APARTEMEN LEVEL 13
Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Malam itu, empat sahabat—Raka, Dimas, Naya, dan Sinta—berdiri di depan sebuah apartemen tua yang sudah bertahun-tahun tidak dihuni.
Bangunannya menjulang tinggi di tengah kawasan yang hampir kosong. Sebagian besar jendelanya gelap. Cat dindingnya mengelupas, sementara tanaman liar tumbuh di sekitar pagar.
Nama apartemen itu adalah Apartemen Arunika.
Namun, warga sekitar lebih sering menyebutnya dengan nama lain.
Apartemen Lantai Tiga Belas.
“Serius kita mau masuk?” Sinta menatap gedung itu dengan ragu.
Dimas mengangkat kamera kecil yang sejak tadi dibawanya.
“Justru karena tempat ini terkenal angker, kita bisa bikin konten bagus.”
“Kalau hantunya benar-benar muncul?” tanya Naya.
Dimas tertawa.
“Ya tinggal lari.”
Raka yang berdiri paling depan membuka pagar.
“Sudah jauh-jauh datang. Masuk saja.”
Mereka berempat melangkah ke halaman.
Begitu Raka mendorong pintu utama, terdengar suara panjang.
Kreeeek...
Pintu terbuka.
Di dalam sangat gelap.
Raka menyalakan senter ponselnya.
“Tidak ada apa-apa.”
Mereka masuk.
Pintu di belakang mereka tiba-tiba tertutup sendiri.
BRAK!
Sinta langsung berbalik.
“Raka...”
“Tenang. Mungkin karena angin.”
Dimas mencoba membuka pintu.
Tidak bergerak.
“Kayaknya macet.”
Mereka saling berpandangan.
Di depan mereka terdapat meja resepsionis tua. Di atasnya ada sebuah buku tamu yang sudah berdebu.
Naya mendekat.
“Lihat.”
Ia membuka halaman terakhir.
Nama-nama penghuni apartemen tertulis di sana.
Tetapi ada sesuatu yang aneh.
Semua nama dicoret dengan tinta hitam.
Hanya satu nama yang masih terlihat jelas.
MIRA ADISTYA — KAMAR 1307.
“Siapa Mira?” tanya Sinta.
Tidak ada yang tahu.
Tiba-tiba lampu di atas kepala mereka menyala.
Satu demi satu.
Klik.
Klik.
Klik.
Lampu koridor menyala sampai ke sebuah lift tua.
Pintu lift terbuka.
TING!
Mereka berempat terdiam.
Dimas menunjuk lift.
“Kayaknya itu jalan keluar.”
Mereka masuk.
Di dalam hanya ada beberapa tombol lantai.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Tidak ada tombol 13.
Raka menekan tombol 1.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia mencoba tombol 12.
Tetap tidak ada reaksi.
Kemudian layar kecil di atas pintu lift menyala.
SELAMAT DATANG, PEMAIN.
Mereka membeku.
Tulisan berikutnya muncul.
EMPAT PEMAIN TERDETEKSI.
Dimas tertawa gugup.
“Ini pasti bagian dari sistem gedung.”
Tiba-tiba semua tombol menghilang.
Hanya satu tombol yang tersisa.
13.
“Jangan tekan,” kata Naya.
Namun tombol itu menyala sendiri.
TING!
Lift bergerak.
Angka pada layar berubah.
1... 2... 3...
Semakin cepat.
8... 9... 10... 11... 12...
Kemudian layar menjadi hitam.
Lalu muncul angka:
13.
Pintu lift terbuka.
Di hadapan mereka terbentang lorong panjang yang sama sekali tidak mereka kenal.
Dindingnya dipenuhi pintu apartemen.
Namun semua nomor pintu dimulai dengan angka 13.
1301.
1302.
1303.
Sampai 1313.
Di dinding tepat di depan lift terdapat tulisan merah:
“SELAMAT DATANG DI PERMAINAN.”
Sinta mundur.
“Kita harus keluar.”
Mereka kembali ke lift.
Pintu lift sudah tertutup.
Tombolnya tidak berfungsi.
Kemudian televisi kecil di ujung lorong menyala.
Suara seorang perempuan terdengar.
“Selamat datang, empat pemain.”
Mereka menoleh.
Di layar muncul wajah seorang gadis muda.
