Rumah itu masih sama...
Dindingnya masih berdiri.
Pintu kayunya masih berderit ketika dibuka.
Kursi tua tempat ayah biasa duduk setiap sore masih berada di sudut ruang tamu.
Hanya satu yang berubah.
Ayah sudah tidak ada.
Dan anehnya, sejak kepergian itu, rumah yang dahulu terasa sempit karena terlalu banyak suara, kini terasa begitu luas karena terlalu banyak keheningan.
Ibu duduk seorang diri di ruang tengah.
Tatapannya kosong mengarah pada kursi yang selama bertahun-tahun menjadi tempat suaminya menghabiskan sore.
Tangannya sesekali mengusap kain di pangkuannya.
Bukan karena dingin, melainkan karena ia sedang berusaha menahan tubuhnya agar tidak ikut runtuh bersama hatinya.
Anak-anaknya berkumpul malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah pemakaman, mereka duduk lengkap di satu ruangan.
Tetapi tidak ada yang benar-benar merasa lengkap.
Empat anak perempuan duduk dengan kepala tertunduk. Anak laki-laki tertua berada di dekat jendela. Yang lainnya hanya diam, memainkan jemari sendiri.
Mereka semua kehilangan Ayah.
Namun ada satu hal yang belum berani mereka bicarakan.
Ibu.
Sampai akhirnya, suara anak sulung memecah keheningan.
“Terus… Ibu bagaimana?”
Tak ada jawaban.
Ia menatap adik-adiknya satu per satu.
“Kita nggak mungkin terus begini.”
Adik di sebelahnya menghela napas.
“Memangnya bagaimana?”
“Kita harus menentukan siapa yang tinggal sama Ibu.”
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah ruangan.
Ibu yang sejak tadi diam, perlahan mengangkat wajahnya.
“Jangan…”
Suaranya sangat pelan.
Semua mata tertuju kepadanya.
“Jangan bicara seolah-olah Ibu ini beban.”
“Bukan begitu, Bu.”
Anak sulung buru-buru menjawab.
“Tapi kita harus realistis.”
“Realistis?”
Salah satu adiknya tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Tawa yang pahit.
“Realistis itu maksudnya apa, Kak?”
“Kita semua punya kehidupan masing-masing.”
“Jadi?”
“Jadi kita harus membagi tanggung jawab.”
Adiknya menatapnya lama.
“Dibagi?”
“Iya.”
“Seperti membagi warisan?”
Semua terdiam.
Anak sulung mengerutkan kening.
“Jangan bicara sembarangan!”
“Aku nggak sembarangan.”
Suara adiknya mulai bergetar.
“Waktu ayah masih hidup, kita semua bisa bilang Ibu adalah ibu kita. Tapi sekarang setelah ayah pergi, kenapa tiba-tiba Ibu harus dibagi?”
“Karena tidak semua orang bisa tinggal di sini!”
“Aku juga nggak bilang semua harus tinggal!”
“Lalu maumu apa?”
Adiknya menatap kursi kosong milik sang ayah.
“Setidaknya jangan sampai Ibu merasa ditinggalkan.”
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Salah satu anak perempuan yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Aku mau merawat Ibu…”
Semua menoleh.
“Tapi aku nggak bisa berhenti dari pekerjaanku.”
Yang lain menyahut,
“Aku juga punya keluarga.”
“Aku harus mengurus anak-anak.”
“Aku jauh.”
“Aku belum mapan.”
Satu demi satu alasan keluar.
Bukan alasan yang salah.
Mereka memang punya kehidupan masing-masing.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya mereka sadar bahwa kehidupan mereka sudah berjalan ke arah yang berbeda.
Dahulu mereka tumbuh di rumah yang sama.
Makan dari dapur yang sama.
Tidur di bawah atap yang sama.
Ketika sakit, ibu yang merawat.
Ketika lapar, ibu yang mencari makanan.
Ketika sekolah, ibu yang memastikan seragam mereka bersih.
Ketika uang tidak cukup, ibu yang mengalah.
Ketika mereka ingin melanjutkan pendidikan, ibu yang berkata,
“Pergilah. Jangan pikirkan ibu.”
Kini mereka sudah dewasa, dan kalimat itu seperti kembali kepada mereka sebagai sebuah pertanyaan.
Kalau begitu, siapa yang akan memikirkan ibu?
Anak sulung menarik napas panjang.
“Aku juga punya banyak pengorbanan.”
Adiknya langsung menatap.
“Siapa yang bilang Kakak nggak berkorban?”
“Seolah-olah selama ini cuma kalian yang susah.”
“Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi sikapmu seperti itu.”
Suara mereka mulai meninggi.
“Aku cuma nggak mau Ibu sendirian!”
“Aku juga!”
“Kalau begitu kenapa Kakak nggak bawa ibu?”
Anak sulung terdiam.
“Karena rumahku kecil.”
“Lalu rumahku besar?”
“Kamu juga tahu keadaanmu.”
“Setidaknya aku masih berusaha!”
Kalimat itu membuat semua orang diam.
Anak perempuan itu menunduk.
