CINCIN PEMIKAT MUSTIKA ARJUNA
Minggu pagi selalu menjadi waktu yang paling disukai Arman untuk berolahraga.
Udara masih sejuk. Embun menempel di ujung-ujung rumput, sementara matahari baru mulai naik dari balik pepohonan. Jalan kampung yang biasanya ramai oleh kendaraan masih cukup lengang.
Arman berlari bersama Loly dan dua orang temannya.
“Ayo, Man! Masa larinya kalah sama kita?” teriak Loly sambil menoleh.
Arman mempercepat langkah.
“Siapa bilang aku kalah?”
“Dari tadi paling belakang.”
“Aku sengaja.”
“Alasan!”
Loly tertawa.
Arman ikut tertawa, meskipun sebenarnya dadanya sudah mulai naik turun.
Mereka memang cukup akrab. Arman sering bercanda dengan Loly, mengobrol dengannya, bahkan beberapa kali membantu ketika perempuan itu membutuhkan sesuatu.
Bagi Arman, kedekatan tersebut perlahan terasa seperti sesuatu yang lebih.
Namun bagi Loly, semuanya sederhana.
Arman hanyalah teman dekat.
TTM.
Tidak lebih.
Apalagi Loly sudah mempunyai seseorang yang dia pilih.
Tamar.
Sepupu Arman sendiri.
Arman sebenarnya tahu sejak awal.
Hanya saja, mengetahui kenyataan tidak selalu membuat seseorang mampu menerimanya.
Setelah beberapa putaran, mereka berhenti di sebuah taman kecil untuk beristirahat.
Loly duduk di bangku panjang sambil mengatur napas. Salah seorang temannya membuka botol minuman, sedangkan Arman berdiri tidak jauh dari mereka.
Beberapa saat kemudian Loly membuka jaket olahraganya.
Di baliknya terdapat sweater merah.
Arman terdiam.
Entah mengapa, setiap kali Loly mengenakan sweater merah, pandangannya selalu sulit berpaling.
Warna itu seolah membuat Loly terlihat berbeda.
Lebih hidup.
Lebih menarik.
Loly hanya merapikan rambutnya lalu duduk kembali.
Tidak ada sesuatu yang istimewa.
Tetapi justru pemandangan sederhana itu tertanam kuat di kepala Arman.
Sweater merah.
Senyum Loly.
Cara perempuan itu tertawa.
Sejak pagi itu, Arman mulai menyadari bahwa perasaannya sudah berubah.
Dia tidak lagi puas hanya menjadi teman.
Hari-hari berikutnya, bayangan Loly semakin sering muncul dalam pikiran Arman.
Ketika dia pergi ke sawah, wajah Loly terlintas.
Ketika berjalan melewati hutan kecil di pinggir kampung, dia kembali mengingat suara tawanya.
Bahkan ketika duduk di sebuah taman dan melihat kupu-kupu beterbangan, entah mengapa yang terbayang tetap Loly.
Arman mulai merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Seolah apa pun yang dilihatnya selalu mempunyai hubungan dengan perempuan itu.
Namun yang paling membuatnya tidak tenang adalah Tamar.
Setiap kali melihat sepupunya berjalan bersama Loly, ada rasa tidak nyaman yang semakin sulit disembunyikan.
Suatu sore, Arman melihat Tamar mengantar Loly pulang.
Loly tertawa kecil ketika Tamar mengatakan sesuatu.
Arman berdiri dari kejauhan.
Tangannya mengepal.
“Kenapa harus Tamar?”
Dia segera mengalihkan pandangan.
Namun rasa iri itu sudah terlanjur tumbuh.
Sejak saat itu Arman mulai mencari berbagai cara halus untuk membuat Loly lebih memperhatikannya.
Dia lebih sering mengirim pesan.
Menawarkan bantuan.
Mencari alasan untuk bertemu.
Kadang sengaja muncul ketika Loly sedang bersama teman-temannya.
Namun Loly tetap bersikap biasa.
Bahkan suatu hari, ketika mereka sedang duduk berdua, Loly berkata,
“Man, kamu itu teman yang baik.”
Arman tersenyum.
“Cuma teman?”
Loly tertawa kecil.
“Memangnya kamu mau apa?”
Arman terdiam.
Loly kemudian menatapnya serius.
