Tidak pernah ada yang tahu kapan dan dimana bertemu dengan seorang yang katanya memiliki garis takdir dengan kita. Tidak pernah ada yang tahu apakah orang yang baru saja berpapasan adalah orang yang tehubung dengan kita di masa depan.
Setidaknya itulah yang dihadapi oleh Elena. Elena duduk termenung dipinggiran tempat duduk dekat kelas menunggu untuk gilirannya test ke sebuah Universitas yang sejak dulu ia inginkan.
Jaman itu apapun masih test tulis belum test melalui komputer apapun serba manual untuk kisaran tahun 2013. Elena duduk dibangku belakang menurut urutan nomer yang ia dapatkan dari panitia saat ia melakukan daftar di kampus tersebut.
Sebut saja Merliana dan Bunga adalah teman baru yang ia temui di kampus tersebut pada saat pendaftaran. Memang dasarnya Elena adalah seseorang yang gampang bergaul dan gampang berkenalan dengan orang-orang.
“Kamu dari mana?” tanya Elena
“Aku dari Banten,” jawab Bunga
“Kalau kamu?” Elena kembali bertanya pada Merliana.
“Aku dari Sukabumi”
Mereka saling berkenalan dan obrolan maju begitu saja. Sampai tiba-tiba saja ada seorang lelaki bertubuh cukup tinggi masuk ke dalam ruangan itu. Entah siapa namanya yang pasti diantara kami bertiga tidak ada yang mengethaui namanya.
Lelaki itu duduk didepanku. Ia duduk dengan tenang dengan memakai setelan baju yang rapi. Kalau dilihat dari perewakannya sepertinya umurnya diatas Elena, Merliana dan Bunga. Berpakaian sangat rapi dan kentara sekali dengan yang lain yang memakai seragam SMA.
Lelaki tersebut hanya memakai baju hitam putih dengan rambut yang di tata rapi. Wajahnya sedikit bulat dengan mata yang cukup tajam.
Test tulis tersebut berlangsung sembilan puluh menit tapi rasanya bagi Elena yang memiki kapasitas otak pas-pasan itu cukup lama sekali. Rasanya seperti sembilan jam lamanya.
Tetapi orang itu, si laki-laki yang tidak memakai seragam sekolah itu sudah selesai sepuluh menit lalu. Elena dan ketiga temannya ini tidak melihat jejak lelaki tanpa nama itu setelah keluar.
Selang waktu satu minggu pengumuman ternyata ketiganya diterima di Universitas tersebut. Elena senang bukan main karena pada akhirnya ia sudah resmi menjadi mahasiswa, unofficially.
Waktu terus berjalan hingga tiba saatnya sekarang Elena masuk masa orientasi kampus. Dengan memakai baju hitam putih dengan topi kerucut dan tas karung goni yang ditempelin foto masing-masing.
Semuanya berjalan dengan lancar sampai tiba di akhir ternyata lelaki yang pada waktu itu duduk di depannya ada diantara mahasiswa baru dan rupanya ia sekarang dipanggil ke depan.
Namanya Maher Ganendra. Usianya pada saat itu sudah dua puluh satu tahun diantara mahasiswa lain yang mendominasi usia sembilan belas tahun. Pas pekenalan itu ternyata Nendra sapaannya berkata jika dia sudah bekerjea di sebuah instansi pemerintahan. Katanya Nendra ingin naik keposisi tertentu dan harus ia dapatkan dibangku kuliah.
Karena Nendra memang berkeja di intansi pemerintah yang membawahi yayasan tempat kami kuliah makanya Nendra bisa berkuliah disana.*Kalian gak usah menebak-nebak karena ini karangan. Aslinya ada tapi gak akan pernah aku sebutkan jurusan kuliah ini. yang tau cukup skip biar kita aja yang tahu.
Nendra ini cukup aktif selama masa orientasi. Nendra juga cukup pintar menonjol dikalangan kami para mahasiswa baru makanya Nendra selalu menjadi contoh.
