Kalau ada penghargaan "Manusia Paling Apes Se-Kecamatan", Amanda pasti bakal menang mutlak tanpa perlu lewat proses pemungutan suara. Boro-boro pakai kampanye, lihat mukanya yang kusam kayak keset selamat datang di musim hujan saja orang-orang sudah kasihan.
Hidup Amanda belakangan ini ibarat mi instan yang direbus kelamaan: benyek, hambar, dan bikin malas ngunyah.
Semua berawal dari satu keputusan mahadahsyat nan tolol tiga bulan lalu. Waktu itu, Amanda yang berprofesi sebagai staf pemasaran paruh waktu di sebuah perusahaan startup bernama Next-Gen Creative Solution, tergiur iming-iming gaya hidup ala selebgram TikTok. Dia pengin punya HP keluaran terbaru yang kameranya bisa menghitung bintik hitam di permukaan bulan.
Masalahnya, tabungan Amanda cuma cukup buat beli casing-nya doang.
Di sinilah muncul sang penjelamat palsu: aplikasi Pinjaman Online (pinjol) bernama CepatCairDuitKaget.id. Logonya gambar celengan babi pakai kacamata hitam. Sangat meyakinkan, pikir Amanda saat itu. Tanpa baca syarat dan ketentuan yang panjangnya mengalahkan naskah Proklamasi, Amanda langsung mengklik tombol “Setuju dan Izinkan Akses Seluruh Kontak, Galeri, Kamera, dan Jiwa Raga”.
Duit Rp8.000.000 cair dalam hitungan detik. HP baru didapat. Foto-foto estetik terunggah. Amanda merasa jadi Ratu Sejagad.
Sampai akhirnya... bunga pinjol itu mekar melebihi bunga bangkai di Kebun Raya Bogor.
Sore itu, jam menunjukkan pukul empat. Amanda sedang duduk di kubikel kantornya yang berdebu. Tiba-tiba HP-nya berdering. Bukan bunyi ringtone biasa, tapi rentetan notifikasi WhatsApp yang datang bagaikan tembakan senapan mesin.
PING! PING! PING!
Debt Collector Pinjol 1: "PAGI MBAK AMANDA! INI SUDAH JATUH TEMPO HARI KE-30! KAPAN MAU BAYAR?! JANGAN SOK LUPA YA! KAMI TAHU RUMAH ANDA DI GANG KANCIL!"
Debt Collector Pinjol 2: "Mbak Amanda yang cantik tapi hobi nunggak, kalau tidak bayar sekarang, foto selfie Mbak holding KTP bakal kami edit jadi poster dicari Satpol PP atas tuduhan pencurian jemuran!"
Amanda memegang kepalanya yang mendadak cenut-cenut. "Aduh, Gusti... ini orang nagih utang apa lagi ngajak duel di ring tinju sih?" bisiknya panik.
Belum sempat dia membalas—atau lebih tepatnya memblokir—nomor tersebut, pintu ruangan Direktur mendadak terdorong keras. Brak!
Pak Harjo, atasannya yang perutnya maju tiga meter di depan badannya, keluar dengan membawa koper hitam besar. Wajahnya panik, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di jidatnya.
"Perhatian semuanya!" teriak Pak Harjo ngos-ngosan. "Perusahaan kita... resmi dinyatakan bangkrut sore ini! Kantor disita bank!"
Satu ruangan heboh. Rekan kerja Amanda pada berteriak bagaikan penumpang kapal Titanic yang mau tenggelam.
"Pak! Terus gaji kami bulan ini gimana?!" teriak Amanda ikut histeris.
Pak Harjo membetulkan letak kacamatanya yang melorot, lalu tersenyum melas. "Gaji kalian... sudah saya investasikan ke kripto gambar monyet, dan harganya tadi siang anjlok jadi nol koma sekian sen. Doakan saya ya, saya mau kabur ke Kamboja!"
Tanpa rasa bersalah, Pak Harjo lari ngacir menerobos pintu keluar, meninggalkan puluhan karyawan yang melongo hebat.
Amanda mematung di tempat. "Gaji melayang, kerjaan hilang, utang pinjol mengembang. Mantap. Paket komplit plus telur dadar," gumamnya dengan mata mendelik.