“Kamu tahu aku sama Tamar.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan sampai salah paham.”
Arman mengangguk.
“Iya.”
Loly kembali tersenyum.
Namun setelah perempuan itu pergi, senyum Arman menghilang.
Kalimat itu justru membuat hatinya semakin gelisah.
Dia tidak ingin terus menjadi orang yang hanya bisa melihat.
Dia ingin dipilih.
Dan keinginan itu perlahan berubah menjadi obsesi.
Beberapa hari kemudian, Arman mendengar tentang laku puasa mutih.
Awalnya dia hanya menganggapnya sebagai salah satu cara untuk menenangkan pikiran.
Namun setelah mengetahui bahwa ada orang-orang yang mengaitkannya dengan laku batin dan pengasihan, pikirannya mulai tertarik.
Dia memutuskan menjalani puasa mutih selama tujuh hari.
Hari pertama masih terasa mudah.
Hari kedua tubuhnya mulai lemas.
Hari ketiga rasa lapar semakin kuat.
Namun setiap kali ingin berhenti, wajah Loly kembali muncul dalam pikirannya.
Hari keempat.
Hari kelima.
Hari keenam.
Tubuh Arman semakin lemah, tetapi keinginannya justru semakin kuat.
Dia hanya mempunyai satu pikiran.
Loly harus menjadi miliknya.
Pada hari ketujuh, Arman menyelesaikan laku tersebut.
Malamnya dia duduk sendirian di kamar.
Lampu sengaja diredupkan.
Rumah sudah sepi.
Suara jangkrik terdengar dari luar.
Arman menyandarkan tubuh ke dinding.
Matanya terasa berat.
Namun belum sempat dia memejamkan mata, terdengar suara langkah dari halaman.
Krek.
Krek.
Krek.
Arman membuka mata.
Langkah itu berhenti tepat di depan rumah.
Dia bangkit dan berjalan menuju pintu.
Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa-siapa.
Arman menatap halaman.
Kosong.
Namun saat pandangannya bergeser ke bawah pohon mangga, tubuhnya mendadak kaku.
Ada seseorang berdiri di sana.
Seorang lelaki tua dengan pakaian serba gelap.
Wajahnya samar dalam cahaya malam.
“Siapa?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Dia hanya mengangkat tangan.
Di telapak tangannya terdapat sebuah cincin.
Batu pada cincin itu berwarna gelap kemerahan.
Arman merasakan hawa hangat meskipun berdiri beberapa meter darinya.
“Apa itu?”
“Mustika Arjuna.”
Suara lelaki itu berat.
Arman menelan ludah.
“Kenapa memberikannya kepadaku?”
“Karena kau telah memanggil.”
“Aku tidak memanggil siapa-siapa.”
Lelaki itu tersenyum tipis.
“Tujuh malam kau menahan lapar demi satu keinginan.”
Dia berhenti.
“Bau niatmu sampai ke tempat kami.”
Arman terdiam.
“Tempat kalian?”
Lelaki itu tidak menjawab.
Dia hanya berjalan mendekat.
Setiap langkahnya tidak terdengar.
Ketika sudah berada di depan Arman, dia meletakkan cincin tersebut di telapak tangannya.
Seketika tubuh Arman merinding.
Hawa hangat menjalar dari telapak tangan hingga lengannya.
“Kalau kau menginginkan pengasihan, siapkan cincin ini.”
“Bagaimana?”
“Rendam tiga hari tiga malam dalam air kembang telon.”
Arman memperhatikan cincin itu.
“Setelah itu?”
“Setiap malam, ucapkan mantra ini tiga kali.”
Lelaki itu kemudian membacakan mantra perlahan.
“Mustika Arjuna, mustika asmara,
bukalah jalan rasa dan sukma.
Yang jauh mendekat, yang asing mengenal,
yang memandang menaruh kenal.
Bukan paksaan, bukan ancaman,
terbuka rasa atas kehendak alam.”
Arman mengulanginya agar tidak lupa.
“Tiga kali setiap malam?”
Lelaki itu mengangguk.
“Tiga malam.”
Arman mengangkat wajah.
“Siapa kamu?”
Lelaki itu tersenyum.
“Nama tidak penting.”
Tiba-tiba angin berembus kencang.
Daun pohon mangga bergesekan.
Arman refleks memejamkan mata.
