Ada hari-hari yang rasanya biasa saja, sampai kamu sadar bahwa hari itu adalah titik awal dari seluruh sisa hidupmu.
Sore itu, langit kota sedang berwarna jingga keunguan—jenis langit sore yang selalu berhasil bikin anak-anak Gen Z tenggelam dalam vibes melankolis. Jam kuliah terakhir baru saja usai. Otak rasanya sudah matang terbakar materi kuliah yang menumpuk, dan satu-satunya hal yang terpikirkan adalah secepatnya sampai di kosan untuk rebahan.
Seperti biasa, aku memilih naik angkot. Moda transportasi rakyat yang penuh nostalgia, tempat ribuan cerita tersembunyi di antara riuhnya klakson dan lagu dangdut atau pop nostalgia yang diputar abang sopir. Begitu naik, aku mengambil posisi favorit: duduk di bangku paling belakang, persis di dekat kaca luar.
Posisi itu selalu punya daya tarik tersendiri. Duduk membelakangi arah jalan, tatapan mata otomatis tertuju pada lalu lintas di belakang angkot. Melihat kendaraan yang lalu lalang, orang-orang yang terburu-buru pulang, dan deretan pepohonan yang perlahan menjauh. Ada ketenangan kecil di tengah kebisingan itu.
Angkot pun berjalan merayap di tengah kemacetan khas sore hari. Roda-rodanya berputar santai, menyusuri jalanan menuju area kampus luar. Aku menyandarkan kepala di pinggir kaca, menikmati hembusan angin sore yang merangsek masuk dari celah jendela.
Lalu, di sebuah persimpangan lampu merah, pandanganku terhenti pada satu objek di belakang angkot.
Seorang cowok mengendarai motor matic hitam. Ia memakai jaket almamater yang warnanya berbeda denganku—ya, kami beda fakultas. Namun, wajah di balik helm setengah terbuka itu sangat familiar.
Dia adalah temanku. Sebut saja kenal biasa. Kita tidak berada di lingkaran pertemanan inti (inner circle), tidak pernah nongkrong bareng di kafe hits, dan jarang saling kirim pesan di Instagram. Satu-satunya benang merah yang menghubungkan kami adalah sebuah organisasi mahasiswa tingkat universitas. Kami sering berada di ruangan yang sama saat rapat, mendengarkan pembahasan proker yang membosankan, atau sekadar berpapasan di lorong Student Center. Kenal, tapi ya... sebatas "tahu nama dan tau muka".
Saat angkot kembali melaju pelan, mata kami tidak sengaja beradu.
Di tengah deru mesin dan debu jalanan, dia menyadari keberadaanku di balik kaca belakang angkot. Senyum tipis perlahan terukir di wajahnya. Bukan senyum tebar pesona yang berlebihan, tapi senyum tulus, hangat, dan sedikit canggung.
Jantungku rasanya sedikit glitch. Karena refleks dan sopan santun, aku membalas senyumannya.
Sepanjang jalan menuju area kampus, momen unik itu terus berlanjut. Angkot berhenti, motornya ikut berhenti di belakang. Angkot melaju, motornya mengekor di jarak yang aman. Setiap kali aku menoleh ke kaca belakang, dia masih di sana, menyapu pandangannya ke arah kaca dan melemparkan senyum yang sama. Dan aku, dengan kepolosan anak kuliahan yang menyembunyikan rasa canggung, selalu membalas senyumnya dari balik kaca yang berdebu.
Ada kehangatan aneh yang menyusup di dada. Sebuah interaksi tanpa suara yang mendadak membuat perjalanan pulang yang membosankan terasa seperti adegan drama Korea bergenre slice of life.
---
Sesampainya di gerbang kampus, aku turun dari angkot. Baru saja melangkah beberapa meter sambil merapikan tas punggung, suara mesin motor berhenti persis di sampingku.
"Baru pulang juga?" tanyanya sambil melepas helm.
Seketika rasa salting menyerang tanpa ampun. Muka rasanya mendadak hangat. Di balik kaca angkot tadi terasa sangat aman karena ada jarak, tapi berhadapan langsung secara real-time begini rasanya benar-benar menguji ketahanan mental.
"Eh... iya. Baru selesai kelas terakhir tadi," jawabku terbata-bata, mencoba bersikap se-casual mungkin padahal salting-nya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Pantas tadi kulihat di kaca belakang angkot. Senyum-senyum sendiri," godanya sambil terkekeh pelan.
"Ih, kan kamu duluan yang senyum!" balasku tak mau kalah, walau dalam hati menyumpahi pipi yang makin memerah.
Hari itu, percakapan kami hanya sebatas say hello dan basa-basi singkat sebelum akhirnya berpisah ke parkiran dan gerbang keluar. Tapi rupanya, takdir punya rencana yang jauh lebih panjang dari sekadar senyuman di lampu merah.
Beberapa hari setelah kejadian itu, saat organisasi kami mengadakan acara, dia mendekatiku di sela-sela waktu istirahat.
