Bubu dan Para Dewi Cantik
Pagi itu, Istana Almareon sedang sangat tenang.
Terlalu tenang.
Para pelayan berjalan tanpa suara. Para penjaga berdiri tegak di depan aula. Angin pagi berembus pelan melewati taman suci.
Sampai terdengar suara kecil dari lorong.
«“Bu... bu... bu...”»
Seorang pelayan menoleh.
Bubu sedang merangkak pelan.
Tubuh mungilnya bergerak maju sedikit demi sedikit sambil kedua tangannya menopang lantai.
«“Bu... bu...”»
Pelayan itu langsung panik.
«“Bubu kabur!”»
Beberapa pelayan datang.
Bubu berhenti.
Menatap mereka dengan wajah polos.
«“Bu?”»
Tidak ada yang tahu maksudnya.
Bubu kembali merangkak.
Salah satu pelayan akhirnya menyadari bahwa bayi itu sebenarnya sedang mencari ibunya.
«“Bubu mencari Liana?”»
Bubu diam.
Lalu melanjutkan merangkak.
Seolah jawaban tadi tidak penting.
Beberapa menit kemudian, Bubu menemukan botol susunya.
Sayangnya kosong.
Bubu mengangkat botol itu dengan kedua tangan.
Menggoyangkannya.
«“Bu... bu... bu...”»
Pelayan langsung paham.
«“Susunya habis!”»
Bubu tersenyum.
Masalah selesai.
Namun ketenangan istana tidak berlangsung lama.
Karena beberapa saat kemudian Bubu menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik.
Sebuah ponsel.
Ponsel milik Almareon.
Benda itu tergeletak di meja setelah Almareon selesai melakukan video call.
Bubu merangkak mendekat.
Tangannya naik.
Jarinya menyentuh layar.
Klik.
Layar menyala.
Bubu memiringkan kepala.
Klik.
Sebuah panggilan video tersambung.
Wajah seorang dewi cantik muncul di layar.
Bubu membeku.
Mata bulatnya membesar.
👁️👁️
Bibir kecilnya maju.
Kemudian tubuh mungilnya mulai bergoyang-goyang.
«“Bu...”»
Dewi di layar tampak bingung.
«“Bubu?”»
Mata Bubu semakin berbinar.
«“BU! BU! BU!”»
Kedua tangan kecilnya bertepuk.
👏🏻👏🏻👏🏻
Bubu tidak tahu siapa perempuan di layar.
Dia tidak tahu hubungan perempuan itu dengan Almareon.
Dia tidak tahu apa arti video call.
Dia hanya tahu satu hal.
Perempuan itu cantik.
Dan bagi Bubu, itu sudah cukup.
Tepat saat itu Adonis datang.
Dia melihat Bubu.
Melihat layar.
Kemudian melihat Almareon yang baru masuk.
Adonis langsung tersenyum lebar.
«“Maarrrr...”»
Almareon menatapnya.
«“Apa?”»
Adonis menunjuk Bubu.
«“Anak bontotmu kenapa begini?”»
Almareon mengerutkan kening.
«“Begini bagaimana?”»
Adonis menatap Bubu yang masih tepuk tangan.
«“Apa dulu kau buat pas lagi mabuk?”»
Almareon menjawab datar.
«“Aku tidak pernah mabuk.”»
Bubu menunjuk wajah ayahnya.
«“BU! BU! BU!”»
Adonis langsung mengangguk serius.
«“Nah. Dia sendiri yang bilang kau bohong.”»
Almareon terdiam.
Bubu kembali menatap layar.
👏🏻👏🏻👏🏻
Adonis mulai tertawa.
«“Ternyata anakmu punya selera.”»
«“Dia masih bayi.”»
«“Bayi juga punya mata.”»
Almareon mengambil ponselnya.
«“Sudah.”»
Bubu langsung menatap ayahnya.
«“Bu?”»
«“Tidak boleh main HP.”»
Bubu diam.
Matanya mengikuti ponsel yang menjauh.
Bibirnya perlahan maju.
Wajah melas muncul.
🥺
Adonis sudah tahu.
«“Maar...”»
«“Jangan.”»
Bubu menarik napas.
«“HUUUUUAAAAAAA!”»
Tangisnya pecah.
Seluruh istana bergetar.
Lampu kristal bergoyang.
Tirai berkibar.
Para penjaga langsung panik.
«“Serangan musuh?!”»
«“Bukan!”»
«“Gempa?!”»
«“Bukan juga!”»
Tangisan terdengar lagi.
«“HUUUUUAAAAAAA!”»
Semua langsung diam.
«“Bubu.”»
Di kamar, Almareon menggendongnya.
«“Sudah... Ayah di sini.”»
Bubu tetap menangis.
«“BUUUU!”»
Adonis menutup mulut menahan tawa.
«“Maar, kau kalah.”»
«“Diam.”»
Akhirnya Almareon menyerah sedikit.
«“Lima menit.”»
Tangisan berhenti.