Ketika matanya kembali terbuka, lelaki itu sudah tidak ada.
Arman menatap halaman.
Tidak ada jejak kaki.
Dia kemudian melihat cincin di telapak tangannya.
Benda itu terasa semakin hangat.
Malam itu Arman tidak tidur.
Keesokan harinya dia menyiapkan sebuah wadah berisi air.
Kembang telon dimasukkan ke dalamnya.
Kemudian cincin Mustika Arjuna diletakkan di dasar wadah.
Malam pertama, Arman duduk di depannya.
Dia membaca mantra tiga kali.
Pada bacaan terakhir, permukaan air tiba-tiba beriak.
Arman berhenti bernapas.
Padahal seluruh jendela tertutup.
Riak itu berlangsung beberapa detik sebelum perlahan menghilang.
Malam kedua, kejadian berbeda muncul.
Setelah mantra selesai dibacakan, aroma bunga mendadak memenuhi kamar.
Terlalu kuat.
Lalu terdengar suara perempuan tertawa lirih dari sudut ruangan.
Arman langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Dia kembali menatap wadah.
Cincin masih berada di dasar air.
Malam ketiga menjadi yang paling aneh.
Setelah mantra ketiga selesai, air rendaman tiba-tiba terasa hangat.
Cincin itu bergerak.
Berputar perlahan di dasar wadah.
Arman menahan napas.
Dia mengulurkan tangan dan mengambilnya.
Saat menatap permukaan air, Arman melihat bayangan lelaki tua yang datang pada malam ketujuh.
Bayangan itu tersenyum kepadanya.
Kemudian permukaan air kembali jernih.
Arman menggenggam cincin tersebut.
Ritual selesai.
Dan untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar siap mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan.
Loly.
Sejak malam ketiga ritual selesai, Arman mulai mengenakan cincin Mustika Arjuna di jari kanannya.
Tidak ada perubahan yang langsung terlihat.
Pagi itu, dia kembali berlari bersama Loly dan beberapa temannya seperti biasa.
Namun kali ini Arman datang dengan perasaan berbeda.
Dia ingin membuktikan apakah semua yang dilakukannya selama tujuh hari puasa mutih dan tiga malam ritual benar-benar membuahkan hasil.
Loly datang beberapa menit kemudian.
“Man!”
Arman menoleh.
Loly tersenyum sambil menghampirinya.
“Tumben datang duluan.”
“Memangnya biasanya aku telat?”
“Biasanya.”
Loly tertawa.
Arman ikut tersenyum.
Mereka kemudian mulai berlari bersama.
Beberapa menit pertama tidak ada yang aneh. Namun setelah beberapa putaran, Loly justru memperlambat langkahnya hingga berjalan sejajar dengan Arman.
“Kamu kok diam?”
“Lagi fokus lari.”
“Bohong.”
“Kenapa?”
“Biasanya kamu paling banyak ngomong.”
Arman menoleh.
Loly sedang tersenyum kepadanya.
Ada sesuatu dalam tatapan perempuan itu yang membuat Arman terdiam sejenak.
Setelah olahraga selesai, mereka beristirahat di taman kecil.
Loly duduk di bangku sambil membuka botol minuman.
Arman berdiri tidak jauh darinya.
“Man.”
“Ya?”
“Duduk sini.”
Arman mendekat.
“Ada apa?”
Loly menggeleng.
“Enggak tahu.”
Dia terdiam beberapa saat.
Kemudian berkata pelan,
“Aku akhir-akhir ini sering kepikiran kamu.”
Jantung Arman berdegup lebih cepat.
“Sering?”
Loly mengangguk.
“Padahal kita juga nggak lagi ngomongin apa-apa.”
Arman berusaha menyembunyikan senyum.
“Mungkin kamu kangen.”
Loly tertawa kecil.
“Bisa jadi.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Arman terasa penuh.
Berhasil.
Untuk pertama kalinya dia merasa benda yang didapatnya pada malam ketujuh itu benar-benar memberikan hasil.
Setelah hari itu, perubahan Loly semakin terlihat.
Loly mulai lebih sering menghubungi Arman.
Kadang hanya bertanya hal sepele.
“Kamu di mana?”
“Sudah makan?”
“Besok ikut olahraga, kan?”
Bahkan beberapa kali Loly menghubunginya hanya karena ingin mengobrol.