Singkatnya, Aku satu kelas sama Nendra. Namanya juga bangku kuliah kami bebas duduk dimanapun tiap hati kursinya tidak menetap.
Aku berteman dengan Faraditha dan Mauren. Kemana-mana kami selalu bertiga bahkan kami ngkost di tempat sama. Elena memang orang Bandung tapi jarak rumahnya dengan kampus yang sebenarnya masih sama-sama di Bandung cukup jauh.
Nendra meskipun usianya cukup jauh diantara kami tapi bisa bergaul dengan siapapun. Gampang sekali berbaur dengan siapapun, gampang berteman.
Pada saat itu, porsi kedekatan Elena dan Nendra bisa dikatakan cukup. Mereka sering bertemu di kantin untuk sarapan. Maklum sama-sama anak kost terlalu malas untuk memasak dipagi hari.
Tidak ada pembeda diantara keduanya. Mereka sarapan bersama sampai suatu pagi di jam pertama. Nendra memanggilku.
“Elena sini,” katanya memanggilku dan menepuk kursi disebelahnya.
“Apa?”
“Sini, duduk sini aja.”
“Loh aku duduk disana,” kata Elena menunjuk kearah kursi disebarang.
“Udah sini aja.”
Ditha dan Mauren seperti ngerti dengan kode dari Nendra jadinya nyuruh Elena untuk duduk di deket Nendra. Tidak ada perasaan apapun pada saat itu hanya sekedar duduk saja berdekatan.
“Len, pijitin dong ngantuk nih.”
“Yaelah sama kalo ngantuk mah.”
“Ya makanya pijitin sini.”
Nendra menarik tangan Elena menuntun kearah lengannya yang sedikit berotot karena Elena tahu Nendra suka olahraga. Fun fact love language Elena adalah physical touch. Dan entah mengapa pada saat itu Elena mau dan nyaman aja memijat tangan Nendra. Sesekali urat-urat di tangan Nendra ia mainkan.
Mereka tidak intens chat ataupun telepon semua berjalan seperti biasanya. Dan Elena hampir setiap hari setelah saat itu selalu duduk di sebelah Nendra, kadang Nendra yang balik pijat tangan Elena balik.
Semua berjalan sampai tiba-tiba saja Elena menyadari teman satu kelasnya menatap Elena begitu tajam namaya Hani. Entah ada apa yang salah dengan Hani tapi tatkala Elena duduk dengan Nendra dia selalu menatap Elena dengan tajam.
“Len, sini,” kata Nendra suatu pagi.
“Nggak sini aja,” tolak Elena secara halus.
“Eh napa sini aja kamu. Ntar gantian lagi deh dipijitin.”
“Nggak ah disini aja.”
Karena Elena tahu ada sepasang mata yang terlihat terus mengntainya. Elena kuliah tidak ingin membuat masalah atau malah nambah musuh. Tujuan Elena kuliah murni ingin sekolah.
“Yaudah saya pindah sana.”
Nendra yang pindah kedekat Elena. Dan alhasil Elena kembali duduk di dekat Nendra lagi.
“Kamu kenapa?” kata Nendra ketika tengah pelajaran berbisik di telinga Elena yang tidak memakai hijab itu.
“Nggak, aku nggak kenapa-kenapa.”
“Terus kalau nggak kenapa-kenapa, ngapain pindah. Kan biasanya juga deket jendela biar gak gerah.”
“Nggak ah disini aja kan tinggal nyalain Ac.”
Namun Nendra seperti tahu ada sesuatu dimata Elena. Ada sesuatu yang mengganjal.
“Kenapa?” katanya mendesak. Ketika jam istirahat Elena duduk dikelas hanya membeli minum saja.
Nendra duduk disana, bukan duduk tapi mencari keberadaan Elena. Nendra membawa roti dan air dalam kemasan botol berukuran kecil.
“Nggak, baik-baik aja kok.”
“Ya terus kenapa ngehindar?”
“Nggak kenapa-kenapa kok.”
“Bilang kenapa?”
