Bagi Reno, pesona wanita yang lebih tua selalu memiliki daya pikat tersendiri. Entah itu selisih dua, tiga, atau lima tahun, wanita dewasa selalu tahu cara memperlakukan pria dengan kelembutan yang matang. Dan semua standar itu bermuara pada satu nama: Denia.
Denia adalah definisi kecantikan yang sempurna di mata Reno. Gadis itu berusia dua tahun lebih tua darinya. Meski tumbuh di desa, Denia berasal dari keluarga berada. Tak heran jika ia memiliki kulit yang begitu bersih, putih menawan, dan terawat—sangat kontras jika dibandingkan dengan gadis-gadis desa kebanyakan.
Namun, bukan hanya fisik yang membuat Reno bertekuk lutut. Sifat Denia yang penyabar dan penuh kasih sayang selalu berhasil menjadi tempat teduh bagi Reno. Hingga pada suatu hari, Reno memberanikan diri untuk melompati batas tak kasat mata di antara mereka.
"Denia, seandainya aku melamarmu, apa kamu mau menerima lamaranku?" tanya Reno, menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu dengan seluruh kesungguhan yang ia punya.
Denia tersenyum tipis, sebuah senyuman sarat rasa bersalah yang langsung membuat firasat Reno memburuk.
"Bukannya aku tidak mau, Ren," jawab Denia lembut, berusaha menjaga hati pria di depannya. "Tapi kita bertetangga, kita juga berteman dekat. Aku sayang sama kamu, Ren. Tapi rasa sayangku tidak lebih dari perasaan seorang kakak kepada adiknya. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri. Lagipula, ibu kita punya hubungan yang sangat dekat, kan? Kamu tahu persis hal itu."
Reno seketika terbungkam. Kata-kata Denia seperti dinding tebal yang meruntuhkan seluruh harapannya. Dia hanya bisa terdiam, mengunci rapat-rapat isi pikirannya yang mendadak kalut. Yang Reno tahu pasti saat itu, wanita penyabar yang teramat disayanginya baru saja menolaknya dengan cara yang paling halus, meninggalkan lubang besar di hatinya.
"Sudahlah, Reno. Kamu juga masih lima belas tahun, aku baru tujuh belas," potong Denia lembut, mencoba mencairkan ketegangan. "Masih terlalu jauh untuk kita bicara tentang lamaran atau pernikahan. Kita sekolah dulu yang tinggi, supaya punya masa depan yang baik untuk membahagiakan orang tua kita."
"Iya, Den. Tapi aku benar-benar suka sama kamu," balas Reno, suaranya mencicit namun penuh kejujuran khas remaja laki-laki yang sedang dimabuk cinta.
Denia tidak marah. Ia justru tersenyum begitu lembut, lalu mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Reno. Kehangatan tangan Denia terasa menenangkan, sebuah sentuhan murni seorang kakak perempuan yang sedang menasihati adik laki-lakinya.
"Reno, kalau kamu memang suka dan sayang sama aku, kamu harus janji untuk sekolah yang benar. Lulus dengan nilai yang bagus, lalu banggakan kedua orang tua kita," kata Denia, menatap Reno lekat-lekat. "Soal kita nanti berjodoh atau tidak, itu urusan belakangan. Yang paling penting sekarang, kita nikmati masa remaja kita dengan hal-hal positif."
Reno tertegun sejenak mendengar untaian kalimat bijak dari gadis di depannya. Rasa kecewanya perlahan terkikis oleh kekaguman yang makin membumbung. Ia terdiam, lalu sebuah senyuman tipis terbit di wajahnya. Rasa sayangnya kini bercampur dengan rasa hormat yang besar.
"Siap, Tuan Putri," jawab Reno pasrah, diiringi senyum simpul yang membuat Denia ikut tertawa kecil.
Waktu terus bergulir, namun kenangan sore itu bersama Denia tidak pernah benar-benar lekang dari ingatan Reno. Janji masa remaja itu membentuk sudut pandang baru dalam hidupnya. Bagi Reno, kedewasaan, ketenangan, dan cara berpikir wanita yang lebih tua adalah sebuah standar tertinggi dalam sebuah hubungan.
Seiring berjalannya waktu, pengalaman cinta pertama itu bertransformasi menjadi sebuah pola. Setiap kali Reno merasa tertarik pada seorang wanita, mereka selalu memiliki satu kesamaan: usia yang lebih tua di atas dirinya. Entah berbeda dua, tiga, atau empat tahun, Reno selalu mencari sosok yang memiliki kematangan berpikir seperti Denia.
