"Billie sini makan sayang, kau belum makan kan?"
"Tunggu ibu, aku sedang menulis novel."
Naney menghela napas pelan. Ya sejak mereka berpindah dari kota, kini mereka tinggal di di desa Furore. Tapi jauh dari keramaian dan hiruk pikuk kota.
Gadis cantik bernama Billie Lucy, ia sedang menulis novel di bawah pohon tua dan rindang yang menurutnya begitu nyaman dan menenangkan.
Setiap goresan pena yang ia tulis agar menjadi sebuah novel yang bagus. Billie tersenyum setiap menuliskan detail alur cerita yang ia buat.
"Dan untukmu tokoh antagonis. Aku akan memberimu pelajaran agar kau bisa menghargai bagimana tokoh utama yang telah kubuat." gumamnya.
Matahari semakin condong ke barat. Menandakan jika malam akan tiba. Dan awan senja mulai nampak di atas langit.
Kini Billie berdiri dan mengemasi pena lalu, membawanya kembali kedalam rumah. Tanpa gadis itu sadari, dari balik pohon tidak benar-benar tenang. Wanita cantik dari alam sebelah melihat salah satu pena Billie terjatuh.
Wanita itu perlahan keluar dari balik batang pohon.
Wajahnya begitu cantik dan pucat. Rambut hitam panjangnya terurai hingga melewati pinggang. Ia mengenakan gaun putih sederhana yang tampak asing, seolah bukan berasal dari dunia yang sama dengan Billie.
Tatapannya tertuju pada pena yang tergeletak di tanah. Wanita itu membungkuk dan mengambilnya.
“Pena ini,” bisiknya pelan.
Jari-jarinya menggenggam pena tersebut dengan erat. Tiba-tiba, angin berembus kencang. Daun-daun pohon tua berguguran meskipun tidak ada angin di sekitar rumah Billie.
Wanita itu tersenyum tipis. "Jadi akhirnya kau kembali menulis."
***
Malam telah menyelimuti desa Furore. Billie sudah berada di kamarnya. Ia duduk di depan meja sambil membuka kembali buku yang ia tulis tadi. Namun, keningnya berkerut.
"Kenapa ini aneh,"
Billie membalik beberapa halaman. Ia yakin tadi sore telah menulis sampai bagian ketika tokoh utama telah sampai di rumah yang berada didalam hutan. Tetapi sekarang, ada satu paragraf tambahan.
Tulisan itu menggunakan tinta hitam yang sama dengan miliknya. Billie berusaha menggeleng memastikan dirinya benar-benar salah melihat.
"Mungkin aku lupa menulisnya." Ia melanjutkan membacanya lagi.
'Jangan pernah kembali ke bawah pohon itu setelah matahari terbenam.'
Ia menggigit bibir bawahnya. “Kenapa aku menulis kalimat seperti ini?”
Ia mengambil penanya. Namun, ketika ujung pena menyentuh kertas, tangannya berhenti.
Dari luar jendela terdengar suara lirih, seperti suara perempuan.
"Billie," panggilnya
Gadis itu menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya tirai jendela yang bergerak tertiup angin.
"Billie," lagi. Suara itu terdengar lagi. Untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih dekat. Gadis itu memberanikan diri berjalan perlahan menuju jendela.
Ketika tirai disibakkan, ia melihat pohon tua yang selama ini menjadi tempat favoritnya menulis.
Di bawah pohon itu, berdiri seorang wanita berpakaian putih. Mata gadis itu membulat. Wanita itu mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum padanya. Si gadis segera menutup tirai.
"Ibu!" triaknya.
Naney berlari masuk ke kamar. "Ada apa, Sayang?"
"Di bawah pohon itu ada seseorang."
Naney menatap jendela. Wajahnya seketika berubah. Wanita itu menelan ludah susah payah. "Jangan lihat ke sana lagi."
"Kenapa ibu, siapa dia?"
Naney tidak menjawab. Ia hanya menarik Billie menjauh dari jendela. Dan memeluk gadis itu erat-erat.
"Mulai besok, jangan menulis di bawah pohon itu." nada itu seperti larangan.
***
Jauh dari lubuk hatinya, Billie di penuhi rasa penasaran yang cukup besar. Keesokan paginya, Billie menemukan sesuatu yang membuatnya semakin penasaran.
