Hari ini aku memulai kost di kota Y ini, aku berasal dari luar kota karena aku diterima kuliah di universitas negeri jadi mau tidak mau, aku harus pindah kesini. Aku menemukan tempat kost yang dekat dengan kampus dan harganya lumayan murah daripada beberapa kost yang sudah aku datangi.
Ya.. Walaupun memang kost ini sedikit kecil dan terkesan sangat seram jika dilihat dari luar tapi aku cukup nyaman dengan kamar ini. Disini hanya menerima kost wanita dan kami tidak diperbolehkan untuk sembarangan membawa orang ke kost ini. Pengelola bilang itu untung keamanan dan kenyamanan para penghuni kost.
Disini ada 10 kamar, aku berada dilantai 2 dan kamarku ada dipaling pojok bersebelahan dengan kamar mandi. Guys, karena harganya murah kamar mandi ini kita pakai bergilir. Jadi siapa cepat, dia dapat duluan. Awalnya sedikit kesal, tapi aku harus terbiasa dengan itu.
Malam pertamaku dikamar ini tidak terjadi apapun. Aku tidur dengan lelap karena efek kelelahan setelah membenahi barang bawaanku untuk aku tata dikamar ini. Aku bangun dengan segar dan pergi ke kampus untuk mengikuti ospek.
Malam harinya tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarku. Ternyata itu pengelola kost, ada apa malam-malam kemari? Bukankah aku sudah membayar sampai bulan depan? Aku kemudian membukakan pintu untuknya. Dia langsung masuk, aku kaget sebenarnya dia ini seorang pria. Ya walaupun sudah tua, tapi aku was-was juga.
"Eh ada apa ya Kek, kok malam-malam datang kemari?" tanyaku yang masih kaget.
"Maaf sebelumnya Dek, tapi saya hanya ingin bertanya sesuatu.." ucap pengelola kost yang biasa dipanggil Kakek Andi ini.
"Mau tanya apa Kek?" tanyaku penasaran.
"Apa semalam baik-baik saja?"
"Hah? Maksudnya bagaimana Kek?" tanyaku semakin heran.
"Apa semalam tidak terjadi apa-apa?" tanya Kakek lagi memastikan.
"Sebenarnya ada apa? Aku tidak mengerti Kek"
Aku tidak suka berbelit-belit. Apa maksud dari kakek ini, kenapa dia berbicara seperti itu, seakan-akan dia sedang menakut-nakutiaku. Tidak mungkin kan dia membuatku untuk tidak betah di kost ini?
"Syukurlah kalau tidak terjadi apapun. Kakek hanya meminta satu hal sama kamu Dek. Tolong kamu jangan menyisir didepan cermin ini jika malam hari"
Deg. Aku kaget, memangnya kenapa jika aku menyisir dimalam hari sambil berkaca? Aku sering melakukannya, kenapa disini tidak boleh? Tapi perkataan Kakek Andi mampu membuat bulu kudukku berinding, bahkan jantung berdetak begitu kencang.
"Apa alasannya? Saya sering menyisir sambil berkaca, kenapa disini tidak boleh?" tanyaku yang mencoba tidak mempercayai ucapan kakek ini.
"Saya sudah memberi tahu kamu Dek. Ini peringatan dari saya, jika kamu masih bersikeras untuk menyisir malam-malam didepan cermin ini.. Silahkan tanggung akibatnya"
Aku diam mematung. Peringatan? Jadi aku benar-benar tidak boleh menyisir dimalam hari? Hey.. kenapa aku percaya dengan Kakek tua ini, ini sudah dipenghujung tahun 2020 dan aku masih percaya dengan mitos seperti ini? Ayolah.. mungkin ini hanya omong kosong belaka.
"Karena sudah malam, saya permisi dulu"
Setelah itu Kakek Andi pergi dari kamarku. Aku langsung menutup pintu dan kembali merebahkan tubuhku dikasur. Tapi saat aku akan memejamkan mataku, aku langsung teringat ucapan Kakek Andi dan melirik cermin besar yang ada dikamar ini. Cermin itu sudah terpasang disana sebelum aku menempati kamar ini.