Rambutnya panjang. Wajahnya pucat. Tatapannya kosong.
“Aku Mira.”
Naya menatap layar.
“Mira Adistya?”
Gadis itu tersenyum.
“Benar.”
Layar berubah menjadi tulisan.
ATURAN PERMAINAN:
PERTAMA, TEMUKAN ALASAN MIRA MENGHILANG.
KEDUA, TEMUKAN ORANG YANG MENJEBaknya.
KETIGA, BUKA PINTU KELUAR.
Kemudian muncul kalimat terakhir.
JANGAN PERCAYA PEMAIN LAIN.
Televisi mati.
Tidak ada suara.
Dimas menelan ludah.
“Ini sudah tidak lucu.”
Raka melihat sekeliling.
“Kita harus tetap bersama.”
Mereka berjalan menuju kamar 1307.
Pintunya terbuka sedikit.
Raka mendorongnya.
Di dalam terdapat kamar anak perempuan yang terlihat seperti tidak pernah disentuh selama bertahun-tahun.
Ada meja belajar.
Rak buku.
Boneka.
Dan sebuah foto keluarga.
Naya mengambil foto itu.
“Ini Mira.”
Di foto terlihat Mira bersama ayah, ibu, dan seorang laki-laki yang lebih tua.
Di belakang foto tertulis:
KELUARGA ADISTYA — 2014.
Dimas menemukan sebuah buku harian di meja.
Ia membukanya.
Halaman pertama berisi tulisan Mira.
«“Aku tahu seseorang menyembunyikan sesuatu di apartemen ini.”»
Halaman berikutnya:
«“Setiap malam aku mendengar suara dari lantai tiga belas.”»
Naya terus membaca.
Mira ternyata tinggal di apartemen itu bersama keluarganya. Namun suatu malam, orang tuanya menghilang.
Mira mencoba mencari mereka.
Ia menemukan bahwa lantai 13 sebenarnya tidak pernah tercatat dalam denah resmi gedung.
Tetapi seseorang menggunakan lantai itu untuk menyembunyikan sesuatu.
Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat:
“Aku tahu siapa orangnya.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan.
Tok... tok... tok...
Semua terdiam.
Ketukan berasal dari lemari.
Dimas membuka pintunya.
Kosong.
Tetapi ketika ia menutup pintu, suara ketukan terdengar lagi.
Kali ini dari belakang mereka.
Tok... tok... tok...
Sinta menoleh.
Boneka di atas tempat tidur sekarang menghadap ke arah mereka.
Padahal sebelumnya membelakangi mereka.
Sinta berteriak.
Mereka langsung keluar kamar.
Lorong berubah.
Pintu-pintu yang sebelumnya berjumlah banyak kini hanya tersisa tiga.
1307.
1313.
Dan satu pintu tanpa nomor.
Di atas pintu tanpa nomor terdapat tulisan:
“PEMAIN PERTAMA.”
Raka melihat mereka.
“Jangan berpencar.”
Mereka memilih pintu 1313.
Di dalam terdapat ruangan kosong dengan empat kursi.
Di atas masing-masing kursi tertulis nama mereka.
RAKA.
DIMAS.
NAYA.
SINTA.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja.
Di atasnya ada empat kartu.
Raka mengambil kartu pertama.
“SIAPA YANG MEMBUKA PINTU APARTEMEN?”
Jawabannya jelas.
“Gue,” kata Raka.
Kartu kedua berubah.
“SIAPA YANG MENEMUKAN GAME?”
Dimas terdiam.
“Gue.”
Kartu ketiga.
“SIAPA YANG TAHU TENTANG MIRA SEBELUM DATANG?”
Semua melihat Naya.
Naya menggeleng.
“Bukan aku.”
Kemudian kartu keempat muncul.
“SIAPA YANG BERBOHONG?”
Lampu padam.
Dalam kegelapan, terdengar suara langkah.
Tap...
Tap...
Tap...
Sinta menggenggam tangan Naya.
“Jangan bergerak.”
Suara Mira terdengar dari speaker.
“Jawabannya ada di antara kalian.”
Lampu menyala kembali.
Dimas tidak ada di kursinya.
“Dimas?”
Mereka panik.
Mencari ke seluruh ruangan.
Tidak ada.
Kemudian terdengar suara Dimas dari balik pintu.