Pena yang ia kira hilang ternyata berada di atas meja kamarnya. Padahal ia yakin pena itu terjatuh di bawah pohon. Billie mengambilnya.
Ada sesuatu yang berbeda. Pada bagian ujung pena terdapat tulisan kecil.
MILIK EMILY.
Billie mengernyit bingung, "Emily?"
Ia tidak mengenal siapa pun bernama Emily.
Rasa penasaran membuat Billie membuka internet dan mencari nama tersebut. Tidak ada hasil yang berarti.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah foto lama dari desa Furore. Foto itu memperlihatkan seorang gadis muda berdiri di bawah pohon tua. Billie terdiam. Gadis dalam foto itu adalah wanita yang ia lihat semalam.
Di bawah foto tertulis sebuah keterangan: Emily Bellini — menghilang pada tahun 1968.
Jantung Billie berdegup lebih kecang. a membaca artikel tersebut.
Emily adalah seorang gadis yang tinggal di desa itu puluhan tahun lalu. Ia dikenal suka menulis cerita di bawah pohon tua di dekat rumahnya. Suatu malam, Emily menghilang. Tidak pernah ditemukan.
Billie menatap layar dengan wajah pucat.
"Tidak mungkin,"
Ia kemudian melihat buku novelnya.Tangannya gemetar ketika membuka halaman terakhir.
Ada kalimat baru. Padahal ia tidak pernah menulisnya.
'AKU BELUM SELESAI MENULIS.'
***
Malam berikutnya, Billie tidak bisa tidur. Suara pena menggores kertas terdengar dari ruang bawah.
Krek.
Krek.
Billie duduk di tempat tidur. Tubuhnya gemetar. Ia mengepalkan tangan erat.
"Ibu?"
Tidak ada jawaban. Suara itu terus terdengar.
Billie memberanikan diri keluar kamar. Ruang bawah gelap. Namun, suara itu berasal dari meja tempat ia biasa menulis.
Ketika lampu dinyalakan, si gadis matanya membulat, Bukunya terbuka. Pena bergerak sendiri di atas halaman. Goresan tinta perlahan membentuk sebuah kalimat.
Bawa aku pulang. Gadis itu mundur dan pena itu berhenti. Lalu perlahan jatuh ke lantai.
Di belakang si gadis tepat terdengar suara lirih perempuan. "Kalau kau ingin tahu semuanya, datanglah ke pohon tua itu."
Gadis itu mengerjap pelan, Emily berdiri di sana. Sendirian wajahnya cantik begitu pucat.
"Siapa kau?"
"Aku adalah seseorang yang pernah melakukan kesalahan yang sama denganmu."
"Kesalahan apa jelaskan?"
"Menulis akhir cerita sebelum mengetahui siapa yang sebenarnya menjadi tokoh di dalamnya."
Lampu tiba-tiba padam. Ketika menyala kembali, Emily telah menghilang.
***
Malam itu Billie mengambil bukunya. Ia berjalan menuju pohon tua. Bukan karena tidak takut. Tetapi karena ia ingin mengetahui kebenarannya.
Di bawah pohon, udara terasa jauh lebih dingin dan menusuk kulitnya. Gadis itu membuka bukunya.
Setiap halaman-halaman bergerak sendiri tertiup angin. Kemudian sebuah halaman kosong muncul. Perlahan, tinta mulai membentuk tulisan.
TULIS NAMAKU.
Dengan gemetar gadis itu menggenggam pena.
"Emily?"
Tulisan itu berubah.
BUKAN.
Gadis itu menelan ludah susah payah. Pertanyaan muncul di kepalanya.
"Lalu siapa?"
Pena di tangannya bergerak sendiri. Satu nama muncul di halaman.
BILLIE LUCY.
"Kenapa namaku?"
Ia kalut dalam pikirannya saat diam terdengar suara tawa dari balik pohon. Bukan tawa biasa. Ada suara lain. Lebih banyak. Si gadis menutup telinganya rapat-rapat. Ketakutan merayap kedalam dirinya.