Prinsip itu begitu kuat mencengkeram hatinya. Tak jarang, teman-teman Reno mencoba memperkenalkannya dengan gadis-gadis muda yang cantik rupawan, modis, dan digilai banyak pria. Namun, setiap kali berhadapan dengan wanita yang usianya berada di bawah dirinya, Reno sama sekali tidak merasakan getaran apa pun. Di matanya, gadis-gadis yang lebih muda terasa kekanak-kanakan dan melelahkan. Seleranya sudah terkunci rapat pada pesona wanita matang.
Sampai akhirnya, takdir membawanya bertemu dengan Gina.
Siang itu, sebuah rumah makan yang cukup ramai menjadi saksi runtuhnya prinsip yang bertahun-tahun Reno jaga dengan kokoh.
Di antara denting sendok dan hiruk-pikuk pengunjung, pandangan Reno mendadak terkunci pada seorang gadis yang baru saja melangkah masuk. Jantungnya berdesir hebat. Untuk beberapa detik, Reno mengira matanya sedang memainkan trik, atau rasa rindunya pada masa lalu sedang mewujud jadi ilusi.
Gadis itu tersenyum saat berbicara dengan pramusaji. Senyum itu... Reno mengenalnya dengan sangat baik. Bentuk bibirnya, binar matanya, bahkan warna kulitnya yang bersih menawan, semuanya sama persis dengan Denia. Rambutnya pun memiliki tekstur yang serupa, hanya saja dipotong lebih pendek, membingkai wajahnya dengan kesan yang lebih segar dan dinamis.
Namun, ada satu hal yang membedakannya dari Denia. Gadis ini tidak tinggi langsing. Postur tubuhnya cenderung lebih pendek, dengan siluet yang sintal dan padat berisi. Bentuk tubuhnya yang curvy memancarkan kehangatan alami yang justru membuatnya terlihat begitu matang dan memikat dengan caranya sendiri.
Reno terpaku di kursinya, mengabaikan makanan yang mulai mendingin di hadapannya. Seluruh alarm di kepalanya berbunyi. Logikanya menolak, namun matanya tidak bisa berbohong. Gadis asing bertubuh berisi itu telah berhasil mencuri perhatiannya hanya dalam satu kedipan mata.
"Reno, dari tadi aku perhatikan kamu selalu memandangi Gina?"
Suara Ardo tiba-kira memecah lamunan Reno. Reno tersentak, buru-buru mengalihkan pandangannya dari gadis itu dan menatap temannya dengan agak salah tingkah.
"Gimana, Do?" tanya Reno, mencoba berlagak meninggalkan fokus, padahal detak jantungnya masih belum stabil.
Ardo terkekeh melihat reaksi Reno yang kikuk. Ia menunjuk sekilas dengan dagunya ke arah meja dekat pintu masuk. "Iya, itu cewek yang baru masuk. Kamu suka sama Gina? Dia itu teman istriku. Tapi, sori-sori nih, usianya baru dua puluh empat tahun, Ren. Kamu kan biasanya cuma suka sama cewek yang lebih tua," goda Ardo sambil tertawa kecil, sengaja menyenggol lengan Reno.
Mendengar angka dua puluh empat, Reno tertegun. Dua puluh empat tahun? Berarti gadis itu lima tahun lebih muda darinya. Otak Reno mendadak mogok berpikir. Bagaimana mungkin seorang gadis yang usianya jauh di bawahnya bisa memancarkan aura sedewasa dan semenarik itu? Bentuk tubuhnya yang padat berisi benar-benar memberikan kesan matang yang menipu logikanya.
Reno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menyembunyikan rasa syoknya di balik senyum tipis. "Iya, memang... Lagipula buatku, cewek yang lebih tua itu punya pesona tersendiri yang susah dijelaskan, hehehe," jawab Reno membela diri, berusaha mengembalikan citra dirinya di depan Ardo.
Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Reno tahu pertahanannya sudah runtuh. Untuk pertama kalinya dalam hidup, angka usia tidak lagi menjadi penghalang bagi matanya untuk terus mengagumi seorang wanita.
Malam harinya, suasana kamar yang sunyi membawa Reno kembali terlempar ke masa lalu. Bayangan Denia lagi-lagi hadir memenuhi benaknya. Reno memang sudah lama berdamai dengan kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah bersama. Namun baginya, Denia akan selalu memiliki tempat khusus sebagai cinta pertama yang membentuk cara pandangnya tentang ketulusan.