Air matanya jatuh satu.
“Aku capek…”
Suaranya pecah.
“Aku capek melihat kita saling menunjuk.”
Ia mengusap wajahnya.
“Sejak ayah pergi, kita bahkan belum sempat benar-benar menangis. Kita sibuk memikirkan siapa yang akan membawa ibu.”
Tidak ada yang menjawab.
“Kita kehilangan ayah…”
Ia menatap satu per satu saudaranya.
“Dan sekarang kita hampir kehilangan satu sama lain.”
Ibu menutup mulutnya dengan tangan.
Tangisnya akhirnya pecah.
Bukan tangis keras.
Justru tangis yang paling menyakitkan.
Tangis seorang ibu yang mendengar anak-anaknya bertengkar karena dirinya.
“Sudah…”
Mereka semua menoleh.
Ibu berdiri dengan tubuh gemetar.
“Sudah cukup!”
Ia berjalan perlahan menuju kursi kosong milik almarhum suaminya.
Tangannya menyentuh sandaran kursi itu.
“Dulu, ayah kalian selalu bilang…”
Ia berhenti.
Napasnya berat.
“Kalau nanti kami sudah tua, jangan sampai kalian saling meninggalkan.”
Tak seorang pun berani menatapnya.
“Ternyata…”
Ibu tersenyum tipis di tengah air mata.
“Yang ditakutkan ayah kalian bukan kematian.”
Semua terdiam.
“Dia takut setelah dia pergi, anak-anaknya tidak lagi punya alasan untuk pulang.”
Kalimat itu menghancurkan pertahanan mereka.
Satu anak mulai menangis.
Disusul yang lain.
Tetapi Ibu melanjutkan.
“Dulu ketika kalian kecil, ibu tidak pernah menghitung siapa yang paling banyak makan.”
Ia tertawa lirih.
“Tidak pernah ibu hitung siapa yang paling sering sakit.”
Air matanya semakin deras.
“Tidak pernah ibu hitung berapa malam ibu tidak tidur karena kalian.”
Ia memandang mereka.
“Waktu kalian meminta sesuatu, ibu tidak pernah bertanya, ‘Kamu sudah berbuat apa untuk ibu?’”
Ruangan itu sunyi.
“Kenapa sekarang ketika ibu sudah tua…”
Suaranya semakin kecil.
“Kenapa ibu harus menunggu kalian menghitung siapa yang paling banyak berkorban?”
Tak ada satu pun anak yang sanggup menjawab.
Ibu duduk kembali.
“Kalau kalian memang tidak sanggup merawat ibu…”
Ia menunduk.
“Tidak apa-apa.”
“Kalian boleh pergi.”
“Ibu tidak akan memaksa.”
“Tapi jangan pernah membuat ibu merasa bahwa melahirkan dan membesarkan kalian adalah kesalahan.”
Tangis pecah di ruangan itu.
Anak sulung segera berlutut di hadapan ibunya.
“Maaf, Bu…”
Untuk pertama kalinya sejak ayah mereka meninggal, ia menangis seperti seorang anak kecil.
“Maaf…”
Adik-adiknya ikut mendekat.
Mereka memeluk ibunya bersama-sama.
Namun di dalam pelukan itu, ada rasa bersalah yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Karena mereka sadar…
Selama ini mereka sibuk mengejar hidup.
Mengejar pekerjaan.
Mengejar pasangan.
Mengejar rumah.
Mengejar masa depan.
Sampai lupa bahwa ada dua orang yang dahulu menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk memastikan mereka mempunyai masa depan.
Dan kini…
Satu telah pergi.
Satu lagi masih menunggu.
Menunggu bukan kemewahan.
Bukan uang.
Bukan rumah besar.
Bukan hadiah mahal.
Hanya menunggu anak-anaknya pulang.
Malam semakin larut.
Satu per satu mereka mulai memikirkan kehidupan masing-masing.
Ada yang harus kembali bekerja.
Ada yang harus kembali kepada keluarganya.
Ada yang tinggal jauh.
Ada yang belum tahu harus bagaimana.
Dan di tengah semua itu, mereka akhirnya mengerti satu hal yang begitu sederhana, tetapi sering terlambat disadari manusia.
Merawat orang tua bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban.
Bukan pula tentang siapa yang paling dekat.
Kadang, itu hanya tentang siapa yang masih mau berkata,
“Ibu, jangan khawatir, kami masih punya tempat untukmu.”
Karena ada terlalu banyak orang tua yang setelah membesarkan anak-anaknya dengan seluruh hidup mereka…
akhirnya hanya memiliki satu rumah yang sunyi.
Satu kursi kosong.
Dan satu pertanyaan yang tidak pernah berani mereka ucapkan.
“Apakah anak-anakku masih membutuhkan aku, atau aku hanya menjadi beban bagi mereka?”
Malam itu, anak-anak itu tidak menemukan jawaban.
Tetapi mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Mereka menemukan kembali alasan untuk tetap menjadi keluarga.
Sebab setelah ayah pergi… mereka tidak boleh membiarkan ibu merasa bahwa ia juga telah kehilangan rumah.