Seolah banyak orang sedang membaca sebuah cerita bersama-sama. Gadis itu hendak berlari meninggalkan tempat itu. Namun, ketika ia melangkah. Rumahnya sudah tidak terlihat. Rumah itu seolah menjadi debu. Desa Furore menghilang. Yang tersisa hanyalah pohon tua dan kabut putih yang memenuhi sekelilingnya.
Tidak, ini seperti mimpi. Tapi mimpi itu sangat nyata. Emily berdiri beberapa meter di depannya.
"Kau akhirnya datang."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Emily berjalan mendekat dan menunjuk buku di tangannya. "
"Cerita yang kau tulis bukan sekadar cerita."
"Hah?"
"Setiap tokoh yang kau ciptakan memiliki kehidupan di tempat ini."
Gadis itu menutup mulutnya dan menatap dengan tak percaya.
"Jadi mereka nyata?"
"Ya, setiap kali kau mengubah cerita mereka, dunia mereka ikut berubah."
Gadis itu membuka halaman novel yang ia tulis. Tokoh antagonis yang selama ini ia tulis, tiba-tiba memiliki nama baru.
"Aku tidak pernah menulis namamu."
"Karena aku bukan tokoh dalam ceritamu."
"Lalu siapa?"
"Aku adalah penulis sebelum dirimu."
Jelas sudah, setelah Emily menceritakan semuanya pada Billie. Puluhan tahun lalu, ia juga menemukan pena yang sama. Ia menulis cerita di bawah pohon tersebut. Awalnya hanya sebuah novel biasa. Namun, semakin sering ia menulis, semakin banyak kejadian tak masuk akal dalam ceritanya muncul di kehidupan nyata.
Emily mencoba menghentikannya. Tetapi ia sudah terlambat. Ia menulis sebuah akhir.
Dan sejak saat itu, ia terperangkap di dunia yang ia ciptakan sendiri.
"Aku sudah menunggu seseorang yang bisa mengambil pena ini dariku," katanya.
"Kenapa aku?"
"Karena kau memilih pohon ini tanpa mengetahui apa pun tentangnya."
Billie menatap pena di tangannya. "Kalau begitu, bagaimana caranya aku keluar?"
Emily menunjuk halaman terakhir. "Jangan selesaikan ceritanya."
Billie membuka halaman tersebut. Kosong.
"Kalau aku berhenti menulis?"
"Dunia ini akan berhenti mengikuti tulisanmu."
Ia berpikir sejenak. Kemudian tersenyum.
"Aku tahu caranya."
Tangan gadis itu bergerak menulis satu kalimat terakhir.
AKU MEMILIH UNTUK TIDAK MENULIS AKHIR CERITA INI.
Angin berhenti. Kabut perlahan menghilang.
Pohon tua berguncang.
Emily bergumam, "Terimakasih."
Tubuhnya perlahan berubah menjadi cahaya tipis. Wajahnya yang pucat terlihat damai.
"Jangan pernah mengambil pena itu lagi." itu seperti sebuah amanat.
Pena jatuh dari tangan si gadis. Seketika semuanya menjadi gelap.
***
"Billie!" panggi sang ibu.
Billie membuka mata. Naney sedang mengguncang bahunya.
"Kau tidur di bawah pohon?"
Gadis itu menyesuaikan netranya dan Ia melihat sekeliling. Terdapat rumah, pohon tua dan desa Furore. Semuanya kembali normal.
"Sejak kapan aku disini ibu?"
Naney menghela napas lega. "Ibu mencarimu sejak tadi."
Gadis itu berdiri. Kemudian matanya tertuju pada tanah. Sebuah pena tergeletak di sana.
Pena yang sama. Gadis itu menatapnya beberapa detik. Lalu memilih untuk meninggalkannya.
Ia berjalan pulang bersama Naney. Namun sebelum masuk ke rumah, gadis itu berhenti.
Ia menoleh sekali lagi ke arah pohon. Tidak ada siapa-siapa.
Hanya daun-daun kering yang bergesekan perlahan tertiup angin. Billie tersenyum kecil.
Sejak malam itu. Billie tidak pernah lagi menulis di bawah pohon tua.
Tetapi setiap kali ia membuka buku kosong, selalu ada satu halaman yang telah terisi.
JANGAN SELESAIKAN CERITANYA.
TAMAT.