Nendra terus mendesak Elena sampai akhirnya Elena mengatakan jika Hani mentapnya dengan tajam dan seolah cemburu dengan keberadaan Elena duduk dengan Nendra.
Nendra menghela nafas cukup panjang lalu menyandarkan punggungnya. “Karena itu?”
Elena Cuma menganggukan kepalanya saja. Lantas ia menundukan kepalanya.
“Aku sama Hani gak ada apa-apa. Cuma temen biasa aja satu kelas. Jadi ya sudah biarin aja dia mau apa-apa juga. Dia mungkin cemburu tapi yausdah biarin aja. Kamu duduknya tetep di samping aku. Aku gak punya hubungan apapun sama Hani, catet itu.”
Namun pada waktu itu Elena tetap menolak dan menjauh ia tidak ingin memiliki musuh apalagi satu kelas. Rasanya tidak akan nyaman. Dan setelah itu Nendra selalu datang chat pendek berbunyi : Yang
Pada saat itu Elena absen selama tiga hari lamanya dan ternyata Elena pejuang kanker kulit. Tapi Mauren dan Ditha sudah tahu masalah ini hanya saja Nendra tidak. Ketika Nendra chat kenapa gak masu kuliah.
Nendra nampaknya teguncang dengan kabar itu. Padahal, Elena sudah menjalani beberapa kali pengobatan dan sekarang Elena hanya sedang check up saja. Elena sudah dinyatakan bersih satu tahun sebelum ia masuk kuliah dan ini saatnya cek saja tahunan.
Namun setelah itu semuanya terasa berbeda. Satu minggu Elena tidak masuk kuliah karena setelah Elena izin ditambah ada libur nasional. Tau-tau ketika masuk kuliah lagi tiba-tiba saja Nendra sudah jadian aja sama Hani.
Yap, benar Hani yang padahal minggu lalu Nendra bilang gak ada apa-apa diantara mereka. Minggu lalu yang padahal Nendra maksa Elena duduk disebelahnya. Bahkan sampai nyari-nyari Elena bertanya mengapa tidak mau duduk sebelahnya lagi.
Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Elena. Pertanyaan sejak kapan mereka dekat yang sebenarnya muncul terasa berat dalam kepalanya. Namun, itu sudah bukan lagi urusan Elena. Ia biarkan saja mereka dengan dunianya.
Meskipun sudah ada perasaan yang muncul dalam hati Elena terhadap Nendra namuh itu hanya sebesar biji selasih. Untungnya belum sempar berkembang.
Hanya saja ada hal aneh yang mengganjal. Mengapa hingga kini Nendra selalu mengirimkan pesan : Yang atau El atau Elena kadang selamat tidur.
Entah itu pesan dari Hani atau bukan tapi selama empat tahun berkuliah pesan tersebut konsisten di kirimkan oleh Nendra. Tidak setiap hari tapi dalam satu minggu tetap ada. Entah pesan itu datang pagi, siang, ataupun malam.
Namun, pada suatu hari, Nendra mengirimkan pesan pada Elena.
Nendra: El aku mau ngomong sesuatu tapi jangan dibilang sama orang lain.
Elena: Ya, kenapa?
Nendra: Aku mau pinjem uang gak banyak sih 200 aja. Nanti pas aku gajian aku ganti.
Elena: Oh boleh tapi uangnya di ATM
Nendra: Kamu dimana sekarang?
Elena: Ini lagi jajan diluar.
Nendra: Yaudah kalo udah sampe kost kasih kabar
Elena waktu itu sedang nyari makan bareng temen-temannya. Dan Elena yaudah gak jadi pikiran. Ia pulang makan lalu chat Nendra lagi kalau ia udah di kost. Gak lama dari chat itu Nendra datang ke kost Elena.
“Yuk, yang tadi.”
“Oh oke bentar ambil kunci motor dulu.”
“Gak udah sini naik motor aku aja.”
“Serius?” Elena menikan alisnya. Masalahnya Elena tau nendra waktu itu pacaran sama Hani.