Arman selalu menanggapi.
Dia menikmati setiap perhatian itu.
Suatu sore mereka bertemu di sebuah kedai kecil.
Loly datang mengenakan sweater merah.
Arman langsung terdiam.
Pakaian itu mengingatkannya pada Minggu pagi ketika benih perasaannya mulai tumbuh.
Namun kali ini Loly duduk tepat di hadapannya.
Bukan sekadar bayangan di kejauhan.
“Kenapa lihat aku terus?” tanya Loly.
Arman tersenyum.
“Kamu cantik.”
Loly menunduk.
“Baru sekarang bilang?”
“Kalau dari dulu bilang, nanti kamu besar kepala.”
“Memangnya sekarang aku nggak besar kepala?”
Mereka tertawa.
Suasana terasa ringan.
Beberapa saat kemudian Loly menjadi lebih diam.
“Man.”
“Hm?”
“Kamu masih suka aku?”
Arman menatapnya.
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.
“Iya.”
Loly tidak langsung menjawab.
Dia memainkan ujung lengan sweaternya.
“Aku sendiri nggak tahu kenapa.”
“Kenapa apa?”
“Belakangan ini aku merasa nyaman banget kalau sama kamu.”
Arman menahan napas.
“Kalau begitu jangan jauh-jauh.”
Loly tersenyum kecil.
Hubungan mereka semakin dekat.
Mereka mulai sering berjalan bersama.
Kadang duduk di taman sampai sore.
Kadang mengobrol melalui telepon hingga malam.
Loly bahkan mulai menunjukkan rasa cemburu.
Suatu sore seorang teman perempuan Arman menyapanya.
Mereka hanya berbicara beberapa menit.
Namun setelah perempuan itu pergi, Loly menjadi diam.
“Kenapa?”
“Enggak.”
“Kamu marah?”
“Enggak.”
Arman tersenyum.
“Kamu cemburu?”
Loly menatapnya.
“Aku nggak tahu.”
Jawaban itu membuat Arman semakin yakin.
Dia merasa semua yang diinginkannya mulai menjadi kenyataan.
Sampai akhirnya Loly mengatakan sesuatu yang membuat Arman hampir tidak percaya.
“Aku mulai bingung sama perasaanku ke Tamar.”
Arman terdiam.
“Maksud kamu?”
“Aku masih sayang sama dia.”
Loly menarik napas.
“Tapi entah kenapa sekarang aku lebih sering memikirkan kamu.”
Arman tidak langsung menjawab.
Di dalam hati, kebahagiaan membuncah.
Selama ini dia hanya bisa melihat Tamar berjalan bersama Loly.
Sekarang Loly sendiri mulai mempertanyakan hubungannya dengan Tamar.
Arman merasa akhirnya menang.
Perubahan itu tentu saja diketahui Tamar.
Suatu sore Tamar menemui Arman.
“Kamu sering ketemu Loly?”
Arman pura-pura santai.
“Kenapa?”
“Belakangan dia berubah.”
Arman diam.
“Dia sering ngomongin kamu.”
Arman tersenyum tipis.
“Terus?”
Tamar menatapnya.
“Kamu suka sama Loly, kan?”
Arman tidak menjawab.
Jawaban itu sudah cukup.
Tamar menghela napas.
“Dia pacarku, Man.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa?”
Arman menatap sepupunya.
“Karena aku juga punya perasaan.”
Tamar terdiam.
Tidak ada pertengkaran.
Namun sejak hari itu hubungan mereka mulai renggang.
Arman tidak peduli.
Dia sudah terlalu menikmati perubahan Loly.
Dan perlahan, keberhasilan itu membuat pikirannya berubah.
Awalnya Arman hanya ingin mendapatkan Loly.
Tetapi setelah melihat betapa mudahnya perempuan itu mendekatinya, muncul rasa penasaran.
Suatu hari dia bertemu seorang perempuan yang menurutnya menarik.
Arman memperhatikan perempuan itu.
Tangannya menyentuh cincin Mustika Arjuna.
Dia mencoba.
Tidak lama kemudian perempuan tersebut mulai memberikan perhatian kepadanya.
Arman terkejut.
Namun rasa terkejut itu segera berubah menjadi kesenangan.
Dia mencoba lagi kepada perempuan lain.