Di tengah keheningan malam, untaian kalimat Denia belasan tahun lalu kembali bergema di sudut ingatannya dengan begitu jernih:
"Reno, kamu harus janji. Setelah aku dan kamu dewasa nanti, entah dengan siapa kita berpasangan, jangan ada di antara kita yang saling kecewa atau patah hati. Aku yakin suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan wanita yang jauh lebih baik dari aku. Dan saat hari itu tiba, jadilah laki-laki yang bisa menjaga dan menyayangi wanitamu, seperti yang kamu lakukan terhadapku saat ini."
Reno mengembuskan napas panjang, menatap langit-langit kamarnya. Bertahun-tahun ia mengunci hatinya, selalu mencari sosok wanita yang mirip dengan Denia demi menepati rasa kagum itu.
Namun malam ini, ada yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ingatan tentang Denia tidak lagi terasa menyesakkan. Entah mengapa, bayangan wajah Gina—gadis yang siang tadi ia lihat di rumah makan—terus-menerus hadir mengusik relung hatinya. Senyumnya, mata indahnya, hingga siluet tubuhnya yang padat berisi dan memikat, pelahan tapi pasti mulai menggeser posisi yang selama ini kokoh dihuni oleh bayang-bayang Denia.
Reno menyadarinya dengan penuh keterkejutan: Gina, gadis yang lima tahun lebih muda darinya, telah berhasil meruntuhkan prinsip masa lalunya hanya dalam waktu satu hari.
Hari berganti hari, namun rasa penasaran Reno terhadap Gina justru semakin menjadi-jadi. Keinginan untuk mengenal gadis itu lebih dekat sudah tidak bisa lagi ia bendung sendiri. Gengsi dan prinsip lamanya perlahan luntur, terkalahkan oleh rasa penasaran yang terus mengusik pikirannya.
Akhirnya, Reno memutuskan untuk membuang urat malunya. Ia langsung menghubungi Ardo melalui telepon genggamnya.
"Do, nanti malam ajak istri kamu, Mutia. Kalau bisa, ajak juga Gina," todong Reno langsung tanpa basa-basi begitu telepon tersambung. "Aku ingin mengenal lebih dekat dengan Gina. Pokoknya aku yang traktir. Terserah mau di restoran, kafe, atau warteg juga enggak masalah, yang penting kamu harus bisa bujuk Gina supaya mau ikut. Oke?!"
Di seberang telepon, Ardo sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa renyah. Ia geli melihat sahabatnya yang biasanya kaku itu mendadak jadi sepsifik dan agresif seperti ini.
"Siap, Bos!" sahut Ardo diselingi kekehan jahil. "Tapi masa warteg sih, Ren? Bagaimana kalau di Sama Dengan Cafe di Kemang? Hehehe, biar rada gimana gitu loh, Ren."
Reno mengembuskan napas panjang, merasa sedikit lega sekaligus pasrah karena misinya mendapat lampu hijau. "Kamu atur saja bagaimana baiknya, Do," jawab Reno pendek.
"Ren, jam 20.30 di Cafe Sama Dengan. Aku sudah booking tempat atas nama kamu. Kalau bisa kamu datang duluan ya, meja nomor 16."
Sebuah pesan singkat dari Ardo berdenting di layar ponsel Reno.
"Oke," balas Reno pendek.
Reno melirik jam digital di sudut atas layar ponselnya. Masih menunjukkan pukul 17.30. Berarti ada waktu tiga jam sebelum pertemuan dimulai. Reno menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju lemari pakaian. Ia mulai memilah-milah kemeja, mencari potongan baju yang paling rapi dan terbaik yang ia punya. Malam nanti harus menjadi malam yang spesial. Ia bertekad untuk bisa mengenal dan menarik perhatian Gina, wanita yang secara tak terduga mampu menawan hatinya kembali.
Sambil merapikan kerah kemejanya di depan cermin, pandangan Reno mendadak melembut. Bayangan masa lalu melintas untuk terakhir kalinya, namun kali ini tanpa rasa sesak.
"Denia, malam ini aku melepaskanmu dari ingatan dan hatiku. Aku pun ingin bahagia, sebagaimana yang kamu inginkan dulu," gumam Reno lirih.
