Aroma kopi hitam yang mengepul di sudut kafe sore itu tidak mampu menghalau rasa dingin yang mendadak menyerang sekujur tubuhku. Jemariku gemetar hebat. Layar ponsel di genggamanku menampilkan sebuah profil media sosial yang baru saja kutemukan tanpa sengaja—sebuah akun milik seorang wanita dengan foto profil bersama seorang balita laki-laki yang lucu dan seorang pria berseragam loreng.
Pria itu adalah Baskara. Lelaki yang selama enam bulan terakhir ini mengisi hariku dengan perhatian, janji-janji manis, dan senyuman yang kupikir hanya milikku seorang.
"LDR, happy family," tulis takarir di salah satu foto mereka.
Duniaku serasa runtuh saat itu juga. Dadaku sesak, udara di sekitar rasanya mendadak habis. Baskara, seorang prajurit yang mengaku bujang dan tinggal sendirian di rumah dinas luar batalion, ternyata adalah suami orang dan ayah dari satu anak.
Aku teringat kembali ke belakang, merangkai kepingan kejanggalan yang selama ini sengaja kuabaikan karena rasa percaya. Baskara tidak pernah mau kuajak jalan berdua di tempat umum yang ramai. Dia selalu menolak memegang ponsel di depanku dengan alasan "ingin menikmati waktu berkualitas tanpamu tanpa gangguan". Dia juga pernah beberapa kali membujukku untuk mampir ke rumah dinasnya yang sepi, namun untungnya, logika dan kehormatanku sebagai wanita selalu menolak. Aku tidak ingin masuk ke rumah laki-laki di mana hanya ada kami berdua.
Ternyata, benteng pertahanan itu adalah cara Tuhan melindungiku dari dosa yang lebih jauh.
Malam itu, setelah tangisku reda dan menyisakan kekosongan yang teramat sangat, aku mengambil keputusan terbesar dalam hidupku. Aku tidak akan melabraknya. Aku juga tidak akan menghubungi istrinya. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku memikirkan perasaan wanita seberang sana yang sedang berjuang dalam hubungan jarak jauh, dan masa depan anak laki-laki kecil yang tidak berdosa itu. Aku memilih pergi dalam senyap. Aku memblokir semua akses komunikasi, mengganti nomor ponsel, bahkan pindah dari kos tempat tinggal demi memutus semua radar Baskara.
"Biar sakit ini kusembuhkan sendiri, asal aku tidak mengambil kebahagiaan perempuan lain," bisikku pada malam yang dingin, merelakan luka ini menjadi urusanku dengan waktu, sementara urusan Baskara biar menjadi urusannya dengan Sang Pencipta.
---
Tiga tahun berlalu. Waktu telah menjalankan tugasnya dengan baik. Aku, Ainun, sudah menata kembali hidupku di kota yang baru. Lukaku sudah lama mengering, berganti dengan kedewasaan dan rasa syukur karena telah lolos dari jebakan pria penipu. Aku mengira cerita tentang Baskara sudah selesai dan terkubur bersama masa lalu.
Namun, dunia ini memiliki hukumnya sendiri. Sebuah hukum tak tertulis yang bekerja tanpa suara, yang kerap kita sebut sebagai karma.
Suatu sore, aku menghadiri acara pernikahan seorang sahabat lama yang juga menikah dengan seorang anggota TNI. Acara pedang pora berlangsung megah. Di antara ratusan tamu undangan yang hadir, mataku tidak sengaja menangkap sesosok pria yang duduk menyendiri di sudut area luar gedung, dekat area merokok.
Pria itu mengenakan pakaian batik, namun badannya tidak lagi tegap seperti dulu. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari usianya, kuyu, dan ada gurat frustrasi yang mendalam. Ketika dia menoleh ke arahku, jantungku sempat berdegup kencang. Itu Baskara.
Dia melihatku. Matanya membelalak, campuran antara terkejut, malu, dan rasa bersalah yang teramat sangat. Baskara berdiri, melangkah ragu ke arahku. Aku memilih tidak menghindar. Aku ingin menunjukkan bahwa aku sudah seutuhnya sembuh.
