Lampu bohlam lima watt di langit-langit kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu berkedip dua kali, seolah-olah ikut lelah menatap angka di sudut kanan bawah layar laptop yang menunjukkan pukul 03.14 dini hari. Di luar, suara jangkrik bersahut-sahutan dengan rintik gerimis yang enggan reda sejak petang. Di dalam kamar, yang terdengar hanyalah ketukan jemari yang ritmis pada papan ketik, berselingan dengan helaan napas yang berat.
Satria, lelaki berusia dua puluh empat tahun dengan lingkaran hitam yang menebal di bawah matanya, kembali meraih cangkir keramik di sebelah kanan laptop. Kosong. Hanya menyisakan ampas kopi hitam yang sudah mengering di dinding gelas. Ia mendesah, menyandarkan punggungnya pada dinding semen yang dingin dan mulai terasa lembap.
Tiga bulan. Tepatnya, tiga purnama telah berlalu sejak Satria memutuskan untuk mempertaruhkan seluruh sisa energinya di atas lembar-lembar digital. Tiga bulan penuh malam-malam yang hilang, digantikan oleh pergadangan tanpa akhir demi merajut ide cerita pendek, menyusun bab demi bab novel romansa-fantasi, hingga memeras otak menyusun draf buku ilmiah populer tentang metodologi sosial yang ia kuasai semasa kuliah dulu.
Namun, layar ponselnya yang tergeletak di samping laptop tetap bergeming. Tidak ada notifikasi dari aplikasi dompet digital. Tidak ada email pemberitahuan bahwa kontrak eksklusifnya disetujui. Bahkan, angka pendapatan di dasbor penulis pada platform tempatnya bernaung masih kokoh menunjukkan angka nol besar.
Dua ratus ribu rupiah. Sambil menatap langit-langit, Satria membatin. Baginya saat ini, angka itu bukan sekadar nominal. Dua ratus ribu rupiah adalah napas. Itu adalah tiga puluh bungkus mi instan, dua galon air isi ulang, dan beberapa papan telur yang bisa menyambung nyawanya untuk satu bulan ke depan. Dua ratus ribu rupiah adalah batas antara perut yang terisi dan lambung yang menjerit perih di tengah malam.
"Mengapa sesulit ini?" bisik Satria pada keheningan malam.
Ia menatap draf novelnya yang sudah mencapai bab keempat puluh. Otaknya yang lelah dipaksa untuk terus bekerja, membedah karyanya sendiri dengan pisau analisis yang kejam. Satria bukanlah penulis amatir yang sombong dengan idealismenya. Ia sadar betul, di dunia industri digital, karya bukan sekadar seni, melainkan komoditas.
Apakah tulisanku punya nilai jual? Pertanyaan itu menghantam kepalanya bertubi-tubi. Menarik minat pembaca atau tidak? Apakah pembaca betah berlama-lama di bab pertama, atau mereka langsung menekan tombol kembali setelah membaca tiga paragraf? Apakah akhiran bab yang kubuat sudah cukup meninggalkan rasa penasaran yang menyiksa, atau justru membuat mereka jemu?
Banyak faktor. Terlalu banyak variabel yang harus dipikirkan oleh seorang pemula yang merangkak dari nol tanpa nama besar, tanpa relasi, dan yang paling krusial: tanpa dana cadangan. Dunia platform menulis digital tidak seindah promosi para pembuat konten di media sosial. Di balik satu penulis yang meraup puluhan juta, ada ribuan penulis seperti Satria yang jemarinya kapalan, matanya rabun, dan dompetnya kosong melompong.
Pikiran untuk berhenti, melipat laptop, lalu membakarnya di tempat sampah belakang kosan sering kali melintas. Terutama di jam-jam rawan seperti ini, saat akal sehat mulai digerogoti oleh rasa lapar dan lelah. Namun, setiap kali jemarinya hendak menekan tombol delete pada folder naskah, hatinya menolak.
"Aku sudah melangkah lebih dari tiga bulan," gumamnya, menegakkan kembali posisi duduknya. "Ini masih terlalu awal untuk berkata 'Aku menyerah'. Menyerah sekarang berarti membunuh semua malam yang telah kukorbankan."
Keesokan paginya, matahari terbit tanpa memedulikan apakah Satria tidur atau tidak. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah tuntutan biologis yang tidak bisa ditunda dengan untaian kalimat puitis. Satria tahu, agar ia tetap bisa menulis malam nanti, ia harus memastikan tubuhnya tetap tegak siang ini. Menjaga nyawa adalah prioritas pertamanya.
