" Maaf Ibu Wati, terpaksa saya tidak menaikkan anak Ibu lagi, nilai merahnya terlalu banyak, belum memenuhi standar kenaikan kelas" , jelas Guru Wali kelas.
Wati sangat kecewa, ini sudah yang ke tiga kalinya, putri semata wayangnya tidak naik kelas.
Seketika wajah Wati memerah ,malu ,tentu saja yang wanita itu rasakan, harga dirinya seakan turun.
" Tidak apa apa Bu Yuni, malah saya bersyukur daripada nanti Sarah tidak dapat mengikuti pelajaran di tingkat kelas selanjutnya, biar saja dulu dia belajar dari tingkat awal." Sambil tersenyum, Wati mencoba Ikhlas, padahal hatinya sudah sangat frustasi.
Setelah keluar dari kelas, Wati menghela nafas , meredakan emosinya, tapi sepertinya gagal.
Karma apa yang sudah dia dapatkan, sehingga memiliki anak yang IQ nya di bawah rata-rata. Bathin Wati dengan sedih.
Sesampainya di rumah, Wati langsung melempar buku raport anaknya diatas meja tamu, karena lagi- lagi gagal naik kelas, dia sangat emosi.
BRAKK
" Lihat Pak, ini yang ketiga kalinya anak kita menjatuhkan harga diri kita, Ibu malu pak.. malu..., mau taruh dimana muka ibu, apa kata ibu ibu arisan, ...." , marah Wati , lalu menepuk dahinya, dan mengusap wajahnya .
Wati sangat marah, tidak tahu lagi bagaimana meredakan emosinya, ingin rasanya Wati menyobek nyobek Raport itu.
" Sabar Bu, mungkin ini ujian kita dalam mendidik anak.", Suami wati berusaha menghibur nya.
" Perasaan dulu waktu ibu mengandung Sarah, gizi ibu terpenuhi, ibu makan sayur, minum susu, juga vitamin dari dokter ibu minum sampai habis, tidak lupa juga ibu selalu mendengarkan musik klassik yang katanya bisa membuat otak anak kita pintar, tapi kenyataan yang ibu dapat ...heh...dosa apa yang telah kita lakukan pak, kenapa anak kita bodoh seperti sekarang ini."
Tanpa mereka tahu, anak mereka, Sarah, mendengarkan pembicaraan mereka.
Hati Sarah terluka, merasa bersalah dan tidak berguna, karena telah membuat orang tuanya malu.
Tapi ,harus bagaimana lagi , apa yang harus dia lakukan.
Sarah sudah berusaha semaksimal mungkin, dia sudah rajin membaca buku-buku pelajaran, sudah mendengarkan guru dengan cermat, bahkan rajin mencatat dan mengerjakan PR yang Guru berikan, walaupun nilainya selalu merah.
Haruskah dia mencontek temannya saat ulangan , atau menyuap mereka agar nilainya bagus, setidaknya sesuai standar nilai yang di terapkan di sekolahnya.
***
Sarah berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai, sekarang semangatnya pupus, percuma belajar sampai larut malam, kalo otaknya mati, tidak bisa menyerap apa yang dia pelajari.
Sarah hanya bisa melamun dan berkhayal, seandainya ada yang bisa membuat otaknya pintar, atau memiliki robot kucing seperti nobita, mungkin masalahnya tidak parah seperti ini.
Anak remaja itu melamun sambil rebahan di tempat tidur, sampai akhirnya dia tertidur.
***
Hari Minggu, Sarah sudah berjanji pada kedua orang tuanya, akan membersihkan rumah.
Sarah tidak mau membuat orang tuanya sedih dan kecewa lagi, walaupun dia bodoh, setidaknya Sarah bisa membantu meringankan pekerjaan ibunya, Sarah juga sudah bertekad, akan memanfaatkan waktunya lebih banyak lagi untuk belajar.
Sarah dengan giat memulai pekerjaannya dengan membereskan lemari buku yang berada di ruang kerja Ayahnya., selanjutnya nanti setelah selesai, Sarah akan membersihkan dapur.
