Di sebuah desa kecil yang berdiri di tepi sungai, hiduplah seekor kucing oren bernama Momo.
Momo memiliki tiga kebiasaan buruk.
Pertama, tidur di atas jemuran orang.
Kedua, masuk ke rumah orang tanpa izin.
Dan ketiga...
Mencuri ikan.
Bukan mencuri sembarangan.
Momo adalah pencuri ikan yang sangat profesional.
Setiap pagi, ketika para nelayan membawa hasil tangkapan mereka ke pasar, Momo akan duduk di kejauhan sambil pura-pura menjilati kakinya.
Matanya mengawasi.
Telinganya bergerak.
Ekornya diam.
Begitu seorang pedagang lengah—
SRET!
Seekor ikan sudah berada di mulutnya.
“WOI!”
Momo berlari.
“HEI! KUCING SIALAN!”
Momo berlari lebih cepat.
“MENGEMBALIKAN IKANKU!”
Momo tidak menoleh.
Ia hanya mengangkat ekornya tinggi-tinggi.
Seolah berkata,
Tidak mau.
Begitulah hampir setiap hari.
Penduduk desa sudah hafal kelakuannya.
“Si oren itu lagi.”
“Kalau taruh ikan jangan ditinggal.”
“Jangan kasih dia kesempatan.”
“Kalau ketemu, usir saja.”
Tetapi Momo tidak peduli.
Ia tetap mencuri.
Sampai suatu hari, seorang gadis bernama Nara menangkapnya.
Momo baru saja menggigit seekor ikan kembung ketika—
“Dapat!”
Momo membeku.
Nara berdiri tepat di depannya.
Kedua tangannya berkacak pinggang.
Momo menatap Nara.
Nara menatap Momo.
Mereka saling diam.
Momo perlahan mundur.
Nara maju satu langkah.
Momo mundur.
Nara maju lagi.
Momo—
lari.
“HEI!”
Nara mengejarnya.
Momo berbelok ke gang kecil.
Nara ikut.
Momo melompati pagar.
Nara memanjat.
Momo masuk ke bawah gerobak.
Nara ikut merangkak.
Sampai akhirnya Momo terpojok di belakang sebuah gudang.
Ia masih menggigit ikan.
Nara menunjuknya.
“Kembalikan.”
Momo menggeram pelan.
“Jangan menggeram.”
“Mrrr…”
“Dasar pencuri.”
Momo memeluk ikan itu dengan kedua kaki depannya.
Nara menghela napas.
“Memangnya kamu mau makan sebanyak itu?”
Momo diam.
“Setiap hari kamu mencuri.”
Diam.
“Kamu tahu orang-orang marah?”
Momo masih diam.
Kemudian ia berbalik dan berlari membawa ikan itu.
Nara tidak mengejar.
Ia hanya memperhatikannya sampai menghilang.
“Kenapa sih kucing itu...”
Hari berikutnya, Nara melihat Momo lagi.
Ia sedang mencuri ikan.
Hari berikutnya lagi.
Mencuri ikan.
Lusa.
Mencuri ikan.
Selalu ikan.
Tidak pernah daging.
Tidak pernah nasi.
Tidak pernah makanan lain.
Hanya ikan.
Suatu sore, Nara penasaran.
Ia mengikuti Momo diam-diam.
Momo membawa ikan yang baru dicurinya melewati gang, melewati rumah-rumah, kemudian menuju pinggir sungai.
Nara menjaga jarak.
Momo berjalan semakin jauh.
Sampai tiba di sebuah perahu tua yang sudah tidak digunakan.
Di bawahnya terdapat kotak kayu yang rusak.
Momo masuk ke sana.
Nara mendekat.
Lalu mendengar suara kecil.
“Meong...”
Nara berhenti.
Ia mengintip.
Di dalam kotak itu ada tiga anak kucing.
Kecil sekali.
Bulu mereka masih tipis.
Mereka berdesakan satu sama lain.
Dan Momo meletakkan ikan yang dicurinya di depan mereka.
Anak-anak kucing itu langsung berebut.
Momo hanya duduk.
Tidak makan.
Ia menunggu.
Nara menutup mulutnya.
“Oh...”
Jadi selama ini...
Momo tidak mencuri untuk dirinya sendiri.
Ia mencuri untuk mereka.
Hari itu, Nara tidak mengatakan apa-apa.
Ia pulang.
Keesokan paginya, Nara membawa semangkuk nasi dan ikan.
Ia meletakkannya di bawah perahu.
Momo langsung muncul.
Ia menatap Nara dengan curiga.
Nara tersenyum.
“Tenang.”
Momo tidak bergerak.
“Ini bukan jebakan.”
Momo masih diam.
Nara mundur.
Barulah Momo mendekati makanan itu.
Ia mencium ikan.
Kemudian melihat Nara.
“Makan saja.”
Momo mengambil ikan itu.
Tetapi bukannya memakannya, ia membawanya masuk ke dalam kotak.
Nara tersenyum kecil.
“Kamu memang kakak yang baik.”
Momo menoleh.
“Meong.”
Sejak saat itu, Nara mulai membawa makanan setiap hari.
Momo berhenti mencuri.
Setidaknya...
selama beberapa hari.
Namun suatu pagi, Nara tidak datang.
Hari itu hujan turun sangat deras.
Pasar sepi.
Nelayan tidak banyak membawa ikan.
Dan Momo tidak punya makanan.
Ia menunggu di bawah perahu.
