Di bawah langit kamar ICU yang temaram, suara ritmis dari monitor jantung berbunyi datar namun tegas. Bip... bip... bip...
Setiap dentang digital itu seperti jarum kecil yang menusuk kesadaran Halimah. Di atas ranjang berlapis sprei putih kaku itu, Prasetya—pria yang sepuluh tahun lalu berjanji menyempurnakan separuh agamanya—terbaring lesu. Selang oksigen melingkar di bawah hidungnya, dan kabel-kabel elektroda menempel tajam di dada kirinya yang dicukur sebagian.
Ramadhan tahun ini baru berjalan dua belas hari. Di luar sana, orang-orang sedang bersiap menunggu azan magrib, membayangkan es buah manis, kolak pisang hangat, dan aroma gorengan renyah yang dijajakan di pinggir jalan. Namun bagi Halimah, dunia berhenti berputar sejak dua hari lalu, tepat saat Pras tiba-tiba memegangi dadanya sesaat sebelum mengimami salat Asar di rumah kontrakan mereka.
Wajah Pras saat itu mendadak pucat pasi, peluh sebesar bulir jagung menetes dari dahinya, dan napasnya memburu seperti orang yang tenggelam.
"Dua penyumbatan signifikan di pembuluh darah utama, Bu. Harus segera tindakan pemasangan ring," kata dokter spesialis jantung malam itu dengan nada datar, seolah kabar buruk adalah menu harian yang biasa ia sajikan.
Kota merantau ini terasa sepuluh kali lebih dingin dan asing dari biasanya. Tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa kerabat dekat yang bisa dimintai tolong untuk sekadar menjaga anak-anak atau bergantian jaga malam di lorong rumah sakit yang baunya selalu memicu mual. Hanya ada Halimah, Pras, dan dua buah hati mereka: Rayhan yang berusia tujuh tahun, serta Shafiya yang baru menginjak empat tahun.
Halimah menghela napas panjang. Dipandangnya pantulan dirinya di kaca pintu kamar ICU.
Rambutnya tertutup rapi oleh jilbab pasmina bahan ceruti warna krem yang terlipat presisi di dagu. Wajahnya tidak pucat. Ada polesan tipis tinted moisturizer, sedikit bedak tabur, pensil alis warna cokelat tua yang diarsir tipis mengikuti bingkai alami, serta lip cream warna nude-pink yang memberi kesan hangat dan segar. Baju gamis kasual berwarna sage green yang ia kenakan terbebas dari kusut.
Siapa pun yang melihat Halimah melangkah di koridor rumah sakit tak akan pernah mengira bahwa perempuan ini baru saja menangis sesenggukan di dalam bilik kamar mandi umum, menahan jeritan agar tidak terdengar oleh perawat yang lalu lalang.
Bagi sebagian orang—mungkin para kerabat jauh yang sempat disapa via video call, atau sesama penunggu pasien di ruang tunggu—penampilan Halimah tampak ganjil. Di tengah badai yang mampu meruntuhkan jiwa seorang istri, kenapa ia masih sempat mengarsir alis? Kenapa ia masih menyempatkan memilih warna jilbab yang senada dengan bajunya? Kenapa ia tidak tampil lelah, acak-acakan, dan berurai air mata layaknya visualisasi lazim seorang korban tragedi?
Mereka tidak paham.
Bagi Halimah, gincu dan pasmina yang rapi bukan bentuk kelalaian atau kepalsuan. Itu adalah benteng pertahanan terakhirnya. Ketika seluruh dunianya runtuh tak terkendali—ketika kesehatan suaminya berada di ujung tanduk dan masa depan keluarganya menggantung di udara—penampilan adalah satu-satunya hal kecil yang masih bisa ia kendalikan. Itu adalah rias zirah pertahanannya untuk menjaga marwah, memberi sinyal pada otaknya sendiri bahwa ia belum hancur, serta menyuntikkan kebohongan manis yang sangat dibutuhkan oleh suami dan anak-anaknya: Semua akan baik-baik saja.
---
Setiap hari di bulan Ramadhan itu berputar dalam siklus yang nyaris tak manusiawi.
Jam tiga pagi, Halimah sudah terbangun di kursi lipat ruang tunggu RS. Ia membasuh mukanya di toilet umum yang dingin, menatap cermin kusam dengan mata sembap akibat lelah. Ia tidak membiarkan rasa kasihan pada diri sendiri menguasai jiwanya. Dengan jemari yang gemetar halus, ia merapikan rambut, mengenakan jilbabnya, lalu memoleskan sedikit pelembap dan warna di bibirnya.
Setelah sahur seadanya dengan roti tawar dan air hangat dari dispenser rumah sakit, ia menumpang ojek daring menerobos angin malam menuju kontrakan.
Di rumah, dua anaknya masih tertidur pulas. Halimah menyapu rumah dengan cepat, menyiapkan pakaian anak-anak, memandikan Shafiya yang masih terkabut kantuk, dan memandikan Rayhan sebelum menyuapi mereka sarapan pagi.