Aku benar-benar harus memastikannya atau aku tidak akan pernah tidur sampai pagi. Aku bangun dan mulai mendekat kearah cermin. Lagi darahku mengalir begitu cepat didalam tubuhku, langkahku terasa begitu berat untuk mendekat kearah cermin. Aku berdiri menatap pantulan wajahku dan mulai memegang sisir yang ada diatas meja rias.
Aku ragu tapi aku penasaran. Aku mencoba menyisir rambutku pelan, sekali tidak ada apapun yang terjadi. Dua kali.. tiga kali.. Aku tersenyum. Ahh.. akhirnya ini hanya mitos, aku tertipu oleh Kakek Andi. Aku mulai menyisir rambutku seperti biasa, tiba-tiba lampu kamarku gelap dan seakan-akan aku tesedot masuk kedalam kaca itu.
"Tolong.. tolong aku..."
Ditengah kegelapan, aku mendengar suara minta tolong seorang wanita. Tapi siapa dan dimana? Aku tidak kenal dengan suara itu. Aku mencoba mencari ditengah kegelapan. Tapi tunggu, bukankah aku didalam kamar yang kecil? Kenapa aku berjalan ditengah kegelapan seperti tidak berujung.
"Siapa? Ini dimana?" aku mulai panik dan bertanya pada suara yang meminta tolong itu.
Hening, tidak ada jawaban. Apa aku benar-benar masuk kedalam sebuah cermin? Yang benar saja? Lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini?
"Tolong aku..."
Kembali terdengar suara rintihan seorang wanita. Aku kembali dicekam ketakutan, aku mulai berkeringat rasanya disini sesak sekali seperti kekurangan oksigen. Mungkin karena gelap, jadi aku sulit untuk bernafas.
"Siapa kamu? Kamu dimana?"
Aku mulai berjalan, meraba dan berusaha sekuat yang aku bisa untuk keluar dari tempat gelap ini tapi hasilnya nihil. Hanya selalu terdengar rintihan seorang wanita yang meminta tolong padaku.
Tiba-tiba disaat aku mulai kelelahan, aku melihat persis didepan mataku kepala seorang wanita penuh darah, matanya merah dan lidahnya terjulur keluar. Tercium bau amis dari tubuhnya, wajahnya terang sampai aku kaget ketika melihatnya bersimbah darah.
"Aaaaaaaaaaa........." Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku berlari, aku harus pergi dan keluar dari sini.
"Ya Tuhan.. Apa itu! Siapa wanita itu?!"
Karena aku sudah kehabisan tenaga, aku sudah sangat kelelahan bahkan aku sampai menangis terisak karena ketakutan. Aku tidak mampu lagi untuk berlari, aku terduduk ditengah kegelapan ini.
Wanita itu semakin mendekat, jalannya terseok-seok dan darah mengalir dari tubuhnya. Dia tersenyum tapi aku tidak terpesona, aku malah semakin ketakutan. Aku pasrah, aku tidak tahu lagi harus berbuat apa.
"Tolong aku..." katanya setelah mendekat kearahku. Bahkan kali ini dia berjongkok didepanku.
Rasanya aku ingin pingsan melihatnya, Ya Tuhan aku benar-benar ketakutan sekarang.
"Ap.. Apa yang sebenarnya yang kamu inginkan?" tanyaku mencoba untuk memberanikan diri.
"Tolong aku.." katanya lagi, aku melihat raut mukanya tiba-tiba terlihat begitu sedih.
"Apa yang bisa aku bantu? Aku bahkan tidak mengenalmu"
"Bantu aku mengungkap kematianku. Aku Diana, aku dulu penghuni kamar itu"
Deg. Jadi Diana ini sudah mati? Dia adalah hantu dan aku berbicara dengannya? Ini pertama kalinya aku melihat hantu, apa aku sedang bermimpi? Aku mencoba mencubit lenganku agar aku tersadar tapi aku merasakan sakit. Berarti ini benar-benar nyata.
