Bel istirahat pertama baru saja berdentang, namun atmosfer di ruang kelas XII MA Nurul Falah langsung berubah menjadi arena taruhan terselubung. Hari itu kelas sedang jam kosong karena guru geografi berhalangan hadir. Bukannya dipakai belajar, barisan meja belakang yang dihuni rombongan cowok malah mendadak bising. Akbar dengan wajah cerianya sudah berdiri di atas kursi sambil memegang sapu ijuk, bertindak sebagai juru lelang dadakan yang memicu tawa seisi kelas.
Pemicunya sederhana, tapi krusial bagi kelangsungan hidup anak sekolah: rebutan satu-satunya colokan listrik yang berfungsi di dekat loker belakang.
Di sudut depan, Humay yang enerjik tampak tertawa lepas sampai memukul-mukul meja Naila karena melihat Sule yang sedang bersujud di lantai demi memohon agar kabel pengisi daya ponselnya tidak dicabut oleh Ula. Ula yang terkenal toxic tapi aslinya solider itu hanya mengacungkan jempol terbalik sambil menyemburkan sumpah serapah khas tongkrongan yang bukannya bikin sakit hati, malah memicu tawa riuh satu kelas karena polahnya yang sangat ceplas-ceplos.
Sementara itu, di barisan tengah, perhatian anak-anak pelan-pelan bergeser ke arah pintu. Tina baru saja kembali dari kantin bawah membawa dua plastik es teh manis. Tanpa perlu diminta, Rizki yang sedari tadi duduk tenang langsung berdiri, menyambut plastik es teh itu, lalu membukakan sedotannya dengan sangat telaten sebelum menyerahkannya kembali ke tangan Tina. Mereka kemudian duduk berhadapan, mengobrol berbisik sambil sesekali Rizki merapikan helai rambut Tina yang sedikit keluar dari jilbabnya.
Hubungan Tina dan Rizki memang menjadi teka-teki paling absurd di kelas XII. Semua pasang mata yang melihat interaksi mereka pasti berani bertaruh seratus persen kalau mereka pacaran. Perhatiannya sangat intens, kedekatannya konsisten, dan tatapan matanya sudah seperti dunia milik berdua. Tapi lucunya, minggu lalu saat Humay menginterogasi mereka secara blak-blakan di depan kelas, baik Tina maupun Rizki kompak menggeleng sambil tertawa polos. "Enggak, kita mah cuma temenan dekat aja," jawab Rizki sore itu, yang langsung dihadiahi sorakan tidak percaya dari Ula dan Sule. Status mereka tetap berada di area abu-abu yang belum diketahui ujungnya, membuat seisi kelas gemas setengah mati.
Meskipun fokus ke Rizki, Tina tidak pernah lupa untuk memberikan perhatian ke teman-temannya. Ia melirik ke pojok kanan belakang, tempat Angga duduk terdiam menatap layar ponselnya yang mati. Angga, si murid pendiam yang agak spesial ini sedang dilingkupi rasa sedih yang mendalam sejak tadi pagi. Di kelas yang dipenuhi anak-anak menonjol, Angga sering merasa menjadi yang paling tertinggal karena kesulitan mengikuti ritme pelajaran akademik.
Rasa minder itu mendadak menumpuk begitu berat di dadanya. Tanpa pamit ke siapa pun, Angga bangkit berdiri lalu berjalan lunglai keluar kelas, melangkah turun ke lantai bawah madrasah hanya untuk menyendiri. Sepuluh menit kemudian, ia kembali ke lantai atas dengan mata yang sudah memerah. Angga langsung menundukkan kepala di atas lipatan tangan di mejanya, menangis diam-diam dalam senyap. Bahunya bergetar halus, namun isak tangisnya tenggelam sepenuhnya oleh keriuhan suara Fahrul dan Reyhan yang sedang sibuk memperebutkan sisa keripik singkong. Tidak ada satu orang pun yang sadar bahwa si pendiam itu sedang meruntuhkan harga dirinya di pojok kelas.