“Raka! Tolong!”
Raka berlari membuka pintu.
Dimas berdiri di lorong.
Namun ia tampak berbeda.
Wajahnya pucat dan tatapannya kosong.
“Dimas?”
Dimas tersenyum.
“Aku menemukan jalan keluar.”
Ia menunjuk pintu tanpa nomor.
Raka mendekat.
Naya menarik lengannya.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Lihat bayangannya.”
Dimas berdiri di bawah lampu.
Namun...
tidak ada bayangan.
Sinta mundur.
“Itu bukan Dimas.”
Makhluk yang menyerupai Dimas menoleh.
Senyumnya semakin lebar.
Kemudian tubuhnya berubah menjadi kabut gelap dan menghilang.
Mereka berlari.
Pintu-pintu di sepanjang lorong terbuka satu per satu.
Dari dalam terdengar suara orang menangis.
Ada suara anak kecil.
Ada suara orang memanggil nama mereka.
Namun mereka terus berlari sampai menemukan tangga darurat.
Mereka turun.
Satu lantai.
Dua lantai.
Tiga lantai.
Tetapi angka di dinding tetap menunjukkan:
13.
“Kenapa kita tidak turun?” Sinta hampir menangis.
Raka melihat tangga di bawah mereka.
“Kita terus berjalan.”
Mereka berlari lebih jauh.
Kemudian Naya berhenti.
“Buku harian.”
Ia mengingat sesuatu.
“Mira bilang dia tahu siapa orangnya.”
Mereka kembali ke kamar 1307.
Buku harian itu masih ada.
Naya membalik halaman satu per satu.
Di antara dua halaman terdapat tulisan kecil yang sebelumnya tidak mereka lihat.
“Orang yang membangun permainan ini bukan manusia.”
Di bawahnya:
“Game membutuhkan empat pemain agar dapat mengulang kejadian malam itu.”
Raka mulai memahami semuanya.
“Mira bukan membuat game.”
“Lalu siapa?” tanya Sinta.
Naya menunjuk foto keluarga.
“Lihat laki-laki ini.”
Mereka memperhatikan foto.
Laki-laki itu adalah kakak Mira.
Namanya Rian.
Di buku harian tertulis bahwa Rian adalah orang terakhir yang bersama Mira sebelum ia menghilang.
Mereka mencari nama Rian di buku tamu.
Ada.
Tetapi namanya sudah dicoret.
Di bawahnya terdapat tulisan:
PEMAIN PERTAMA.
Raka terdiam.
“Berarti Rian adalah orang pertama yang memainkan game ini.”
Tiba-tiba layar televisi menyala.
Mira muncul.
“Benar.”
“Kenapa kami dibawa ke sini?” tanya Naya.
Mira menatap mereka.
“Karena permainan ini tidak pernah selesai.”
“Bagaimana cara menghentikannya?”
Mira menunjuk pintu tanpa nomor.
“Temukan kebenaran terakhir.”
Pintu itu terbuka.
Mereka masuk.
Di dalam terdapat ruangan seperti ruang kontrol.
Puluhan layar memenuhi dinding.
Setiap layar menunjukkan kejadian berbeda di apartemen.
Ada rekaman penghuni.
Ada rekaman Mira.
Ada rekaman Rian.
Dan ada rekaman mereka sendiri.
Sinta melihat salah satu layar.
“Lihat!”
Rekaman itu memperlihatkan mereka sedang masuk ke apartemen.
Namun rekaman tersebut dibuat sehari sebelum mereka datang.
Raka merinding.
“Berarti kita sudah dipantau sejak sebelum masuk.”
Naya menemukan sebuah komputer tua.
Di layar tertulis:
PERMAINAN TERAKHIR.
Kemudian muncul pertanyaan:
“SIAPA YANG HARUS TINGGAL AGAR TIGA PEMAIN LAIN DAPAT KELUAR?”
Mereka terdiam.
Sinta menggeleng.
“Tidak. Kita tidak akan memilih siapa pun.”
Raka mengetik:
TIDAK ADA.
Layar berkedip.
JAWABAN SALAH.
Dinding bergetar.
Pintu keluar muncul.
Tetapi hanya cukup untuk satu orang.
Mira muncul di layar.
“Permainan selalu meminta pengorbanan.”