Di saat kehancuran karirnya sedang berlangsung, layar HP Amanda kembali menyala. Nama sang kekasih tercinta muncul di layar: Reno Kesayanganku (Semoga Jadi Mantu Mama).
Dengan sisa-sisa harapan, Amanda mengangkat telepon. Siapa tahu Reno bisa jadi tempat bersandar, atau minimal tempat pinjam duit tanpa bunga.
"Halo, Reno sayang..." suara Amanda dibuat selemas mungkin, berharap mendapat simpati.
"Manda, kita putus ya," jawab suara di ujung telepon tanpa basa-basi. Datar. Kayak papan gilesan.
Amanda tersedak ludahnya sendiri. Cok! "Hah?! Kamu ngomong apa sih, Ren? Ini bukan April Mop!"
"Aku serius, Man. Aku tadi dapat kiriman foto dari nomor tak dikenal. Masa ada gambar muka kamu ditempel di badan monster Godzilla, terus ditulis: WANITA INI MENUNGGAK PINJOL, JANGAN DITIRU! Ibu aku lihat, Man! Ibu aku langsung kena serangan jantung ringan dan bilang aku gak boleh pacaran sama buronan finansial!"
"Ren, itu tuh fitnah dari debt collector jahat! Kamu kan tahu aku—”
"Udah deh, Man. Kita gak selevel lagi. Aku butuh cewek yang financial freedom, bukan yang financial pingsan. Goodbye, Manda!"
TUT... TUT... TUT...
Sambungan terputus.
Amanda melongo. HP-nya perlahan meluncur dari genggamannya dan mendarat mulus di atas tumpukan berkas bekas.
Di tempat kerja yang mendadak bangkrut, di tengah ancaman debt collector, dan dengan status baru sebagai jomblo mengenaskan, Amanda cuma bisa menghembuskan napas panjang.
"Lengkap sudah," bisiknya. "Kalau hidup ini film komedi, sutradaranya pasti lagi mabuk lem."
___
Penghinaan terhadap Amanda ternyata belum mencapai puncaknya.
Dua hari setelah kejadian tragis itu, Amanda cuma bisa mengurung diri di kamar kosannya yang berukuran 3x3 meter. Kipas angin gantungnya berderit-derit tragis bagaikan menyanyikan lagu kematian.
Tiba-tiba, temannya yang bernama Lisa mendobrak pintu kosan tanpa ketok-ketok.
"MANDA! PARAH, MAN! MUKA LU VIRAL!" jerit Lisa sambil menyodorkan HP-nya ke depan hidung Amanda.
"Viral kenapa lagi? Muka gue ditempel di poster film horor?" tanya Amanda malas-malasan sambil memakan sisa kerupuk kaleng yang sudah melempem.
"Bukan! Lu direview sama Bona Si Pengulas!"
Amanda langsung tersedak kerupuk. Bona Si Pengulas adalah influencer seleb-TikTok paling julid se-Indonesia Raya. Pengikutnya lima juta orang, dan hobinya adalah mengulas hal-hal aneh di internet dengan gaya bicara pedas tak berakhlak.
Amanda merebut HP Lisa dan melihat video yang sedang menempati urutan Trending Number 1.
Di video itu, Bona—pria muda dengan kacamata bolong tanpa kaca dan gaya rambut mirip mangkok bakso—sedang menunjuk-nunjuk layar hijau di belakangnya. Layar itu menampilkan poster penagihan pinjol yang mengedit muka Amanda!
"Halo Warga TikTok yang budiman! Hari ini kita gak bakal review makanan atau skincare mahal, tapi kita bakal REVIEW DOKUMEN PENAGIHAN PINJOL PALING KREATIF TAHUN INI!" ujar Bona di video dengan gaya heboh.
"Lihat nih guys! Mbak-mbak ini namanya Amanda. Mukanya sih manis, tapi utangnya pahit banget! Katanya dia pinjam lima juta, bunga plus denda jadi dua belas juta! Dan lihat editan poster dari debt collector-nya! Muka Mbak Amanda ditempel di badan Teletubbies warna ungu sambil pegang spanduk 'SAYA LUPA CARA BAYAR UTANG'. Rating editan dari gue: 8/10! Estetiknya dapet, lucunya dapet, kasihannya dapet banget! Buat Mbak Amanda, kalau nonton video ini, bayar utangnya ya Mbak, kasihan Po dan Laa-Laa jadi kehilangan teman!"