Kalimat itu terucap entah untuk meyakinkan dirinya sendiri, atau sebagai jawaban atas bisikan masa lalu dari Denia—gadis desa yang dulu dipujanya, yang kini sudah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Malam ini, Reno benar-benar siap membuka lembaran baru.
Jalanan menuju Kemang malam itu cukup padat, namun Reno berhasil tiba di Sama Dengan Cafe pukul 20.15—lima belas menit lebih awal dari jadwal. Ia langsung diarahkan menuju meja nomor 16. Sambil menunggu, Reno memesan kopi hitam dingin untuk meredakan debar di dadanya.
Tepat pukul 20.30, Ardo melangkah masuk bersama Mutia. Dan di belakang mereka, muncullah Gina. Malam ini Gina terlihat sangat segar dengan gaya kasual yang manis, membuat Reno sempat terpaku beberapa detik sebelum akhirnya buru-buru berdiri.
"Wah, sudah sampai duluan ternyata. Sori ya, Ren, agak macet di depan," sapa Ardo sambil menepuk bahu Reno.
"Enggak apa-apa, Do. Santai saja. Silakan duduk," jawab Reno, mencoba terdengar setenang mungkin.
Ardo kemudian menoleh ke arah gadis di sebelahnya lalu menatap Reno sambil tersenyum jahil. "Oh iya, Ren. Ini Gina, temanku yang waktu itu aku ceritakan. Gin, ini Reno."
Gina melempar senyum sopan yang langsung memicu debaran familier di dada Reno. Ia mengulurkan tangannya yang mungil. "Gina," ucapnya renyah.
"Reno," balas Reno, menyambut uluran tangan itu. Genggaman tangan Gina terasa hangat, perlahan mengikis ketegangan di kepala Reno.
Setelah sesi perkenalan itu, pesanan makanan dan minuman pun datang. Obrolan di meja nomor 16 mulai berjalan dengan sangat mencair berkat Ardo dan Mutia yang pandai menghidupkan suasana. Reno memanfaatkan momen itu untuk lebih banyak mendengarkan Gina berbicara. Setiap kali Gina menanggapi candaan Ardo atau menceritakan kesehariannya bersama Mutia, Reno merasa makin terkesima. Cara gadis itu tertawa dan pembawaannya saat mengobrol memperlihatkan sisi kepribadian yang tenang dan menyenangkan. Semua ketakutan Reno tentang menghadapi wanita yang lebih muda mendadak sirna malam itu.
Hingga di satu momen, setelah mereka selesai menghabiskan makanan, Ardo tiba-tiba menyenggol pelan lengan Mutia dan memberikan kode mata. Mereka berdua kompak berdiri dari kursi.
"Eh, kamu mau kemana, Do, Mutia?" tanya Gina heran, menatap kedua temannya bergantian.
"Mau keluar sebentar beli rokok, Gin. Kamu santai saja dulu di sini sama Reno," jawab Ardo santai sambil menggandeng tangan istrinya, Mutia.
Gina langsung cemberut menatap mereka berdua. "Ih, kok gitu sih?"
Melihat reaksi Gina, Ardo justru tertawa lepas. Ia melirik Reno dengan tatapan usil yang sengaja dibuat-buat. "Tenang, Reno enggak bakal gigit kamu kok, Gin. Dia sudah berhasil aku jinakkan, hehehe."
Wajah Reno langsung berubah masam mendengar ledekan sahabatnya itu. "Asem! Dikira macan kali aku, dijinakkan," gerutu Reno kesal.
Tanpa berbicara lagi, Ardo dan Mutia langsung melangkah cepat keluar dari kafe sambil menahan tawa, meninggalkan area meja nomor 16 yang mendadak diselimuti keheningan yang canggung. Kini, hanya ada Reno dan Gina yang duduk berhadapan.
Reno terdiam, melirik ke arah luar kafe tempat Ardo menghilang, lalu beralih menatap gadis di depannya. Ada rasa hangat yang aneh, sekaligus rasa gugup yang luar biasa menjalar di dada Reno. Sementara Gina hanya menunduk kecil, memainkan sedotan di gelasnya, mencoba menyembunyikan senyum tipis atau mungkin rasa canggung yang sama besarnya.
Suara riuh pengunjung kafe dan alunan musik di sekitar mereka mendadak terasa menjauh. Di bawah temaram lampu meja nomor 16, Reno tahu ini adalah momen pertamanya setelah bertahun-tahun untuk benar-benar memulai lembaran baru. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap membuka suara untuk memecah keheningan di antara mereka...
Bersambung ke Bab 2