tahun yang hilang tiba-tiba kembali dalam satu detik.
“Bagaimana kakakku?”
Rendra menunduk.
“Kakek sudah meninggal.”
Mira memejamkan mata.
“Aku selalu berharap dia masih mencariku.”
“Dia memang mencarimu.”
Mira menangis.
“Bagaimana kamu tahu?”
Rendra menunjukkan surat-surat yang ditemukan di ruang rahasia.
Mira membaca salah satu surat melalui layar.
Tangannya gemetar.
“Aku pikir dia membenciku.”
“Kenapa?”
“Karena ketika aku pergi, kami bertengkar.”
Rendra terdiam.
Mira kemudian bercerita.
Bertahun-tahun lalu, ia ingin mengikuti sekolah seni.
Namun keluarganya menolak.
Ia merasa tidak dipercaya.
Dalam keadaan marah, ia pergi.
Ia mengira kakaknya juga tidak akan peduli.
Tetapi selama bertahun-tahun, ia sebenarnya menunggu kabar.
Tidak pernah ada yang datang.
“Aku terlalu malu untuk kembali,” katanya.
Rendra kemudian mengatakan sesuatu yang ia temukan dalam surat terakhir.
“Kakek menulis bahwa dia tidak pernah berhenti menunggu.”
Mira menangis.
“Dia masih menyimpan lukisanku?”
“Masih.”
Mira tersenyum sambil mengusap air mata.
“Berarti dia tidak benar-benar marah.”
“Tidak.”
Mereka berbicara selama hampir dua jam.
Mira menceritakan hidupnya.
Tentang pameran pertamanya.
Tentang lukisan yang ia jual.
Tentang suaminya.
Tentang anak-anaknya.
Tentang semua hal yang seharusnya pernah diceritakan kepada keluarganya.
Sebelum panggilan berakhir, Mira berkata,
“Rendra, bolehkah aku meminta sesuatu?”
“Apa?”
“Jangan buang rumah itu.”
Rendra tersenyum.
“Tidak akan.”
“Jadikan sesuatu.”
“Sesuatu apa?”
“Tempat orang boleh melukis tanpa takut dianggap tidak berguna.”
Rendra terdiam.
Ia memandang ruangan tua itu.
Beberapa bulan kemudian, rumah kakeknya berubah.
Dinding dibersihkan.
Ruang keluarga dijadikan tempat pameran kecil.
Halaman ditanami pohon mangga baru.
Di salah satu ruangan, Rendra membuat studio terbuka untuk anak-anak.
Ia menamai tempat tersebut:
Rumah Mira.
Lukisan tua itu tetap dipasang di ruang utama.
Namun kali ini, Rendra menambahkan sebuah bingkai kecil di bawahnya.
Di sana tertulis:
“Kadang sebuah pintu tidak benar-benar terkunci. Kita hanya membutuhkan keberanian untuk mencari kuncinya.”
Setahun kemudian, Mira pulang.
Usianya sudah delapan puluh tahun.
Ia berdiri lama di depan rumah masa kecilnya.
Rendra menunggunya.
“Rumahnya masih sama,” kata Mira.
“Tidak sepenuhnya.”
“Apa yang berubah?”
Rendra menunjuk anak-anak yang sedang melukis di halaman.
“Sekarang rumah ini punya banyak cerita.”
Mira tersenyum.
Ia masuk perlahan.
Di ruang utama, ia berhenti di depan lukisan lamanya.
Tangannya menyentuh bingkai.
“Aku kira lukisan ini sudah hilang.”
Rendra menjawab,
“Kakek menjaganya.”
Mira menatap lukisan itu.
Kemudian ia menangis.
Bukan karena kehilangan.
Kali ini karena menemukan sesuatu yang selama puluhan tahun ia kira sudah tidak ada.
Keluarga.
Rumah.
Dan kesempatan untuk pulang.
Sejak hari itu, Mira datang setiap sore ke studio.
Ia mengajari anak-anak melukis.
Tidak ada ujian.
Tidak ada nilai.
Tidak ada yang mengatakan sebuah gambar bagus atau jelek.
Hanya ada satu aturan:
“Berani menggambar apa yang ada di dalam hatimu.”
Dan setiap kali seseorang bertanya mengapa rumah itu diberi nama Rumah Mira, perempuan tua itu hanya tersenyum.
“Karena dulu saya pergi untuk mencari dunia.”
Ia memandang anak-anak yang sedang melukis.
“Ternyata, selama ini dunia juga bisa ditemukan di rumah.”