Aku pernah berpikir, selama ada cinta, aku bisa menunggu apa pun.
Lima tahun bersama Gusti membuatku terbiasa dengan kata nanti. Nanti kalau keadaan sudah membaik. Nanti kalau pekerjaannya lebih stabil. Nanti kalau sudah punya cukup uang. Nanti kalau waktunya tepat.
Aku selalu percaya pada kata itu.
Aku menemaninya sejak kami belum punya apa-apa. Saat penghasilannya kecil, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Ketika dia sedang jatuh, aku ada di sampingnya. Aku tidak meminta kehidupan mewah. Aku hanya ingin melihatnya berusaha membangun sesuatu untuk masa depan kami.
Tapi semakin lama, aku mulai merasa seperti satu-satunya orang yang berjalan.
Gusti tidak pernah kasar kepadaku. Dia tidak pernah selingkuh. Dia juga selalu memperlakukanku dengan baik. Bahkan ketika bertengkar, dia tidak pernah membentak atau mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
Justru itu yang membuatku semakin sulit pergi.
Aku tidak punya alasan besar untuk membencinya.
Aku hanya... lelah.
Lelah menjadi orang yang terus memahami, sementara tidak pernah benar-benar dipahami.
Malam itu aku duduk di hadapannya. Tanganku saling menggenggam erat di atas pangkuan, berusaha menahan gemetar.
"Gusti..." suaraku nyaris berbisik. "Kamu masih mau menjalani hidup seperti ini?"
Dia menatapku bingung.
"Maksud kamu?"
Aku menarik napas panjang.
"Aku sudah menemani kamu lima tahun. Aku nggak pernah menuntut kamu harus langsung sukses. Aku cuma ingin kamu punya keinginan untuk berubah."
Gusti terdiam.
"Aku ingin kita punya masa depan," lanjutku, dengan dada yang semakin sesak. "Tapi selama ini aku cuma mendengar kamu bilang tunggu."
Aku menunduk. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa kutahan.
"Aku sudah terlalu lama menunggu, Gusti."
Dia meraih tanganku.
"Arini, aku sayang sama kamu."
Kalimat itu justru membuat hatiku semakin sakit.
"Aku tahu."
Aku tersenyum tipis di antara air mata.
"Aku tahu kamu sayang sama aku. Tapi ternyata sayang saja nggak selalu cukup."
Tangannya perlahan kulepaskan.
"Aku nggak pergi karena kamu jahat. Aku pergi karena aku sudah nggak sanggup terus berharap kamu akan menjadi seseorang yang bahkan kamu sendiri nggak berusaha untuk menjadi."
Hening memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku menyadari bahwa cinta yang membuatku bertahan selama ini juga ternyata menjadi alasan aku terus menunda kebahagiaanku sendiri.
Aku bangkit dari kursi dengan kaki yang terasa berat.
"Maaf, Gusti."
Aku menatapnya untuk terakhir kali.
"Terima kasih sudah pernah menjadi rumah buat aku. Tapi sekarang aku harus belajar pulang ke diriku sendiri."
Aku berjalan pergi dengan air mata yang terus mengalir.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pengkhianatan.
Tidak ada orang ketiga.
Hanya dua orang yang pernah saling mencintai, tetapi akhirnya menyadari bahwa mereka menginginkan arah hidup yang berbeda.
untuk pertama kalinya setelah lima tahun, aku memilih berhenti menunggu.
Malam itu aku pulang dengan langkah yang terasa begitu berat. Entah kenapa, setelah lima tahun selalu pulang bersama Gusti, perjalanan menuju rumah mendadak terasa asing.
Aku duduk di dalam kamar dengan lampu yang sengaja tidak kunyalakan. Hanya cahaya dari luar jendela yang masuk samar-samar, menemani pikiranku yang berantakan.
Ponselku beberapa kali bergetar.
Nama Gusti muncul di layar.
Aku hanya menatapnya.
Tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang memaksaku kembali.
Hanya satu pesan sederhana.
"Sudah sampai rumah?"
Dadaku terasa sesak.
Begitulah Gusti. Bahkan setelah kami berpisah, dia masih memikirkan apakah aku sudah sampai dengan selamat.
Aku mengetik balasan, kemudian menghapusnya.
Mengetik lagi, lalu menghapusnya.
Pada akhirnya, aku hanya meletakkan ponsel di samping bantal.
Air mataku kembali jatuh.
Aku benci keadaan ini.
Aku bahkan sempat berharap Gusti akan marah. Berteriak. Menahanku. Mengatakan bahwa dia akan berubah.
Tapi tidak.
Mungkin karena jauh di dalam hatinya, dia juga tahu alasan aku pergi.
Aku memeluk lutut di atas tempat tidur.
Selama ini aku selalu berpikir bahwa meninggalkan seseorang hanya bisa dilakukan ketika cinta sudah habis.
Ternyata tidak.
Aku masih mencintainya.
Hanya saja, rasa lelahku sudah jauh lebih besar daripada keinginanku untuk terus bertahan.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan mata sembap. Untuk beberapa detik aku lupa kalau semuanya telah berakhir.
Tanganku bahkan sempat meraih ponsel untuk mengirim pesan selamat pagi seperti biasanya.
Namun jariku berhenti.
Tidak ada lagi yang harus kukirim.
Tidak ada lagi seseorang yang harus kutunggu membalas.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Aku mulai menyadari betapa banyak bagian hidupku yang selama ini selalu diisi oleh Gusti.
Tempat makan yang biasa kami datangi.
Jalan yang sering kami lewati.
Lagu yang dulu sering kami dengarkan bersama.
Bahkan kebiasaan membeli dua minuman ketika pergi sendirian.
Semua hal kecil itu tiba-tiba menjadi pengingat bahwa selama lima tahun aku tidak hanya mencintai seseorang.
Aku juga membangun kebiasaan hidup bersamanya.
Dan sekarang aku harus belajar melepaskannya satu per satu.
Beberapa hari kemudian, Gusti menghubungiku lagi.
"Aku sedang mencoba mencari pekerjaan tambahan."
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Entah kenapa, air mataku langsung menggenang.
Bukan karena aku ingin kembali.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang selama ini kutunggu.
Perubahan.
Namun perubahan itu datang setelah aku pergi.
Aku menggigit bibir, menahan perasaan yang tiba-tiba kembali memenuhi dada.
Aku ingin mengatakan bahwa aku bangga padanya.
Aku ingin mengatakan bahwa aku masih peduli.
Tapi aku tahu, kalau aku kembali hanya karena melihat sedikit perubahan, mungkin suatu hari nanti aku akan kembali berada di titik yang sama.
Maka aku hanya membalas singkat.
"Semoga kamu berhasil, Gusti."
Setelah mengirim pesan itu, aku meletakkan ponsel.
Untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu balasannya.
Aku menarik napas panjang.
Mungkin cinta tidak selalu tentang mempertahankan seseorang sampai akhir.
Kadang cinta juga berarti melepaskan seseorang agar dia belajar berdiri dengan kakinya sendiri.
Dan mungkin, kali ini aku juga harus belajar melakukan hal yang sama.
Berdiri sendiri.
Tanpa Gusti.
Tanpa menunggu.
Tanpa berharap seseorang berubah demi membuatku bahagia.
Karena setelah lima tahun, akhirnya aku mengerti satu hal.
Aku tidak meninggalkan Gusti karena aku berhenti mencintainya. Aku pergi karena akhirnya aku mulai mencintai diriku sendiri.