"Apa yang bisa aku bantu? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan"
Dan disinilah dimulai, dia menceritakan kisah semasa dia hidup sebelum dia meninggal.
***
Aku Diana, aku mulai kost di tempat baru ini. Aku anak perantauan, aku memilih kost disini karena dekat dengan Universitas tempatku kuliah. Kost ini sangat bagus, walaupun harganya sedikit mahal pada masa itu. Kost ini baru dibangun, jadi masih sangat bersih dan penghuni kost belum terlalu banyak seperti sekarang. Dulu masih banyak kamar kosong, bahkan hanya aku penghuni dilantai 2.
Aku kuliah seperti biasa. Aku sangat menikmati masa-masa kuliah ini, bahkan aku sempat memiliki seorang kekasih. Aku terbilang mahasiswi cerdas kala itu, jadi aku memiliki banyak teman. Aku betah disini karena selain memiliki banyak teman, lingkungan disini pun membuatku nyaman.
Hingga sebuah kejadian yang sangat mengerikan terjadi padaku. Aku tertidur karena sudah pukul 9 malam, aku benar-benar lelah dengan tugas dari kampus yang menumpuk. Tapi saat tengah malam tiba-tiba aku merasa ada yang menggerayangi seluruh badanku. Aku kaget dan langsung terbangun, disana aku melihat Pak Andi sadang tesenyum tak berdosa sama sekali. Aku ingin teriak tapi Pak Andi membekap mulutku
"Jangan teriak, atau nanti kepalamu putus"
Seketika jantungku berhenti berdetak, aku menggigit tangannya dan berlari keluar kamar sambil menangis tapi tidak ada penghuni kost yang bangun kala itu. Aku langsung berlari keluar area kost, aku tidak peduli kemana aku akan pergi yang penting aku berhasil kabur dari Pak Andi.
Setelah agak jauh aku mulai memelankan langkahku karena tenagaku habis. Jalanan sangat gelap, bahkan sudah tidak ada kendaraan yang lewat. Aku sudah tidak peduli dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, bahkan aku tidak memakai alas kaki sama sekali. Aku benar-benar panik hanya berlarilah jalanku untuk menghindarnya.
Tiba-tiba aku dikagetkan dengan seseorang yang menjerat leherku. Setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi. Saat aku sadar ternyata aku sudah mati. Aku diperkosa dan badanku ditikam berkali-kali dengan senjata tajam.
Dan dia memperkosaku tidak sendiri, dia memperkosaku bersama seorang dukun. Aku bahkan sudah mati, tapi orang-orang tidak punya adab ini terlihat seperti hewan. Aku benar-benar marah, aku benci. Bagaimana caranya aku bisa membalas mereka? Aku tidak terima ragaku diperlakukan sedemikian rupa.
"Kamu benar-benar kejam Andi. Wanita secantik ini kamu bunuh" kata dukun itu sambil menyalakan rokoknya.
Mereka menutup badanku dengan kain putih. Aku benar-benar sudah mati, bahkan darah mengalir dari sekujur tubuhku.
"Apa kita akan ketahuan? Bagaimana caranya menyembunyikan mayat ini?" tanya Pak Andi yang begitu panik. Dia baru sadar jika apa yang dia lakukan sangat beresiko.
"Pasti wanita ini akan dicari polisi karena dianggap hilang. Biar kita kubur saja wanita itu disini. Ini tempat yang sulit untuk dijangkau polisi, tapi ada syarat Andi agar ini berjalan sukses dan tidak ketahuan. Setelah nanti kasus wanita ini di tutup, darah wanita ini harus kamu siramkan ke kaca rias dikamarnya agar kasus ini tidak pernah terbongkar"
"Hanya itu syaratnya?"