Ia melangkah keluar kos dengan jaket jins beludru yang warnanya sudah memudar. Hari itu, misinya adalah bertahan hidup.
Pekerjaan pertama datang dari warung makan Padang di ujung jalan. Pemiliknya, Uni Uda, menggeleng-geleng melihat tumpukan piring kotor di bak cuci piring belakang akibat lonjakan pengunjung jam makan siang. Satria mendekat tanpa ragu.
"Uni, butuh bantuan cuci piring? Bayar pakai makan siang saja tidak apa-apa," ujar Satria, memasang senyum terbaiknya meski lututnya sedikit gemetar karena belum sarapan.
Uni Uda menatap pemuda kurus itu dengan iba, lalu mengangguk. "Ya sudah, cepat pakai celemek itu. Nanti Uni bungkuskan nasi pakai rendang yang paling besar."
Selama dua jam berikutnya, tangan Satria yang biasa memegang pena dan mengetik kibor kini tenggelam di dalam air sabun yang pekat. Kulit jarinya mengerut, aroma amis sisa makanan menyengat hidungnya. Namun, tidak ada rasa gengsi di dalam dadanya. Setiap kali ia membilas piring, ia membayangkan bahwa setiap piring yang bersih adalah satu langkah lebih dekat menuju makan siangnya, menuju energinya untuk menulis nanti malam.
Selesai dari warung Padang, dengan sebungkus nasi di tangan, Satria tidak langsung pulang. Ia berjalan ke arah kompleks perumahan kelas menengah di dekat sana. Di sana, Pak Joko, seorang pria paruh baya, sedang berdiri di halaman rumahnya menatap pohon mangga yang dahan-dahannya sudah terlalu rimbun hingga menyentuh kabel listrik.
"Permisi, Pak Joko. Mau dibantu tebang dahan pohonnya? Kebetulan saya bawa parang di tas kerja," tawarkan Satria. Parang kecil itu memang selalu ia bawa jika sedang berburu kerja serabutan.
"Wah, pas sekali, Sat. Saya mau sewa tukang kebun tapi mahal. Kamu bisa rapikan sampai ujung sana? Saya kasih lima puluh ribu dan es teh manis," jawab Pak Joko.
"Siap, Pak."
Satria memanjat pagar beton, meraih dahan pohon mangga, dan mulai mengayunkan parangnya. Keringat bercucuran membasahi kaos oblongnya yang tipis. Otot-otot lengannya yang jarang dilatih fisik mendadak menegang dan protes. Satu dahan tumbang, dua dahan tumbang. Di sela-sela deru napasnya yang memburu, otak Satria justru tidak berhenti bekerja. Saat menebang pohon, ia tiba-kira menemukan ide metafora yang bagus untuk bab tiga puluh novelnya: tentang bagaimana harapan harus dipangkas agar batang utamanya bisa tumbuh lebih kuat. Bahkan di tengah kerja kasar, ia tetaplah seorang penulis.
Sore harinya, pekerjaan terakhirnya adalah menjemput pangeran kecil tetangga kosnya, seorang anak SD bernama kiki, karena ibunya sedang terjebak lembur di kantor konfeksi. Satria mengayuh sepeda tua milik bapak kos, membonceng Kiki yang cerewet menceritakan nilai ujian matematika-nya sepanjang jalan. Dari pekerjaan mengantar anak orang sekolah dan menjemputnya ini, Satria mendapat upah dua puluh ribu rupiah.
Malam kembali menjemput kota. Satria pulang ke kamarnya dengan tubuh yang remuk redam. Bahunya pegal akibat menebang pohon, telapak tangannya perih karena goresan dahan, dan kakinya lemas setelah mengayuh sepeda. Namun, di atas mejanya kini ada uang tunai tujuh puluh ribu rupiah dan sebungkus nasi rendang dingin. Nyawanya aman untuk dua hari ke depan. Dapur kecilnya masih bisa mengepul.
Setelah membersihkan diri dan menyantap habis nasi bungkusnya, Satria kembali duduk di depan laptop. Tubuhnya berteriak meminta kasur, tetapi jiwanya menolak. Jiwanya lapar akan sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak bisa dikenyangkan oleh nasi rendang Uni Uda.
