Suara hujan yang menimpa atap seng teras rumah menyisakan irama yang tenang. Di dalam kamar, suara napas halus dari dua pangeran kecilku yang tertidur pulas menjadi musik paling indah yang pernah kudengar. Aku menyelimuti mereka rapat-rapat, lalu melangkah menuju meja belajar. Di sana, di antara tumpukan buku-buku dan catatan perkuliahanku dulu, sebuah buku album kenangan bersampul pastel tergeletak pasrah.
Setiap kali aku menatap cermin, aku tidak lagi melihat perempuan ringkih yang dulu tergeletak di bangsal rumah sakit dengan selang infus dan cairan vitamin tambahan di tangannya. Namun, perjalanan menuju cermin yang utuh ini harus melewati retakan yang sengaja diciptakan oleh seseorang yang dulu kusebut sahabat.
Sebut saja dia B. Kami kenal sejak duduk di bangku SMK. B adalah tipe orang yang pandai memikat lewat kerapuhan dirinya. Ketika dia bercerita tentang nasibnya sebagai anak yatim piatu yang berjuang sendirian, hatiku yang polos langsung luluh. Aku merangkulnya tanpa ragu. Apa pun yang dia butuhkan, selama aku mampu, pasti kubantu. Aku menganggapnya lebih dari sekadar teman, dia sudah ku anggap seperti saudara sendiri.
Namun, cinta yang tulus sering kali membutakan mata dari duri yang sembunyi di balik kelopak mawar.
Kejahatannya yang paling membekas terjadi saat kami kelas dua. Saat itu hadir seorang laki-laki, sebut saja R. R mengejar-ngejar B, tetapi B memilih berakting mahal, meski di balik layar dia seolah menikmati perhatian itu. Tiba-tiba, R beralih menaruh perhatian padaku dan mengajakku berpacaran. Polos dan ragu, aku mendatangi B untuk meminta pertimbangannya.
"Terima aja, Nurul. Gak apa-apa, kita kan gak pernah pacaran sebelumnya," ucap B saat itu, lengkap dengan senyum manis yang terekam jelas di ingatanku.
Kata-kata itu menjadi jebakan paling mematikan. Begitu aku menerima R dan membiarkan kepolosanku dimanfaatkan serta dirampas oleh ketidakberdayaan masa muda—sebuah badai meletus. Dalam sekejap, namaku hancur. Di koridor sekolah, di dalam kelas, hingga di dalam bis saat study tour, B memutar balikkan cerita. Dia memasang wajah korban, menyebarkan gosip bahwa aku telah merebut R darinya, dan dengan sengaja memamerkan momen-momen percakapannya dengan R di depan teman-teman sekelas.
Tatapan dari satu angkatan berubah menjadi belati. Tatapan jijik, bisik-bisik beracun, dan pengucilan meremukkan mentalku. Puncaknya, ketika aku memberanikan diri menanyakan kejelasan pada R dan B, aku justru dihujani makian. R terbukti bajingan yang lepas tangan, sementara B meluapkan kemarahan seolah aku adalah musuh terbesarnya.
Malam itu, dadaku sesak luar biasa. Demam tinggi membakar tubuhku, trombositku anjlok, dan aku harus dilarikan ke rumah sakit karena dokter mendiagnosa DBD (Demam Berdarah Dengue). Di atas ranjang rumah sakit, dengan kepala yang rasanya ingin pecah hingga harus dijadwalkan CT scan, aku menangis dalam diam. Saat teman-teman sekelas datang menjenguk, ibu berbisik pelan bahwa B sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya. Di titik itulah aku merasa menjadi perempuan paling kotor dan tidak berharga di dunia. Rasanya aku ingin menyerah pada hidup.
Bertahun-tahun berlalu, anehnya rasa iba membuatku tetap membukakan pintu maaf yang tidak pernah dia minta. Bahkan ketika B terancam terjebak dalam perantauan di luar kota dan hampir melangkah ke pernikahan siri yang merugikan dirinya, akulah orang yang paling keras melarangnya. "Kamu tidak dihargai sebagai wanita kalau begitu, pulanglah," kataku waktu itu. Ketika dia pulang, aku pula yang membelanya, menemaninya kesana-kemari mencari lowongan pekerjaan.
Tapi ular akan tetap menjadi ular.
Karakter aslinya kembali terpancar jelas setelah kami bertemu dan menikah dengan pasangan masing-masing. Setiap kali ada kesempatan untuk berkumpul bertiga dengan teman kami yang lain, si C, B selalu membuat aturan main yang menepi dan meminggirkanku. Dan puncaknya adalah beberapa waktu lalu, ketika aku mengandung anak keduaku.
Bukan ucapan selamat atau doa tulus yang dikirimkannya. Lewat pesan beruntun di media sosial hingga rentetan spam pertanyaan di chat pribadi yang begitu mendesak, dia melemparkan kalimat yang meremukkan sisa-sisa rasa toleransiku:
"Kamu hamil lagi ya? Udah direncanain apa emang kebobolan? Kasihan banget anak pertamamu masih kecil banget."
Kalimat itu menjadi dentum terakhir dari cermin retak yang kupaksakan untuk tetap berdiri. Di depan ponsel yang menayangkan pesan tersebut, aku tidak lagi menangis. Rasa sakit itu berganti menjadi kedamaian yang mendadak runtuh pada tempatnya. Aku akhirnya sadar, dia tidak pernah menganggapku sahabat. Dia hanya menyukai posisiku saat berada di bawahnya, dan terancam setiap kali aku menemukan kebahagiaan.
Hari itu juga, aku mengambil tindakan tegas. Semua akses komunikasi aku cut off. Nomor teleponnya kublokir, akun media sosialnya kututup rapat dari pandanganku.
"Mas," panggilku malam itu pada suamiku, pria luar biasa yang telah menerimaku dengan segala luka dan rahasia kelam masa lalu tanpa pernah menghakimiku sedikit pun. "Aku sudah memutus hubungan dengan B."
Suamiku tersenyum tipis, merengkuh bahuku hangat. "Alhamdulillah. Akhirnya kamu paham apa yang selama ini Mas coba lindungi dari kamu."
Kini, dikelilingi orang-orang baik dan menjalani hidup yang menenangkan jiwa, aku tahu aku telah berada di jalan yang benar. B dan R adalah bab masa lalu yang pahit, namun mereka adalah alasan aku bisa menghargai ketulusan suamiku dan manisnya kehadiran dua pangeran kecil di hidupku. Aku tidak lagi mengutuk mereka, kubiarkan takdir dan waktu yang menyelesaikan bagiannya. Sebab bagiku, kebahagiaan dan kedamaian hidup yang kukecap hari ini adalah jawaban terbaik atas semua air mata di masa lalu.
~ TAMAT ~