Berhasil.
Kemudian yang lain.
Berhasil lagi.
Sedikit demi sedikit, Arman mulai kehilangan batas.
Cincin yang awalnya dia gunakan karena Loly berubah menjadi alat untuk memenuhi keinginannya.
Setiap kali melihat perempuan yang menarik perhatiannya, muncul pikiran yang sama.
Kalau aku mau, aku bisa mendapatkannya.
Dia mulai lupa pada rasa cinta yang menjadi alasan pertama dirinya melakukan semua itu.
Loly perlahan berubah dari tujuan menjadi sekadar bagian dari keberhasilannya.
Arman semakin percaya diri.
Semakin berani.
Dan semakin dikuasai nafsu.
Sampai suatu hari dia bertemu seseorang dari masa lalu.
“Arman?”
Langkah Arman terhenti.
Suara itu terasa familiar.
Dia menoleh.
Seorang perempuan berdiri beberapa meter darinya.
Rambutnya sebahu.
Wajahnya terlihat lebih dewasa daripada terakhir kali Arman melihatnya.
Arman memperhatikannya beberapa detik.
“Aqifah?”
Perempuan itu langsung tersenyum.
“Ya ampun. Akhirnya kamu kenal juga.”
Arman tertawa.
“Gila. Kapan terakhir kita ketemu?”
“Sudah lama banget.”
Aqifah adalah teman lama Arman.
Dulu mereka cukup dekat. Sering mengobrol, sering berkumpul bersama teman-teman, bahkan beberapa kali pergi bersama.
Namun setelah Aqifah pindah mengikuti keluarganya, mereka kehilangan kontak.
“Kamu sekarang tinggal di sini lagi?” tanya Arman.
“Baru beberapa hari.”
“Pantas aku nggak pernah lihat.”
Aqifah memperhatikannya.
“Kamu juga berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Lebih percaya diri.”
Arman tertawa.
“Dulu aku nggak percaya diri?”
“Dulu kamu pendiam.”
“Sekarang?”
“Sekarang banyak gaya.”
Mereka tertawa.
Percakapan itu terasa begitu mudah.
Seolah jarak bertahun-tahun tidak pernah ada.
Aqifah kemudian melihat tangan Arman.
“Cincinmu bagus, Man.”
Arman mengikuti pandangannya.
“Ini?”
“Iya.”
“Biasa aja.”
“Kelihatannya bukan cincin biasa.”
Arman tersenyum.
“Anggap saja kenang-kenangan.”
Aqifah mengangguk.
“Cocok sama kamu.”
“Kenapa?”
“Entahlah.”
Aqifah tersenyum.
“Pokoknya cocok.”
Tidak ada pembicaraan lagi tentang cincin itu.
Mereka melanjutkan percakapan tentang masa lalu.
Tentang teman-teman lama.
Tentang tempat yang pernah mereka datangi.
Tentang masa ketika hidup Arman masih jauh lebih sederhana.
Justru percakapan itu yang membuat Arman semakin tertarik kepada Aqifah.
Ada sesuatu yang berbeda.
Aqifah mengenal dirinya sebelum dirinya berubah.
Dan tanpa Arman sadari, ketertarikan lama yang dulu tidak pernah menjadi apa-apa mulai muncul kembali.
Namun kali ini Arman sudah memiliki Mustika Arjuna.
Beberapa hari kemudian Arman bertemu Aqifah lagi.
Mereka berbincang cukup lama.
Aqifah masih sama seperti yang dia ingat.
Tenang.
Tidak mudah terbawa suasana.
Dan tidak seperti perempuan-perempuan lain yang belakangan mudah memberikan perhatian kepadanya.
Hal itu justru membuat Arman semakin tertarik.
Sore itu, ketika Aqifah pamit, Arman menatap punggungnya sampai menghilang.
Tangannya kemudian menyentuh cincin Mustika Arjuna.
Dia tersenyum.
Sekali saja.
Arman mengarahkan niatnya.
Namun tidak terjadi apa-apa.
Aqifah terus berjalan.
Arman mengerutkan dahi.
Dia mencoba lagi.
Tetap tidak ada perubahan.
Aqifah bahkan tidak menoleh.
“Kenapa?”
Untuk pertama kalinya sejak memakai cincin tersebut, Arman merasa bingung.