Kolom komentarnya membludak sampai 50 ribu tanggapan.
@User90123: "Wkwkwk ngakak anjir! Teletubbies ungu penungut utang!"
@SitiGaya: "Mbaknya cantik tapi beban keluarga wkwkwk."
@KangBakso: "Mending mukanya dijual jadi NFT aja Mbak buat bayar utang!"
Amanda membaca komentar demi komentar itu dengan mata membelalak. Rasa malu, jengkel, sedih, dan konyol bercampur aduk jadi satu di dadanya.
"Gue... gue direview influencer?!" teriak Amanda histeris. "Gue bukan produk kecantikan! Gue bukan tempat makan hits! Gue cuma cewek apes yang salah klik aplikasi, kenapa harus direview begini, Tuhan?!!!"
"Sabar, Man, sabar..." ujar Lisa sambil mengelus-elus punggung Amanda. "Sisi positifnya, muka lu makin dikenal orang."
"Dikenal sebagai Teletubbies penunggak utang, Lisa! Lu pikir itu prestasi?!" jerit Amanda frustrasi.
___
Malam itu, hujan turun deras di atas atap seng kamar kos Amanda.
Amanda duduk di sudut kasurnya yang tipis. HP-nya sengaja dimatikan karena kalau dinyalakan, ada 300 panggilan tak dikenal dari debt collector dan pesan julid dari netizen.
Dia merasa benar-benar tak kuat lagi. Masalah datang bertubi-tubi tanpa permisi. Pekerjaan tak ada, tabungan nol, pacar kabur, harga diri diinjak-injak netizen se-Indonesia.
"Gue gak sanggup lagi," bisik Amanda lirik. Air matanya mulai menetes. "Gue mau menyerah aja."
Dengan pikiran yang makin gelap dan kalut, Amanda berdiri. Dia mengambil jaketnya yang paling tebal, mengenakan helm, lalu berjalan keluar kosan di bawah guyuran hujan. Dia berniat melupakan semuanya. Dia mau pergi ke tempat paling tinggi yang dia tahu: jembatan penyeberangan di atas jalan tol utama kota.
Di sepanjang jalan, angin malam membekukan tubuhnya, tapi hatinya jauh lebih dingin. Amanda merasa dunia ini terlalu jahat dan tidak adil untuknya.
Sesampainya di atas jembatan penyeberangan yang sepi, Amanda berdiri di samping pagar pembatas. Di bawah sana, mobil-mobil melaju kencang, menembus kegelapan malam dengan lampu-lampu yang menyorot tajam.
Amanda memanjat pagar pembatas pelan-pelan. Tubuhnya gemetar. "Selamat tinggal dunia yang penuh pinjol dan mantan tak berguna..." bisiknya dramatis.
Namun, tepat saat satu kakinya sudah bergantung di udara, sebuah suara berteriak keras dari belakangnya.
"WOIIII! MBAK TELETUBBIES! JANGAN LOMPAT DULU! KAMERA GUE BELUM FOKUS!"
Amanda kaget setengah mati sampai hampir terpeleset jatuh beneran. "Setan mana yang teriak-teriak?!" jeritnya sambil menoleh cepat.
Di sana, berdiri sesosok pria memakai jas hujan warna kuning terang dengan membawa kamera DSLR besar lengkap dengan tripod-nya. Pria itu sibuk mengelap lensa kameranya yang kena air hujan.
Ketika pria itu melepas kupluk jas hujannya... mata Amanda belalakan.
Pria itu adalah Bona Si Pengulas!
PERTEMUAN KONYOL DI ATAS JEMBATAN
"LU... LU COWOK REVOLTING YANG BIKIN MUKA GUE VIRAL CANAL?!" teriak Amanda penuh amarah, membatalkan niat melompatnya dan kembali turun ke lantai jembatan dengan berang.
Bona mendekat sambil tersenyum tanpa dosa. "Eh, Mbak Amanda beneran! Wah, pangling saya. Di poster kan warna kulitnya ungu, ternyata aslinya sawo matang manis begini."
