Kini aku tersenyum menatap wanita itu. Wanita yang sama yang pernah aku lukai hampir lima tahun yang lalu. Wanita yang sama yang pernah tertawa bahagia disamping kursi kemudiku, wanita yang sama yang menemaniku selama 4 tahun lamanya.
Suara riuh tepuk tangan dan sorakan bahagia kini terdengar ramai, aku hanya menatapnya dari kejauhan. Seandainya aku tidak melakukan kesalahan 5 tahun lalu akankah dia tetap berada disebelahku sekarang?
"Selamat kepada pasangan pengantin yang kini sudah resmi menyandang sebagai suami istri secara sah."
Banyak senyuman dan tawa bahagia di sekelilingku, tapi seolah hatiku begitu sakit mendengar ucapan itu. Bodoh, aku memang begitu bodoh karena pernah menyakitinya.
Kini aku bahkan tidak pernah punya kesempatan sedikitpun untuk membuat ia kembali padaku. Seandainya aku lebih bisa menghargai kehadirannya kala itu, seandainya aku bisa lebih paham betapa berharganya dia saat itu.
Bayangan demi bayangan beberapa tahun silam seolah membekas dalam ingatanku. Lima tahun yang lalu, dia bahkan baru menikah dan mendapatkan pengganti ku setelah lima tahun. Dan kini, aku hanya bisa menyesal.
"Mending kita pisah aja."
Dia hanya diam menatapku dan kembali fokus pada ponselnya. Melihat ia hanya diam dan tidak menimbulkan suara aku kini mulai kesal. Dia biasanya begitu cerewet, dan kita mulai bertengkar. Tapi kini ia hanya diam.
"Denger ga? Aku mau kita pisah aja."
Dia hanya menghela napas dalam dan mulai menatapku. Tatapan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, tatapan kosong yang terlihat menyakitkan.
"Lakukan, jika itu maumu. Tolong urus surat perceraian secepatnya."
Aku terdiam cukup lama, dia kembali menatap ponselnya tanpa banyak bicara lagi. Entah mengapa ucapannya membuat sesuatu dalam dadaku terasa sesak. Mungkinkah ini yang benar aku inginkan?
"Oke, aku urus nanti."
Ucapku singkat. Sudah hampir dua Minggu aku tidak pernah pulang kerumah ini. Ini memang rumah miliknya yang sudah kita tinggali hampir empat tahun pernikahan kita.
Dan sejak aku pergi, ia hanya tinggal sendiri dirumah ini, ayah dan ibunya sudah meninggal sejak ia menginjak Sekolah Menengah. Dan aku rasa aku tidak peduli, toh aku kan bukan orang tuanya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Langkahku terhenti saat ia mulai mengeluarkan suara.
"Cincin kemarin yang ingin kau kasih, kau berikan kepada wanita itu?"
Deg!
Aku terdiam sesaat, sekitar dua Minggu lalu sebelum aku memutuskan untuk tidak pulang. Aku menyodorkan sebuah cincin padanya, cicin sederhana.
"Kau mau cincin ini?" Tanyaku.
"Punya siapa ini? Kalau punya orang lain kau simpan saja, khawatir ada yang memintamu mengembalikannya."
Jawabannya cukup membuatku kesal dan akhirnya aku menarik cincin itu dari jari manisnya. Dia hanya terdiam dan kembali menatap depan.
"Aku sudah pernah menawarkannya padamu, tapi kau tidak mau kan? Jangan salahkan aku jika aku memberikannya pada orang lain. Kita kan juga mau pisah." Ujarku sedikit kesal
Aku kira jawabanku itu akan memulai pertengkaran lagi, tapi dia hanya diam dan mengangguk kecil dan mulai berkata.
"Oke, aku hanya bertanya."
Ia kembali menatap ponselnya, aku hanya menatapnya heran. Ada apa dengannya? Apa dia marah karena aku tidak pernah pulang selama dua Minggu ini? Ia kembali bermain game online, tapi ada keanehan dirumah ini. Aku merasa ada bau asap rokok, apa dia membawa pria lain kedalam rumah ini? Bodo, aku tidak peduli.