Bubu langsung tersenyum.
👏🏻👏🏻
Adonis melongo.
«“Dia menang.”»
Almareon menatap Bubu.
«“Lima menit. Setelah itu tidur.”»
Bubu menyandarkan kepala ke dada ayahnya.
Namun lima menit ternyata cukup untuk membuatnya semakin penasaran.
Sejak hari itu, Almareon memutuskan untuk tidak menggunakan HP selama seminggu.
Hari pertama Bubu mencari HP.
Hari kedua masih mencari.
Hari ketiga mulai lupa.
Hari keempat sudah sibuk bermain.
Hari kelima bahkan tidak peduli ketika Adonis membawa HP.
Hari keenam Bubu tertidur tanpa mencari apa pun.
Hari ketujuh Almareon merasa aman.
Dia mengambil kembali ponselnya.
Liana yang melihat hanya tersenyum.
«“Sudah aman?”»
«“Sudah.”»
Bubu yang sedang duduk di lantai tiba-tiba menoleh.
Mata bulat.
Melihat HP.
Diam.
Lalu—
«“Bu?”»
Almareon membeku.
Adonis yang baru datang langsung tertawa.
«“Dia tidak lupa.”»
Bubu merangkak cepat.
SRUT SRUT SRUT!
Almareon langsung mengangkat HP tinggi-tinggi.
«“Tidak.”»
Bubu menatapnya.
Wajah melas muncul.
«“Bu...”»
Almareon:
«“Tidak.”»
Tangisan hampir pecah.
Adonis buru-buru mengambil HP miliknya sendiri.
«“Tunggu!”»
Bubu menoleh.
Adonis membuka video call.
Freya muncul di layar.
Bubu langsung diam.
Mata bulat.
Bibir monyong.
Tubuh bergoyang.
«“BUUU!”»
👏🏻👏🏻👏🏻
Freya tertawa.
«“Bubu?”»
Bubu mengangguk cepat.
👏🏻👏🏻
Adonis langsung tersenyum bangga.
«“Nah. Begini caranya.”»
Almareon menatapnya datar.
«“Kau justru membuatnya ketagihan.”»
«“Yang penting dia tidak menangis.”»
Dan ternyata Adonis benar.
Bubu tidak tantrum.
Istana aman.
Freya pun senang.
VC yang awalnya dijanjikan lima menit berlangsung hampir satu jam.
Bubu akhirnya tertidur di dada Almareon.
Tangannya masih terangkat ke arah layar.
«“...Bu...”»
Freya tersenyum.
«“Tidur saja, Bubu.”»
Adonis menatap istrinya dari layar.
Dalam hati dia puas.
Bubu bahagia.
Freya bahagia.
Istana tidak roboh.
Aku menyenangkan dua hati sekaligus.
Adonis tersenyum penuh percaya diri.
«“Aku memang hebat.”»
Almareon menatapnya.
«“Kau hanya meminjamkan HP.”»
«“Yang penting hasilnya.”»
Beberapa hari kemudian, masalah baru muncul.
Kali ini bukan HP Almareon.
Bukan pula HP Adonis.
Melainkan HP Arion.
HP itu jatuh di atas kursi.
Bubu melihatnya.
Merangkak.
Berpegangan pada kursi.
Berdiri.
Tangannya mengambil HP.
Arion sama sekali tidak sadar.
Bubu mulai menekan layar.
Klik.
Klik.
Klik.
Kemudian dia menemukan daftar kontak.
Jarinya menekan salah satu nama.
Video call tersambung.
Wajah seorang perempuan muda muncul.
Cantik.
Model baru.
Wajah yang bahkan Liana belum pernah lihat.
Bubu membeku.
👁️👁️
Bibirnya maju.
😗
Tubuhnya bergoyang-goyang.
«“BUUUUU!”»
Celia, Irish, dan Liana yang sedang duduk bersama langsung menoleh.
Arion juga menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
«“...”»
Liana melihat layar.
Kemudian melihat Arion.
«“Arion.”»
«“Ya?”»
«“Itu siapa?”»
Arion membuka mulut.
Tidak ada jawaban.
Adonis yang lewat langsung berhenti.
«“OH?”»
Bubu tepuk tangan.
👏🏻👏🏻👏🏻
«“BU! BU! BU!”»
Liana menyilangkan tangan.
«“Menarik.”»
Arion:
«“Liana, ini tidak seperti yang kau pikirkan.”»
Celia menahan tawa.
Irish menunduk agar tidak ketahuan tersenyum.
Adonis sudah hampir tertawa sampai menangis.
«“Bubu menemukan koleksi ayahnya!”»
Arion buru-buru mengambil HP.
Namun Bubu menarik tangannya.
«“BU!”»
Arion akhirnya mematikan layar.
Bubu menatap HP yang gelap.
Wajahnya melas.
«“...Bu?”»
«“Sudah.”»
Bubu merangkak mendekat.
Berdiri di kaki Arion.
Tangannya menarik-narik celana ayahnya.