"BACOT LU!" sembur Amanda, air matanya bercampur dengan air hujan. "Lu tahu gak, gara-gara video review lu yang sok keren itu, hidup gue makin hancur! Gue di-bully netizen, disuruh jadi NFT, dibenci orang-orang! Dan sekarang lu malah mau jadiin aksi nekat gue sebagai konten?! Lu manusia apa monster sih?!"
Bona mendadak menghentikan tawa kecilnya. Wajahnya yang tadi cengengesan perlahan berubah jadi agak serius—meski kacamatanya yang bolong tetap bikin dia kelihatan agak tolol.
"Mbak Amanda..." kata Bona pelan. "Siapa bilang saya mau jadiin ini konten? Saya tadi lagi neduh di bawah jembatan habis ngonten, terus lihat ada cewek naik-naik pagar. Saya lari ke atas cuma buat nahan Mbak."
"Tapi tadi lu teriak soal kamera fokus!"
"Ya itu candaan refleks aja, Mbak! Biar Mbak kaget terus gak langsung loncat! Kan berhasil?" kata Bona sambil nyengir.
Amanda terduduk di lantai jembatan yang basah. Dia menutupi wajah dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan kekesalan, kelelahan, dan kehampaan yang menumpuk sekian lama akhirnya pecah malam itu.
"Gue capek, Mas..." bisik Amanda di sela isaknya. "Gue gak punya apa-apa lagi. Kerjaah dibangkrutin bos korup, duit dimakan pinjol, pacar mutusin gara-gara takut, terus muka gue diinjak-injak di sosial media. Gue gak lihat ada jalan keluar lagi..."
Bona ikut duduk melantai di samping Amanda, tak peduli celananya basah kuyup. Dia mengambil sebungkus tisu dari saku jas hujannya dan menyerahkannya ke Amanda.
"Mbak Amanda..." ujar Bona lembut. "Saya minta maaf ya soal video itu. Jujur, saya gak tahu kalau masalah Mbak seberat ini. Di dunia sosial media, kita sering lupa kalau foto atau nama yang kita jadiin bahan becandaan itu adalah manusia beneran yang punya perasaan."
Amanda menyapu air matanya pakai tisu basah. "Nasi udah jadi bubur, Mas. Bunga pinjol gue udah 12 juta. Duit dari mana gue bayar?"
Bona diam sejenak, lalu menepuk bahu Amanda pelan. "Mbak tahu gak? Masalah uang itu bisa dicari. Masalah kerjaan bisa dilamar lagi. Tapi kalau Mbak lompat dari sini... Mbak cuma membuktikan kalau orang-orang jahat itu—bos korup Mbak, mantan Mbak yang picik, sama debt collector gila itu—berhasil mengalahkan Mbak."
Amanda menatap Bona. Matanya yang sembap beradu pandang dengan mata Bona yang jujur.
"Mbak mau nyerah cuma demi orang-orang sampah kayak gitu?" lanjut Bona. "Hidup Mbak itu bukan milik mereka. Hidup Mbak milik Mbak sendiri. Jangan biarkan bab terburuk dalam hidup Mbak jadi bab terakhir."
Kata-kata Bona menancap dalam di dada Amanda. Sederhana, tapi telak.
Selama ini, Amanda terlalu fokus pada rasa malu dan tekanan dari luar, sampai lupa bahwa dia masih punya hak untuk berjuang dan bangkit.
___
Seminggu setelah kejadian di atas jembatan, suasana di internet mendadak gempar lagi.
Bona Si Pengulas mengunggah sebuah video baru. Tapi kali ini, videonya tidak berisikan ejekan atau review julid.
Di video itu, Bona duduk bersama Amanda di sebuah warung kopi sederhana.
"Halo Warga TikTok! Minggu lalu gue bikin video review poster penagihan pinjol yang menimpa Mbak Amanda. Dan hari ini, gue mau MINTA MAAF secara terbuka kepada Mbak Amanda dan publik," ucap Bona dengan wajah serius.
"Gue sadar, konten gue kemarin bercandaan yang tidak bertanggung jawab. Mbak Amanda ini adalah korban dari perusahaan start-up korup yang melarikan gajinya, dan korban dari sistem pinjol ilegal yang menjerat dengan bunga tidak manusiawi!"
