Malam di atas bukit itu dinginnya menusuk hingga ke sela-sela rusuk, tipe dingin yang membuat kenangan paling rapi yang tersimpan di sudut kepala mendadak mencair dan menetes satu per satu.
Aldebaran Airlangga—sebut saja dia Al—menyesap piringan hitam udara malam yang pekat. Di usianya yang genap tiga puluh satu tahun dua bulan lalu, hidup Al seharusnya sudah beres secara manual instruksi sosial masyarakat: karier mapan sebagai data scientist independen, tabungan cukup untuk mencicil rumah di kawasan urban, serta wajah bergaris tegas dengan mata teduh yang selalu berhasil mencuri perhatian wanita di ruang-ruang kopi ramah lingkungan. Namun, di balik segala kerapian itu, ada ruang seluas tata surya yang kosong di dalam dadanya.
Sebuah lorong hitam yang meluas tiap kali ia memandang ke atas, menembus atmosfer, mencari sesuatu yang hilang di antara titik-titik cahaya yang berjarak puluhan tahun cahaya.
Al adalah seorang pemuda tiga puluh tahunan dengan problematika klasik yang terbungkus rapi: kejenuhan akan ekosistem kencan modern yang instan, tekanan implisit keluarga tentang istilah "menikah dan menetap", serta rasa sepi mendalam yang justru terasa makin tajam di tengah keriuhan kota. Bagi Al, kencan via aplikasi hanyalah transaksi kurasi foto dan pilihan kata yang lelah. Tidak ada soul. Tidak ada gravitasi.
Kecuali sewaktu Stella hadir.
Malam ini, di observatorium pribadi buatan sendiri di pekarangan belakang rumahnya yang terletak di pinggiran kota yang tenang, Al merakit teleskop refraktor berdiameter seratus lima puluh milimeter miliknya. Tangannya yang berjemari panjang dan cekatan memutar kenop fokus dengan kelembutan yang hampir puitis. Hobi astronominya bukan sekadar pelarian maskulin dari tumpukan kode pemograman; itu adalah bahasanya mencintai dunia. Astronomi mengajarinya cara bersabar menunggu cahaya lama sampai ke matanya, mengajarinya bahwa apa yang terlihat bersinar terang di langit malam, bisa jadi sebenarnya sudah hancur berantakan ribuan tahun yang lalu.
Sama seperti hubungannya dengan Stella.
"Kau selalu mencari bintang yang paling jauh, Al," suara itu bergema dalam ingatan Al, jernih dan manis seperti denting cangkir porselen yang beradu dengan sendok teh. "Padahal yang berdiri tepat di sampingmu ini juga butuh dipandang dengan rasa takjub yang sama."
Al memejamkan mata. Bayangan Stella hadir begitu nyata: gaun terusan warna lavender, rambut bergelombang yang berbau aroma vanilla dan hujan, serta tawa riang yang dulu sanggup meruntuhkan seluruh pertahanan logika Al. Tiga tahun mereka menenun mimpi. Tiga tahun yang dipenuhi catatan-catatan kecil beraroma parfum di atas meja kerja, puisi-puisi pendek buatan Al yang diselipkan di dalam saku jaket Stella, dan malam-malam panjang yang dihabiskan berdua di atas kap mobil, memandangi rasi bintang Orion sambil membicarakan masa depan yang tampak begitu pasti.
Al telah mengorbankan segalanya untuk Stella. Ia menolak tawaran promosi posisi direktur riset di Singapura demi tidak meninggalkan Stella yang sedang membangun studio desainnya di Jakarta. Ia menguras seluruh tabungan investasinya demi membantu menutup kerugian finansial studio Stella sewaktu ditipu oleh klien nakal dua tahun lalu. Bahkan, Al menunda impian terbesarnya untuk membeli kapel observatorium kecil di kawasan Bosscha, hanya agar ia bisa membayar uang muka untuk calon rumah masa depan mereka.
Bagi Al, pengorbanan bukan kalkulasi rugi-laba. Pengorbanan adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta—sebuah orbital rotasi di mana ia merelakan dirinya menjadi planet sekunder, mengelilingi Stella yang menjadi pusat tatasuryanya.
Namun, dalam hukum fisika maupun hukum hati, tidak ada orbit yang benar-benar abadi tanpa kejanggalan.
Pengkhianatan itu tidak datang dengan ledakan dramatis seperti drama televisi. Ia datang merayap, halus, dan dingin bagaikan embun beracun di penghujung musim kemarau.
Satu bulan yang lalu, Al menemukan sebuah nama yang terus muncul di layar ponsel Stella pada jam-jam yang tidak wajar: Aris. Rekan bisnis baru Stella yang bermodal besar, tampan dengan gaya hidup flamboyan, dan memiliki segala hal yang tidak dimiliki oleh seorang Al yang tenang dan cenderung kontemplatif.