Ia membuka folder khusus berisi karya ilmiah nonfiksi yang sempat ia susun minggu lalu. Sebuah tulisan mendalam tentang struktur sosial masyarakat urban kelas bawah di pinggiran kota, yang ia lengkapi dengan analisis psikologis sederhana mengapa mereka tetap bertahan di tengah impitan ekonomi. Di dunia nyata, beberapa mantan dosennya dan teman-teman aktivis kampus yang membaca draf kasar tulisan itu sangat menyukainya. Mereka memujinya setinggi langit, menyebut analisis Satria sangat tajam dan manusiawi.
Namun, pujian tidak bisa ditukar dengan beras. Di dunia nyata, mereka menyukainya, tetapi belum ada satu pun dari mereka yang memiliki inisiatif atau kemampuan untuk memberikan sedikit reward finansial. Mereka menganggap karya ilmiah adalah dedikasi, seolah-olah perut penulisnya terbuat dari batu yang tidak butuh asupan karbohidrat.
Satria menatap layar naskah nonfiksinya itu. "Kalian suka di dunia nyata, tapi sistem di dunia digital belum membaca keberadaanmu," gumamnya pelan.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menutup folder tersebut tanpa rasa benci atau kecewa yang berlebihan. Baginya, itu bukan masalah besar. Selama ia masih bisa makan meskipun harus menawarkan jasa lain—mencuci piring, menebang pohon, atau mengantar anak orang sekolah—ia tidak akan mengemis belas kasihan pada karyanya. Karya ilmiah itu akan tetap ada di sana, disimpan dengan rapi, menunggu waktunya sendiri.
Satu hal yang tidak akan pernah ia lakukan: berhenti menulis.
Bagi Satria, berhenti menulis adalah bentuk bunuh diri spiritual. Menulis bukan lagi sekadar hobi atau ambisi buta untuk menjadi kaya raya seketika. Menulis telah bertransformasi menjadi caranya bernapas, caranya mengolah kewarasan di tengah dunia yang makin gila dan menuntut materi. Jika ia berhenti menulis, maka ia hanyalah seonggok daging yang berjalan dari satu piring kotor ke piring kotor lainnya, dari satu dahan pohon ke dahan pohon lainnya, tanpa memiliki jiwa.
Ia harus melihat karyanya menghasilkan. Entah kapan. Kata "kapan" itu mungkin berjarak satu bulan lagi, satu tahun lagi, atau bahkan satu dekade lagi. Satria tidak peduli pada kalender. Yang ia pedulikan adalah proses mematangkan jemarinya di atas kibor setiap malam.
Ia memejamkan mata sejenak, meresapi rasa sakit di telapak tangannya yang kapalan karena kerja kasar siang tadi. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, keyakinan itu muncul kembali—sebuah keyakinan yang mengakar kuat di dasar jiwanya, tidak tergoyahkan oleh saldo rekening yang sekarat atau algoritma platform yang kejam.
Satria sangat yakin, meskipun tidak semua karya yang ia lahirkan dari darah dan air mata ini bisa menghasilkan uang, pasti ada satu. Ya, pasti ada satu karya emas yang kelak akan lahir dari rahim pemikirannya. Satu karya yang tidak hanya akan membuktikan kepada dunia bahwa tulisannya memiliki nilai jual yang tinggi, tetapi juga sebuah karya yang mampu memberikan manfaat luar biasa bagi dirinya sendiri untuk menyambung hidup terhormat, serta memberikan dampak mendalam bagi siapa saja yang membacanya.
Ia membuka matanya. Sorot matanya kini tajam, tidak lagi sekadar menatap kosong. Rasa lelahnya mendadak menguap, digantikan oleh gelombang energi kreatif yang membakar dadanya.
Satria mengarahkan kursornya kembali ke draf novel fiksi yang sempat tertunda. Ia mulai mengetik. Kali ini, ketukannya lebih bertenaga. Setiap huruf yang muncul di layar adalah representasi dari setiap keringat yang jatuh di warung Padang, setiap ayunan parang di dahan pohon mangga, dan setiap putaran pedal sepeda di sore hari.
Lampu bohlam di kamar kosnya kembali berkedip, seolah-olah memberikan hormat pada seorang manusia yang menolak untuk ditundukkan oleh keadaan. Jam dinding terus berputar menuju pagi, dan di sudut kota yang sepi itu, seorang penulis terus merajut takdirnya sendiri, satu kata demi satu kata, menembus pekatnya malam menuju purnama berikutnya.