"Kamu kalau berangkat atau pulang kuliah naik apa biasanya?" tanyanya santai.
"Naik angkot, kadang ojol kalau keburu," jawabku.
Dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal—sebuah gestur klasik orang yang sedang gugup. "Jalur kita kan searah. Daripada kamu naik angkot panas-panas atau boros ongkos ojol, gimana kalau bareng aku aja? Berangkat dan pulang. Biar ada temen ngobrol di jalan."
Jujur, saat itu aku tidak berpikir rumit-rumit soal romantisme ala FTV. Pikiran pragmatis anak kosan langsung mengambil alih: Dia orangnya baik, dikenal sopan di organisasi, dan yang paling penting... lumayan banget buat menghemat ongkos harian!* 😁😁😁
Aku mengangguk setuju. "Boleh deh, makasih ya!"
---
Sejak hari itu, kehidupan kuliahku berubah.
Tidak ada lagi penantian membosankan di pinggir jalan menunggu angkot lewat. Setiap pagi, motor matic hitamnya sudah terparkir rapi di depan gang kosanku. Setiap sore, dia sudah bersiap di depan fakultasku, menungguku selesai kelas dengan dua helm di tangannya.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan perlahan berganti tahun.
Perjalanan di atas motor itu menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya perasaan kami. Dari yang awalnya hanya membicarakan tugas kuliah dan gosip organisasi, lama-kelamaan percakapan kami berubah menjadi cerita tentang mimpi, ketakutan, luka masa lalu, hingga harapan masa depan.
Dia adalah tipe cowok yang tidak banyak berjanji manis, tapi selalu hadir lewat aksi nyata. Ketika aku stres menghadapi dosen pembimbing skripsi, dia adalah orang yang siap membelikan es krim dan mendengarkan omelanku tanpa memotong. Ketika dia lelah dengan urusan tingkat akhir, aku menyandarkan bahuku di punggungnya saat kami menembus hujan gerimis sore hari.
Perjalanan berangkat dan pulang kuliah yang awalnya motivasiku cuma "irit ongkos", perlahan berubah menjadi momen yang paling aku tunggu-tunggu setiap harinya. Punggung jaketnya menjadi tempat paling aman di dunia.
Kami menempuh perjalanan panjang itu bersama-sama. Melewati revisi berdarah-darah, sidang skripsi yang menegangkan, hingga akhirnya kami berdua memakai toga di hari kelulusan. Foto wisuda kami terpajang rapi—dua mahasiswa beda fakultas yang dipertemukan oleh organisasi dan didekatkan oleh kaca belakang angkot.
---
Setiap cerita indah selalu punya babak ujian. Lulus kuliah artinya memasuki "dunia nyata" yang penuh dengan ketidakpastian. Quarter-life crisis, perburuan kerja, dinamika karier, hingga perbedaan ritme hidup sempat menguji hubungan kami.
Ada masa-masa kami harus berjuang dengan ekspektasi masing-masing. Tapi setiap kali keraguan itu datang, aku selalu teringat pada senyuman tulusnya di balik kaca angkot bertahun-tahun yang lalu. Pria itu masih pria yang sama: sabar, bertanggung jawab, dan selalu memastikan aku aman di sampingnya.
Dia tidak pernah berpaling. Di tengah gempuran dunia dewasa yang keras, dia tetap menjadi tempat pulang yang paling nyaman.
Hingga pada suatu hari di akhir pekan yang tenang, dia datang membawa keluarga besarnya. Tanpa atraksi megah yang berlebihan, dia menyampaikan niat tulusnya di hadapan orang tuaku. Niat untuk melanjutkan perjalanan yang dulu dimulai dari jok belakang motor, menuju sebuah perjalanan seumur hidup.
Hari yang ditunggu-tunggu itu pun tiba.
Di sebuah ruangan yang dihiasi bunga-bunga segar dan alunan musik lembut, aku berdiri memakai gaun pengantin. Di hadapanku, pria yang dulu tersenyum padaku dari balik kaca angkot kini duduk di depan wali nikah.
Dengan satu tarikan napas yang mantap dan tegas, suara ijab kabul terdengar. Katanya bergema, menggetarkan dada, dan disambut kata "Sah!" dari para saksi.
Air mataku menetes. Bukan air mata kesedihan, melainkan keharuan yang tak membendung. Dari ribuan manusia di kampus itu, dari puluhan rute jalanan yang bisa kupilih hari itu, Tuhan mengatur langkah kami sedemikian rupa.
Siapa yang menyangka? Usaha menghemat uang saku kuliah berujung pada menemukan jodoh impian. Pria yang dulu hanya teman biasa di organisasi, kini resmi menjadi imam dalam hidupku.
Syukron tak terhingga atas takdir ini...
Ternyata, takdir tidak selalu datang dengan gemuruh petir atau skenario megah bagai film bioskop. Kadang, takdir datang dengan cara yang sangat sederhana: lewat tatapan mata tak sengaja, senyuman dari atas motor di belakang kaca angkot berdebu, dan kesediaan untuk berjalan searah hingga ke pelaminan.