"Bunda, Ayah kapan pulang?" tanya Rayhan pagi itu sambil mengunyah telurnya. Matanya yang polos menatap Halimah dalam-dalam. "Kata Mas di sekolah, kalau masuk ICU itu sakitnya parah banget ya?"
Halimah tersenyum. Senyum yang simetris, diperkuat oleh warna bibirnya yang segar. Ia berlutut di hadapan Rayhan, merapikan kerah seragam sekolah anak sulungnya itu.
"Ayah cuma lagi dipasang 'baut ajaib' di jantungnya sama Dokter, Mas Rayhan," jawab Halimah dengan suara lembut, tenang, tanpa nada kepanikan sedikit pun. "Biar jantung Ayah makin kuat buat ajak Mas Rayhan main bola lagi. Tuh, lihat Bunda.. Bunda senyum, 'kan? Kalau Bunda senyum dan rapi begini, artinya Ayah baik-baik saja. Mas Rayhan tenang ya, doakan Ayah."
Rayhan menatap wajah ibunya. Tidak ada jejak ketakutan di sana. Tatapan tenang dan riasan rapi sang ibu bertindak bagai jangkar yang mengikat gelisah di hati kecil bocah tujuh tahun itu. Rayhan mengangguk mantap. "Oke, Bunda. Mas Rayhan doain Ayah habis salat."
Setelah mengantar Rayhan ke sekolah dan menitipkan Shafiya sebentar di rumah tetangga sebelah yang berhati baik—satu-satunya tetangga yang bisa dimintai tolong untuk beberapa jam saja—Halimah kembali naik ojek menuju rumah sakit.
Di perjalanan, angin kencang menerpa wajahnya. Di balik helm, mata Halimah berkaca-kaca. Rasanya dadanya sesak luar biasa. Bayangan biaya perawatan yang menumpuk, prosedur pembedahan pasang ring yang membayangi, serta ketakutan kehilangan belahan jiwa berkecamuk menghantam pikirannya. Namun begitu motor berhenti di gerbang rumah sakit, Halimah menyapu sudut matanya dengan tisu, merapikan jilbabnya lewat pantulan layar ponsel, membusungkan dada, dan melangkah masuk dengan tegak.
---
Saat jam besuk ICU dibuka, Halimah masuk mendekati ranjang Pras.
Pras membuka matanya pelan. Wajah pria itu sangat pucat, matanya sayu dan dipenuhi rasa bersalah. Ia merasa gagal menjadi kepala keluarga karena tiba-tiba ambruk dan menyusahkan istrinya di tanah rantau ini.
Namun, begitu pandangan Pras jatuh pada Halimah, matanya sedikit berpendar.
Istrinya berdiri di sana. Bukan dengan wajah kusut, mata bengkak, atau pakaian lusuh yang menebarkan aura keputusasaan. Halimah berdiri anggun dengan gamis bersih, jilbab rapi, dan senyum manis berhias polesan bibir yang hangat. Ia membawa aroma wewangian lembut yang biasa ia pakai di rumah.
"Assalamualaikum, Sayang," bisik Halimah lembut sambil menggenggam jemari Pras yang dingin dan tertancap jarum infus. Ia mengecup punggung tangan suaminya lama.
"Waalaikumsalam..." suara Pras serak dan parau. Tangannya yang lemah mencoba membalas genggaman Halimah. "Kamu... kok cantik banget hari ini? Nggak capek, Dek? Anak-anak gimana?"
"Capek kenapa? Kan cuma bolak-balik naik ojek," puji Halimah ringan sambil tertawa kecil—sebuah tawa renyah yang sengaja ia latih di depan cermin. "Anak-anak aman. Rayhan pinter di sekolah, Shafiya nggak rewel. Mas Pras fokus sembuh aja ya. Lihat nih, Bunda udah siap menyambut Ayah sembuh. Masa Ayah kalah seger sama Bunda?"
Pras tersenyum tipis di balik selang oksigennya. Ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya. Melihat istrinya yang tetap tenang, berwibawa, dan terawat membuat prasangka buruk di kepalanya menguap. Pras merasa rumah tangganya masih berdiri kokoh. Ia merasa istrinya tidak hancur, dan itu memberinya alasan serta energi besar untuk bertahan hidup.
Ia tidak tahu, bahwa dua jam sebelum jam besuk, Halimah duduk di lorong tangga darurat, meremas jemarinya sendiri hingga memutih, berdoa pada Tuhan dalam bisikan yang hancur menahan tangis agar suaminya diberi umur panjang.
Suatu sore di ruang tunggu, seorang wanita paruh baya yang menjaga suaminya di ICU melirik Halimah dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita itu berbisik pada kerabat di sebelahnya, cukup keras untuk terdengar oleh Halimah.
"Masih sempat-sempatnya ya berdandan menor begitu... Suaminya kritis di dalam, kok ya kepikir macak (berhias). Kalau saya sih udah gak doyan pegang bedak..."