Ketika bel jam pelajaran tahfidz berbunyi, Angga merasa tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Ia mengangkat tangan meminta izin keluar ke toilet dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. Sambil mendekap mushaf Al-Qur'an kecilnya, Angga berjalan cepat menuju koridor sepi di dekat tangga luar. Ia duduk bersandar di tegel dingin, membuka lembaran kitab suci, lalu mulai membaca dengan suara bergetar. Air matanya luruh deras, mengalir bersama lantunan ayat yang ia baca di sela isak yang sengaja ia redam di tempat sunyi itu.
Keesokan harinya, dinamika kelas XII berputar ke babak yang lebih menegangkan. April masuk ke kelas dengan gayanya yang sangat cool, dingin, dan kalem. Ia langsung duduk tanpa memedulikan kehebohan Ula yang sedang menjahili Humay dengan menyembunyikan kotak pensilnya. Di meja seberang, Akbar yang ceria juga tampak sangat akrab sedang berbagi cerita lucu dengan Naila yang baru kembali dari pondok Al-Taqwa Cimindi.
Ketenangan itu mendadak bubar saat pintu kelas diketuk. Satu per satu murid kelas XII mulai dipanggil secara maraton ke ruang guru untuk diinterogasi mengenai rencana masa depan mereka setelah lulus oleh Bu Sita, guru SBK yang terkenal bermata elang dan bermuka dingin.
Humay masuk sebagai pembuka dengan langkah tegap. "Humay, kamu mau lanjut ke mana? Jangan cuma mengandalkan jalur rapor!" suara Bu Sita menekan. Humay langsung menjawab dengan nada enerjik andalannya, "Mau coba rumpun soshum di universitas Bandung, Bu. Tetap belajar buat mandiri kok kalau rapor meleset!"
Setelah Humay, giliran Rafly yang masuk dengan pembawaan yang sangat cool. "Saya mau ambil teknik informatika, Bu. Langkah-langkah tes tulisnya sudah saya cicil dari semester ganjil," jawab Rafly taktis, membuat Bu Sita mengangguk puas tanpa banyak mendebat kecerdasan cowok itu.
Berikutnya, Putri maju menyerahkan berkas prestasinya. "Saya mau melanjutkan studi ke Cairo University di Mesir, Bu. Berkas pendaftaran dan hafalan saya sedang diverifikasi untuk jalur beasiswa penuh," tutur Putri matang, membuat Bu Sita yang biasanya sedingin es seketika melongo bangga melihat sang Duta Pelajar menembus Kairo.
Ketegangan makin kocak saat rombongan barisan belakang giliran dipanggil. Fahrul masuk dengan langkah ragu. "Fahrul, rencana kamu apa?" tanya Bu Sita tajam. Fahrul meringis, "Mau masuk jurusan olahraga, Bu. Biar bisa jadi guru penjas." Bu Sita mendengus kecil, "Nilai teori kamu harus dikejar lagi."
Momen paling pecah terjadi saat Reyhan masuk ke ruang guru. Ternyata di dalam ruangan tidak hanya ada Bu Sita, tapi juga ada Pak Aep Saepudin yang sedang berdiri berwibawa memegang tongkat komando kecilnya. Begitu Reyhan dipanggil dan berdiri tegap dengan rambut klimisnya yang sengaja disisir rapi mengenakan minyak rambut berlebih, Pak Aep langsung memicingkan mata. Kepala sekolah yang biasanya kaku itu berjalan memutari tubuh Reyhan sambil mengetuk-ngetukan tongkatnya ke lantai.
"Saya mau ikut tes akademi militer jadi tentara, Bu," ucap Reyhan mantap, mencoba memberikan kesan gagah.
Pak Aep tiba-tiba berhenti tepat di depan Reyhan. Beliau menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu sedetik kemudian menepuk pelan dada Reyhan dengan tongkat komandonya sampai cowok itu tersentak.
"Lu mau jadi tentara atau mau jadi sales? Rapi amat!" celetuk Pak Aep dengan nada berwibawa tapi nadanya terdengar sangat sarkas.
Reyhan langsung menelan ludah, badannya mendadak kaku jiga patung. Bu Sita di sebelahnya sampai harus menunduk demi menutupi senyum yang hampir pecah.