Bona lalu menunjuk ke arah Amanda yang tersenyum penuh percaya diri di sampingnya.
"Tapi Mbak Amanda gak menyerah! Mulai hari ini, gue bersama Mbak Amanda bakal bikin gerakan: #LawanPinjolIlegal dan #UsutBosKorup! Kita akan bantu Mbak Amanda lunasi utang pokoknya lewat transparansi, dan kita usut tuntas aplikasi bodong ini ke pihak kepolisian!"
Video itu meledak. Tapi kali ini, respons netizen berbalik 180 derajat. Dukungan mengalir deras. Banyak korban pinjol ilegal lainnya yang ikut bersuara. Kasus perusahaan Pak Harjo yang melarikan uang karyawan pun akhirnya dilirik oleh pihak kepolisian setelah viral.
Dua bulan kemudian...
Pak Harjo berhasil ditangkap di pelabuhan saat mencoba kabur pakai paspor palsu. Uang pesangon karyawan akhirnya dicairkan oleh kurator hukum.
Sementara itu, aplikasi CepatCairDuitKaget.id diblokir resmi oleh OJK, dan pengurusnya ditangkap atas tuduhan pengancaman dan penyebaran data pribadi. Utang bunga Amanda dianggap hangus, dan sisa utang pokoknya berhasil dilunasi dari hasil kerja samanya dengan Bona dalam mengedukasi masyarakat tentang bahaya finansial.
___
Di sebuah kafe kekinian di kawasan Jakarta Selatan, Amanda sedang menikmati segelas iced oat latte. Penampilannya kini jauh lebih rapi dan segar. HP-nya bukan lagi HP pinjaman, tapi HP hasil keringatnya sendiri sebagai Content Manager baru di agensi media kreatif milik Bona.
Tiba-tiba, seorang pria berpakaian rapi menghampiri mejanya. Pria itu adalah Reno, sang mantan.
"Manda?" panggil Reno dengan wajah berseri-seri dan senyum yang dipaksakan manismya. "Kamu... Amanda yang sekarang hits di media sosial itu, kan?"
Amanda menoleh pelan, menarik kacamata hitamnya ke atas kepala. "Eh, Reno. Ada apa ya?"
"Man... aku baca berita. Kamu hebat banget sekarang! Kamu sukses, kerjaan bagus, dan masuk TV juga! Ngg... aku mau minta maaf soal kemarin. Waktu itu aku cuma panik aja, Man. Sebenarnya hati aku masih buat kamu..." kata Reno sambil mencoba memegang tangan Amanda.
Amanda dengan cepat menarik tangannya, lalu tersenyum manis—manis banget, sampai kelihatan agak beracun.
"Aduh, Reno..." ujar Amanda dengan suara lembut ala sinetron. "Kamu tahu gak bedanya kamu sama aplikasi pinjol ilegal?"
Reno kebingungan. "A-apa bedanya, Man?"
"Kalau aplikasi pinjol ilegal, nagihnya emang bikin sakit kepala, tapi minimal pernah ngasih bantuan duit. Kalau kamu... udah gak ngasih bantuan, pas susah malah kabur, terus pas sukses balik lagi kayak benalu!"
Amanda menyedot lattenya santai. "Jadi, silakan log out dari hidup aku ya, Mas. Account kamu udah aku block permanen di hati aku."
Wajah Reno berubah merah padam, lalu melangkah pergi dengan rasa malu yang luar biasa di hadapan pengunjung kafe lainnya.
Tak lama kemudian, Bona datang membawakan piring berisi kentang goreng dan duduk di depan Amanda.
"Gimana, Mbak Teletubbies? Mantan sudah berhasil di-review dan diberi rating nol bintang?" goda Bona sambil nyengir.
Amanda tertawa lepas. Tawa yang sudah lama tidak pernah terdengar dari bibirnya.
Hidup memang kadang-kadang ngeselin. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah, dan kadang kita ada di posisi ditempel di poster Teletubbies oleh debt collector. Tapi selama kita masih punya keberanian buat ketawa dan bangkit lagi, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dikalahkan.
"Rating buat mantan: minus lima," jawab Amanda sambil mengunyah kentang gorengnya. "Dan rating buat hidup gue sekarang... 10/10. Estetik, seru, dan bebas pinjol!"