Tadi kedua orang tuanya pamit akan pergi ke kondangan di rumah saudara jauh, dan akan pulang nanti sore kalo jalanan tidak macet.
Ibunya sudah menyuruhnya untuk ikut, tapi Sarah menolak.
Remaja itu sambil bersenandung menata kembali buku - buku yang berantakan , dengan menggunakan kain lap, buku buku yang berdebu di bersihkan oleh Sarah.
Satu jam berlalu, pekerjaannya hampir selesai, dan tinggal satu lagi yang belum dia bersihkan,yaitu memungut dan memisahkan benda benda yang berada di dalam lemari tua.
Sebuah pensil berwarna emas dan sudah berkarat, menarik perhatiannya.
" Ini pensil ,apa masih bisa dipakai ya...,..,warnanya seperti lampu wasiatnya " Aladin". pikir Sarah polos.
" Aku coba deh, coret coret di buku." kemudian Sarah mengambil sebuah buku yang terletak di sampingnya.
.
" Eh iya,..ini masih bisa dipake.." gumam Sarah senang.
Sarah menyimpannya di kantong baju sarah.
" Sudah mirip pak Guru..hehehe..." ocehnya, sembari melihat ke cermin yang terletak di dinding.
" Lalalalaalaa..." Sarah bersenandung lagi, kini Sarah tinggal membersihkan lantai, dan selesailah satu pekerjaannya.
Waktu mulai sore, Sarah kelelahan dan menguap, sudah saatnya dia mandi, tapi mata Sarah sangat mengantuk, karena kebiasaan tidur siang, dan hari ini Sarah tidak tidur siang.
Dalam tidurnya Sarah bermimpi ,bertemu seorang kakek yang memiliki rambut panjang yang sudah beruban, dan jenggot juga berwarna sama dengan rambut kakek itu.
Dalam mimpi, kakek itu berkata pada Sarah,
" Anak baik, karena kamu telah bersedia merawatku, maka aku akan membantumu mulai sekarang."
Sarah terbangun sesudah kakek itu menghilang dalam mimpinya.
" Kok mimpiku aneh ya, kaya seperti nyata saja gitu" gumamnya,
" Ah..mungkin karena aku tidur di waktu sore, jadi mimpinya aneh aneh..hoam..."
Sarah kini melangkah ke kamar mandi, dan sekalian membersihkan pulpen itu dengan sabun sehabis mandi.
" Eh..kok jadi mengkilap ya, wah ajaib .." gumam Sarah lagi, anak remaja itu kagum dengan pulpen yang tadi dia temukan, lalu membawa pulpen itu ke kamar dan memasukkannya ke kotak pensilnya.
Pukul 5 sore, kedua orang tuanya pulang, mereka memuji Sarah, karena berkat Sarah , anak semata wayang mereka, rumah menjadi bersih dan rapih.
***
Keesokan paginya, Sarah pergi ke sekolah ,dan kebetulan hari ini ada ulangan Matematika.
Kepala Sarah langsung pusing sebelum mengerjakan soalnya, pelajaran ini yang sangat Sarah takuti, sebab Sarah belum hafal perkalian.
Otak Sarah payah kalo harus menghafal.
Sudah satu jam waktu berlalu, tapi satupun saol Sarah belum bisa mengerjakannya. Otaknya sudah panas, sebentar lagi mungkin akan meledak, kalo dia gunakan untuk berpikir lagi, tapi Sarah mau tidak mau, harus menyelesaikan soal ulangan itu.
Sarah mulai menulis sembarang angka dalam lembar jawaban, kemudian dia membuka kotak pensilnya untuk mengambil penghapus, karena Sarah belum yakin dengan angka angka yang dia tuliskan.
Melihat pensil itu, sepertinya Sarah mendengar suara bujukan untuk menggunakannya. Sarahpun akhirnya menggunakan pensil itu untuk menulis.