"Satu lagi. Jangan biarkan seseorang menyisir didepan cermin itu dimalam hari, mengerti?"
Pak Andi pun mengangguk faham. Benar dugaan dukun itu, kasusku ditutup polisi setelah hampir 1 bulan penyelidikan. Teman kampus, bahkan pacarku dimintai keterangan tapi memang tidak ada yang tahu kemana aku pergi karena sebenarnya aku sudah mati terbunuh dengan teragis.
Aku dinyatakan hilang oleh pihak kepolisian, orangtuaku begitu terpukul. Aku begitu sedih, aku tidak bisa mengungkapkan kebenaran sesungguhnya. Hingga sampai saat ini, aku masih menjadi arwah yang penasaran.
***
Aku menangis mendengar kisah pilu itu. Sungguh tidak punya adab sekali manusia-manusia itu. Aku kira Kakek Andi baik ternyata dia memiliki masalalu kelam dan bahkan dia telah menjadi seorang pembunuh.
"Apa kamu bisa membantuku sekarang?" tanya Diana lagi.
"Tapi bagaimana caranya? Ini tidak mungkin?"
"Aku akan membantumu, kamu hanya perlu percaya"
"Baiklah kalau begitu" kataku pasrah.
"Sekarang kamu harus kembali dulu" Tiba-tiba dia memegang kepalaku.
Aku langsung terbangun dan ternyata ini sudah pagi, bahkan mentari sudah terlihat. Aku tergeletak dilantai sepanjang malam, apa semalam itu hanya mimpi?
Aku mencoba menatap kaca rias itu tiba-tiba disana langsung muncul Diana yang begitu cantik tidak seperti semalam yang begitu bersimbah darah. Ternyata dia benar-benar nyata.
Aku mulai menjakankan misiku, aku tidak sendirian. Aku ditemani temanku yang juga kuliah disini. Awalnya dia tidak percaya, tapi aku mencoba meyakinkannya dan dia akhirnya mau untuk ikut membantu memecahkan kasus Diana.
Kata Diana, Kakek Andi selalu mengunjungi kuburannya dihari jum'at. Saat itu pun aku dan temanku mulai mengikuti Kakek Andi secara diam-diam. Berkat Tuhan, ini berjalan mulus dan tidak ketahuan.
Aku mulai merekam diam-diam kegiatan Kakek Andi di kuburan Diana. Dia hanya sekedar membersihkan kuburannya dan kata Diana dukun itu juga sudah meninggal tahun lalu jadi Kakek Andi tidak memiliki tameng lagi.
Sekarang aku memiliki bukti, walau tidak akurat tapi aku harus melaporkan ini ke pihak berwajib. Walaupun awalnya polisi menolak, tapi karena dipaksa akhirnya mereka mau mengikuti kami untuk datang ke kuburan Diana.
"Coba, kamu yang gali. Buktikan kepada kami kalau kalian tidak main-main" ucap salah satu polisi yang ada disitu.
Aku tidak banyak bicara, aku langsung menggali tanah yang sudah rata itu. Karena tak tega, temanku membantu menggali. Dan polisi begitu kaget ketika melihat tulang belulang disana. Temanku sampai terperanjat bahkan dia langsung naik keatas. Aku menangis membayangkan Diana begitu tersiksa saat itu bahkan sampai sekarang.
Akhirnya polisi percaya, dan tulang-tulang Diana akan di autopsi dan Kakek Andi ditahan sebagai tersangka. Kakek Andi tidak melawan saat diamankan oleh polisi dia bahkan terlihat lega, mungkin saatnya dia menebus segala dosanya pada Diana.
"Terimakasih. Aku sudah bisa tenang sekarang" Senyum Diana kearahku.
Setelah itu Diana mendekat kearah orangtuanya yang menangis karena baru sekarang orangtuanya tahu bahwa Diana sudah meninggal. Akhirnya Diana dimakamkan dengan layak dan sekarang dia sudah sempurna.