Tiga anak kucing di dalam kotak mulai mengeong kelaparan.
Momo keluar.
Hujan membasahi tubuhnya.
Ia pergi ke pasar.
Ia tahu tempat ikan berada.
Ia tahu manusia akan marah.
Tetapi ia juga tahu tiga adiknya lapar.
Maka Momo mencuri lagi.
Seekor ikan besar.
“HEI!”
Teriakan pedagang menggema.
Momo berlari.
Ia melewati genangan air.
Melompati keranjang.
Menabrak ember.
Terus berlari.
Sampai akhirnya ikan itu terlepas dari mulutnya.
Momo berhenti.
Ia kembali mengambilnya.
Dan saat itulah sebuah batu kecil terlempar.
Mengenai kakinya.
Momo terjatuh.
Ikan masih di mulutnya.
Seorang pedagang sudah mengejarnya.
“Kali ini ketangkap kau!”
Momo berusaha bangun.
Tetapi kakinya sakit.
Ia memandang ikan itu.
Kemudian melihat ke arah sungai.
Ia harus pulang.
Ia harus membawa ikan itu pulang.
Momo menyeret tubuhnya.
Sedikit demi sedikit.
Namun sebelum ia sampai—
“Nggak!”
Suara Nara terdengar.
Ia berlari dari kejauhan.
“Jangan pukul dia!”
Pedagang itu berhenti.
“Nara, kucing ini mencuri lagi!”
“Aku tahu.”
“Dia sudah berkali-kali!”
“Aku tahu!”
Nara mengambil ikan dari mulut Momo.
Kemudian menggendong tubuh kecil yang basah itu.
“Dia mencuri bukan untuk dirinya sendiri.”
Pedagang itu terdiam.
Nara membawa Momo pulang.
Ia membersihkan kakinya.
Memberinya makan.
Dan malam itu, Momo tidur di dalam rumah Nara.
Tetapi ketika pagi datang—
Momo menghilang.
Nara panik.
Ia mencarinya ke mana-mana.
Sampai akhirnya ia menemukan Momo di bawah perahu tua.
Tiga anak kucing masih di sana.
Namun mereka tidak bergerak.
Nara mendekat.
Mereka hanya tertidur.
Nara menghela napas lega.
Momo berdiri di samping mereka.
Tubuhnya kurus.
Kakinya masih terluka.
Tetapi ia terus menjilati kepala anak-anak kucing itu.
Nara duduk di sampingnya.
“Kamu tahu...”
Momo menoleh.
“Kamu tidak perlu mencuri lagi.”
Momo diam.
“Aku akan memberi mereka makan.”
Momo menatap Nara lama sekali.
Kemudian ia mendekat.
Dan untuk pertama kalinya...
Momo menyandarkan kepalanya ke tangan Nara.
Nara tersenyum.
“Kamu capek, ya?”
Momo memejamkan mata.
“Meong.”
Hanya satu suara kecil.
Namun Nara mengerti.
Terima kasih.
Hari-hari berlalu.
Ketiga anak kucing itu tumbuh besar.
Mereka menjadi sehat.
Satu diadopsi oleh seorang nelayan.
Satu tinggal bersama Nara.
Dan yang terakhir...
tetap bersama Momo.
Momo sendiri akhirnya tidak pernah mencuri ikan lagi.
Penduduk desa mulai menyukainya.
Bahkan pedagang ikan yang dulu sering mengejarnya kini sering memberikan satu ikan kecil setiap pagi.
“Ini.”
Momo duduk.
Menatap ikan itu.
Kemudian menatap pedagang.
“Meong.”
“Jangan dicuri lagi.”
“Meong.”
“Ambil saja.”
Momo mengambil ikan itu dan pergi.
Suatu sore, Nara melihat Momo duduk di pinggir sungai.
Di sampingnya ada anak kucing kecil yang kini sudah cukup besar.
Momo memberikan ikan terakhir yang ia punya.
Anak kucing itu makan dengan lahap.
Momo hanya melihat.
Nara tersenyum.
“Kamu nggak makan?”
Momo menggelengkan kepala.
Nara tertawa kecil.
“Kamu ini...”
Ia duduk di sampingnya.
Matahari perlahan tenggelam.
Air sungai memantulkan cahaya keemasan.
Anak kucing kecil itu selesai makan lalu tidur di samping Momo.
Momo menjilati kepalanya.
Nara mengusap punggungnya.
“Dulu aku kira kamu cuma pencuri ikan.”
Momo membuka satu mata.
“Meong.”
“Ternyata kamu cuma seekor kakak yang terlalu sayang.”
Momo kembali memejamkan mata.
Nara tersenyum.
Di bawah langit senja, mereka duduk bertiga.
Seekor gadis.
Seekor kucing oren.
Dan seekor anak kucing yang tertidur kenyang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Momo tidak perlu mencuri apa pun.
Karena akhirnya...
ada seseorang yang mau memberinya ikan tanpa harus ia kejar.
Dan mungkin, bagi seekor kucing kecil yang pernah hidup hanya dengan mengambil apa yang bisa ia dapatkan—
itu adalah bentuk kebahagiaan paling sederhana.
Seekor ikan.
Sebuah rumah.
Dan seseorang yang berkata,
“Kamu tidak perlu mencuri lagi. Aku akan menjagamu.”
Momo mengangkat kepalanya.
Menatap Nara.
Lalu berkata pelan—
“Meong.”
Nara tersenyum.
“Iya, Momo.”
“Aku juga sayang kamu.”