Kemudian sesuatu terjadi.
Cincin di jarinya terasa hangat.
Arman menunduk.
Hawa hangat itu semakin kuat.
Menjalar dari jarinya menuju telapak tangan.
Kemudian naik ke lengan.
Arman menarik napas.
“Panas...”
Beberapa detik kemudian rasa itu berubah menjadi panas yang menusuk.
Seolah ada bara menyala di bawah kulitnya.
Arman spontan mencoba melepas cincin.
Namun sebelum berhasil, rasa panas itu semakin menjadi-jadi.
Dia akhirnya berhasil mencabutnya.
Cincin tergeletak di telapak tangannya.
Tetapi tubuh Arman tetap terasa terbakar.
Dia menatap Aqifah yang sudah semakin jauh.
Perempuan itu sama sekali tidak berubah.
Tidak terpengaruh.
Tidak menoleh.
Tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Arman menggenggam cincin tersebut.
Wajahnya mulai pucat.
Selama ini dia mengira dirinya mengendalikan cincin itu.
Namun sekarang dia mulai menyadari sesuatu yang mengerikan.
Benda itu ternyata juga memiliki kehendaknya sendiri.
Dan entah mengapa, ketika diarahkan kepada Aqifah...
kekuatan yang selama ini dia gunakan kepada orang lain justru kembali menyerangnya.
Rasa panas itu belum berhenti.
Malamnya semakin parah.
Dan Arman belum tahu bahwa penderitaan tersebut akan terus mengikutinya selama hampir dua minggu.
Malam itu Arman tidak bisa tidur.
Tubuhnya masih terasa panas.
Awalnya dia mengira rasa tersebut akan hilang setelah cincin dilepas. Namun ternyata tidak.
Dia sudah meletakkan Mustika Arjuna di atas meja, jauh dari tubuhnya.
Tetapi hawa panas itu tetap terasa.
Arman bangkit dari tempat tidur.
Keringat membasahi dahinya.
Dia mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis.
“Kenapa begini?”
Tidak ada jawaban.
Matanya kemudian tertuju pada cincin yang tergeletak di atas meja.
Benda itu tampak biasa.
Kecil.
Tidak berbeda dari cincin lain.
Namun beberapa jam sebelumnya, ketika dia mencoba menggunakannya kepada Aqifah, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya justru muncul.
Bukan Aqifah yang terpengaruh.
Dirinya sendiri yang terkena akibatnya.
Keesokan harinya Arman masih merasakan hawa panas tersebut.
Dia berusaha menjalani aktivitas seperti biasa.
Namun tubuhnya terasa tidak nyaman.
Setiap kali mengingat Aqifah, rasa panas itu seperti kembali meningkat.
Yang membuatnya semakin bingung adalah sikap Aqifah.
Perempuan itu sama sekali tidak menunjukkan perubahan.
Tidak lebih dekat.
Tidak lebih perhatian.
Tidak pula menjauh.
Ketika mereka kembali bertemu beberapa hari kemudian, Aqifah malah menatap wajah Arman cukup lama.
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Wajahmu pucat.”
“Cuma kurang tidur.”
Aqifah mengerutkan kening.
“Sejak ketemu aku kemarin, kamu memang kelihatan aneh.”
Arman tertawa kecil.
“Perasaan kamu saja.”
Aqifah tidak ikut tertawa.
Dia justru memperhatikannya lebih lama.
“Man.”
“Hm?”
“Kamu berubah.”
Arman terdiam.
“Berubah bagaimana?”
Aqifah mengangkat bahu.
“Aku juga nggak tahu.”
Dia tersenyum tipis.
“Dulu kamu lebih sederhana.”
Arman tidak menjawab.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya setelah mereka berpisah.
Dulu kamu lebih sederhana.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat.
Rasa panas itu tidak hilang.
Hari ketiga.
Hari kelima.
Hari ketujuh.
Semakin lama, Arman semakin sulit berkonsentrasi.
Kadang tubuhnya terasa normal selama beberapa jam.
Namun kemudian panas itu datang lagi.
Seperti bara yang menyala dari dalam tubuh.
Arman mulai takut.
Dia bahkan tidak berani lagi menyentuh cincin tersebut.
Setiap melihat benda itu, dia teringat pada lelaki misterius yang memberikannya pada malam ketujuh.
