Hari hujan, menjadi pembuka awal Desember yang dingin.
Dari jendela kamarku, aku bisa melihat payung-payung terbuka. Para pelajar melintas, dan berjalan di tengah hujan dengan payung berwarna-warni tersebut. Salah satu pelajar itu mengunakan seragam sekolah sama dengan seragamku. Namun, sudah satu minggu ini, aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah.
Ada sesuatu dalam diriku yang tak bisa dijelaskan oleh kata.
Terkadang, kurasa dada ini begitu sesak. Di lain kesempatan tersasa baik-baik. Namun, pada waktu-waktu tertentu, kurasa hidup tak lagi berguna.
Berjalan di dunia ini seolah adalah sebuah kesia-siaan. Usiaku saat itu, masih 16 tahun. Tak ada yang dapat kulakukan kecuali merepotkan banyak orang.
Tuk tuk tuk
Jendela kamarku ditekuk seseorang. Aku menoleh kearahnya dan mendapat tetangga baruku datang. Ia menggunakan payung berwarna magenta, di tangan kirinya terdapat sebuah plastik hitam.
"Ada oleh-oleh. Ambilah." Meski rasanya malas sekali untuk keluar. Namun, setelah melihat perjuangannya untuk mengantarkan oleh-oleh itu saat hujan, akhirnya membuatku tak tega untuk mengambainya.
Kakiku akhirnya sampai di depan pintu rumah, aku membukanya, dan menyuruhnya untuk duduk di meja yang berada di depan rumah.
Angin berhembus dengan kencang, hal itu membuat tubuhku mengigil. Meski begitu, aku tak berniat untuk memasukkan lelaki asing ini ke rumahku.
"Terima kasih," ujarku seraya membawa plastik yang ada di tangannya. Lelaki yang berusia 5 tahun lebih tua dariku itu tersenyum.
"Jadi?"
"Eh?" aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaannya kembali, karena tidak mengerti dengan topik yang dibahas.
"Katanya kau sudah seminggu terakhir tak masuk sekolah. Ada apa? Ada masalah di sekolahmu hmm?"
Aku tak menjawab ucapannya. Termenung untuk beberapa saat. Ketika bibirku mengatup untuk menjawab, tiba-tiba rasa sesak datang, ia menikamku hingga tak lagi bisa berbicara, yang tersisa dan menyambut kebingunannya adalah air mataku yang jatuh.
"Kau tak apa?" lelaki itu bertanya panik, kurasa dadaku semakin sesak, hingga sulit bernapas.
Bertahan dalam posisi menyedihkan selama beberapa menit, sebelum akhirnya aku memutuskan pamit untuk masuk. Namun, sebelum membuka pintu, ia lebih dulu menyebut namaku. Langkahku terhenti. Ia berjalan kearahku, disodorkannya sebuah kertas yang berisikan alamat.
"Mungkin suatu hari nanti kamu bakal butuh ini." Aku menerima kertas lecek itu dengan tangan bergetar.
***
Sebelumnya...
Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini datang. Namun, setiap kali datang--selalu saja membuatku ingin pergi, bahkan mati.
Saat itu, sekolah tengah melakukan tes berenang diakhir semester. Aku yang notabene tak bisa berenang, merasa sakit perut terus menerus, bahkan jika boleh--aku mengharapkan diriku sakit parah agar tak bisa mengikuti tes itu. Namun, semua harapanku tak terwujud.
Setelah guru olahragaku menyebut namaku, maka aku harus turun ke dasar kolam. Mencoba berenang, meski hasilnya nihil.
Meski begitu, guru olahragaku tetap memberikan nilai. Tes itu selesai, dan aku merasa lega.
Aku merasa bodoh dengan pemikiran-pemikiran itu. Mengapa aku harus mengharapkan sesuatu yang buruk?
Nyatanya, pada semester berikutnya. Ketika tes renang kembali berlangsung. Aku merasakan hal yang sama. Ingin menghilang, tetapi setelah semuanya berakhir merasa lega, merasa bodoh, dan semuanya terus berulang.