"Ainun?" suaranya serak, tidak ada lagi nada tegas dan percaya diri seperti tiga tahun lalu.
"Halo, Mas Baskara. Apa kabar?" tanyaku dengan nada selembut dan senetral mungkin.
Baskara tersenyum pahit, senyuman yang penuh dengan beban hidup. "Kabarku... seperti yang kamu lihat, Nun. Hancur."
Kami akhirnya duduk di bangku taman luar gedung yang agak sepi. Di sinilah, seolah tak lagi mampu membendung beban yang dipikulnya sendirian, Baskara menceritakan apa yang terjadi pada hidupnya setelah aku menghilang. Dan demi mendengar ceritanya, aku menyadari bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Karma datang menjemputnya justru dari jalan yang paling tidak ia duga.
Setelah aku memutus semua akses secara tiba-tiba tiga tahun lalu, Baskara sempat kelimpangan. Dia merasa dongkol dan penasaran mengapa mainan yang sedang ia susun rapi tiba-tiba pergi. Alih-alih bertobat dan fokus pada anak istrinya, ego Baskara sebagai lelaki yang merasa "berkuasa" justru semakin merajalela. Dia merasa bisa menaklukkan wanita mana saja dengan seragam dan bualannya.
Satu tahun setelah kepergianku, Baskara kembali bermain api. Kali ini dia mendekati seorang wanita berinisial Tari. Watak Tari berbeda total denganku. Jika aku cenderung mengalah dan memilih pergi demi kedamaian, Tari adalah wanita yang ambisius, dominan, dan penuh tipu daya.
Baskara menggunakan trik yang sama: mengaku kesepian di asrama luar batalion dan mengaku sedang proses cerai dengan istrinya. Tari menyambutnya dengan tangan terbuka. Namun, Tari bukan sekadar mencari cinta; dia melihat Baskara sebagai sumber finansial dan tiket untuk status sosial.
Hubungan terlarang itu berjalan beberapa bulan hingga akhirnya rahasia Baskara terbongkar oleh istrinya sendiri melalui pesan singkat yang lupa dihapus. Di sinilah awal mula kehancuran Baskara.
Istri Baskara, yang selama ini diam dan sabar di kampung halaman, tidak bertindak gegabah denganku karena memang aku tidak meninggalkan jejak. Namun dengan Tari, buktinya begitu gamblang. Marah dan merasa dikhianati setelah bertahun-tahun menjalani *long distance marriage*, istri Baskara langsung mendatangi markas batalion tempat Baskara bernaung.
Kasus perselingkuhan di dunia militer adalah pelanggaran berat. Istri Baskara melaporkan perbuatan suaminya secara resmi ke komando atas dengan membawa seluruh bukti digital yang valid. Baskara langsung disidang etik dan dijatuhi sanksi disiplin yang sangat keras. Kariernya yang sedang menanjak seketika mandek, dia dicopot dari jabatannya, ditahan sebulan di sel tahanan militer, dan seluruh tunjangannya dipotong.
"Saat aku di dalam sel, Nun, rasanya duniaku gelap," cerita Baskara dengan mata berkaca-kaca. "Tapi itu belum seberapa."
Kehancuran finansial dan nama baik membuat Tari, sang selingkuhan, langsung memalingkan muka. Begitu tahu Baskara tidak lagi memiliki uang dan jabatannya terancam hancur, Tari meninggalkannya begitu saja setelah sebelumnya menguras tabungan Baskara dengan berbagai alasan. Baskara dimanfaatkan, diperas, lalu dibuang saat sudah tidak berguna.
Hukum tabur tuai tidak berhenti di situ. Istri Baskara, yang sudah terlanjur mati rasa, mengajukan gugatan cerai ke pengadilan militer setelah sanksi disiplin Baskara selesai. Prosesnya berjalan panjang dan menyakitkan. Baskara kehilangan hak asuh atas anak laki-lakinya. Sebagian besar gajinya yang sudah dipotong kini harus ditransfer langsung untuk nafkah anaknya setiap bulan, menyisakan uang yang hanya cukup untuk makan mi instan di dalam asrama yang kini terasa seperti penjara baginya.