Bau niatmu sampai ke tempat kami.
Arman bergidik.
Selama ini dia terlalu sibuk menikmati hasilnya sampai lupa bertanya:
Apa sebenarnya yang sudah dia undang ke dalam hidupnya?
Hampir dua minggu berlalu.
Rasa panas itu belum juga sepenuhnya hilang.
Arman akhirnya memutuskan mencari seseorang yang mungkin bisa memberinya jalan keluar.
Dia teringat kepada seorang senior yang pernah dikenalnya.
Namanya Buang.
Orang-orang biasa memanggilnya Mas Buang.
Arman mendatanginya sore hari.
Mas Buang sedang duduk di teras rumah ketika Arman datang.
“Man?”
“Iya, Mas.”
“Kamu kenapa?”
Arman duduk.
Wajahnya terlihat lelah.
“Saya mau cerita.”
Mas Buang memperhatikannya.
“Cerita saja.”
Awalnya Arman ragu.
Namun akhirnya dia menceritakan semuanya.
Tentang Loly.
Tentang Tamar.
Tentang rasa iri yang muncul ketika melihat mereka bersama.
Tentang keinginannya memiliki Loly.
Tentang puasa mutih tujuh hari.
Tentang lelaki misterius yang datang pada malam ketujuh.
Tentang Cincin Mustika Arjuna.
Tentang kembang telon.
Tentang mantra yang dibacanya tiga malam.
Tentang perubahan Loly.
Tentang perempuan-perempuan lain yang kemudian dia dekati.
Dan akhirnya tentang Aqifah.
Mas Buang mendengarkan tanpa memotong.
Setelah Arman selesai, suasana menjadi hening.
“Kamu masih punya cincin itu?”
Arman mengangguk.
“Masih.”
“Dibawa?”
Arman mengeluarkannya dari saku.
Mas Buang tidak langsung menyentuhnya.
Dia hanya memandang benda itu.
“Kenapa kamu pakai ini?”
“Awalnya cuma buat Loly.”
“Terus?”
Arman menunduk.
“Saya berhasil.”
Mas Buang menghela napas.
“Setelah berhasil?”
Arman diam.
“Saya mulai menggunakannya ke perempuan lain.”
Mas Buang mengangguk pelan.
“Jadi dari awal kamu ingin mendapatkan seseorang. Setelah mendapatkannya, kamu malah ingin mendapatkan semua orang.”
Arman tidak mampu menjawab.
Beberapa saat kemudian Arman bertanya,
“Mas, kenapa cincin itu nggak mempan ke Aqifah?”
Mas Buang tidak langsung menjawab.
Dia menatap Arman.
“Menurutmu kenapa?”
“Saya nggak tahu.”
“Kamu benar-benar ingin tahu?”
“Iya.”
Mas Buang menghela napas.
“Mungkin karena perasaan Aqifah memang tidak bisa kamu paksa.”
Arman mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Kamu lihat sendiri. Perempuan-perempuan yang sebelumnya kamu dekati sudah punya kedekatan tertentu denganmu. Ada rasa penasaran, ketertarikan, kenyamanan, atau sesuatu yang bisa kamu dorong.”
Arman diam.
“Lalu Aqifah?”
“Dia mengenalmu sebelum kamu seperti sekarang.”
Arman menatap lantai.
Mas Buang melanjutkan,
“Dia punya penilaian sendiri tentang kamu.”
“Jadi dia kebal?”
“Jangan buru-buru menyebutnya kebal.”
Mas Buang menggeleng.
“Bisa jadi bukan soal kebal.”
“Terus?”
“Cincin itu mungkin bekerja dengan mendorong sesuatu yang sudah ada.”
Arman mengangkat wajah.
“Kalau tidak ada yang bisa didorong?”
Mas Buang menatapnya.
“Mungkin yang kamu dorong justru kembali kepadamu.”
Arman terdiam.
Kata-kata itu terasa menusuk.
Selama ini dia mengira dirinya mengendalikan cincin.
Ternyata mungkin justru sebaliknya.
“Mas, terus saya harus bagaimana?”
Mas Buang menatapnya serius.
“Berhenti.”
Arman terdiam.
“Berhenti mengejar pengasihan.”
“Cincinnya?”
“Jangan gunakan lagi.”
Arman mengangguk.