Awalnya kukira itu sesuatu yang biasa.
Hingga pada hari di mana, guru pelajaran Indonesia menyuruhku untuk mempresentasikan hasil kerjaku dan aku menjelaskannya di depan kelas. Kemudian melakukan sedikit kesalahan, dan orang-orang menertawakanku, mengejek kurasa aku ingin membunuh mereka.
Saat presentasi itu selesai, aku lamat-lamat mengamati semua orang yang tadi tertawa, tanganku terkepal dengan kuat, perasaan marah memenuhi rongga dadaku. Dan, karena aku tak bisa menahan amarah, akhirnya aku pun izin untuk pergi ke toilet. Di sana, di dalam toilet yang bau aku menangis-nangis sejadi-jadinya.
Aku mulai menjadi manusia yang sulit untuk berhubungan dengan orang-orang. Bahkan, ketika guru membagikan kelompok fisika. Aku memutuskan untuk keluar, dan mengatakan bisa mengerjakannya sendiri.
Berdiskusi dengan orang lain terlalu melelahkan untukku. Semua itu, hanya membuka peluang akan rasa sakitku.
Saat itu, kupikir aku tidak memerlukan seorang teman di dunia ini. Sendirian, diantara jutaan manusia, sudah cukup bagiku.
Tapi kita tidak bisa hidup sendiriankan?
***
Kurasakan lelah yang teramat sangat pada hari pertama di mana aku tak sekolah. Tubuhku terasa terlampau berat walau hanya untuk melangkah keluar kamar.
Pagi-pagi sekali suara pertengkaran Mama dan Papa terdengar. Aku memilih untuk membawa headseat dan menyetel lagu rock dengan keras.
Dengan begitu, pertengkaran diantara dua manusia itu akan menghilang dari pendengaranku. Dan, itu lebih baik.
Sejujurnya, suara pertengkaran itu sudah menjadi trauma tersendiri untukku. Aku membenci waktu di mana mereka semua saling melayangkan omong kosong, membela diri sendiri, saling menyalahkan, dan yang paling parah adalah main fisik.
Hingga pernah suatu hari, aku memergokki Papa tengah memukul Mama hingga tubuhnya lebam-lebam di beberapa bagian. Tapi, yang kulakukan selanjutnya pengecut banget.
Maksudku. Aku tidak bisa apa-apa. Tidak mengatakan apa-apa, dan tidak menolong Mama. Yang kulakukan hanya menangis dengan tubuh bergetar, aku merasa menjadi orang paling menderita karena telah dilahirkan di keluarga ini.
***
Satu minggu setelah tetanggaku memberikan kertas berisi alamat itu. Akhirnya diriku merasa penasaran, sebenarnya alamat apa itu?
Aku bertanya-tanya. Menyambar kertas itu, kemudian menuliskan alamat itu pada bilah pencarian dan mataku melotot ketika mendapati bahwa alamat itu adalah tempat praktik seorang Psikiater.
Aku melemparkan handphone dan kertas bertuliskan alamat itu. Kemudian otakku berpikir, mataku menatap lurus langit-langit kamar yang terasa dingin.
Apa dia pikir aku gila?
Pertanyaan itu berputar hingga berjam-jam kemudian.
Bagaimana jika, ya?
Aku pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa penyakit mental bisa mengenai siapa saja, bahkan orang tanpa gangguan--mungkin tak benar-benar sadar sepertiku.
Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Kuambil kembali handphone yang kulemparkan tadi, membuka bilah pencarian dengan kata kunci 'kesehatan mental'. Mungkin, dalam waktu 1 jam aku berada di posisi seperti itu sebelum akhirnya aku merasa lemas.
Aku merasakan semuanya. Namun, tak mau selfdiagnosis yang parah-parah hanya akan memperburuk keadaanku sendiri.
Pada malam harinya, aku memberanikan hal ini pada Mama dan Papa. Namun, tanggapannya jauh berbeda dengan apa yang aku harapkan.