Naya menatap layar.
“Tidak.”
Ia tersenyum kecil.
“Kalau ini permainan, berarti pasti ada aturan yang bisa dilawan.”
Ia membuka buku harian sekali lagi.
Di halaman terakhir terdapat tulisan:
“Game hanya berakhir ketika pemain menolak aturan yang diberikan kepadanya.”
Naya langsung memahami.
“Permainan ini membuat kita percaya bahwa kita harus mengikuti aturannya.”
Raka mengangguk.
“Jadi kita tidak perlu memilih siapa yang tinggal.”
Mereka berempat berdiri di depan komputer.
Raka mengetik:
KAMI MENOLAK BERMAIN.
Layar menjadi hitam.
Kemudian seluruh apartemen bergetar.
Suara Mira terdengar keras.
“Tidak!”
Lampu padam.
Pintu-pintu terbuka.
Suara-suara dari seluruh apartemen terdengar bersamaan.
Kemudian terdengar bunyi seperti kaca pecah.
CRAAASH!
Semua layar mati.
Pintu lift terbuka di ujung lorong.
Mereka berlari.
Masuk.
Pintu tertutup.
Lift bergerak turun.
13... 12... 11... 10...
Mereka menahan napas.
Angka terus turun.
5... 4... 3... 2... 1.
Pintu terbuka.
Mereka kembali berada di lobi.
Pintu utama terbuka.
Hujan masih turun.
Mereka berempat berlari keluar.
Begitu sampai di halaman, Raka menoleh.
Apartemen itu tampak seperti bangunan kosong biasa.
Tidak ada lantai 13.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada suara.
Dimas mengeluarkan ponselnya.
“Game-nya sudah hilang.”
Naya melihat layar ponsel Raka.
“Bukan cuma game.”
Semua foto dan rekaman dari malam itu juga hilang.
Seolah-olah mereka tidak pernah masuk.
Mereka pulang sebelum subuh.
Namun, keesokan paginya, Raka menerima sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
TERIMA KASIH SUDAH MENYELESAIKAN GAME.
Raka langsung menghapus pesan itu.
Kemudian muncul pesan kedua.
TAPI KALIAN MELUPAKAN SATU HAL.
Raka terdiam.
Pesan ketiga muncul.
PERMAINAN TIDAK PERNAH BERAKHIR.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamar.
Tok... tok... tok...
Raka membuka pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Di lantai terdapat sebuah foto.
Foto mereka berempat saat berada di dalam apartemen.
Tetapi ada seseorang berdiri di belakang mereka.
Mira.
Raka membalik foto tersebut.
Di belakangnya terdapat tulisan:
“SAMPAI JUMPA DI APARTEMEN BERIKUTNYA.”
Sejak malam itu, mereka tidak pernah membicarakan Apartemen Arunika lagi.
Mereka mengira semuanya sudah selesai.
Sampai tiga hari kemudian, sebuah berita muncul di internet.
“APARTEMEN TUA DI KOTA SEBELAH AKAN DIBUKA KEMBALI SETELAH 12 TAHUN.”
Nama bangunannya membuat Raka membeku.
Apartemen Arunika.
Namun lokasinya berbeda.
Jauh dari tempat mereka datang.
Dan ketika Raka membuka foto gedung tersebut, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya merinding.
Di lantai paling atas terdapat sebuah jendela.
Lampunya menyala.
Di balik jendela berdiri seorang gadis.
Mira.
Ponsel Raka kembali bergetar.
Sebuah aplikasi muncul sendiri di layar.
APARTEMEN LEVEL 13
Di bawahnya tertulis:
“LEVEL 2 DIMULAI.”
Raka menatap layar dengan wajah pucat.
Lalu terdengar suara Dimas dari belakang.
“Rak...”
Raka berbalik.
Dimas, Naya, dan Sinta berdiri di sana.
Mereka semua menerima aplikasi yang sama.
Dan sebelum satu pun dari mereka sempat berkata apa-apa, layar ponsel mereka menampilkan kalimat terakhir:
“EMPAT PEMAIN TELAH DIPILIH KEMBALI.”
Lampu rumah tiba-tiba padam.
Dalam kegelapan, terdengar suara lift dari ruang tamu.
TING!
Padahal...
di rumah mereka...
tidak ada lift.