Al awalnya memilih untuk percaya. Rasa percayanya pada Stella adalah dogmatis, bagaikan hukum gravitasi Newton yang tak pernah dipertanyakan. Namun, kebenaran punya cara unik untuk menelanjangi dirinya sendiri. Di suatu malam gerimis, saat Al berniat memberikan kejutan manis dengan membawa sekotak stroberi celup cokelat kesukaan Stella ke studionya, Al menyaksikan dari balik kaca jendela yang dibasahi air: Stella sedang berada di dalam pelukan Aris. Bukan pelukan ramah seorang kolega. Itu adalah pelukan penuh kerinduan, diikuti oleh ciuman lembut di bibir yang selama tiga tahun ini hanya menjadi milik Al.
Dunia Al runtuh tanpa suara. Tidak ada kaca yang pecah, tidak ada teriakan histeris. Hanya ada bunyi retakan halus di dalam dadanya—sebuah fraktur yang menyebarkan rasa sakit ke seluruh aliran darahnya.
Stella tidak tahu bahwa Al melihatnya malam itu. Dan Al, dengan segala kesantunan dan kepedihan yang ditahannya, memilih untuk tidak langsung melabraknya. Ia ingin memberi waktu. Ia ingin melihat sejauh mana Stella akan melangkah dalam kebohongan ini, atau apakah ada sedikit saja sisa nurani yang membuat wanita itu jujur padanya.
Dan malam ini adalah Hari Terakhir Rindu. Hari di mana Stella berjanji akan datang ke bukit observatorium Al untuk memberi keputusan akhir tentang kelanjutan rencana pernikahan mereka yang tinggal menghitung bulan.
Lensa teleskop Al kini membingkai Alpha Orionis—bintang Betelgeuse. Sebuah bintang raksasa merah yang berada di penghujung usianya. Bintang yang sedang meredup, membengkak, dan bersiap menuju ledakan supernova yang dahsyat.
"Kau sedang melihat bintang yang sekarat lagi?"
Suara langkah kaki di atas rumput basah mengejutkan Al. Ia berbalik. Stella berdiri di sana, diselimuti mantel tebal warna krem. Wajahnya cantik, namun matanya menyimpan jarak yang begitu lebar—sebuah jarak yang lebih jauh dari puluhan juta tahun cahaya.
"Betelgeuse," jawab Al pelan, suaranya bagaikan hembusan angin yang melewati celah jendela. "Dia sedang menghabiskan sisa bahan bakarnya. Lampunya masih sampai ke mata kita malam ini, Stel, tapi fisiknya di sana mungkin sudah hancur sejak ratusan tahun lalu. Menakjubkan, ya? Kita sering jatuh cinta pada sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada."
Stella terpaku. Ia melangkah mendekat, namun tertahan beberapa jengkal dari tubuh Al. "Al... ada yang ingin aku bicarakan."
"Aku tahu," pangkas Al lembut. Ia tidak ingin mendengar kalimat-kalimat klise yang dirangkai untuk memperhalus rasa bersalah. Ia menarik sebuah kursi lipat kayu dan mempersilakan Stella duduk. "Minum teh chamomile dulu? Udara malam ini tidak ramah untuk tenggorokanmu."
Sifat ramah dan perhatian Al yang tidak berkurang sedikit pun justru menjadi sembilu yang paling tajam bagi Stella. Mata wanita itu mulai berkaca-kaca.
"Kenapa kau selalu begini, Al?" suara Stella bergetar. "Kenapa kau selalu terlalu baik? Kenapa kau tidak pernah marah, tidak pernah berteriak, bahkan saat kau tahu aku... aku telah merusak segalanya?"
Al menatap Stella dalam-dalam. Di dalam pupil mata wanita itu, Al melihat bayangan dirinya sendiri—seorang pria berusia tiga puluh satu tahun yang kelelahan, yang telah menyerahkan seluruh isi dadanya hingga tak menyisakan apa pun untuk dirinya sendiri.
"Marah tidak akan mengubah arah rotasi bumi, Stel," ujar Al dengan nada puitis yang getir khas dirinya. "Dan amarah tidak akan pernah bisa mengembalikan rasa percaya yang sudah menguap. Aku menyayangimu dengan cara yang paling sederhana: membiarkanmu bahagia, meskipun bahagia itu ternyata tidak lagi berada di dalam pelukanku."
"Aku ragu, Al," aku Stella sambil menunduk, air matanya akhirnya menetes membasahi mantelnya. "Aris... dia menawarkan dunia yang berbeda. Dia ada di sana saat aku merasa hampa dengan rutinitas kita yang begitu-begitu saja. Aku mencintaimu, Al, tapi aku juga terpesona olehnya. Aku jahat, kan? Aku wanita paling buruk yang pernah kau temui."
