BAB 4 — Suara dari Bawah Jembatan
Malam semakin larut ketika hujan mulai turun perlahan. Lampu-lampu kendaraan yang melintas di atas jembatan memantul di genangan air, membuat jalan terlihat seperti dipenuhi serpihan cahaya.
Di bawah jembatan, gerobak mi ayam milik Pak Jaya masih berdiri seperti biasa.
Pak Jaya menarik napas panjang sambil memandangi jalan yang mulai sepi. Sejak kejadian beberapa malam terakhir, suasana di tempat itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Kadang ia merasa seperti sedang diperhatikan, meskipun tidak ada seorang pun di sekitar gerobaknya.
"Kenapa akhir-akhir ini tempat ini terasa aneh?" gumamnya.
Ia kemudian menunduk dan melanjutkan pekerjaannya. Mangkuk-mangkuk yang sudah dicuci ditumpuk di samping gerobak. Panci kuah masih mengeluarkan uap tipis.
Tiba-tiba terdengar suara dari arah bawah jembatan.
"Kang..."
Pak Jaya langsung terdiam.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
"Kang..."
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih jelas.
Pak Jaya merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Siapa?" tanyanya dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara air hujan yang jatuh ke tanah.
Pak Jaya mengambil senter kecil dari bawah meja gerobak. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengarahkan cahaya ke bagian bawah jembatan.
Kosong.
Namun beberapa detik kemudian, cahaya senter itu menangkap sesuatu.
Sebuah mangkuk putih.
Mangkuk itu terletak di dekat tiang jembatan.
Pak Jaya mengerutkan kening.
Ia yakin mangkuk itu bukan miliknya.
Perlahan ia berjalan mendekatinya.
"Mangkuk siapa ini?"
Ketika jaraknya tinggal beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Pak Jaya membalikkan badan.
Seorang perempuan berdiri di samping gerobaknya.
Pak Jaya hampir berteriak.
"Bu Dila!"
Perempuan itu mengangguk.
"Iya, Pak. Saya."
Pak Jaya mengusap dadanya.
"Jangan muncul tiba-tiba begitu. Saya hampir copot jantung saya."
Bu Dila tertawa kecil.
"Maaf. Saya tadi dari warung sebelah."
Pak Jaya kemudian menunjuk ke arah mangkuk di bawah jembatan.
"Bu, lihat itu."
Bu Dila mendekat dan mengarahkan lampu ponselnya.
Wajahnya berubah serius.
"Mangkuk itu..."
"Kenapa?"
"Itu seperti mangkuk yang pernah saya lihat sebelumnya."
"Di mana?"
Bu Dila tidak langsung menjawab.
Ia memandang ke arah sungai kecil di bawah jembatan.
"Beberapa tahun lalu, ada seorang penjual mi ayam yang berjualan di tempat ini."
Pak Jaya terdiam.
"Penjual mi ayam?"
"Iya."
"Terus?"
Bu Dila menarik napas.
"Katanya suatu malam dia menghilang."
Pak Jaya menatap Bu Dila dengan wajah pucat.
"Menghilang bagaimana?"
"Gerobaknya ditemukan masih lengkap. Panci masih berisi kuah. Mangkuk-mangkuk masih ada. Tapi orangnya tidak pernah ditemukan."
Hujan semakin deras.
Pak Jaya menelan ludah.
"Jangan bercanda, Bu."
"Saya tidak bercanda."
Mereka kembali memandang mangkuk putih itu.
Tiba-tiba terdengar bunyi mangkuk beradu.
Ting!
Pak Jaya dan Bu Dila saling berpandangan.
Bunyi itu datang dari bawah jembatan.
Ting!
Kali ini lebih keras.
Bu Dila mengangkat senter.
"Ayo kita lihat."
Pak Jaya langsung menggeleng.
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Karena saya yakin apa pun yang ada di sana tidak ingin kita temui."
Bu Dila justru tersenyum tipis.
"Kalau begitu, kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Mereka akhirnya berjalan perlahan menuju bagian bawah jembatan.
Semakin dekat, semakin terdengar suara aneh.
Seperti seseorang sedang mengaduk sesuatu.
Krek... krek... krek...
Pak Jaya memegang erat senter.
"Bu..."
"Iya?"
"Kalau nanti ada apa-apa, lari dulu."
Bu Dila mengangguk.
Mereka sampai di dekat mangkuk putih tadi.
Namun kini mangkuk itu sudah tidak ada.
Pak Jaya membelalakkan mata.
"Mana mangkuknya?"
Bu Dila menyorotkan senter ke tanah.
Tidak ada apa-apa.
Tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara.
"Mi ayam satu..."
Pak Jaya membeku.
Suara itu sangat pelan.
Tetapi terdengar jelas.
"Mi ayam satu..."
Bu Dila perlahan berbalik.
Di kejauhan, di balik tiang jembatan, tampak seseorang berdiri.
Sosok itu mengenakan pakaian penjual makanan.
Kepalanya tertunduk.
Tangannya memegang sebuah mangkuk.
Pak Jaya berbisik,
"Siapa dia?"
Sosok itu perlahan mengangkat kepala.
Bu Dila menarik napas.
Wajah sosok itu tidak terlihat jelas karena tertutup bayangan.
Kemudian terdengar suara lagi.
"Pesanan... belum selesai..."
Lampu senter Pak Jaya tiba-tiba berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu mati.
"Bu!"
"Pak, jangan bergerak!"
Dalam kegelapan, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian suara itu berhenti tepat di depan mereka.
Pak Jaya menahan napas.
Beberapa detik kemudian, lampu senter kembali menyala.
Sosok itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya sebuah mangkuk putih di tanah.
Di dalamnya terdapat mi ayam yang masih mengepul.
Padahal tidak ada seorang pun yang memasaknya.
Pak Jaya mundur beberapa langkah.
"Bu Dila..."
"Iya?"
"Mulai malam ini, saya tidak mau berjualan di sini lagi."
Bu Dila menatap mangkuk tersebut.
Namun sebelum mereka pergi, ia melihat sesuatu di bagian bawah mangkuk.
Ada tulisan kecil yang hampir tidak terlihat.
"Jangan tinggalkan aku."
Bu Dila terdiam.
Pak Jaya membaca tulisan itu dan wajahnya semakin pucat.
Di saat yang sama, dari atas jembatan terdengar suara kendaraan melintas.
Suara itu membuat mereka tersadar.
Mereka segera kembali ke gerobak.
Tetapi ketika sampai di sana, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Di atas meja terdapat tiga mangkuk mi ayam.
Semuanya masih panas.
Dan di sampingnya ada secarik kertas.
Pak Jaya mengambil kertas itu.
Tangannya gemetar ketika membaca tulisan di sana.
"Besok malam, bawakan satu porsi untukku."
Pak Jaya menatap Bu Dila.
"Siapa yang menulis ini?"
Bu Dila tidak menjawab.
Sebab di belakang mereka, dari bawah jembatan, terdengar suara seseorang tertawa pelan.
"Hahaha..."
Malam itu mereka sadar bahwa misteri penjual mi ayam yang menghilang belum berakhir.
Justru baru saja dimulai.