“Iya serius.”
Elena tanpa pikir panjang yasudah naik motornya. Lantas mereka pergi ke ATM terdekat. Namun, ada yang aneh karena Nendra memilih jalan yang sebenarnya jaraknya cukup jauh dibandingkan jalan biasa yang jaraknya lebih pendek.
“Makasih yah, nanti pas gajian aku ganti. Aku mau pulang ke kampung halaman aku.”
“Iya iiya. Bawa oleh-oleh yah.”
Selang satu minggu itu Nendra pulang ke kampung halamannya di Yogyakarta. Elena tidak tahu tepatnya ada dimana, diapun tidak ingin tahu sebenarnya. Namun suatu malam Nendra tiba-tiba chat Elena.
Nendra: El, Di kost apa di rumah?”
Elena: di kost
Gak ada jawaban lagi setelahnya, Elena ya santai saja di kost sambil ngobrol lagi ketawa-ketawa sama Mauren Ditha. Gak lama pesan masuk lagi ke ponselnya.
Nendra: Aku di depan, sini keluar dulu bentar.
Elena lantas keluar kostnya dan Nendra udah nunggu di motornya sambil bawa paperbag.
“Nih, ini oleh-olehnya,” Nendra menyerahkan paperbag itu. “Dan ini uangnya, makasih yah. kamu bantu aku banget.”
“Eh padahal aku bercanda loh masalah oleh-oleh tapi makasih.”
“Iya sama-sama. Sana masuk.”
Dan berkali-kali Sejak saat itu Nendra sering meminjam uang dengan pola sama ia pulang ke kampung halamannya. Dan selalu membawakan aku oleh-oleh. Kadang banyak kadang dikit.
Dan pesan-pesan itu selalu ia kirimkan hingga akhir kuliah selalu ia kirimkan. Kadang Elena tidak mengerti apa yang di inginkan oleh Nendra. Tidak mungkin ia tidak memiliki tabungan dan kalaupun pinjam uang tidak pernah benar-benar banyak, hanya dua ratus ribu paling banyak tiga ratus ribu saja.
Tidak mungkin dia sampai kehabisan uang. Entah ada maksud terselubung atau tidak. Tapi pada akhirnya Elena dan Maher Ganendra tidak pernah saling berkata jujur tentang isi hati mereka masing-masing.
Diakhir perjalanan, tatapan matanya tidak pernah berbohong. Tatapan matanya tidak pernah bisa bersembunyi. Matanya yang tajam tapi tersembunyi sesuatu kekecewaan.
Semua pertanyaan akhirnya terangkum apakah semua ini gara-gara Elena pernah kanker? Entahlah hanya dia yang tahu jawaban yang selama ini menjadi pertanyaan Elena.
Hanya selang satu minggu, ketika kabar Elena check up tahunan kanker kulitnya, tepat di hari Senin Nendra seperti memberikan kabar jika ia telah dengan Hani. Entah Elena yang memang bodoh atau Nendra yang memang sengaja menjauh setelah tau Elena kenapa.
Namun matanya tidak pernah berubah. Tatapan matanya terhadap Elena tidak pernah berubah semenjak dia mulai mengajak Elena duduk bersama.
Dihari wisuda, adalah terakhir kali Elena dan Nendra bertemu. Tatapan itu masih sama. Tatapannya tidak bisa berbohong. Bukan karena Elena yang terlalu percaya diri tapi tatapan itu berbeda dengan tatapan lelaki manapun yang pernah Elena lihat.
Mata yang diam itu, tidak pernah bisa berbohong. Matanya seolah bersuara lantas berkata, “Yang sebenarnya aku inginkan itu kamu”.
-Selesai-
Jadi menurut kalian Elena ini emang bodoh atau kepedean aja?
Terus Nendra ini apa dia udah deket sama Hani lebih dulu apa gimana yah? apa gara-gara Elena bilang Hani liatin terus makanya Nendra nembak Hani?
Tulis pendapat kalian yah.