"Anakku... dia bahkan tidak mau mendengar suaraku di telepon," ucap Baskara, air matanya kini benar-benar luruh. "Istriku mendidiknya dengan baik, tapi dia tahu ayahnya sudah berbuat jahat pada ibunya. Setiap kali aku mencoba menghubungi, anakku selalu menolak. Aku kehilangan keluarga yang tulus mengurusku dari nol, Nun."
Kini, Baskara hidup dalam kesendirian yang sejati. Di asrama luar batalion yang dulu sempat ingin ia jadikan tempat berbuat maksiat denganku, kini ia tinggal merenungi nasibnya yang sebatang kara. Teman-teman sejawatnya menjauh karena menganggapnya pembawa masalah, kariernya mati, keluarganya hancur, dan batinnya tersiksa oleh rasa bersalah setiap malam.
"Waktu kamu pergi dulu tanpa sepatah kata pun, aku sempat marah," kata Baskara sambil menatap lurus ke depan. "Tapi sekarang aku sadar, kamu adalah peringatan pertama dari Tuhan yang aku abaikan. Kamu pergi demi menjaga kedamaian rumah tanggaku yang sebenarnya sudah kurusak sendiri. Dan karena aku tidak tahu diri, Tuhan mengirimkan cara lain untuk menghancurkanku lewat kesombonganku sendiri."
Aku mendengarkan seluruh ceritanya dengan perasaan campur aduk. Tidak ada rasa puas atau dendam yang terbalaskan di dalam hatiku. Melihat pria yang dulu begitu gagah dan angkuh kini terduduk lesu menahan beban dosa, hanya memicu rasa iba yang mendalam di hatiku.
Dendam yang dulu sempat membakar dadaku telah padam sepenuhnya, digantikan oleh pemahaman yang utuh bahwa hidup ini memang seadil itu. Kita tidak perlu kotor dengan membalas kejahatan orang lain; alam dan takdir memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan setiap ketidakadilan kepada pemiliknya.
"Mas," ucapku pelan setelah dia menyeka air matanya. "Semua sudah terjadi. Jadikan ini titik balik untuk memperbaiki diri dengan Tuhan. Masih ada waktu untuk memohon maaf pada anak dan mantan istrimu, walau mungkin butuh waktu lama bagi mereka untuk menerima kembali."
Baskara mengangguk lemah. "Terima kasih, Nun. Dan maaf... maafkan aku yang dulu pernah berniat menjerumuskanmu ke dalam lingkaran dosa ini."
"Sudah kumaafkan sejak tiga tahun lalu," jawabku mantap.
Aku pamit meninggalkan Baskara yang masih terduduk di sana. Langkah kakiku terasa sangat ringan saat keluar dari area gedung pernikahan. Sore itu, langit barat berwarna jingga keemasan, begitu indah dan menenangkan.
Aku bersyukur pada diriku di masa lalu yang memilih untuk pergi dalam sunyi, yang memilih untuk tidak merusak kebahagiaan sesama wanita, dan yang mempercayakan rasa sakitnya pada pengadilan langit. Keputusanku untuk menjaga kedamaian rumah tangga orang lain saat itu ternyata berbuah kedamaian yang abadi untuk hatiku hari ini.
Orang yang menanam angin akan menuai badai, dan orang yang memilih berjalan di jalan yang lurus—meski penuh air mata—akan selalu menemukan ujung yang bahagia. Aku menarik napas dalam-dalam, tersenyum pada dunia, dan terus melangkah maju tanpa sekali pun menoleh ke belakang lagi.
Kisah ini menjadi pengingat yang berharga bahwa di tengah pusaran kebohongan, kejujuran dan keteguhan iman adalah perisai terkuat. Jangan pernah mudah terbuai oleh kata-kata manis tanpa landasan kebenaran. Dan bagi siapa pun yang sedang terluka karena dikhianati, percayalah: melepaskan dengan ikhlas bukanlah tanda kekalahan, melainkan langkah terbaik untuk menyerahkan keadilan kepada Sang Pencipta.