Ajaib sekali, seketika di dalam otak Sarah, angka angka muncul sebagai jawaban ,dan dia menuliskannya.
Keesokan harinya, hasil ulangan kemarin di bagikan, dan Sarah tidak percaya karena nilai hasil ulangannya mendapat 85.
" Wah ..aku dapat nilai delapan puluh lima,. "
" Ini tidak mimpi kan" bathinnya tak percaya, lalu sarah sengaja mencubit kulit tangan dan merasa sakit.
" Ini bukan mimpi,beneran aku dapat nilai 85,..." Sarah sangat senang dengan nilai ulangan yang diperolehnya.
Sarah langsung memberitahu Ibunya ,hasil ulangannya itu, sang ibu sangat gembira.
" ini berkat pensil ajaib itu, mulai sekarang, aku akan selalu menggunakannya."
Lama kelamaan Sarah tahu, bahwa pensil itu yang membantunya mendapatkan nilai bagus akhir akhir ini.
***
Suatu malam saat Sarah tertidur, Sarah bermimpi, kakek yang sama yang menemuinya dulu dalam mimpinya ,menggeliat dan merintih kepanasan.
"Kenapa Kek?" tanya Sarah ,sambil berlari mendekati.
" Nak, bawa Kakek segera ke telaga di atas bukit di seberang jalan itu." perintah kakek tua sambil memegangi dadanya dengan satu tangan.
" Telaga di seberang jalan ,Kek?, , Sarah kemudian mengingat dimana letak telaga .
" Telaga itu jaraknya jauh Kek dari rumah"
" Nak, kamu tidak boleh menunda, ayo cepat, nyawa kita bisa terancam"
" Terancam?, maksud Kakek? "Sahut Sarah masih belum paham.
" Nyawa kamu dan nyawa kakek bisa terancam."
" Hah, apa yang kakek bilang?" Sarah terkejut mendengar penjelasan kakek
" Cepat Nak, sebelum waktunya habis" ucap Kakek dengan keras. kakek itu mulai panik dan khawatir."
" Baik kek,." jawab Sarah singkat., dan menuruti perintah Kakek.
" ikuti Aku" perintah kakek itu lagi
Sarah mulai mengikuti pensil di belakangnya, pensil itu terbang pelan menuju bukit.
" Aku harus mendaki bukit ini Kek, tidak ada jalan lain?" tanya Sarah, yang memiliki phobia ketinggian sejak kecil.
Sarah mulai berkeringat dingin. misinya baru saja akan dimulai, tapi dia sudah ketakutan.
Sarah mengambil tongkat kayu sebagai pegangan, agar dia tidak jatuh saat menaiki bukit.
Baru saja seperempat perjalanan, Sarah terpeleset, dan jatuh ke bawah.Tongkat yang dia pegang sebelumnya juga ikut jatuh dan jatuh ke dasar sungai.
" Kakek..kakek..kakek tolongin Sarah." teriak Sarah, yang hampir jatuh ke sungai dibawah bukit dan tangannya sedang memegangi ranting pohon yang kering.
" Kakek tidak bisa menolongmu Nak, kekutan kakek hilang saat ini, akan pulih jika kakek sudah dimandikan ke telaga itu."
Sarah membelalakan matanya, dan seketika sangat ketakutan, apakah dia akan mati sekarang juga.
Sarah kemudian menjerit, karena batang yang dia pegangi mulai akan putus.
" KAKEEEKKK...KAAKKEEEKKK...SARAH GAK MAU MATIII...KAKEEKK..KAKEEKKK...TOLONGIN SARAAAHHH...AAHHHH....AAHHHH"
Sarah menjerit sekuat tenaga, dia benar benar takut akan jatuh ke sungai.
" Nak...kamu harus mencari cara sendiri untuk menyelamatkan diri sendiri..."
"KAAAKKEEEKKK...KAKKEEEKK..AKU TIDAK MAU MATII...AAAAAAAAAAGHKK..."
Akhirnya sarah tercebur ke sungai yang dalam dan alirannya deras.
*** Tamat..
.