"Kau tidak buruk, Stella," bisik Al. Kalimat itu diucapkannya bukan karena ia naif, melainkan karena ia menolak untuk mengotori kenangan indah yang pernah mereka bangun dengan makian. "Kau hanya manusia. Dan manusia sering kali terkecoh oleh kilauan kembang api yang sesaat, lalu melupakan hangatnya cahaya lilin yang setia menerangi kegelapan mereka."
Al meraih jemari Stella yang dingin. Untuk terakhir kalinya. Ia mengelus punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya—sebuah gestur pamit yang amat santun namun meremukkan jiwa.
"Semua pengorbananku selama tiga tahun ini... rumah yang sedang dibangun, tawaran pekerjaan yang kulepas, uang yang kukeluarkan... aku tidak pernah menyesalinya," kata Al, matanya kini menampung genangan air mata yang ditahannya dengan keteguhan luar biasa. "Itu adalah bukti bahwa aku pernah mencintaimu dengan seluruh kapasitas jiwaku. Tapi malam ini, aku mengambil kembali hatiku. Bukan karena aku berhenti merindukanmu, melainkan karena hatiku berhak untuk tidak disakiti lagi."
Stella menangis terisak. Ia menyandarkan dahinya di atas tangan Al yang hangat. "Maafkan aku, Al... maafkan aku..."
"Sudah kumaafkan," balas Al pelan. "Pergilah padanya. Selesaikan ragumu. Jangan kembali lagi ke bukit ini, karena besok pagi, tempat ini hanya akan menyimpan kenangan tentang kita yang pernah saling memperjuangkan."
Malam itu berakhir tanpa pertengkaran. Tidak ada barang yang dilempar, tidak ada caci maki yang terlontar. Hanya ada sebuah perpisahan yang sunyi, di mana Stella berjalan melangkah turun menuju mobilnya yang menunggu di bawah bukit, meninggalkan Al sendirian di bawah kubah langit malam yang megah.
Ketika raungan mesin mobil Stella perlahan menghilang ditelan keheningan malam, Al terduduk di atas bangku kayu. Tubuhnya gemetar. Pertahanan maskulin yang dibangunya sejak tadi runtuh seketika.
Al menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis. Isakannya pecah di tengah bisikan angin malam dan derik jangkrik. Rasa galau yang teramat sangat menyergap dadanya bagaikan gelombang pasang—rasa dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya, rasa takut akan masa depan di usia tiga puluhan yang harus dimulai lagi dari angka nol, dan rasa rindu mendalam yang tahu bahwa ia takkan pernah lagi bisa memeluk wanita itu.
Ia telah kehilangan pusat gravitasinya. Di usianya yang ke-31, saat teman-temannya sibuk membagikan foto tawa anak-anak mereka di media sosial, Al justru berdiri sendirian di tengah puing-puing rencananya yang hancur berantakan.
Dengan mata yang sembap dan batin yang berdarah, Al kembali membungkuk di balik lensa teleskopnya. Ia mengarahkan teropong itu ke arah rasi bintang Taurus, mencari bintang paling terang di sana: Aldebaran. Bintang raksasa merah yang menjadi namanya sendiri. Sebuah bintang yang berdiri kokoh, memancarkan cahaya jingga yang hangat di tengah kebekuan ruang hampa udara.
Al menatap bintang itu lama sekali. Di dalam kepedihan yang paling dalam, sebuah bisikan harapan yang tipis mulai merayap di celah-celah hatinya yang hancur.
"Nama kau Aldebaran," bisik Al pada dirinya sendiri, suaranya parau namun penuh keteguhan baru. "Kau dinamai dari bintang penuntun. Bintang yang tetap bersinar terang meskipun dikelilingi oleh kegelapan malam yang tak bertepi."
Ia menyapu air mata di pipinya dengan lengan jaketnya. Batinnya memang luka, jiwanya memang sedang babak belur dipenuhi rasa galau dan rindu yang menyiksa. Namun Al tahu, malam tergelap sekalipun selalu menyimpan janji akan hadirnya fajar.
Ia tidak akan mati karena patah hati ini. Pengorbanannya mungkin diabaikan, cintanya mungkin dikhianati, dan hari ini mungkin menjadi hari terakhir rindunya untuk Stella. Tapi esok hari, ia akan bangun sebagai manusia yang lebih kuat. Ia akan terus mengamati langit, terus mencintai keindahan dengan cara yang tulus, dan terus percaya bahwa di luar sana—di antara ribuan takdir yang berputar di semesta—suatu hari nanti akan ada planet yang berotasi sempurna padanya, menerima seluruh kurang dan lebihnya tanpa pernah berpaling pada kembang api yang lain.
Al mematikan lampu observatoriumnya. Ia berdiri tegak di bawah taburan jutaan bintang, menatap langit malam dengan dada yang masih sesak namun dipenuhi harapan yang menolak untuk padam.
Lalu, gerimis halus mulai turun membasa bukit. Dan Aldebaran Airlangga tersenyum tipis di dalam lukanya—sebab ia tahu, bahkan hujan pun menangis untuk merawat kehidupan yang baru.