«“Ah... ah... Bu...”»
Arion tetap tegas.
«“Tidak ada HP.”»
Bubu menatapnya.
Matanya berkaca-kaca.
Arion berjalan keluar.
Bubu mencoba mengejar.
Langkahnya terlalu pendek.
Arion sudah beberapa langkah di depan.
Bubu berhenti.
Duduk.
Menundukkan kepala.
«“Bubu...”»
Suaranya kecil.
«“Bubu...”»
Kemudian bibir mungil itu bergetar.
«“HUUUUUUUAAAAAAA!”»
Suara tangis mengguncang ruangan.
Lampu kristal bergetar.
KREK.
Satu retakan muncul.
Adonis langsung mundur.
«“Oh, tidak.”»
Bubu semakin keras menangis.
«“HUUUUUAAAAAAA!”»
KREKKK!
Lampu hampir jatuh.
Arion kembali.
«“Bubu!”»
Namun Almareon bergerak lebih cepat.
Dia mengangkat Bubu tepat saat lampu kristal jatuh.
PRANGGGGG!
Lampu pecah di lantai.
Bubu sudah aman dalam pelukan Almareon.
Tubuh kecilnya masih gemetar karena menangis.
«“...Bu...”»
Almareon mengusap punggungnya.
«“Ayah di sini.”»
Bubu menyembunyikan wajah di dada Almareon.
Liana menghela napas.
«“Anak ini benar-benar punya bakat menghancurkan suasana tenang.”»
Adonis melihat pecahan lampu.
Kemudian melihat Bubu.
«“Tapi sekarang aku tahu solusinya.”»
Almareon menatapnya.
«“Apa?”»
Adonis mengangkat HP.
«“Freya.”»
Bubu langsung mengangkat kepala.
Mata bulatnya kembali berbinar.
«“BU!”»
Adonis tersenyum.
«“Nah.”»
Arion menghela napas.
«“Kau akan membiarkannya lagi?”»
«“Kalau pilihannya Bubu VC atau lampu istana jatuh lagi...”»
Adonis mengangkat bahu.
«“Aku pilih VC.”»
Freya muncul di layar.
Bubu langsung tersenyum.
👏🏻👏🏻👏🏻
Freya ikut tersenyum.
«“Halo, Bubu.”»
«“Bu...”»
Bubu duduk tenang.
Tidak menangis.
Tidak menggulingkan badan.
Tidak mengguncang istana.
Hanya melihat layar dengan mata bahagia.
Adonis melihat Freya.
Melihat Bubu.
Kemudian melihat Almareon dan Arion.
Dengan penuh percaya diri dia berkata:
«“Nah. Begini caranya menyenangkan Bubu.”»
Almareon:
«“...”»
Arion:
«“...”»
Adonis menunjuk Bubu.
«“Bubu senang.”»
Menunjuk layar.
«“Freya senang.”»
Kemudian tersenyum bangga.
«“Aku sudah menyenangkan dua hati.”»
Freya tertawa dari layar.
Adonis makin percaya diri.
«“Aku memang hebat.”»
Liana hanya geleng-geleng kepala.
Bubu perlahan mulai mengantuk.
Kepalanya bersandar di dada Almareon.
Namun sebelum tidur, dia masih sempat membuka mata.
Melihat Freya.
«“...Bu.”»
Freya tersenyum.
«“Iya.”»
Bubu tersenyum kecil.
Lalu tidur.
Adonis menatap pemandangan itu dengan puas.
Bubu bahagia.
Freya bahagia.
Istana tidak roboh.
Hari ini sempurna.
Almareon menatap Adonis.
«“Kau sadar Bubu hanya suka karena Freya cantik?”»
Adonis tersenyum.
«“Aku tahu.”»
Arion ikut berkata:
«“Dia bahkan tidak tahu siapa yang dia lihat.”»
«“Memang.”»
Adonis tertawa kecil.
«“Bayi cuma tahu satu hal.”»
Dia melihat Bubu.
«“Cantik.”»
Bubu yang sudah hampir tertidur bergerak sedikit.
«“...Bu.”»
Adonis menunjuknya.
«“Tuh.”»
Liana tertawa kecil.
«“Dia setuju.”»
Adonis mendekati Almareon, lalu berbisik:
«“Jadi terima saja kalau dia memang mirip denganmu.”»
Almareon menoleh.
«“Apa?”»
Adonis tersenyum miring.
«“Sama-sama suka dewi cantik.”»
Kemudian dia melengos pergi.
Almareon hanya terdiam.
Liana menahan tawa.
Arion pura-pura tidak melihat.
Celia dan Irish sudah tersenyum.
Sementara Bubu tidur pulas dalam pelukan ayahnya.
Wajahnya damai.
Satu tangannya masih menggenggam jubah Almareon.
Dan dari bibir mungilnya terdengar suara paling familiar di seluruh istana.
«“...Bu...”»
Almareon akhirnya menghela napas.
«“Iya.”»
TAMAT. 🤣👶🏻❤️