"Makanya jangan ngeluh terus! Hidup kau itu enak, tinggal sekolah, makan, main. Cuman itu Mama gak nuntut yang lainnya." Ujar Mama. Seolah ia tahu segalanya yang aku rasakan--seolah aku tak pernah merasa sakit ketika mendengar pertengkarannya dengan Papa.
Tanggapan Papa beda lagi. Ia mengajakku untuk pergi dirukyah, atau dibawa pada orang pintar. Untuk dua hal itu, aku segera menolaknya mentah-mentah.
***
Hari itu, pada Senin yang cerah dan rumah begitu sepi. Aku berjalan ke dapur. Niat awalnya adalah untuk membuat mie instan. Namun, tiba-tiba langkahku memelan ketika melihat sebuah pisau, membayangkan pisau itu tertusuk di perutku, berhasil imajinasiku terjalan dengan hebat.
Semua sakit, sesak akan hilang dengan cepat.
Aku mengusap bagian tajam pisau tersebut, tanpa diduga sudut bibirku terangkat, bahkan tertawa kecil, hingga akhirnya jariku tergores. Darah kental mengalir cukup banyak. Aku menatapku cukup lama, anehnya aku begitu menikmati rasa perih itu.
Dengan gerakan cepat aku segera mencuci tanganku. Aku mengeleng
Tidak ini tidak boleh terjadi.
Aku tidak boleh mati dengan cara mengerikan seperti ini--jika aku mati seperti itu, maka aku akan menjadi seorang pengecut sejati.
***
Hujan.
Payung berwarna hitam itu terjatuh di jalanan yang padat. Sebuah bus besar menyambarnya dengan cepat. Sedetik kemudian payung itu berubah menjadi sampah.
Aku terpaku pada tempatku sendiri.
Jika aku tak menyelamatkan diri, mungkin nasibku akan sama dengan payung itu.
Aku mengusap kertas bertuliskan alamat pemberian lelaki itu. Menutup mata untuk beberapa detik dan mengambil napas.
Kembali melangkah, aku tidak akan menyerah. Aku sudah merasakan bagaimana rasa sakitnya perasaan yang menusuk itu. Aku tidak mau terus menerus menjadi manusia seperti ini.
Seperti sakit gigi yang selalu membuatku semalaman tak bisa tidur--sakit mental pun harus disembuhkan.
Aku membutuhkan pertolongan.
Ya, itulah yang sekiranya kupahami sekarang.
Aku tahu, Mama dan Papa tak mengerti soal ini. Kesehatan mental masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu. Pemahaman mereka tentang hal ini masih sebatas 'orang gila, harus dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa'. Dan, jika aku merasa ada yang salah dalam diriku. Itu artinya aku kurang bersyukur, suka mengeluh, meratapi hidup dan tidak tahu diri. Tapi tak begitu. Tak sesederhana itu.
Seumpama dunia menginginkan dirimu hilang, tenang saja. Sebab dirimu masih punya keinginan untuk tetap tinggal.
Langkahku terhenti. Aku mendonggak, mataku terarah pada bangunan dua lantai yang beralamat sama dengan kertas lecek itu. Tidak ada keragu-raguan dalam diriku. Hari ini, aku akan memperbaiki semuanya.
Aku menyapa seorang perempuan yang merupakan receptionis di sana. Kemudian mengatakan maksud dan keinginananku datang ke sini.
Karena saat itu sedang tidak ada satu orang pun yang mengantri untuk konseling. Maka, aku segera dipersilahkan untuk masuk.
Kini, detik ini. Jantungku berdetak dengan begitu kencang. Kencang sekali, sehingga kurasa jantungku di dalam sana tengah berdangdutan.
Tapi, hei yang benar saja!
Aku berseru dalam hatiku. Berusaha mengunyingkan senyuman.
Tanganku memulai memutar kenop pintu, dan seorang pria tersenyum ketika aku membuka pintu.
Hei, itu kan tetanggaku?
TAMAT