Jantung Halimah berdenyut nyeri mendengar cibiran itu. Ada dorongan dalam dirinya untuk berbalik dan berteriak bahwa ia tidak menor, ia hanya memakai pelembap dan lipstik tipis agar tidak terlihat seperti mayat bernapas. Ia ingin berteriak betapa hancurnya mental yang ia sangga sendirian di kota orang.
Namun Halimah memilih diam. Ia hanya membetulkan posisi duduknya, merapikan lipatan jilbabnya, dan menatap lurus ke depan.
Dunia mungkin mengukur kesedihan dari seberapa berantakannya penampilan seseorang. Namun bagi generasi Halimah—perempuan mandiri yang harus berdiri tegak di tengah gempuran badai—ketahanan diri tidak diukur dari ketenggelaman dalam ratapan. Menjaga kerapian adalah bentuk kompromi paling bermakna antara keputusasaan dan ketegaran. Itu adalah cara Halimah menghormati dirinya sendiri, menghormati suaminya, dan menyerahkan ikhtiar terbaiknya pada Ilahi.
---
Hari yang ditunggu pun tiba. Prosedur intervensi koroner perkutan—pemasangan ring jantung—berjalan lancar. Dokter keluar dari ruang tindakan dengan wajah tersenyum ringan.
"Tindakannya berhasil, Bu Halimah. Penyumbatannya sudah diatasi dengan ring. Kondisi Pak Pras stabil dan sudah bisa dipindah ke ruang rawat inap biasa," ujar Dokter.
Dinding pertahanan Halimah runtuh detik itu juga. Air matanya menetes, mengalir melewati pipinya yang berbedak tipis. Namun kali ini, itu adalah air mata rasa syukur yang membuncah.
Beberapa hari kemudian, di ruang rawat inap yang lebih hangat, Pras sudah bisa duduk di tepi ranjang. Sinar matahari sore bulan Ramadhan menerobos masuk lewat jendela, menerangi ruangan itu. Rayhan dan Shafiya duduk di sofa kecil sambil menggambar, sementara Halimah sedang merapikan baju-baju di lemari pasien.
Pras menatap istrinya dari belakang. Dilihatnya bahu tegap itu, jilbab yang selalu tertata rapi, dan keanggunan yang tidak pernah luntur bahkan di titik terendah hidup mereka.
"Dek," panggil Pras pelan.
Halimah menoleh, mengoleskan senyum terbaiknya. "Ya, Mas? Mau minum?"
Pras menggeleng. Ia mengulurkan tangannya, meminta istrinya mendekat. Halimah menghampiri dan duduk di kursi samping ranjang, membiarkan suaminya menggenggam jemarinya.
"Terima kasih ya," bisik Pras dengan mata berkaca-kaca. "Makasih sudah jadi benteng buat Mas dan anak-anak. Mas tahu... Mas tahu kamu pasti capek banget. Mas tahu kamu dandani perasaan kamu rapi-rapi supaya Mas nggak jatuh..."
Halimah terpaku. Ia menatap mata suaminya yang hangat.
"Mas ingatan waktu pertama kali sadar di ICU," lanjut Pras lembut. "Mas takut banget, Dek. Mas mikir apa Mas bakal mati dan nggal bisa ketemu kalian lagi. Tapi pas Mas lihat kamu masuk... kamu kelihatan begitu tenang, rapi, dan cantik. Mas langsung mikir: 'Istriku masih berdiri tegak. Semuanya akan baik-baik saja. Aku harus berjuang buat dia.' Penampilan kamu hari itu menyelamatkan mental Mas, Dek."
Air mata Halimah menetes lagi, kali ini tanpa rasa menahan. Ia menyandarkan dahinya di genggaman tangan Pras.
Semua cibiran orang, semua rasa lelah bolak-balik kontrakan-rumah sakit, semua beban berat mengurus anak sendirian di tanah rantau, menguap begitu saja. Usahanya mengendalikan diri, kehebatannya menyembunyikan retak di jiwanya lewat kerapian fisik, telah membuahkan hasil paling manis: memberi kekuatan bagi suaminya untuk bertahan hidup.
Sore itu, menjelang azan magrib berkumandang menandakan waktu berbuka puasa, keluarga kecil itu duduk melingkar di ruang rawat inap. Hanya ada kurma, air putih, dan nasi kotak sederhana. Namun di mata Halimah, itu adalah hidangan berbuka paling indah dalam hidupnya.
Di bawah pendar lampu kamar rumah sakit, Halimah mengusap wajahnya, merapikan kembali pasminanya, dan tersenyum. Badai belum sepenuhnya berlalu, tetapi ia tahu, selama ia mampu menjaga kedamaian di dalam dirinya—bahkan lewat hal sesederhana gincu dan jilbab yang rapi—mereka akan selalu menemukan jalan untuk pulang dan bertahan bersama.