Sampai beberapa tahun setelah kejadian itu, aku mendengar. Dia merokok pada saat itu, dua Minggu aku tidak pernah pulang. Dan ia hanya menghisap rokok, dan bermain game seharian penuh. Aku hanya tersenyum meremehkan saat itu, wanita bodoh.
Aku kini kembali pada kenyataan setelah lima tahun lalu. Setelah kejadian itu setahun kemudian surat cerai kami keluar dan aku menikah lagi. Benar, aku lebih dulu menikah lagi dan mendapatkan istri baru.
Sedangkan dia? Dia bekerja, memulai pendidikan kuliahnya, dan mulai fokus pada jenjang karirnya. Dulu aku menganggap aku menang, aku menang karena aku lebih dulu menikah darinya. Dan dia itu tidak akan bisa hidup tanpaku, lihat bahkan dia tidak punya orang tua yang mendukungnya. Dia tampak menyedihkan.
Tapi kini, aku terdiam menatapnya yang tersenyum lebar ke beberapa tamu undangan. Senyuman itu, tidak akan pernah aku lihat saat aku terbangun pagi lagi. Senyuman itu, tidak akan menjadi obat penenangku lagi saat dunia tidak baik baik saja. Senyuman itu, tidak akan aku temui lagi dibelahan dunia manapun.
'Maaf, aku minta maaf yaa karena meninggalkanmu sendirian. Bahkan saat dirimu tidak punya tempat pulang.'
Aku terduduk dan menunduk, wanita yang aku nikahi setelah dia kini pergi. Aku sendirian, aku terlilit beberapa hutang, tidak punya rumah, simpanan atau apapun lagi. Dokter mendiagnosis aku tidak subur dan sulit memiliki keturunan. Bahkan dulu, aku sangat ingat sering menyalahkannya.
"Kurasa aku ingin menikah lagi."
"Ada apa? Apa aku begitu kurang dimatamu?"
"Kau sadar, sudah beberapa tahun kita menikah dan kita belum memiliki keturunan? Apa kau yakin, kau bisa punya anak?"
Dia tampak terkejut menatapku, aku hanya terdiam sesaat. Mengapa aku bicara hal yang begitu menyakitinya? Aku sudah tidak peduli, aku juga ingin memiliki keturunan seperti teman temanku yang lain.
"Apa kau pikir, hanya kau yang ingin punya anak?"
Matanya kini mulai berlinang, aku hanya berdecak kesal. Air mata itu lagi, kenapa wanita ini begitu banyak drama.
"Lihat? Bahkan menstruasimu tidak lancar, kan? Aku yakin, memang ada masalah dalam dirimu."
Dia terlihat mengepalkan tangannya kuat, entah menahan amarah atau menahan rasa sakit karena ucapanku. Aku tidak peduli.
"Ayo kita periksa ke dokter. Kalau memang masalah di aku, aku akan mengizinkanmu menikah lagi, bahkan menceraikanku sekalian. Tapi jika itu masalahnya ada dalam dirimu..."
Air mata yang sudah sedari tadi ia tahan kini jatuh perlahan.
"Sungguh, aku ridho menemanimu sampai akhir hidup kita. Aku ikhlas bersamamu tanpa anak."
Tanpa sadar air mataku berlinang, dengan cepat aku mengusapnya dengan tanganku. Tiba-tiba ada tangan menepuk pundakku. Aku menoleh, dia Aji. Salah satu temanku dan juga temannya, yang mengerti bagaimana kisah hidupku.
"Sabar yaa, jadikan semua ini pelajaran."
Pelajaran katanya? Aku menerima dan ikhlas semuanya, tapi bisakah wanita itu kembali padaku? Ingin aku berteriak tepat disebelah kupingnya. Aku hanya tertawa singkat.
"Santai bro."
Aku kembali menatap wanita itu, dia tampak bahagia. Ia butuh lima tahun untuk kembali menata hidupnya kembali, sedangkan setelah lima tahunku malah hancur. Dia begitu cantik dengan gaun putih dan hiasan pengantin itu. Ia tampak sempurna.
Aku mulai menyadari, seberapa keraspun aku mencari cinta yang setulus dirinya. Aku tidak akan pernah menemukannya lagi, karena cinta tulus itu memang hanya sekali datang di hidupku.