“Dan kamu harus bertobat.”
Kata itu membuat Arman menunduk.
“Selama ini kamu terlalu sibuk mencari cara agar orang lain menyukaimu.”
Mas Buang berhenti sebentar.
“Sekarang coba perbaiki dirimu sendiri.”
Arman menarik napas.
“Caranya?”
“Mulai dari ibadahmu.”
Mas Buang kemudian menyarankan Arman membaca tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah.
“Baca dengan sungguh-sungguh. Jangan menjadikannya sebagai ritual untuk melawan cincin. Baca sebagai bagian dari usahamu untuk kembali.”
Arman mengangguk.
Untuk pertama kalinya selama perjalanan panjang itu, dia tidak mencari mantra baru.
Tidak mencari benda lain.
Tidak mencari pengasihan yang lebih kuat.
Dia hanya ingin berhenti.
Malam itu Arman pulang.
Cincin Mustika Arjuna diletakkannya di atas meja.
Dia tidak menyentuhnya lagi.
Kemudian Arman mengambil Al-Qur'an.
Dia membaca tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah dengan perlahan.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada kejadian mistis.
Hanya dirinya.
Malam yang sunyi.
Dan pikirannya sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arman mengingat semuanya.
Minggu pagi bersama Loly.
Sweater merah.
Rasa iri kepada Tamar.
Puasa tujuh hari.
Lelaki misterius.
Tiga malam ritual.
Perubahan Loly.
Perempuan-perempuan lain.
Kesombongannya.
Nafsunya.
Dan akhirnya Aqifah.
Arman menutup matanya.
Dia mulai menyadari sesuatu.
Awalnya dia mengatakan dirinya mencintai Loly.
Tetapi apakah itu benar-benar cinta?
Kalau cinta berarti ingin memiliki seseorang meskipun orang itu mempunyai pilihan sendiri, mungkin yang dia rasakan sejak awal bukan cinta.
Itu keinginan untuk memiliki.
Dan keinginan itu membuatnya kehilangan kendali.
Hari berikutnya hawa panas mulai berkurang.
Tidak hilang sepenuhnya.
Namun jauh lebih ringan.
Arman terus menjalankan nasihat Mas Buang.
Dia membaca tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah dan berusaha memperbaiki dirinya.
Hari demi hari, tubuhnya semakin normal.
Sampai akhirnya rasa panas itu benar-benar hilang.
Hampir dua minggu penderitaan itu berakhir.
Arman duduk sendirian di kamarnya.
Cincin Mustika Arjuna masih berada di atas meja.
Dia mengambilnya.
Tidak ada lagi rasa panas.
Tidak ada sensasi aneh.
Hanya sebuah benda kecil yang kini terasa jauh berbeda dibandingkan ketika pertama kali menerimanya.
Dulu dia melihat cincin itu sebagai jalan untuk mendapatkan Loly.
Kemudian sebagai alat untuk mendapatkan perempuan lain.
Sekarang dia melihatnya sebagai sesuatu yang mengingatkan dirinya pada kesalahan.
Arman mengambil sebuah kotak kecil.
Dia memasukkan cincin tersebut ke dalamnya.
Tidak dibuang.
Tidak dipakai.
Hanya disimpan.
Sebelum menutup kotak, Arman menatap cincin itu untuk terakhir kalinya.
“Cukup.”
Dia menutupnya.
Bukan karena dia masih percaya pada kekuatannya.
Bukan pula karena takut menggunakannya lagi.
Tetapi karena dia ingin mengingat bahwa pernah ada masa ketika dirinya begitu terobsesi mendapatkan seseorang sampai rela melakukan apa saja.
Cincin itu dia simpan sebagai pengingat.
Pengingat bahwa keinginan yang tidak dikendalikan dapat mengubah seseorang.
Dan bahwa perasaan orang lain bukan sesuatu yang pantas dipaksa hanya demi memenuhi keinginan diri sendiri.
Di luar kamar, suara angin malam terdengar melewati pepohonan.
Arman memandang ke luar jendela.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya terasa benar-benar tenang.
Loly tetap mempunyai jalan hidupnya sendiri.
Aqifah tetap menjadi Aqifah.
Dan Arman akhirnya harus belajar menerima bahwa tidak semua orang yang dia inginkan harus menjadi miliknya.
TAMAT.