Pak Aep belum selesai. Beliau maju satu langkah lagi, mendekatkan wajahnya ke arah leher Reyhan yang beraroma minyak wangi menyengat, lalu mendengus meremehkan. "Heh, zaman sekarang tuh udah gak modal cupang di leher! Di ketek elu tuh!" seru Pak Aep tiba-tiba sambil mengetuk pundak Reyhan keras-keras pakai tongkatnya, menyindir aroma parfum Reyhan yang saking menyengatnya malah dikira buat menutupi bau badan.
"Siap, bukan cupang Pak! Ini parfum!" jawab Reyhan panik dengan suara melengking refleks, membuat mental militernya runtuh seketika. Ula dan Sule yang diam-diam mengintip dari balik celah pintu ruang guru langsung membekap mulut masing-masing, menahan tawa sampai perut mereka kaku melihat Reyhan dites habis-habisan oleh kepala sekolah dengan cara sekocak itu.
Setelah Reyhan keluar dengan muka pucat bercampur malu, duet maut Ula dan Sule masuk bersamaan membuat Bu Sita memijat pelipisnya. "Kalian berdua ini mau jadi apa setelah lulus?" Ula yang biasanya toxic langsung mendadak formal dengan gaya ceplas-ceplosnya, "Saya mau langsung kerja bantu ortu, Bu, tapi kalau ada modal mau coba daftar kuliah malam." Sule buru-buru menimpali, "Saya mau masuk jurusan seni, Bu, biar bakat melawak saya legal dan bersertifikat!" Jawaban Sule langsung membuat Ula menyenggol lengan Sule dengan keras sampai cowok itu mengaduh, sementara Bu Sita hanya bisa geleng-geleng kepala menahan gemas.
Puncak badai justru terjadi pada keesokan harinya. Jam pelajaran Akidah Akhlak yang biasanya ceria dan penuh tawa berubah menjadi neraka fana. Pintu kelas digebrak pelan. Bu Umi masuk dengan wajah merah padam, matanya berkaca-kaca menahan amarah sekaligus kekecewaan yang teramat dalam. Map Akidah Akhlak di tangannya diletakkan di meja guru dengan hentakan keras. Seisi kelas seketika senyap.
"Sule! Fahrul! Reyhan! Revail! Berdiri kalian semua!" suara Bu Umi meninggi, bergetar hebat. Keempat cowok itu bangkit berdiri dengan kepala tertunduk dalam.
"Ibu kurang sayang apa sama kalian, hah?!" air mata Bu Umi akhirnya luruh, membasahi pipinya. Guru Akidah Akhlak yang biasanya selalu ceria itu kini menangis di depan murid-muridnya. "Kalian ini sudah kelas dua belas, sebentar lagi mau lulus dari madrasah! Kenapa kalian masih sering merokok di warung bawah? Jaga akhlak kalian! Ibu malu, Ibu sedih melihat kelakuan kalian yang tidak bisa menjaga nama baik diri sendiri dan sekolah di akhir masa studi kalian di sini!"
Suasana kelas benar-benar mencekam. Isak tangis Bu Umi membuat keempat cowok itu hanya bisa menatap lantai dengan rasa bersalah yang teramat dalam. Sule menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak penyesalan yang mendadak menyerang dadanya.
Namun, di tengah suasana yang sedang menguras emosi itu, Bu Umi tiba-tiba menghapus air matanya dengan tisu. Wajahnya yang semula merah padam karena sedih, mendadak berubah menjadi mode interogasi yang dingin dan tajam. Beliau menatap tajam ke arah barisan belakang, membuat seisi kelas menahan napas.
"Dan satu lagi!" ketus Bu Umi, suaranya kembali tegas berwibawa. "Yang kemarin sore semuanya langsung kabur pulang setelah jam pelajaran bahasa Indonesia siapa?! Jam dua siang Bu Yusi nanya tuh ke Ibu, nyariin anak-anak cowok yang jadwalnya piket malah ilang tanpa jejak. Sana kalian berempat sekalian ke ruang guru, Bu Yusi sudah nungguin dari tadi!"
Suasana kelas yang tadinya sedih mendadak pecah oleh kepanikan terselubung. Sule dan Fahrul refleks saling melirik dengan mata terbelalak, menyadari hukuman berlapis sudah menanti mereka di ruang guru.
Bab 2 selesai.
------------------------------